Malam itu menjadi momen yang tidak pernah dibayangkan oleh Dina sebelumnya. Tubuhnya gemetar di bawah sentuhan Reza. Meski berusaha keras untuk tetap tenang, rasa takut dan cemas tak bisa ia sembunyikan. Ia tahu, setelah malam ini, hidupnya tidak akan pernah sama lagi. Ia akan hidup dibawah bayang-bayang pria yang arogan itu. Tapi mau bagaimana lagi? Pacarnya sendiri telah mengkhianatinya.
Reza, yang biasanya terlihat dingin dan penuh kontrol, malam itu menunjukkan sisi yang berbeda. Namun, Dina tidak bisa membaca apakah ini tanda kelembutan atau sekadar d******i pria itu. Setelah semua yang terjadi, ia tidak yakin bisa mempercayai siapa pun, termasuk dirinya sendiri.
Reza menyentuhnya dengan lembut membuat Dina merasa nyaman seketika. Namun kenyamanan itu hanya sementara ketika senjata pamungkas Reza berhasil menembus inti tubuhnya, ia merasakan perih yang teramat dalam.
Dina meremas kain seprei dengan kuat untuk menyalurkan rasa sakitnya saat ini. Buliran bening jatuh di sudut matanya. Beberapa kali Reza menghujam tubuh Dina membuat dirinya sendiri terpuaskan, meski gadis yang di bawah kuasanya saat ini hampir kehabisan tenaga. Jika tidak mengingat tubuh Dina sudah kelelahan, Reza tidak akan berhenti.
Saat momen itu berakhir, Dina merasa hampa. Tubuhnya lelah, pikirannya kusut, dan hatinya seakan kehilangan arah. Ia menatap langit-langit kamar, air mata kembali mengalir pelan. Apakah ini harga yang harus ia bayar untuk menyelamatkan dirinya dari ancaman ibu tirinya?
Reza, yang terbaring di sampingnya, tidak mengatakan sepatah kata pun. Ia hanya menatap Dina, matanya seolah berbicara banyak hal. Namun, tidak ada kehangatan di sana. Hanya rasa puas bercampur dengan misteri yang sulit ditebak.
“Dina,” suara Reza memecah keheningan.
Dina menoleh perlahan, matanya masih basah oleh air mata.
"Mulai sekarang, kamu hanya milikku," ujar Reza tegas. Tidak ada ruang untuk penolakan dalam nadanya. “Aku tidak peduli siapa pun yang mencoba mengambilmu. Aku tidak akan membiarkan mereka berhasil. Termasuk Rangga sekalipun.”
Dina terdiam, mencoba memahami maksud kata-kata itu. Ia tahu Reza serius, tapi apa sebenarnya arti semua ini? Ia tidak mencintai pria itu, dan ia yakin Reza pun tidak memiliki perasaan padanya. Lalu, kenapa pria itu mengatakan hal seperti itu?
“Kamu sudah mendapatkan apa yang kamu mau,” balas Dina dengan suara pelan tapi tegas. “Jangan memaksaku untuk lebih dari ini.”
Reza tersenyum tipis, senyum yang tidak membuat Dina merasa nyaman. “Kamu belum mengerti, Dina. Aku tidak memaksamu. Aku hanya memberitahumu fakta. Kamu tidak akan lari dari aku. Bukankah kamu yang membuatku seperti ini?" Suaranya terdengar dingin menembus dinding telinga Dina.
Dina tidak menjawab. Ia tahu jika semua yang terjadi adalah keinginannya. Jadi jika Reza bersikap seperti itu sekarang, Dina hanya bisa menurut saja. Setidaknya ia bisa menyelesaikan misi pertamanya. Saat pemeriksaan keperawanan, maka ia akan terbebas dari hukuman dan yang lebih penting, keselamatan kakaknya yang sedang kritis saat ini.
---
Pagi hari berikutnya, Dina terbangun lebih awal. Tubuhnya masih terasa lelah, dan ada rasa sakit yang samar di dalam dirinya. Ia bangkit perlahan, mengenakan pakaiannya dengan hati-hati, berusaha untuk tidak membangunkan Reza yang masih tertidur.
Ia berjalan keluar dari kamar dengan langkah pelan, mencoba menghindari tatapan siapa pun di mansion itu. Namun, langkahnya terhenti saat suara Reza terdengar dari belakang.
“Kemana kamu mau pergi?”
Dina berbalik dengan cemas. Reza berdiri di ambang pintu, mengenakan celana panjang dan kemeja yang belum sepenuhnya dikancingkan. Tatapannya tajam, membuat Dina terpaku di tempatnya.
“Kamu tahu, Aku bukan orang yang membiarkan sesuatu yang sudah kumiliki pergi begitu saja.”
Dina menatapnya dengan bingung. “Apa maksudmu?”
“Maksudku,” ujar Reza sambil menyentuh dagu Dina, memaksa gadis itu menatapnya, “kamu tidak akan kembali ke tempat itu. Kamu akan tinggal di sini. Dengan aku.”
“Tidak mungkin,” bisik Dina, mencoba mundur, tapi Reza menahannya.
“Dina,” Reza berbicara dengan nada yang lebih serius. “Kamu tahu siapa aku. Aku bisa melindungimu dari siapa pun, termasuk ibu tirimu. Tapi jika kamu pergi, aku tidak akan bertanggung jawab atas apa yang akan terjadi padamu.”
Dina merasa terjebak. Ia tidak ingin tinggal di sini, tapi ia juga tahu bahwa pulang ke rumah bukanlah pilihan yang lebih baik.
“Kenapa kamu melakukan ini?” tanyanya akhirnya, suaranya penuh dengan kebingungan dan frustrasi.
Reza menatapnya dalam-dalam sebelum menjawab. “Karena aku tidak ingin melihat kamu dihancurkan oleh orang-orang seperti mereka. Dan karena aku sudah memutuskan, kamu adalah milikku.”
---
Dina akhirnya menyerah. Ia setuju untuk tinggal di mansion itu, setidaknya sampai ia bisa menemukan cara untuk keluar dari situasi ini. Namun, ia tahu bahwa kehidupannya tidak akan mudah.
Reza, dengan segala pesonanya, juga membawa ancaman besar. Pria itu memiliki kontrol yang luar biasa atas dirinya, dan Dina tahu bahwa ia tidak bisa melawannya.
Di sisi lain, Dina masih harus menghadapi Rangga dan ibu tirinya. Ia tahu mereka tidak akan diam begitu saja, terutama jika mereka tahu bahwa ia sekarang tinggal bersama Reza.
Namun, yang paling menakutkan bagi Dina adalah perasaannya sendiri. Meski ia tidak ingin mengakuinya, ada sesuatu tentang Reza yang membuatnya merasa... berbeda. Ia tidak tahu apakah itu ketertarikan atau hanya efek dari situasi yang mereka alami. Tapi satu hal yang pasti, ia tidak bisa mengabaikannya.
Dan Reza? Pria itu tampaknya menikmati kekacauan yang terjadi di antara mereka. Ia tidak menunjukkan tanda-tanda penyesalan atas apa yang telah terjadi. Sebaliknya, ia semakin sering menunjukkan perhatian kepada Dina, meski dengan cara yang terkadang membuat gadis itu merasa bingung dan tidak nyaman.
Dina tahu bahwa hubungannya dengan Reza akan menjadi rumit. Tapi ia juga tahu bahwa ia tidak punya pilihan lain. Untuk saat ini, ia harus bertahan.
Masih dalam keterdiamannya, ketika ponsel Dina berdering. Nama Rangga terpampang disana.
"Mau menjawab teleponnya?" tanya reza sambil menatap Dina. Tatapannya sulit untuk diartikan.
Dina menerima telepon dari Rangga. Ia tidak mungkin menghindari pria itu sekarang meski Rangga telah mengkhianatinya.
"Dimana kamu, Dina? Aku ingin bertemu." Ucap Rangga dari ujung telepon.
Dina terkejut kenapa Rangga tiba-tiba ingin menemuinya?
"Ba..ah...baiklah," jawab Dina dengan suara tercekat sebab Reza sedang mencium tengkuk lehernya, membuat Dina menahan desahannnya.
"Kenapa suaramu seperti itu?" tanya Rangga karena suara Dina seperti sedang mendesah saat ini.
"Aku...aku tidak apa-apa."
Setelah telepon terputus, Reza menarik tubuh Dina hingga membentur d**a bidangnya. Mengangkat dagunya hingga pandangan mata bertemu intens. "Jangan melewati batas yang sudah ku katakan. Jika kamu mau selamat, jangan biarkan Rangga menyentuhmu!"