TETANGGA MERESAHKAN (4)
Kos yang mereka tempati termasuk kos yang paling murah dengan banyak fasilitas, hal terpenting, di depan kos ada lahan yang ditumbuhi oleh beberapa pohon besar membuat warga kos betah berlama-lama bercengkrama dengan keluarga atau tetangga sambil menjaga anak-anak bermain. Tentu saja sebelum wabah tetangga baru meresahkan itu datang.
Pemilik kos tinggal di luar kota, sehingga untuk mengadu mereka sangat kesulitan. Itulah sebabnya mereka enggan untuk mengadu kepada pemilik kos.
***
"Aduh, sikut mama lecet-lecet, Sin," gerutu Mita sambil mengolesi sikut dan lututnya dengan minyak tawon. Seluruh tubuhnya pun semakin merah-merah, dia berpikir mungkin karena habis tercebur di empang kotor, perutnya pun menjadi sangat mulas. Berkali-kali dia ke kamar mandi untuk buang air. Cindy hanya melihat mamanya sambil asik nyemil jeruk pemberian tetangga semalam. Mita belum sadar jika dia telah memakan ikan tak layak.
Tik, tok, tik, tok! "Bakso, bakso ...."
Kebiasaan Yuda, jika sedang di kos, makanan apapun yang lewat, dia akan selalu membelinya, termasuk bakso. Setelah sholat maghrib, Yuda mengambil uang kemudian mengunci kamarnya dan menuju tukang bakso, Cindy buru-buru keluar mengikuti Yuda.
"Om, belikan bakso, Om!" Cindy menarik-narik sarung Yuda meminta dibelikan bakso.
"Eh, bocah jorok, sono Lu! Minta sama emak, Lu! Lu kira gue bapak moyang Lu apa?!"
"Aa ... mau itu, belikan!" Cindy terus saja merengek.
"Mas, kasih pentol disunduk aja dua." Yuda terpaksa menuruti gadis itu.
"Gak mau, maunya sama kuah, bakso yang gede kayak punya Om itu!" kata Cindy menunjuk seorang bapak yang sedang asik menikmati semangkok baksonya sambil jongkok.
"Dih, anak orang banyak mau banget! Kemana emak Lu, panggil suruh bayar," gerutu Yuda. Cindy gelendotan di sarung Yuda hingga ingusnya menempel pada sarungnya. Yuda yang memang sangat jijik sekaligus geram dengan Cindy spontan mendorongnya. Bocah itu menangis kencang tetapi kali ini tidak ada yang keluar melihatnya.
Ibu-ibu sepakat tidak menghiraukan Cindy, karena semakin diperhatikan dia semakin nakal, mungkin karena memang dia kurang perhatian jadinya mencari perhatian ke semua orang dengan kelakuan ajaibnya.
"Mas, kalau dia minta bakso kasih di plastik aja, gak usah banyak-banyak lima ribu aja! Kalau gak mau yaudah buat besok aja!" ucap Yuda sambil membayar baksonya. Yuda bergidig, dia ingin cepat ganti sarung yang telah ternodai ingus Cindy.
Mita menggerutu, "kamu ini kenapa, sih, nangis terus! Mama capek kamunya rewel aja!" Mita mencubit paha Cindy, bukannya diam dia malah histeris mirip sekali dengan suara sirine ambulans. Yuda menahan tawa melihat wajah Mita yang merah-merah, padahal aslinya wajahnya sangat putih tertutupi make up tebal sepanjang hari walaupun lehernya hitam, kini berubah menjadi wajahnya merah, bengkak dan lehernya tetap hitam.
"Biasa aja kali, Mas Yuda, kalau lihatin aku, mah! Aku tahu, kok, kalau aku cakep."
Yuda melongo mendengar ucapan Mita yang terlampau percaya diri itu kemudian tersenyum kecut.
"Enggak, Mbak, aku cuma mau bilang, itu leher apa ular weling, bisa belang gitu," kata Yuda sambil terkikik.
"Emang, ya, Mas, semua laki-laki itu sama, awalnya sok merhatiin leher, eh, nanti merhatiin yang lain," kata Mita dengan suara dimanja-manjakan.
"Itu baksonya si Cindy ambil di bakulnya!"
"Wah, calon papa idaman, makasih, ya, Mas Yuda," kata Mita sambil mengedipkan matanya. Yuda bergidig ngeri.
"Ogah banget punya anak ingusan kayak Cindy," gumamnya sambil berjalan menuju kamarnya.
***
Ismi membeli alat perekat kemasan. Iseng, dia ingin mengerjai tetangga baru dengan membuat snack Nando yang sering hilang diganti isi dengan snack pedas.
Ismi terkikik setelah mencampur semua snacknya dengan bubuk merica, andaikan Cindy tidak memakannya yang jelas masih bisa dimakan orang dewasa. Dia memasukkan bubuk merica yang banyak ke dalam tiga buah snack dan mengganti air nata de coco dengan air cuka. Kemudian dia merapihkannya ke dalam kulkas dan bersiap-siap hendak jalan-jalan dengan keluarganya.
Lain Ismi, lain pula Sari, dia membuat ramuan yang terbuat dari sabun colek dicampur sabun pencuci piring kemudian dimasukkan ke dalam botol shampo dan sabun cair miliknya yang telah habis, dia memasukkan alat mandinya yang baru ke dalam kamar, dan hanya menyisakan kedua botol itu di dalam ember miliknya, sudah cukup kapok dia meletakkan di luar semua barang-barang itu.
"Semoga kali ini kamu kapok, ya, janda bolong!" gumam Sari.
***
Melihat tetangganya kebetulan pergi, jiwa kriminal Mita meronta-ronta, keluarga Fahmi dan keluarga Boby sedang pergi bersama, mereka pergi ke Sidoarjo untuk sekedar mencari angin. Saatnya Mita mengorek-ngorek isi dapur, dia membuka kulkas mencari cemilan dan menganggapnya milik sendiri. Tak lupa dia juga mengisi botol bekas air mineral dengan minyak goreng, mengambil beberapa gelas beras dan sedikit bumbu-bumbu kemudian dibawa masuk ke dalam kamar. Dia menyahut handuk miliknya kemudian pergi mandi.
"Mamaa, Cindy laper," rengek bocah itu.
"Tunggu, mama bikinkan mie habis mandi, ya!"
Cindy mengangguk, dia menunggu mamanya selesai mandi sambil jalan-jalan membuka semua pintu milik tetangganya, sayangnya semua terkunci, hanya Yuda satu-satunya manusia yang berada di kos kali ini.
"Om ... Om ... Cindy mau masuk bukain pintu!"
Yuda mendesah, dia menghiraukan bocah itu, beberapa saat tak ada suara dari Cindy, Yuda curiga, dia mengintip dari jendela kamarnya. Matanya mendelik, Cindy sedang mengiris-iris sendal dengan sebuat kater di tangannya.
"Heh, Cin, jangan diiris gitu, aduh!"
"Kenapa, Om?"
"Gak boleh! Itu sendal Om Boby, nanti orangnya marah, lagian kamu dapat dari mana kater itu?" tanya Yuda.
Cindy menunjuk sebuah kaleng biskuit tempat mereka menyimpan alat-alat seperti palu, paku dan lain-lain. Yuda menepuk jidatnya kesal.
"Sana! Nakal banget jadi anak!" Yuda kembali menutup pintunya.
***
Mita menggosok perlahan rambutnya menggunakan shampo kemudian tubuhnya menggunakan sabun cair, dari awal pemakaian kulitnya terasa perih dan panas, khas sabun colek, dikocok-kocok shamponya dan ternyata keluar gumpalan sabun colek.
"Sialan gue dikerjain!" Mita membanting botol shampo dan membilas tubuhnya. Dia buru-buru melilit tubuhnya menggunakan handuk dan dia bergegas mencuci bajunya secara kilat, dia menggunakan sedikit detergen milik Yuda kemudian berjalan santai ke kamar hanya menggunakan lilitan handuk. Yuda yang hendak keluar kamar masuk kembali ke dalam kamar.
"Dasar gak waras!" gerutu Yuda. Yuda mengambil detergen dan merendam seragamnya. Dia bergidig melihat sisa makanan yang ada di tempat cucian piring sudah penuh belatung. Setelah selesai mencuci, Yuda mencari gantungan bajunya, ternyata dipakai oleh Mita, Yuda yang kadung emosi melemparkan pakaian Mita dan mengambil gantungan bajunya.
"Mama, buka jajannya!"
Mita membuka nata de coco dan memberikannya kepada Cindy.
"Huwek! Gak enak mama!"
Mita menyeruput air nata de coco ternyata isinya air cuka. Mita mendengkus kemudian membuka snack-snack lain, Cindy menangis kepedasan karena semua tidak bisa dimakan anak kecil.
"Oh, kalian sudah mulai tidak mau berbagi denganku, ya! Awas saja kalian!" gumamnya.
Mita keluar kamar mendapati bajunya berserakan tercantol dimana-mana.
"Mas, Mas Yuda!" teriaknya.
"Apa, Mbak?"
"Baju saya kenapa bisa pindah?!"
"Tanyakan pada rumput yang bergoyang, sopan apa enggak make gantungan baju orang? Iya kalau ijin dulu, ini mah enggak!" kata Yuda santai.
"Pelit banget timbang gantungan baju!"
"Tiap hari make sabun cuciku kok katanya pelit, Mbak kira saya gak tahu apa?!" kata Yuda sambil tertawa. Mita diam, wajahnya memerah karena malu, lantas bergegas masuk ke dalam kamar.
***
Keluarga Fahmi dan Boby telah kembali, anak-anak membawa arum manis dengan bentuk aneka rupa yang lucu-lucu, itu membuat Cindy iri dan memintanya.
"Tante, punya aku mana?"
"Apanya, Cin?" tanya Sari.
"Permen kapasnya."
"Lho, minta sama mamamu, ya!"
Tiba-tiba Cindy merebut milik Aqil, kemudian penyok, Aqil nangis merebut kembali arum manisnya. Mita pura-pura tidak mendengar suara anak-anak bertengkar. Sari langsung membawa Aqil masuk ke dalam kamar dan menutup pintunya, Cindy mengetuk pintu sambil menangis.
"Ya, ampun, tega bener sama anak-anak, main dikunciin di luar gini, gini banget punya tetangga, mentang-mentang kami orang gak punya!" teriak Mita.
Sari menghela napas, Fahmi menggeleng sebagai isyarat agar menghiraukan Mita, dari pada ribut malam-malam.
"Kamu diam, Mas!" Sari membuka pintu sambil menyincing lengan bajunya.
"Masalah?" tanya Sari dengan wajah datar.
"Kira-kira, dong, Mbak! Kita sama-sama sebagai ibu, masak iya segitu teganya timbang minta sedikit jajanan aja!" gerutu Mita.
"Mbak Mita dengar, ya! Aqil masih tiga tahun, dia beli arum manis karena suka dengan bentuknya, dan seenak jidat Cindy yang lebih besar merebutnya, saya sudah sering ngalah, lho! Kalau terus-terusan saya jajanin anak mbak, saya yang tekor!"
"Alah, sok kecantikan! Bilang aja kalau pelit, gak usah sok ngibas-ngibasin rambut gitu!"
"Apaan, sih, gak jelas banget! Suka-suka saya mau kibas rambut kek, kibas kaki kek! Rambut-rambut saya kenapa situ yang sewot!" Sari masuk ke dalam kamar dengan napas memburu menahan emosi.
"Sabar, Ma, sabar!"
"Belikan pembalut, sepertinya pembalutku habis!"
"Iyaaaa!" jawab Fahmi.
***
Mita membawa Cindy pulang, sebentar kemudian ada tukang ojek datang, Cindy memesan ojek dan mengajak Cindy ke sebuah minimarket. Cindy memilih beberapa buah snack dan minuman kemasan. Dia tersenyum melihat Fahmi sedang mengambil pembalut.
"Mas!"
Fahmi menoleh, dia memutar bola mata malas melihat penampilan tetangga barunya. Dia menggunakan kaos ketat dengan belahan d**a rendah dan bawahan rok super pendek.
"Ya ampun, calon suami idaman banget berani beli pembalut! Sendirian, Mas? Nenek lampir itu gak ikut, kan?"
"Siapa nenek lampir?" tanya Fahmi.
"Mbak Sari, calon maduku," jawab Mita sambil terkekeh.
Fahmi menggeleng kemudian menuju kasir untuk membayar belanjaannya.
"Mas, gak mau sekalian bayarin belanjaan calon istri kedua?" tanyanya. Fahmi mendelik, semua orang yang ada di minimarket tersebut memandang aneh keduanya. Fahmi menghiraukan Mita kemudian buru-buru menancap gas kembali ke kosan dari pada tetangga baru itu meminta bareng pulang, bisa dikubur hidup-hidup oleh Sari.