Bab 9

1412 Words
"Abang sudah gila ya? Mau menduakan aku?" Shahnaz menatap suaminya tajam. Ia tak habis pikir Roni berubah secepat itu. Bukannya ia sudah berjanji untuk tidak menerima Arifa dan mereka berdua telah merencanakan untuk pindah ke tempat lain menjauhi keluarga Roni. Nyatanya semua itu omong kosong belaka. Suami yang sangat ia banggakan tak lebih dari seorang pengecut yang tak bisa memberikan perlawanan dan tak mau memperjungkan cintanya. Ia terlalu lemah menghadapi keluarganya. Shahnaz menyesal. "Tidak, cinta Abang cuma buat kamu saja Naz. Tak akan pernah terbagi. Abang hanya menikahi Arifa setelah itu menceraikannya." Roni berkata sungguh-sungguh. Tak ada gadis lain yang dicintainya di dunia ini selain Shahnaz seorang. Wanita di hadapannya itulah ratu di hatinya yang selalu ada lam ingatnya setiap saat. Roni tak pernah membaginya dengan siapapun kecuali dengan ibunya, Bu Elma karena sampai kapan pun Bu Elma adalah ibunya dan wanita harus dicintainya. Ia yang melahirkan, merawat dan menjaganya sejak kecil. "Abang telah mempermainkan pernikahan. Mudah banget ya nikah lalu cerai, kalau gitu kasihan Arifa." Seru Shahnaz dengan emosi yang meledak-ledak. Ia masih memikirkan perasaan Arifa. Entah apa yang ada di kepala Roni hingga berpikir seperti itu. "Ini semua demi Bunda. Abang tak tega melihat Bunda terbaring lemah tak berdaya. Bagaimana kalau terjadi hal buruk kepada Bunda? Pernikahan Abang dan Arifa adalah satu-satunya keinginan terakhirnya. Sebagai seorang anak, Abang ingin berbakti. Coba bayangkan jika kamu berada di posisi Abang, Abang benar-benar kejepit. Maju salah, mundur juga salah. Tak ada pilihan." Roni beralasan. Sejak awal ia sudah menolaknya namun orang tuanya tak bisa diajak kompromi dan kini sakitnya Bu Elma menjadi alasan kuat ia dan Arifa melanjutkan perjodohan itu. Roni tak ingin menyesal dengan tidak mengikuti permintaan terakhir ibunya. Penyakit jantung bukan penyakit sembarangan. Bisa saja Allah memanggil ibunya besok atau lusa, Roni tak ingin itu terjadi yang hanya akan menyisakan rasa sesal mendalam seumur hidupnya. "Oke, aku akan temui Bunda dan minta menarik semua apa yang diucapkannya." Shahnaz berkata sungguh-ssungguh. Ia yakin jika suaminya itu tengah diperalat. Siapa tahu kehadiran dirinya akan mengubah keputusan mertuanya. "Naz, Abang minta pengertiannya. Ini pernikahan pura-pura saja, untuk menyenangkan hati Bunda. Sesungguhnya ini merupakan pilihan yang sangat berat bagi Abang." Sekali lagi Roni memberikan penjelasan agar istrinya bisa paham dan mau menerimanya. "Tapi buku nikah dan semuanya asli kan, Bang." Shahnaz menatap tajam suaminya. Meskipun nikah palsu, dokumen tidak palsu. Roni mengangguk. Perkataan istrinya seratus persen benar. "Kalau gitu ceraikan aku sekarang juga, kalau Abng tetap mau nikah lagi." Shahnaz menantang suaminya. Ia lebih baik menjanda daripada didua, lagipula ia belum hamil. Sekalian saja ia akan bongkar kebohongannya. "Sayang, Abang cinta sama kamu. Jangan begitu. Abang ga cinta sama Ifa. Kalau kamu meninggalkan Abang, bagaimana nasib Abang." Roni berlutut di hadapan sang istri, merendahkan dirinya. Ia ingin membuktikan ketulusn cintanya. "Jangan kaya gitu Bang, berdiri!" Shahnaz kaget melihat tindakan yang dilakukan oleh suaminya. Terlalu berlebihan. Shahnaz sangat mencintai Roni dan ia ingin selalu berada di samping suaminya. "Naz, Abang cinta sama kamu." Roni menyatakan perasaannya. Roni menangis tak peduli jika ia seorang laki-laki, yang jelas ia sedang galau. Ia ingin tetap bersama istri yang dicintainya namun ia juga ingin melihat ibunya bahagia, syaratnya ia harus menikahi gadis pilihan ibunya. Shahnaz diam membeku, Ya Allah hidupnya sangat ruwet dan kacau. "Baiklah Sayang, sekarang kita temui Bunda." Roni berdiri lalu mengajak Shahnaz pergi ke rumah sakit. Mereka harus segera menyelesaikan masalah ini. Roni sependapat dengan istrinya, jika Shahnaz menemui sang bunda bisa saja, ia berubah pikiran apalagi mengira Shahnaz hamil itu bisa dijadikan senjata. *** Sesuai permintaan Shahnaz, sore ini juga Roni dan Shahnaz pergi ke rumah sakit untuk menjenguk Bu Elma. Menurut informasi terkini, ibu kandung Roni itu kondisinya sudah membaik namun harus selalu dijaga kesehatannya. "Assalamualaikum." Roni mengucapkan salam. "Waalaikumsalam. Syukurlah kalian datamg, Ayah mau ke belakang dulu." Pak Hamid merasa lega sebab ada yang menggantikannya menunggui istrinya. "Silahkan kalau Ayah mau pergi!" Pak Hamid ingin ke kantin untuk membeli kopi. "Bunda, Roni kesini bersama Shahnaz." Roni menatap ibunya yang tengah memejamkan matanya. Ibu kandung Roni itu lantas membuka matanya. Ia tak tidur hanya memejamkan matanya yang tampak lelah, berdiam diri Di Rumah Sakit sangat membosankan. "Shahnaz." Bu Elma menatap gadis yang diklaim sebagai istri dari anaknya. Ia tak menyangka Shahnaz akan datang menjenguknya. Ia pikir gadis itu tak peduli kepadanya. "Bagaimana kondisi Bunda sekarang?" Shahnaz mendekat. Ia menahan amarah di dadanya, mencoba bersikap sopan. "Alhamdulillah, cukup baik." Bu Elma memberikan jawabannya. Ia tersenyum kecil. Bukan hanya Roni dan Shahnaz yang galau, Bu Elma pun merasakan hal yang sama penyebabnya tiada lain karena kehamilan Shahnaz. Anaknya memang harus bertanggungjawab terhadap perbuatannya. Memisahkan pasangan itu semakin susah dan tak mungkin dilakukan. Namun ia juga tetap ingin menjodohkan anak semata wayangnya dengan gadis pilihannya. Persiapan pernikahan tinggal dua minggu lagi. Apa jadinya kalau dibatalkan, ia bisa rugi besar. Shahnaz menahan segala gemuruh di dadanya. Ia marah kepada ibu mertuanya sekaligus iba melihat kondisinya yang lemah. Hati Shahnaz tak tega. Posisinya sungguh sulit. Istri mana yang rela diduakan. Apalagi ia dan Roni masih berstatus pengantin baru yang masih hot dan selalu ingin bersama terus. "Apa Roni sudah cerita?" Bu Elma ingin pengertian dari Shahnaz. Shahnaz mengangguk. Ia sudah tahu semuanya. "Tolong, izinkam Roni menikah dengan Arifa." Wanita yang kini berbaring lemah itu menyampaikan isi hatinya. Dengan teganya ia meminta izin. Wanita muda yang berstatus sebagai istri siri Roni itu sedih. Memberikan izin menikah kepada suami arinya merelakannya bersama wanita lain dan harus berbagi ranjang. Hal yang membuat sesak di d**a. Shahnaz menangis terisak. Untung ia tidak sedang hamil betulan. Kalau ia bisa saja langsung keguguran. Nyeri di dadanya semakin menjadi. "Saya sedih dan kecewa." Shahmaz berujar dengan nada bergetar. Perasaannya bercampur aduk. "Bunda minta maaf, Tapi tolonglah mengerti " Bu Elma mencoba bernegosiasi. Ia memang berasal dari keluarga poligami jadi menganggap enteng masalah ini. Sejak tadi Roni hanya diam mendengar perbincangn antara ibu dan istrinya. Roni sudah kehabisan kata-kata untuk mendebat ibunya, apalagi ibunya tengah sakit. Sebisa mungkin Roni mengatur emosinya. "Bunda yakin Roni bisa bersikap adil kepada kalian." Bu Elma menatap Shahnaz dan Roni bergantian. Ia terlihat seperti ibu yang jahat layaknya di cerita drama salah satu stasiun televisi swasta. "Baiklah jika itu mau Bunda. Seminggu setelah Bang Roni menikahi Arifa, saya juga ingin menikah secara resmi." Shahnaz memberikan persyaratan. Ia tak akan mau dikalahkan oleh gadis lain. Dirinyalah istri pertama Roni. Meakipun Arifa jauh lebih dulu hadir dalam kehidupan suaminya. Shahnaz akan menagih janji Roni agar Arifa langsung diceraikan. Ia akan ikuti permainan mereka. Bu Elma kaget, namun ia tak bisa memgatakan tidak. Dirinya yang memulai dan yang harus ingat menantunya tengah hamil muda. "Iya, kalian memang harus segera menikah secara hukum. Apalagi Shahnaz tengah hamil." Bu Elma berusaha menerima Shahnaz dan calon cucunya. Entah bagaimana reaksinya jika ia tahu Shahnaz hanya berpura-pura hamil. Bukan hanya orang tua Roni yang marah, orangtua Shahnaz juga pasti murka. Mendengar kata hamil, Roni langsung gugup. Mereka harus tetap menjaga kebohongan yang mereka ciptakan demi ketentraman hubungan mereka. Bisa gawat darurat jika terbongkar. Bisa jadi orang tau mereka langsung memisahkan keduanya. "Terima kasih ya, Shahnaz, terus terang bunda dan keluarga akan menanggung malu jika pernikahan dibatalkan apalagi undangan sudah di sebarkan." Bu Elma terlihat berkaca-kaca. Shahnaz ingin segera keluar dari ruangan itu. Ia butuh menghirup oksigen sebanyak-banyaknya. "Saya sama Bang Roni pamit pulang dulu. Semoga Bunda lekas sembuh, maaf tak bisa menjaga Bunda." Shahnaz memberi kode kepada suaminya agar undur diri. Wanita cantik itu butuh menenangkan pikir. "Terima kasih sudah menjenguk." Bu Elma menatap Shahnaz. "Maaf ya Bund, malam ini Roni tidak bisa jaga di rumah sakit." Sebelum pamit, Roni meminta maaf kepada ibunya. Ia harus memyelesaikan urusannya bersa.a Shahnaz, ia ingin meyakinkan istrinya jika perasaannya tak berubah sedikit pun. "Tidak apa-apa, ada ayah yang selalu menjaga Bunda, Bunda harap besok atau lusa sudah bisa pulang ke rumah." "Amin." Roni mengaminkan. Shahnaz dan Roni meninggalkan ruangan usai pamit. Keduanya akan menemui Pak Hamid yang sengaja menunggu di luar dengan alasan mau ke kantin. Di bangku tepat samping ruang inap Bu Elma, keduanya dikejutkan oleh kehadiran Arifa. Gadis itu tak menyapa Roni dan Shahnaz hanya tersenyum tak jelas. Melihat sosok Arifa ada di sekitar mereka, Shahnaz merasa kesal. Berani sekali gadis yang dianggapnya pelakor itu menampakkan diri. Shahnaz muak. Sepanjang perjalanan pulang Shahnaz tak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia masih kesal dan marah, ia merasa tengah bermimpi menerima kenyataan pahit ini. Pun dengan Roni hanya terdiam tak berkata sepatah kata pun. Pasangan itu asyik dengan lamunanya masing-masing. *** Bersambung.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD