Roni tengah berada di salah satu counter HP miliknya yang berlokasi di salah satu super mall. Tiap hari ia tidak hanya berada di satu tempat melainkan berpindah pindah untuk memantau perkembangan usahanya.
"Ki, saya mau ke rumah sakit dulu!" Roni pamit kepada Zaki, orang kepercayaannya. Pria berkaos polo itu terlihat kusut. Karyawan menyangka karena orang tuanya tengah sakit, padahal bukan hanya itu masalahnya.
"Eh ibunya Bos apa kabar?" Pria itu belum sempat menjenguk Bu Elma.
"Hari ini sudah boleh pulang dan saya mau jemput dia." Roni meraih kunci mobilnya. Jika biasanya bepergian lebih suka naik motor sekarang ia memakai mobil kareba harus menjemout ibunya.
"Syukurlah." Zaki ikut senang. Siapa tahu setelah kondisi kesehatan ibunya pulih, bosnya itu kembali bersikap normal.
"Maaf ya bos, aku ga bisa jenguk ke RS. InsyaAllah nanti aku ke rumah bos sama Iis." Ia tampak menyesal.
Zaki memiliki trauma terhadap rumah sakit. Dulu waktu dirinya masih duduk di bangku SD kedua orang tuanya meninggal di sana akibat kecelakaan. Sejak saat itu ia menganggap rumah sakit adalah tempat paling menakutkan.
"Ga apa-apa, santai aja. Yang penting doanya saja." Roni tak masalah. Lagipula Zaki sangat sibuk dengan pekerjaannya.
"Hati-hati ya Bos!" Zaki memberikan pesan. Melihat kondisi Roni yang seperti itu ia merasa khawatir.
"Kamu juga, jangan pacaran terus sama si Iis." Roni sering mendengar kabar yang tak menyenangkan jika Zaki dan pacarny sering berbuat m***m.
Zaki hanya terkekeh.
Setelah mengucapkan pesan khususnya,
Roni segera meninggalkan Zaki dan berjalan tergesa menuju lift agar segera tiba di parkiran yang terletak di basement.
Begitu tiba ia langsung mengendarai mobilnya.
Sepanjang jalan suasana hatinya diliputi perasaan tak menentu. Masalah percintaannya membuat kepalanya berat dan hampir pecah.
Empat puluh menit kemudian ia tiba di rumah sakit tempat ibunya di rawat. Begitu masuk ruangan, Bu Elma dan Pak Hamid sudah bersiap untuk kepulangannya. Ibunya sudah sejak dua jam lalu dilepas selang infusnya. Barang-barang pun sudah dirapikan. Satunkoper siap untuk diangkut.
"Ron, kamu jaga dulu Bunda ya, Ayah mau ke apotek dulu mengambil resep dan ke bagian administrasi." Pak Hamid bersyukur, Roni sudah datang sehingga ia bisa segera mengurusi kepulangannya.
"Baik, Yah." Roni mengambil posisi duduk di sofa tepat di samping ibunya. Bu Elma sudah terlihat sehat. Bahkan sudah mulai bermake up.
"Gimana kesehatan Bunda?" Ia menatap ibunyanyang segar bugar.
"Alhamdulillah, Bunda sehat." Ia terlihat bahagia. Wajahnya kembali ceria tak seperti kenarin-kemarin.
"Alhamdulillah." Roni bersyukur.
***
Suasana rumah Bu Elma tampak ramai dikunjungi oleh sanak saudara dari jauh. Setelah menjadi penghuni rumah sakit selama empat hari akhirnya ibu kandung Roni itu diizinkan pulang oleh dokter, tentu saja Bu Elma sangat senng, demikian juga dengan keluarganya yang langsung datang menjenguk.
Dalam kesempatan itu juga Bu Elma dan Pak Hamid langsung mengabarkan rencana pernikahan Roni dengan Arifa yang tak lama lagi akan segera dilangsungkan. Tentu saja semua yang hadir menyambut dengan gembira. Tak ada seorang pun yang tahu tentang pernikahan siri antara Roni dan Shahnaz. Mereka semua sangat mengenal Arifa dengan baik karena sejak kecil calon istri kedua Roni itu terbiasa berkeliaran di Rumah orang tua Roni, bahkan dalam berbagai kesempatan sering ikut liburan bersama keluar Roni. Mereka menganggap Roni dan Arifa merupakan pasangan yang serasi.
Sementara Roni hanya bisa mengelus d**a mendengar berbagai pendapat tentang pernikahan Roni dan Arifa yang kebanyakan memberikan dukungannya. Ingin rasanya ia berteriak memberitahukan apa yang terjadi sebenarnya dan mengatakan statusnya saat ini. Sayangnya, itu hanya sebuah angan semata. Ia tak akan mengatakan apapun biar mereka tahu dengan sendirinya.
Pemuda berkulit eksotis itu memilih untuk menyendiri menghindari berbagai godaan dan pertanyaan terkait pernikahannya yang tak diinginkan.
"Roni, kok kamu disini sih, Nak?" Pak Hamid menegur putranya yang dianggap kurang sopan karena meninggalkan para tamu.
"Iya, nanti Roni ke dalam lagi." Roni memberikan jawaban dengan nada malasnya.
"Ada Arifa yang mau ketemu kamu!" Pak Hamid memberikan informasi penting yang membuat Roni kaget bukan main.
Mendengar nama gadis itu disebut, Roni memperlihatkan wajah betenya. Sejak kemarin bertemu ia berusaha menghindari kontak dan komunikasi dengannya.
"Nati Roni ke sana, Yah." Roni masih ingin sendiri dan belum mau banyak berkomunikasi dengan siapapun apalagi memyinggung pernikahan gila yang tinggal menghitung waktu.
***
Dalam kumpulan itu Arifa dan keluarganya ternyata ikut serta. Benar kata sang ayah. Roni melihat denggan mata kepalanya sendiri. Pemuda berkaos hitam itu, mengintip dari ruang makan. Ia tak berniat untuk mendekat.
Dengan gerakan cepat ia kembali ke taman belakang. Arifa ternyata melihatnya dan langsung mengikutinya.
"Ron." Arifa mendekat ke arah Roni berusaha menarik perhatiannya. Beberapa hari ini hubungan keduanya berjalan kurang baik. Roni selalu berusaha menghindarinya.
"Apa?" Roni merespon tanpa menoleh ke arah gadis cantik bertubuh sintal itu. Ia muak melihat Arifa yang dianggapnya telah berkhianat.
"Kamu masih marah?" Arifa mencoba memastikan. Belakangan sikap Roni sungguh jauh berbeda dengan Roni yang dikenalnya dulu. Sekarang Roni menjadi dingin, cuek dan judes. Terus terang Arifa merasa sakit hati. Tak ada lagi Roni yang penuh perhatian, yang ada hanyalah Roni yang tak dikenalnya.
"Udah tahu nanya." Roni tak ingin banyak terlibat percakapan dengan Arifa. Dulu, sebelum ada Shahnaz dan saat mereka masih sama-sama remaja mereka sering menghabiskan waktu bersama.
Perasaan Roni masih diliputi kegelisahan. Seandainya Bu Elma tidak sakit ia tak akan menyanggupi untuk melanjutkan rencana pernikahannya dengan Arifa.
Sekali lagi ia menarik nafas panjang.
Ini demi menyelamatkan harga diri keluarganya yang terlanjur mempersiapkan segala sesuatunya, bahkan tanpa persetujuan Roni mereka menyebar undangan begitu saja. Roni tak berminat untuk mengundang teman-temannya karena mereka tahunya Roni berpasangan dengan Shahnaz.
"Aku minta maaf," Arifa tak patah semangat untuk mengejar cintanya. Ya, ia telah dibutakan oleh perasaannya sehingga rela berbuat apa saja.
"Maaf, ga akan mengubah apapun kecuali kamu batalkan pernikahan ini." Roni memberikan solusi. Roni merasa nyaman jika ia dan Arifa hanya terikat hubungan oertemanan.
"Aku sudah bilang kita menikah demi orang tua kita." Arifa mengingatkan. Ia seperti seorang pelakor namun enggan mengakuinya dengn dalih dirinya tak merebut dan tak merugikan orang lain.
"Kamu ga tahu ya, kalau Shahnaz terluka." Roni memberitahukan masalah yang tengah terjdi.
Arifa mengangguk. Tentu saja ia tak lupa siapa pemuda tampan di hadapannya itu. Ia adalah suami orang lain.
"Aku tahu dan untuk itu aku ingin bertemu Shahnaz." Arifa memberikan pernyataan yamg mengejutkan.
"Untuk apa?" Roni tak yakin. Ia lhawatir keduanya malah terlibat bentrokan. Bukan hal yang mustahil jika keduanya bertengkar hebat dan saling cakar an jambak untuk memperebutkan Roni.
"Untuk bicara darinhati ke hati." Arifa mengungkapkan niat baiknya. Ia telah memikirkannya dengan matang. Meskipun tak yakin Shahnaz akan.menerima kemunculannya.
"Baiklah, kalian memang harus bicara dan aku juga harus bicara penting dengan kamu." Akhirnya ia setuju.
Roni sudah mulai menyiapkan kontrak nikah bersama Arifa. Ia bersungguh-sungguh menjalankan keinginan Shahnaz agar hubungan ia dengan istrinya tetap utuh. Meskipun Arifa menikah dengan Roni tetap saja Shahnaz lah istri Roni sesungguhnya. Satu-satunya wanita yang dicintainya, penghuni hatinya.
***
Tak disangka, Pak Ruslan, Bu Mieke serta Shahnaz datang ke rumah orangtua Roni.
"Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam.
"Mami, Papi..." Roni langsung memburunya menyambut dengan penuh hormat meski diliputi kegugupan karena di sana ada juga Arifa dan kedua orang tuanya yang tengah berbincang, apalagi kalau bukan masalah pernikahan.
"Hai, Shahnaz." Roni menyambut sang istri yang terlihat cemberut. Kabut duka terlihat jelas memenuhi wajah cantiknya. Bagaimana tak berduka jika ia harus menerima suaminya menikah lagi dengan wanita lain.
"Eh, Bang Ruslan " Pak Hamid pun terlihat tak nyaman. Bagaimana tidak, di ruangan yang sama ada juga calon besannya yang lain di tambah suasana rumah sedang ramai dikunjungi sanak saudara jauh. Setelah ini akan timbul berbagai pertanyaan.
"Maaf, saya baru menjenguk Mbak Elma." Giliran Bu Mieke bersuara. Wanita berumur 52 tahun itu pandai menyembunyikan rasa kesalnya.
"Tidak apa-apa. Alhamdulillah kondisi saya sudah pulih." Bu Elma tersenyum. Ia berusaha bersikap baik dan menunjukkan persahabatannya. Meskipun dalam hatinya merasa tak tenang.
"Semoga sehat selalu ya, Mbak Elma." Bu Mieke tak kalah ramah.
"Amin, terima kasih." Bu Elma mempertahankan raut wajahnya agar tetap berseri.
"Silahkan duduk!" Pak Hamid lupa mempersilahkan tamunya.
"Kami ke sini ingin membahas masalah anak-anak." Pak Ruslan menatap kedua orang tua Roni bergantian. Kedatangannya bukan hanya menjenguk sang besan. Setelah itu melirik ke arah Pak Cahya dan Bu Diah yang duduk di sofa.
Mendengar ucapan Pak Ruslan, semua yang hadir tampak kaget.
"Maaf jika kehadiran kami mengganggu dan kami sama sekali tak ingin berbuat keributan, hanya saja sebagai orang tua yang mendengar keluh kesah putri kesayangannya tentang suaminya, kami pasti ikut campur." Pak Ruslan menegaskan.
"Sebelum pernikahan Roni dan Shahnaz terjadi kami tidak tahu jika Roni sudah dijodohkan." Pak Ruslan kembali berkata dengan suara tertahan berusaha menegarkan hatinya.
Semua yang hadir memberikan kesempatan penuh kepadanya tanpa ada yang menyela.
"Kami terpaksa menikahkannya karena Shahnaz tengah hamil." Ia tampak sedih dan hancur saat mengatakan tentang kehamilan Shahnaz.
"Posisi kami sungguh tiidak memguntungkan." Pak Ruslan seolah meminta keadilan untuk putri semata wayangnya.
"Maaf, sekali lagi maaf atas sikap kami. Namun kami tak mungkin membatalkan semuanya. Lagipula saya dan Cahya sudah sepakat dan tak mempermasalahkan tentang pernikahan poligami." Pak Hamid menanggapi.
"Kami pastikan Roni bisa bersikap adil." Bu Elma memberikan garansi.
Roni dan Shahnaz yang mendengar itu semua tak mampu berucap.
"Baiklah, kalau begitu. Kalau sampai Roni tidak bisa bersikap adil. Saya akan minta kamu segera menceraikan putri saya dan jangan harap bisa bertemu dengan anak kamu lagi untuk selama-lamanya." Pak Ruslan memberikan ancaman seraya melirik ke arah Roni yang diam membisu.
"Jangan khawatir Mas Ruslan, saya sekeluarga tentunya dengan keluarga Roni juga akan mengawasi mereka dan kami pastikan putra putri kita akan rukun." Pak Cahya tetap tak mundur. Ia bersikeras menikahkan putrinya dengan Roni meskipun tahu status Roni saat ini. Baginya Roni merupakan menantu idamannya.
Roni terdiam, benar apa kata Shahnaz akan ada masalah besar jika ia mengatakan hal yang sebenarnya. Kehamilan palsu istrinya itu menolong mereka. Roni harus segera membuat istrinya hamil sungguhan agar hubungan dirinya dan Shahnaz tetap berjalan.
***
Bersambung