TETANGGA MERESAHKAN (5)
Mita berlari menuju parkiran minimarket, sayangnya Fahmi sudah pergi. Dia mendesah kesal.
"Ojek, Neng!"
"Loh, bapak ini kan yang biasa nyapu di kos, ya!" tanya Mita.
"Iya, Neng Mita, masak lupa? Saya anter ayo!" kata Saipul. Mita tersenyum dan mengangguk. Saipul adalah seorang ayah dari dua anak, berusia empat puluh tahun, rumahnya persis di sebelah kos-kosan. Dia adalah tukang bersih-bersih kos yang dipercaya oleh pemilik kos-kosan. Saipul adalah pria yang rajin dan ramah.
"Gratis, Mas?"
"Iya, Neng! Sama tetangga, mah, gak boleh itungan." kata Saipul.
"Panggil Mita aja, Mas, saya masih dua puluh tiga tahun, lho!"
"Iya, Neng, eh, Mit!"
Saipul menurunkan Mita agak jauh dari kosnya, takut Rini melihat, karena sejak kedatangan Mita, Rini memang tak suka dengan Mita karena pakaiannya yang selalu terbuka dan tanpa rasa malu dia gelendotan ke semua laki-laki yang ditemuinya.
"Eh, Mas Sai, antar aku bisa gak?" tanyanya.
"Kemana Mit?"
"Kerja atuh, ke Trawas."
Saipul nampak berpikir, Mita memegang lengan Saipul mesra, "nanti malam, kok, nunggu anak saya tidur," kata Mita. Saipul mengangguk ragu.
Mita tidak sadar jika Endang tetangga kos sekaligus teman SMP-nya itu merekam mereka.
"Sukurin, gue aduin ke binik situ, Bang!" gumamnya.
Rini mencak-mencak melihat video yang dikirimkan oleh Endang kepadanya.
[Balik sekarang!]
[Masih ngojek, Ma!]
[Pulang sekarang!!!] Saipul menelan ludah, jika istrinya sudah mengirim pesan dengan tanda seru berjejer alamat dia melakukan kesalahan, dia buru-buru tancap gas menuju rumahnya.
"Ada apa, Rin?"
"Ngapain tadi janda bolong itu gelendotan ke sampean?"
Saipul pucat pasi, "mana ada, aku cuma ngojekin dia kok!"
Rini menunjukkan video yang dikirimkan oleh Endang kepada suaminya.
"Mau main-main sama aku, Mas?" tanya wanita bertubuh tambun itu sambil menyincing lengan bajunya.
"A-ampun, Dek! Aku gak akan ngantar dia, kok!"
Rini mengangguk, "gak usah ngojek lagi! Tidur!" Saipul mengangguk dan masuk ke dalam kamar.
***
Mita menggunakan body lotion di depan kamarnya saat Yuda dan Boby sedang ngobrol, Cindy membawa jajanannya untuk dipamerkan kepada Yuda.
"Om, lihat, jajan Cindy banyak!"
"Ngohey!" jawab Yuda sambil ngupil.
"Om, Om, bukain ini!" kata Cindy sambil garuk-garuk kepala.
"Jorok amat, kutuan lu?" Yuda mengambil kutu yang sedang berjalan santai di tengkuk Cindy, kuncirannya miring sebelah karena habis terkena angin.
"Ya ampun, Om Yuda, jangan bikin Mama Mita klepek-klepek, deh! Perhatian amat sama calon anak tiri," kata Mita sambil bersandar pada tiang jemuran.
"Cocok, tuh! Mama Mita sama Om Yuda, bungkus, deh, Yud!" seloroh Boby. Yuda mencebik.
"Tuh, denger kata Om Boby, Om Yuda, bungkus yuk, bungkus!"
"Idih, ngapain, sih, Mbak, pake nempel-nempel di tiang begitu, jadi inget uler keket gue!" kata Yuda sambil bergidik dan masuk ke dalam kamar. Mita cemberut.
"Mas Boby ...." sapa Mita. Boby membuang putung rokoknya kemudian masuk ke dalam kamar.
Cindy ketiduran sambil ngemut permen kaki kesukaannya, Mita mengambil permennya kemudian meletakkan di dalam gelas agar besok bisa dimakan kembali oleh anaknya. Ditinggalkannya kamar dalam keadaan kotor, bungkus snack dan kasur tanpa sprei yang berpasir sudah menjadi kebiasaan hari-harinya. Dia menunggu Saipul yang tidak kunjung datang dan memutuskan menunggu di luar pagar, sampai jam sebelas malam, Saipul tak kunjung datang, kakinya sudah pegal ditambah bentol-bentol digigit nyamuk, dia meremas tangannya geram.
"Awas, kamu, Saipul!" gumamnya.
"Heh, Mita, Janda bolong! Kira-kira kalau mau godain suami orang, kamu, ya! Jangan harap bisa ngojek secara gratis ke lakiku!"
"E-enggak, kok, anu, saya mau bayar, kok!" jawab Mita terbata.
"Ana, anu, apa? Pucet, kan, situ, kepergok aku? Untung aja aku tahu akal bulus, situ! Coba kalau kagak ketahuan, bisa situ manfaatin lakiku yang gak tegaan! Awas aja sampek aku tahu situ minta-minta anter lakiku sekali lagi, jadi tempe penyet, kamu!"
Mita menelan ludah gusar, dia mengangguk ragu.
"Jawab! Jangan cuma angguk-angguk kayak burung tipes, kamu!"
"I-iya," jawabnya. Mita bergidig melihat tubuh tambun Rini, dan matanya yang melotot seperti hendak lepas dari tempatnya. Rini mengepalkan tinjunya kemudian berbalik pulang ke rumahnya. Saipul sudah panas dingin takut mereka berdua berantem, dia mengintip dari balik jendela rumahnya tanpa berani melerai. Untung saja semuanya masih aman terkendali.
Mita memesan ojek langganannya kemudian menuju tempatnya bekerja. Dia membuka warung kopi di daerah Trawas, setelah sampai di warung dia langsung siap-siap menggelar dagangannya, satu per satu pelanggannya datang hingga dia tutup sampai jam tiga pagi.
***
Sari dan Ismi sekarang lebih suka berbelanja harian dari pada harus stok makanan di kulkas, jajanan anak pun dimasukkan ke dalam kamar.
Cindy, Nando, dan Aqil bermain tanah di bawah pohon mangga, ketiganya sudah memegang sendok sendiri-sendiri, Sari dan Ismi mengawasi mereka dari teras.
"Kalian carikan aku tanah yang banyak, soalnya aku bosnya!" kata Cindy.
Nando mengangguk, dia mencarikan tanah untuk Cindy, tetapi tidak dengan Aqil, karena usianya paling kecil dia bermain sesukanya.
Cindy marah dan mendorong Aqil, bocah itu jatuh terduduk di tanah dan menangis, Sari menggendongnya dan menenangkan putranya. Cindy dan Nando kembali bermain, Aqil diberi mainan dan disuapi makan siang, Cindy tiba-tiba datang membawa sesendok tanah dan menaburkannya di atas piring Aqil.
"Bandel amat!" kata Sari. Dia melotot ke arah Cindy, bukannya takut Cindy malah menjulurkan lidahnya.
"Cindy gak takut sama Tante nenek lampir!" katanya. Ismi menahan tawa, Sari hanya mendelik sambil membuang nasinya dan melewati Cindy.
"Gak boleh gitu sama orang tua, dosa!" kata Ismi.
"Biarin! Wek, wek!"
Cuih! Cindy meludah tepat mengenai celana Sari, "heh, gak sopan begitu itu, gak boleh meludah apa lagi sampai mengenai orang!" tegurnya.
"Suka-suka Cindy, lah! Cindy, kan, inces!" katanya.
"Kalau bukan bocah sudah tak hih kamu, Cindy!" geram Sari dia meletakkan piringnya pada tembok pembatas kemudian ganti baju.
"Cindy jangan!" teriak Ismi. Piring mendarat cantik di lantai dan seisinya tumpah ke lantai, bukan pergi Cindy malah menginjak-injaknya.
"Gusti Allah, Cindy ... mamamu ngidam apa, sih, kok bisa kamu mirip belatung nangka begini!" geram Ismi.
"Kenapa itu, Mi?" tanya Sari.
"Ditendang, untung piringnya palstik, pengen tak jewer telinganya biar panjang kayak kelinci, kesel banget sama nih anak!" kata Ismi.
***
"Om, Om Yuda, sering bohong, ya?" tanya Cindy yang tiba-tiba duduk di pangkuan Yuda.
"Asem amat bau, lu, kayak orang kagak mandi setahun! Sono, lu!" gertak Yuda.
"Om Yuda ... hei, hei, jangan galak-galak dong sama calon anak tiri!" seloroh Boby.
"Memangnya kenapa kamu tanya kalau Om Yuda sering bohong?" tanya Fahmi.
"Soalnya, hidung Om Yuda panjang, kata mama kalau Cindy suka bohong hidungnya panjang kayak Om Yuda, untung Cindy gak suka bohong makanya hidung Cindy pendek."
"Kalau hidung, lu, bukan pendek tapi mlesek!" kata Yuda.
Mereka semua heran dengan Cindy, setiap hari sekalipun mamanya libur, dia tidak pernah terlihat cantik dan rapi seperti anak-anak pada umumnya, padahal aslinya dia cantik, karena jorok dan menyebalkan dia jadi tidak disukai orang.
***
"Eh, Cindy, kalau main di depan saja, jangan naik-naik kasur begini!" tegur Ismi. Cindy tetap melompat-lompat di atas kasur, pakaiannya dari kemarin siang tidak ganti. Ismi geram, ingin sekali mengguyur tubuh Cindy yang dekil itu dengan air sabun dan menggosoknya agar daki-daki terangkat sempurna.
"Cin, mau tante mandiin, gak?"
"Enggak!" jawabnya.
Mita memanggil Cindy untuk mengajaknya makan, sayangnya Cindy tidak mau, Mita masuk ke dalam kamar Ismi, Ismi hanya mendesah pasrah.
"Wih, parfum apa ini kok botolnya lucu?!" tanya Mita. Ismi baru mangap hendak menjawab, tetapi keburu disemprotkannya ke leher dan ketiaknya. Ismi merengut, tangan jahil Mita kembali bergerilya mengacak tas make-up milik Ismi.
"Eh, jangan diacak-acak, Mbak!"
"Lihat, bentar, Mbak!" Mita membuka kemasan lipstik dengan wadah berwarna hitam kemudian mencobanya tanpa rasa bersalah. Ismi hanya diam saja sambil menahan tawa.
"Lipstik apa , kok hitam begini? Rasanya pun pahit?" tanya Mita panik.
"Itu bukan lipstik tapi semir uban!" jawab Ismi terkikik.
"Heh, Mbak Ismi gimana, sih! Kalau saya keracunan gimana?" tanyanya panik.
"Palingan opname, nanti paling parah juga mati," jawab Ismi. Mita semakin panik menghapus lipstik di bibirnya, dia kemudian menitipkan Cindy dan berlari mencari air kelapa.
"Kenapa dia terbirit-b***t gitu, Is?" tanya Sari.
"Habis make lipstik ubanku, Sar, salah sendiri celamitan," jawab Ismi.
"Memangnya ada lipstik buat uban?"
"Ada, lah, kamu gatau?"
"Iya, belum pernah denger," jawab Sari. Ismi menunjukkan lipstik uban berwarna hitam itu, bentuknya mirip sekali dengan lipstik fungsinya digunakan untuk menutupi uban secara instan.
***