Berbicara Di atas Ranjang

1015 Words
Dina melangkah pelan memasuki rumah besar yang dipenuhi kenangan pahit. Udara terasa dingin, bukan karena suhu, tetapi suasana yang berat. Tak butuh waktu lama sebelum suara nyaring ibu tirinya, Mirna, bergema dari ruang tengah. “Dina!” teriak Mirna dengan nada penuh kemarahan. Dina menghela napas panjang, mencoba menguatkan dirinya. Ia tahu ini akan terjadi, tapi tetap saja, hatinya belum siap. Mirna berdiri dengan tangan bersilang di d**a, tatapannya tajam seperti belati. “Di mana saja kamu?! Berhari-hari kamu hilang tanpa kabar! Apa kamu pikir kamu bisa keluar masuk rumah ini sesuka hati?!” Dina menundukkan kepala, tidak tahu harus menjawab apa. “Maaf, Bu,” ucapnya lirih. “Maaf? Maaf tidak cukup, Dina!” Mirna mendekat, tangannya terangkat tinggi sebelum turun dengan cambukan keras menggunakan tongkat tipis yang selalu ia bawa. Dina meringis menahan rasa sakit di lengannya. Ia tahu bahwa membantah hanya akan memperparah hukuman. “Aku sudah cukup sabar denganmu, Dina! Tapi ini sudah keterlaluan! Kamu tahu aturan di dalam keluarga ini, bukan?” Suara Mirna meninggi. Cambukan berikutnya mendarat di punggung Dina, membuat gadis itu jatuh berlutut. Air mata mulai mengalir, tetapi Dina menggigit bibirnya, menolak mengeluarkan suara. Setelah beberapa pukulan lagi, Mirna berhenti, menarik napas panjang. “Bangun,” katanya dingin. “Kamu akan membantu Melisa malam ini. Ada acara besar yang harus kami hadiri, dan aku ingin Melisa mendapatkan perhatian penuh dari Reza. Kamu dengar?!” Dina hanya mengangguk lemah, meskipun hatinya berteriak protes. “Baik, Bu,” jawabnya pelan. Mirna mendekatkan wajahnya ke Dina, mengunci tatapan putri tirinya dengan mata penuh kebencian. “Kamu pastikan Melisa mendapatkan apa yang dia inginkan. Kalau tidak, kamu tahu konsekuensinya.” Dina hanya diam. Ia tahu bahwa melawan tidak ada gunanya. Setelah itu, ia disuruh bersiap, mengenakan pakaian formal yang pantas untuk acara besar. Sementara Dina berusaha menyembunyikan memar di punggungnya dengan riasan tipis, Mirna sibuk mengarahkan Melisa, memastikan gadis itu terlihat sempurna. --- Malam itu, Dina menemani Melisa ke acara yang berlangsung di sebuah ballroom hotel mewah. Ruangan dipenuhi para sosialita, pengusaha, dan tokoh penting lainnya. Dina merasa canggung di tengah keramaian, tapi ia tetap berjalan di belakang Melisa, mencoba tidak menarik perhatian. Tatapan Melisa langsung berbinar ketika ia melihat Reza memasuki ruangan. Pria itu tampil memukau seperti biasa, mengenakan setelan hitam yang membingkai tubuh atletisnya dengan sempurna. Aura d******i dan kekuatan terpancar dari setiap langkahnya. Melisa segera merapikan gaunnya, menoleh ke Dina dengan senyum licik. “Katakan pada Reza aku ingin berbicara dengannya. Pastikan dia tahu aku tertarik,” perintahnya. Dina menelan ludah, tetapi ia tidak punya pilihan. Ia berjalan menghampiri Reza yang sedang berbincang dengan beberapa kolega. Ketika Reza melihat Dina, ekspresinya berubah. Sebuah senyum kecil yang sulit diartikan muncul di sudut bibirnya. “Dina,” sapanya santai. “Kenapa kamu ada di sini?” Dina merasa gugup di bawah tatapan tajam Reza. “Melisa ingin bertemu dengan Anda, Pak,” ucapnya formal, meskipun hatinya berdebar tak karuan. Reza mengangkat alisnya, pandangannya beralih ke arah Melisa yang sedang tersenyum manis di kejauhan. Setelah beberapa detik, Reza kembali menatap Dina. “Baiklah. Aku akan berbicara dengannya. Tapi di atas ranjang," jawabnya datar. Mendengar ucapan Reza membuat hati Dina sakit. Tapi ia tahu jika Reza bisa menerima dirinya, maka tidak mungkin Reza tidak akan menerima Melisa yang jauh lebih cantik darinya. Namun, saat Dina hendak kembali ke sisi Melisa, Reza menghentikannya. “Tunggu.” Dina berbalik, bingung. “Ya?” Reza mendekatkan wajahnya, suaranya pelan namun penuh otoritas. “Pastikan dia siap." Dina hanya mengangguk sebelum kembali ke Melisa, menyampaikan pesan Reza. Melisa tampak percaya diri dan langsung menghampiri pria itu, meninggalkan Dina di belakang. Dina memperhatikan mereka dari kejauhan, mencoba menebak apa yang sedang mereka bicarakan. Sesaat kemudian, Melisa datang dan mengikuti Reza ke lantai atas. Wanita itu merasa berhasil karena Reza mau berbicara dengannya. Melisa tahu jika Reza seorang yang kejam dan tidak akan melepaskan mangsanya begitu saja. Tapi demi mendapatkan Reza, Melisa siap melakukan apa saja, termasuk bicara di atas ranjang seperti yang dikatakan Reza tadi. Melisa sudah siap jika malam ini ia akan bersama Reza menghabiskan malam panas berdua. Tapi ia tak mengenal sosok Reza yang sebenarnya. Saat tiba di kamar, Reza menatap tajam ke arah Melisa. "Apa yang kamu inginkan?" tanyanya dengan suara tajam. Melisa duduk bersimpuh di hadapan Reza berusaha menggoda Reza, "apapun yang bisa membuat Anda senang akan saya lakukan." Ucap Melisa lalu mulai mendekati wajah Reza dan siap mencium bibir pria arogan itu. Tapi gerakannya terhenti ketika Reza langsung menarik pakaiannya hingga koyak. Melisa menjadi gemetaran melihat sikap Reza saat ini. Ia memang tertarik pada Reza tapi ia tidak tahu jika Reza akan bersikap seperti ini. --- Sementara itu di lantai bawah, Dina berdiri membisu. "Baguslah kalau Reza menerima Kak Melisa," gumamnya pelan. Ketika Dina hendak berjalan keluar dari ruangan itu, tiba-tiba seorang asisten Reza datang menghampirinya. “Maaf, Nona Dina. Tuan Reza meminta Anda ke lantai atas,” katanya sopan. Dina terkejut. “Ke lantai atas? Untuk apa?” Asisten itu tidak menjawab, hanya tersenyum kecil dan mempersilakan Dina mengikutinya. Dengan perasaan campur aduk, Dina berjalan menuju lift, naik ke lantai atas hotel yang tampak jauh lebih sepi. Ketika pintu lift terbuka, Dina disambut oleh koridor yang sunyi. Asisten tadi menunjuk ke sebuah pintu di ujung lorong. “Tuan Reza menunggu di sana,” ucapnya sebelum pergi. Dengan hati-hati, Dina mengetuk pintu. Tidak ada jawaban, tetapi pintu itu tidak terkunci. Ia mendorongnya perlahan dan masuk. Pemandangan di dalam kamar itu membuat Dina membeku di tempatnya. Mata besarnya membelalak, jantungnya berdetak kencang. Di depan matanya, sesuatu yang tak pernah ia duga sedang terjadi. Dina melihat Reza duduk sambil meminum wiski. Sementara Melisa, kondisi wanita itu mengenaskan saat ini. Pakaiannya koyak dan wanita itu tenaga menangis sambil terbaring di atas sofa. "Apa yang Reza lakukan pada Kak Melisa?" Reza menatap tajam ke arah Dina. Dina segera mendekati Melisa dan mengisyaratkan kakaknya itu untuk tirin lebih dulu. "Kak, kamu turun dulu. Aku akan berbicara dengannya. " Melisa segera turun dari kamar itu dan meninggalkan Dina disana. Saat hanya tersisa Dina dan Reza, pria itu kembali menatap tajam ke arah Dina. "Apa yang kau rencanakan sebenarnya?"
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD