Dina berdiri terpaku di ambang pintu. Di satu sisi, ibu tirinya memancarkan ancaman yang dingin, seolah mengukuhkan kekuatannya untuk mengontrol hidup Dina. Di sisi lain, Reza berdiri kokoh, wajahnya penuh keyakinan, seolah menjadi perisai dari semua ancaman yang Dina hadapi selama ini. “Reza, aku...” Dina menggigit bibirnya, tak mampu melanjutkan kata-katanya. “Aku tidak akan memaksamu, Dina,” ujar Reza lembut, meski matanya masih menatap tajam ke arah ibu tirinya. “Tapi aku bersumpah, jika kau memilih tetap tinggal di sini, kau akan terus disakiti. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi lagi.” Ibu tirinya tertawa sinis. “Kau pikir siapa dirimu, Tuan Reza? Mengusirku dari rumah ini? Mengambil Dina dariku?” Dia melangkah maju, wajahnya dipenuhi kebencian. “Kalau kau berani membawa Dina p

