“Kenapa Mas?” Marjuki tidak mengerti penolakan yang diutarakan Rando barusan. Padahal sering keduanya membicarakan keluarga besan Marjuki. Rando pun kerap berkelakar akan sangat bahagia jika putrinya juga bisa berjodoh dengan si bungsu keluarga Bramantyo. Namun, saat kelakar dan candanya hendak jadi nyata. Rando justru memberi penolakan. “Kenapa kamu bilang?” Aura wajah Rando berubah, di sampingnya Marni tampak tersenyum, rasanya dia terlihat semringah saat suaminya tampak tidak setuju perihal lamaran Agis. “Agis itu masih terlalu muda untuk menikah. Masa depannya masih panjang, cita-cita dia banyak. Dengan menikah pasti ruang geraknya akan terbatas.” “Tapi, Pak.” Sungguh tak sabaran Agis ingin menyela kalimat sang bapak. “Tanpa menikah pun aku tidak akan pernah bisa menggapai cita-ci

