Pagi-pagi Sekali Tsukasa terlihat memasuki kantor utama Kaminaga Grup.
"Hari ini...aku akan membuat semua rencanaku jadi kenyataan!!" Pikir Tsukasa Sambil tersenyum kecil
"President sedang tidak enak badan, Tuan Muda bisa.."ujar salah seorang Sekretaris sang ayah
"Minggir..."Ujar Tsukasa Sembari mendorongnya dan membuka pintu itu begitu saja.
"Tsukasa-kun... Ada apa?"tanya sang ayah
"Aku ingin menikah!!"tuntut Tsukasa pada sang ayah
Pria tua itu kini sontak menjatuhkan pulpennya dan langsung saja kehilangan kesadarannya begitu saja.
"President!!"Seru Sekretarisnya sembari mengangkat pria tua itu
Tsukasa hanya mengerutkan keningnya dan mengikuti Sekretaris sang ayah yang sedang kesulitan itu tanpa menolongnya sama sekali.
"President"Ujar pegawai lainnya sembari menatapnya
"Si robot ini...ayahnya pingsan! Karena ulahnya! tak ia bantu!"Pikir sang sekretaris.
"Aaah!! Suamiku!!"Ujar seorang wanita yang kini membuang semua berkasnya dan menghampiri pria tua itu
"Tsukasa!! Bantu Ibu"
"Baik Bu"
"Mengapa kau tidak membantu memapah ayahmu?!"
"Karena tidak ada yang memintaku melakukannya"Ujar Tsukasa.
Sang ibu kini rasanya ingin memukulinya namun ia tak dapat melakukannya.
Setelah sang ayah dibawa kerumah sakit dan mendapatkan perawatan barulah sang ibu merasa tenang.
"Jadi, mengapa kau disini?"tanya sang ibu
"Mengapa aku tidak boleh ada disini?"tanya Tsukasa
"Tsukasa, kau itu jarang sekali mengunjungi kami"Ujar sang Ibu.
"Lalu?"
"Lalu apa kau bodoh?!"
"Hmph!"
"Apa yang kau katakan pada ayahmu?"tanya sang Ibu kesal
"Aku ingin menikah!!"Ujarnya
Sang ibu langsung saja menutupi mulutnya tak percaya putranya yang hanya bisa marah-marah dan tak bisa mengurusi dirinya itu mengatakan ia ingin menikah.
"Ya! Aku ingin menikah! Jadi, aku ingin ayah dan Ibu melamarnya untukku!"Ujar Tsukasa
"G-gadis dari keluarga mana?"tanya Sang Ibu
"Omega! Dari keluarga Asahina!"
"O-omega..
"Ya! Aku tidak mau tahu! Lamar ia sekarang juga!"Ujar Tsukasa
"Jangan Teriak-Teriak!! Aku bukan pelayanmu!!"Ujar sang ibu sembari melemparinya dengan Apel
"Ibu... "Ujar Tsukasa dengan wajah memelas
"Tunggu sampai Ayahmu bangun!"Ujar Sang Ibu Sembari mengerutkan keningnya.
Hampir sejam mereka hanya terdiam.
"Sekarang!! Aku ingin ibu dan ayah melamarnya sekarang!!"Seru Tsukasa
"Bagaimana melamar anak orang sekarang?! Tsukasa apa kau waras?"tanya sang ibu
Tsukasa mengerutkan keningnya.
"Aku ingin cepat-cepat menghancurkannya dan membuat ia mengakui jika ia seorang omega!! Ia harus bertekuk lutut dibawah kakiku"
"Aku benci berlama-lama!"Ujar Tsukasa
"Ini juga salahmu! Kau yang membuat ayahmu serangan jantung!! Apa yang kau katakan pada ayahmu?!"Ujar sang Ibu
Tsukasa hanya membuang pandangannya ke arah lain.
"Kuharap setelah kau menikah pasanganmu akan menjadikanmu budaknya! Kau benar-benar tidak punya hati Tsukasa!"Ujar Sang Ibu.
"Tidak akan mungkin!"Ujar Tsukasa.
"Apa yang sudah kumakan saat aku mengandungnya... Mengerikan sekali"pikir sang ibu sembari menghembuskan nafasnya pelan
"Ayah! Bangunlah!"Seru Tsukasa
"Anak kurang ajar!"Seru sang ibu sembari melemparinya dengan apel yang dipengangnya itu.
"Apa pekerjaan Omega itu hingga kau begitu tertarik padanya? Kalian bekerja dibidang yang sama?"tanya sang ibu lagi.
"Ia siswa SMA"
Sang Ibu kini langsung saja berdiri dan mendekatinya.
"Anak Brengsek!!"Ujarnya sembari menjambak rambut putranya itu
"Ia masih anak-anak! Carilah orang lain!!"Seru sang ibu sembari menarik rambutnya berulang kali
"Kalian...
"Ayah!"
"Syukurlah kau baik-baik saja..."Ujar Sang ibu sembari memeluk suaminya itu.
"Ayah aku ingin menikah!"
"Keluar!!!"bentak sang ibu sembari memukulinya dengan heels yang sedang dikenakannya hingga Tsukasa keluar dari ruangan itu
"Haaah...
"Ia begitu mirip denganmu"
"Tidak mirip sama sekali... lihatlah...anak itu tidak punya perasaan sama sekali!!!"Ujar sang ibu kesal.
"Hmm...aku hanya agak shock... harusnya aku lebih bersiap-siap untuk mendengarkannya mengatakan hal ini"Ujar sang ayah pelan
"Jangan dengarkan dia! Ayah tahu, ia ingin menikahi seorang omega dan masih SMA... apa yang ingin ia lakukan dengan membawa pasangan semuda itu ke dalam keluarga kita?"ujar sang ibu.
"Haha.. ini lebih baik daripada tidak ada yang mau menikah dengannya"Ujar sang ayah pelan
"Ayah...
"Kita ini sudah tua...Kita juga terlambat menikah... Syukur-syukur masih memiliki Tsukasa. Salah kita juga memanjakannya seperti itu.."Ujar sang ayah
"Anak itu masih kecil!"
"Biarkan mereka bertunangan...Aku tidak pernah melihat si bungsu putra Asahina-san, namun mungkin mereka berjodoh..."Ujar sang ayah.
"Pulihlah dulu... Jangan memaksakan dirimu"Ujar Sang Ibu
"Ya.. aku akan berusaha untuk pulih, demi putraku"Ujar sang ayah pelan
.
.
.
.
Seminggu setelah kejadian itu, beberapa mobil kini terlihat memasuki halaman rumah besar milik Grup Asahina itu.
"Ayah punya janji?"tanya Hayato
"Hm?" Sang ayah yang kini sedang di ajak berkebun oleh Yuuya itu menatap putra tertuanya dengan kebingungan.
"AYAH!!!"Teriak Jun yang kini langsung saja berlari keluar sembari menabrak Hayato yang sedang berdiri dipintu.
"P-president..
"Huh?"
"P-president! Kaminaga!!"Teriak Jun
"Siapa katamu?"tanya sang ayah
"President kaminaga!!"
Hayato kini menatap Jun sembari mencubit pipinya.
"Bangunlah Jun-sama!! Ini sudah sore!"
"Ayah...kita punya tamu"Ujar Sang Ibu yang kini baru saja keluar dari dalam rumah.
"Aku akan mencuci tanganku dulu"Ujar sang ayah.
"Yu-chan...kau sedang menanam apaaaaaaaaaa??!!!"Sang ibu terlihat histeris ketika putranya itu mengangkat cacing tanah dan menunjukannya padanya
"Jauhkan itu Yu-chan!"Ujar Sang Ibu yang kini masih menjerit setengah mati.
"Ayah...bo aleh kupelihara??"tanya Yuuya
Sang ayah kini terlihat sangat terkejut.
"Yuuya..ayah punya tamu...t-tanyakan pada Jun dan Hayato"Ujar sang ayah yang memang sebenarnya ingin lari dari Yuuya
"Ayah...tungguu!!"ujar sang ibu yang kini ikut-ikutan berlari kedalam rumah.
"Nii-san!!"
"Buang!!!"Seru Hayato
"Mengapa Nii-san tidak menyukainya? Padahal ia begitu lucu!"
"Lucu dari mana?! Buang!!!" Bentak Hayato lagi
Yuuya kini hanya bisa menurutinya dan meletakan kembali cacing itu di tanah.
"Tunggu saja sampai ia melihat buaya dan mengatakan jika itu lucu"pikir Jun yang bergidik ngeri melihatnya.
"Jika kau ingin peliharaan, peliharalah sesuatu yang lebih indah untuk dipandang. Kucing atau anjing"Ujar Hayato
Yuuya kini tak menjawabnya dan masih menatap cacing itu dengan sedih.
"Yuuya..."ujar Jun sambil menghampirinya
"Sepertinya ia mati..."Ujar Yuuya sambil menangis.
"Yang benar saja..."gerutu Hayato setelah mendengar tangisannya.
"Nii-san..."
"Aku akan membelikanmu peliharaan yang lebih layak..."Ujar Hayato
"Katakan apa yang kau inginkan? Harus seesuatu yang wajar"Ujar Hayato sembari berjongkok disampingnya
"Apapun...?"
"Ya.. yang wajar-wajar saja"Ujar Hayato
"Aku boleh memelihara sapi?"tanya Yuuya
Jun yang berdiri disampingnya langsung saja tertawa terbahak-bahak.
"Aku juga mau! Belikan aku dinosaurus nii-san!"Ujar Jun masih sambil tertawa dan memegangi perutnya
"Kalau begitu aku juga mau dinosaurus!"Ujar Yuuya sambil mengangkat tangannya.
Hayato yang tadinya baik-baik saja kini jadi kesal sendiri.
"Namun, Dinosaurus itu apa?"tanya Yuuya sambil menoleh ke arah Jun.
"Dinosaurus itu, adalah... Nenek moyang Tsukasa!"bisik Jun
"Apa yang kau katakan padanya?"tanya Hayato
"Eeeh?? Si bau itu?"tanya Yuuya
Hayato kini mengerutkan alisnya karena ia kebingungan menatap kedua adiknya itu.
"Mereka berdua pasti sedang membicarakan sesuatu yang konyol!"pikir Hayato
"Haya, Jun, Yu-chan, kemarilah nak...ayah memanggil kalian"Ujar sang ibu
Yuuya kini langsung saja mencuci tangannya dan menghampiri sang ibu.
"Eh?"
"Apa ibu Flu?"tanya Jun yang kebingungan menatap sang ibu yang keluar dengan menggunakan masker itu.
"Di dalam ada si Bau... "Bisik sang ibu pada Yuuya dan Jun.
"Sial!! Mau apa Tsukasa kemari? Jangan-jangan meminta ganti rugi karena telurnya benar-benar pecah!??"pikir Jun yang kini keringat dingin.
"Apa yang ibu bisikan pada mereka?"pikir Hayato sembari mengerutkan keningnya dan berjalan masuk kedalam rumah.
"Nii-san tidak menggunakannya?"tanya Yuuya
"Kakakmu itu tangguh...kalian saja..."Ujar sang ibu sembari cepat-cepat memakaikan masker pada kedua putranya itu.
Tsukasa mengerutkan keningnya kesal ketika menatap Yuuya yang baru saja masuk itu. Sementara Yuuya dengan polosnya masuk tanpa perasaan bersalah atau apapun itu.
"Ini putra bungsuku"Ujar Sang Ayah.
Pria itu kemudian terkejut menatap ketiga orang itu sudah menggunakan masker.
"Ahaha..y-ya...ini putra bungsuku"ulangnya lagi.
"Ia cantik..."Ujar Ibu Tsukasa yang sebenarnya mengomel sepanjang perjalanan ke kediaman Asahina ini.
"Yuuya, ini Kaminaga-sama dan Istrinya. Beliau berdua ingin melamarmu untuk Tsukasa-kun"Ujar sang ayah
Jun dan Hayato kini saling berpandangan karena mereka sangat terkejut.
Sang ibu sudah mendengarnya dari tadi, namun sebagai wanita ia paling lemah terhadap air mata. Apalagi Ibu Tsukasa sudah lebih dahulu menitikkan air mata dan memenangkan hatinya. Ia benar-benar hanya bisa mengusap punggung putranya itu.
"Maukah kau Yuuya-kun?"tanya Ayah Tsukasa
Kini Yuuya berpikir keras. Ia tidak mengerti apa itu melamar. Ia pikir mereka ingin membawanya jalan-jalan atau semacamnya.
Yuuya menatap sang ayah sambil menganggukkan kepalanya.
"Ooh... Syukurlah Yuuya-kun...Terima Kasih banyak"Ujar pria tu dihadapannya itu dengan sangat senang
"Mengapa mereka begitu senang? Apa kami akan jalan-jalan ke tempat seperti di desa dan mereka butuh pemandu?!"pikir Yuuya
"Aku berani bertaruh ia tak mengerti apa maksudnya kata "melamar" "kini Jun bahkan Hayato sepemikiran dan saling menatap satu sama lain.
"Ia benar-benar cucu baa-san... Haaaaah...padahal aku sedang berusaha menjauhkannya dari Tsukasa... Namun...Tunggu dulu!!! Si Tsukasa ini tidak seperti orang yaang sedang jatuh cinta!!"pikir Jun sembari menatap Tsukasa lekat-lekat
"Karena Yuuya setuju...aku pun tidak akan keberatan... acara besarnya (pernikahan) bisa dilangsungkan setelah Yuuya lulus nantinya"ujar sang ayah
Ibu dan Ayah Tsukasa kini saling menatap satu sama lain dengan sangat senang.
"Ini adalah hadiah lamaran... Terimalah... Asahina-san"Ujar Ibu Tsukasa sembari mempersilahkan Pelayannya masuk satu persatu membawakan hadiah.
"Kena kau! Omega Sialan!!! Aku akan menghancurkanmu, kemudian meninggalkanmu! Kau harus paham apa bedanya Alpha sepertiku dan Omega menjijikan sepertimu"pikir Tsukasa sambil ikut-ikutan tersenyum saat sang ibu menatapnya.
Setelah Tsukasa dan Orang tuanya kembali, Sang ayah langsung saja memeluk Yuuya.
"Yu. Ayah senang..."Ujar Sang ayah
"Eh?"
"Ayah seharusnya menolak!"Ujar Hayato
"Bagaimana bisa menolak...kau ini seperti tidak tahu, beliau salah satu investor perusahaanmu!"Ujar sang ayah
"Relakan saja perusahaan itu. Ini seperti menjual Yuuya"Ujar Hayato
"Beliau juga orang yang paling berpengaruh saat ini. Perusahaan sedang dalam masa krisis...Jangan menambah kacau keadaan ini!"Ujar Sang Ayah
"T-tunggu dulu... bukankah ia yang bodoh?"tanya Jun sembari menyingkirkan masker dari mulutnya.
"Huh?"
"Apa kau tahu apa arti melamar?!"tanya Jun sembari mencengkeram bahunya
"Apa? Bukankah mereka mengajakku jalan-jalan? Jadi kemana kami akan pergi? Ke desa mana Ayah?"tanya Yuuya
"Kan??!! Lihatlah nii-san, ayah..."ujar Jun
Hayato dan sang ayah kini hanya menghembuskan nafas mereka.
"Yuuya..."
"Ng?"
"Mereka yang baru saja kembali itu memintamu untuk-untuk..."sang ayah kini bahkan tidak bisa mengatakannya.
"Ayah?"
"Ini yang terbaik. Kapan lagi bisa punya menantu sesukses Tsukasa-kun"Ujar Sang ayah sembari meninggalkan ketiga anak itu dan bergabung dengan istrinya yang sedang membuka semua bingkisan yang hampir memenuhi ruang keluarga itu.
"Yuuya!!"Ujar Jun
"Ng..
"Kau akan menikah dengan si Bau itu!!"Seru Jun
"Si bau?"pikir Hayato
"Menikah itu apa?!"tanya Yuuya
"Aku bisa gila"Ujar Jun yang kini menjatuhkan tubuhnya ke atas sofa.
"Hidup bersama dan membuat anak!"Ujar Hayato.
Kini ia menunggu respon Yuuya. Ia yakin sekali dengan bahasa seperti ini adiknya itu akan lebih mengerti.
"Haaaaaaaaaaaaaaaaaaahhhhh??!!!"
"Ayah!! Aku tidak mau!!! Pokonya tidak mau!!!"teriak Yuuya sambil menghampiri sang ayah
"Wow.. Nii-san. Nii-san sebenarnya mengerti bahasa manusia hutan"Ujar Jun
Sang ayah dan sang ibu kini tertegun melihatnya. Mereka sudah membuka setengah bagian dari semua hadiah itu.
"Tidak ada penolakan!"
"Ia bauuu!!!"Teriak Yuuya.
Kini ia membuat Pelayan-pelayan mulai menertawakannya
"Huh? Apa yang kau katakan?!"tanya sang ayah
"Ayah!! Aku tidak mau!!"ujar Yuuya sambil menangis.
"Yu. Lihatlah, Ibumu sudah membuka semuanya..."Ujar sang ayah
"Kembalikan!!"
"Mana mungkin! Ini barang mahal!! Membeli 4 bingkisan seperti ini sama a
Saja dengan membeli satu mobil!!"Ujar sang ayah
"Jual saja mobil ayah!!"
"Tidak-tidak...masuklah ke kamarmu... lagipula siapa suruh kau mengangguk...Ayah tidak ingin malu. Lagipula jika menikah dengan Tsukasa-kun, hidupmu akan sangat terjamin. Walaupun kakak-kakakmu itu menendangmu keluar dari sini, kamu masih akan bisa bertahan hidup hingga tujuh turunan "Ujar Sang ayah
"Ayah!!!"
"Hayato, Jun...bawa dia ke kamarnya"Ujar Sang Ayah sembari berbalik dan tak ingin menatapnya.
"Bagiku ini tidak apa-apa...hanya saja ...Tsukasa mungkin gila ditengah jalan...Si Tsukasa itu pasti sedang merencanakan sesuatu...Yuuya...tetaplah polos dan Hancurkan si Tsukasa itu!"Pikir Jun yang jelas-jelas kesal melihat wajah sombong Tsukasa itu
"Maaf Yuuya-kun... Ini juga saatnya keluarga ini kembali bersinar... Bisnis sedang tidak bagus... Jika seperti ini... Ayah...ayah hanya bisa berharap kau akan bahagia"Pikir Sang Ayah dengan raut wajah begitu sedih
Bersambung....