Shahnaz dan Roni sudah berada di kediaman orang tua Shahnaz, mereka berdua kini berada di kamar. Shahnaz duduk di tepi ranjang memalingkan badannya, sebisa mungkin menahan diri agar tak mengamuk. Ia tengah dalam kondisi benar-benar marah. Sejak pulang dari rumah sakit ia tak mengeluarkan suara sedikit pun. Perasaannya benar-benar kacau. Tak ada yang bahagia menerima kenyataan pahit jika suami yang teramat sangat di cintainya itu hendak menikah lagi dengan wanita lain. Meskipun suaminya mengatakan tak mencintainya, lihat saja apa yang terjadi di cerita novel dan sinetron. Pada akhirnya banyak lelaki yang memilih istri mudanya.
"Sayang, kamu masih marah sama Abang? Abang minta maaf. Abang mengaku salah, coba bayangkan jika kamu berada di posisi Abang yang terjepit serperti ini." Roni berusaha membujuk Shahnaz. Ia tahu dirinya salah namun butuh pengertian dari sang istri. Bukan hal mudah menerima semua ini. Bukan hanya Shahnaz yang sakit dan terluka, ia pun merasakan hal sama, bahkan jauh lebih sakit lagi.
"Abang memang pengecut, bisanya hanya diam bukan membela aku. Bunda Abang benar-benar keterlaluan." Shahnaz yang biasanya tak pernah berkata kasar mendadak berubah. Raut mukanya berubah masam. Shahnaz ingat bagaimana sikap suaminya tadi selama di rumah sakit. Sangat cuek dan tak menunjukkan dukungannya, suaminya terlalu lembek.
"Abang bingung. Maaf, Abang tidak bisa menyakiti Bunda. Seandainya ini bukan permintaan Bunda." Roni menampakkan wajah bimbangnya. Ia sudah menyanggupi untuk menikahi Arifa demi kesehatan ibunya.
"Okey, Abang aku izinkan menikah dengan Arifa, tapi ingat hanya nikah kontrak. Setelah itu kalian CERAI!" Shahnaz memberikan ancamannya. Ia tak akan memberikan celah sedikit pun untuk pernikahan kedua suaminya.
"Sayang, percayalah Abang janji setelah akad nikah akan Abang ceraikan Arifa, Abang ga akan menyentuhnya sedikit pun juga." Roni bersumpah.
Meskipun suaminya akan menikah palsu tetap saja hati Shahnaz terasa perih bagai diiris sembilu. Nasibnya memang buruk. Bisa-bisa dirinyalah yang dianggap sebagai pelakor karena ia belum memiliki buku nikah.
"Mending sekarang Abang segera balik lagi ke rumah sakit!kasihan bunda kesayangan Abang sendirian ga ada yang jagain, eh kan ada calon istri baru. Sana aja temani dia!" Shahnaz mendorong tubuh Roni keluar dari kamarnya. Ia tak ingin berlama-lama ada di dekatnya.
Wanita berparas ayu itu muak dengan tindakan suaminya yang selalu plin plan. Ia kunci pintu dari dalam kamarnya.
Roni mengetuk pintu, berusaha meluluhkan hati sang istri.
"Sayang, percayalah Abang cinta sama kamu, posisi kamu ga akan tergantikan." Roni ingin membuktikan kata-katanya.
Kerena lama tak ada sahutan dari dalam, Roni memilih pergi meninggalkan istrinya untuk sementara waktu menunggu emosi sang istri kembsli stabil, ia berjalan gontai menuruni anak tangga, beruntung tak ada siapa pun yang melihatnya. Roni benar-benar terpuruk.
Jika bunuh diri tak dilarang oleh agama mungkin ia akan melakukannya. Ia ingin menghilang dari muka bumi ini. Sayangnya ia tak ingin berbuat dosa yang akan merugikannya di akhirat kelak.
"Astaghfirullahaladzim." Roni beristighfar karena telah berpikir yang bukan-bukan.
***
Pemuda berambut hitam legam itu kembali ke rumah sakit usai mengantar Shahnaz. Percuma saja ia membujuknya, sebab Shahnaz malah mengamuk. Ia tahu sifat istrinya. Nanti juga akan kembali normal.
Kalau terus dibujuk ia malah semakin menggila. Roni tahu dibalik sikap tenangnya, Shahnaz memiliki sifat keras hati.
Tiba di ruangan ibunya, tampak Arifa masih ada. Bahkan Pak Cahya dan Bu Diah orang tua gadis itu juga hadir. Sepertinya mereka datang saat ia berada di rumah Shahnaz.
"Roni." Arifa menyebut nama Pria yang akan menjadi calon suaminya, tak lupa melemparkan senyuman terbaiknya. Meskipun terakhir kali bertemu mereka terlibat pertengkaran hebat di taman namun ia berusaha melupakannya.
Roni tak menjawab, ia mengabaikan gadis cantik di dekatnya yang tengah mencari perhatian kepadanya. Arifa juga tak memaksa. Ia tahu calon suami dan sahabatnya pasti sedang tak ingin diganggu.
"Malam Om, Tante." Roni berusaha bersikap ramah kepada calon mertuanya dengan menyalami keduanya.
"Eh, Roni. Dari mana?" Pak Cahya bertanya kepada calon menantunya.
"Habis antar Shahnaz pulang!" Roni sengaja menekankan nama istrinya agar terdengar oleh Arifa sekaligus ia berusaha agar mertuanya itu membatalkan perjodohan mereka. Biar semua tahu jika dirinya mencintai wanita lain bukan Arifa.
Pak Cahya tak bertanya lebih lanjut. Ia menjaga perasaan Roni dan tentu putrinya juga. Entah mengapa setelah mengetahui fakta jika Roni telah dianggap menghamili Shahnaz pun baik orang tua Roni maupun Arifa tetap ingin melanjutkan pernikan anak mereka.
"Kebetulan sudah ada Roni, jadi kami pamit pulang dulu ya." Ia malah berpamitan.
"Iya, semoga kamu segera sembuh ya!" Bu Diah memberikan doanya.
"Makasih banyak atas kunjungannya."
Bu Elma tampak bahagia menerima kunjungan dari tetangganya itu.
"Mudah-mudahan, besok atau lusa sudah bisa pulang." Pak Cahya kembali mendoakannya.
"Amin." Bu Elma dan Roni mengaminkan.
"Ron, aku pulang dulu ya. Semoga Bunda lekas pulih, jangan lama-lama nginep di RSnya." Arifa pamit kepada Roni seperti biasa senyuman selalu merekah dari bibir merahnya. Roni merasa kaget karena Arifa kini berani sekali menggodanya. Benar-benar gadis murahan, menurutnya.
***
"Orangtua Arifa tak masalah jika kamu sudah menikah dengan Shahnaz." Bu Elma kembali membahas tentang rencana pernikahan Roni dan Arifa.
Selalu saja obrolan mereka diisi dengan tema pernikahan. Roni sudah bosan. Roni kaget dengan sikap orang tua Arifa yang seolah menutup mata atas pernikahan dirinya dengan Shahnaz, bahkan isu kehamilan istrinya juga tak berpengatuh apa-apa. Entah apa yang ada dalam pikiran mereka semua.
Roni tak berkomentar apapun lagi. Perasaan hatinya tengah kacau. Ia akan ikuti alur yang diciptakan oleh ibunya. Jangan salahkan dirinya jika Arifa terluka. Ia sendiri yang menginginkannya
"Ayah kemana?" Roni mengalihkan topik pembicaraan agar tak lagi membahas rencana gila itu.
"Keluar dulu sebentar." Pak Hamid sedang membeli sesuatu.
"Bunda jangan memikirkan masalah pernikahan, yang terpenting adalah kesehatan Bunda." Roni mengusap tangan ibunya.
"Bunda merasa sehat saat mendengar kesediaan kamu mau nikah sama Arifa." Bu Elma tersemyum lebar, akhirnya impiannya menjadi kenyataan.
Roni terpaksa tersenyum meskipun hatinya menangis. Ia kembali mengingatkan dirinya sendiri jika semua ini demi ibunya, agar ibunya selalu sehat. Ia tak sanggup jika harus kehilangan wanita yang sangat dicintainya.
"Mudah-mudahan besok Bunda bisa pulang!" Doa Roni tulus dan ikhlas. Berlama-lama di rumah sakit membuatnya bosan, sejujurnya Roni tak suka bau rumah sakit.
"Amin. Bunda tak sabar segera menyelesaikan urusan persiapan pernikahan kalian."Bu Elma tampak bersemangat, berbanding terbalik dengan Roni yang terlihat stres setengah mati.
***
Bersambung