Roni mengemudikan mobilnya menuju rumah kediaman Shahnaz. Ia butuh bicara dengan istrinya terkait pernikahan dirinya dengan Arifa. Ia juga akan meminta izin kepada mertuanya. Pak Ruslan sudah tahu masalah yang dihadapi olehnya, ada kemungkinan ia bisa berdiskusi dan melakukan negosiasi. Ini benar-benar ujian maha dahsyat dalam sejarah hidupnya.
Roni dilanda kebingungan yang teramat sangat antara mempertahankan egonya ingin memberikan cintanya hanya untuk Shahnaz seorang atau berbakti kepada orang tuanya dengan menerima orang ketiga dalam rumah tangganya yakni dengan menikahi gadis pilihan ibunya.
Kepalanya seolah akan meledak memikirkan semua itu. Ia merasa menjadi lelaki paling malang di dunia ini. Sepanjang jalan ia tak henti mengucp istighfar agar diberi kekutan dalam menjalani hari-harinya yang berat. Permintaan ibunya terus terngiang di kepalanya. Sesekali ia membanting setirnya.
Setelah menempuh perjalanan selama hampir satu jam, ia tiba di rumah kediaman istrinya. Baru tadi pagi ia berada di sana dan kini kembali lagi dengan beban berat yang teramat sangat.
Satoam rumah yang membukakan gerbang tersenyum kepadanya, jika biasanya Rini selalu menyapanya kini ia hanya mengucaokan terima kasih saja tanoa mau memgatakan hal lain.
Roni segera memarkir mobilnya, tepat di depan teras. Ia turun dari mobilnya dengan tergesa.
"Assalamualaikum." Roni langsung mengucapkan salam begitu tiba di depan pintu rumah yang konsisinya sedikit terbuka. Di ruang tamu sepertinya ada orang, pikir Roni.
"Waalaikumsalam." Bu Mieke yang sedang duduk santai di ruang tamu menjawab.
Roni langsung masuk usai melepas sepatunya.
"Roni." Bu Mieke, mertuanya tampak kaget melihat kedatangan Roni. Menantunya itu baru tadi pagi pamit.
"Bagaimana kondisi Bunda kamu?" Wanita cantik itu menatap menantunya. Ia sudah mendengar kabar dari suamunya jika besannya masuk rumah sakit. Sayangnya, ia belum sempat menjenguknya. Melihat raut wajah kusut menantunya, ia langsung menduga jikaada hal buruk yang menimpa Roni, entah masalah apa.
"Alhamdulillah sudah membaik, namun ada hal penting yang harus saya sampaikan kepada kalian dan juga Shahnaz." Roni memberanikan diri menyampaikan msksud dan tujuannya. Permintaan ibunya yang memberatksn itu harus diselesaikan.
"Sayang sekali, Sahnaz belum pulang, dia masih di butik. Kalau boleh tahu, ada apa ya, sepertinya serius seksli?" Bu Mieke mencium ada masalah menimpa pemuda tampan di hadapannya itu.
Roni terdiam. Lidahnya mendadak kelu, dulit mengeluarkan kata-kata. Ia bingung harus mulai darimana untuk membicarakan permasalahannya yang berat dan rumit.
"Duduklah dulu,biar rileks!" Bu Mieke berusaha tersenyum. Ia tahu menantunya sedang dilanda kegugupan dan kegalauan.
"Terimakasih, Mi." Roni mengikuti perintah ibunya Shahnaz. Mertunya itu sungguh baik. Sejak menikah dengan Shshnaz, Roni mengikuti panggilan istrinya memanggil MamibPapi kepada mertuanya.
"Kamu mau minum kopi? Mami buatkan." Bu Mieke menawarkan minuman. Sepertinya Roni kelelahan.
"Tidak usah, kebetulan di kantin rumah sakitnsaya sudah ngopi." Roni malah memberikan penolakan.
"Oh iya, Papi belum pulang?" Seharusnya pertanyaan ini tak perlu dilontarkan olehnya. Kalau ada pasti mobilnya terparkir di halaman.
"Dia lagi pergi ke rumah sepupunya, sebentar lsgi juga pulanh, doalnya tsfi perginya pagi sekali." Bu Mieke memberikan informasi.
"Eh itu Papi." Bu Mieke menunjuk ke arah pintu. Pak Ruslan yang bertubuh tonggi besar melangkahkan kakinya mrnuju arah keduanya. Belum lama bicara, orang yang dituggunya telah kembali.
"Roni, gimana kabar Bunda kamu?" Pak Ruslan menanyakan kondisi terkini besan perempuannya.
"Alhamdulillah sudah membaik, hanya saja ada sesuatu yang harus disampaikan." Roni menatap Pak Ruslan dan Bu Mieke bergantian.
Pasangan suami istri itu tampak terdiam.
"Tentang apa?" Pak Ruslan tak sabar. Hubungan ia dan Roni makin pelik saat diketahui orang tua Roni adalah kawan lama dan orang bernama Cahya yang anaknya hendak dijodohkan adalah rekan bisnisnya, Pak Ruslan berhutang banyak. Ia tak mungkin menyuruh anaknya mundur.
"Seharusnya ada Shahna,z di sini tapi tak apa, tentang Shahnaz biar nanti saya yang bicara." Roni berusaha mengumpulkan kekuatannya agar bisa merangkai kata-kata.
"Sebetulnya ada apa?" Bu Mieke tak sabaran mendengar penjelasan Roni. Ia menatao tajam menantunyan
"Bunda, tetap bersikukuh ingin agar saya menikahi Arifa. Alasannya persiapan sudah delapan puluh persen dan ini juga menjadi permintaan terakhirnya." Roni buka suara. In harus jujur agar tak salah paham. Siapa tahu ada jalan keluar darinoermasalahan yang kini dihadapi olehnya.
Baik Pak Ruslan maupun Bu Mieke memperlihatkan rautketerkejutannya. Kedua mertua Roni itu bingung dalam menentukan sikapnya, haruskah mereka menghajar menantunya yang terang-terangan mengungkapkan niatnya menikahi wanita lain dan menyakiti perasaan putrinya yang belum lama dinikahi. Atau harus memberikan pujian dan kagum karena Roni telah jujur dan bicara terus tentang niatnya.
Baik Pak Ruslan dan Bu Mieke hanya bisa menahan diri agar emosi lasangan suami istri itu tak meledak.
"Papi sudah mendengar cerita perjodohan kamu dan Arifa dari ayahmu dan juga Cahya. Kami saling mengenal baik. Jujur saja ini masalah berat dan rumit. Secara pribadi Papi menolak. Orangtua mana yang ikhlas melihat anaknya dimadu." Pak Ruslan memperlihatkan wajah sedih penuh luka. Bayangan buruk itu berkelebat dalam kepalanya.
"Mami juga merasakan hal yang sama. Hancur hati Mami. Ini hal yang berat bagi kami. Mengizinkan kamu menikahi wanita lain akan membuat putri kami terluka. Sementara melarang kamu menikah lagi itu juga bukan hal yang tepat. Menikah poligami itu berat. Kami seperti makan buah simalakama." Bu Mieke tak kuasa menitikkn air matanya. Ia tak menyangka jika putrinya akan memgalami nasib buruk seperti ini, ditambah kondisinya yang temgah hamil.
"Saran Papi silahkan kamu nikahi gadis itu, tapi setelahnya segera ceraikan dan nikahi Shahnaz secara hukum. Agar ia mendapatkan status yang jelas." Pak Ruslan memberikan usulannya. Ia percaya kepada Roni yang terlihat sangat mencintai putrinya.
"Papi,...jangan gila!" Bu Mieke tak setuju.
"Ini semua demi kebaikan kita bersama. Pikirkan nasib anak yang tengah dikandung oleh Shahnaz." Pak Ruslan berusaha agar istrinya bisa mengerti situasi dan kondisi yang tengah dihadapi keduanya.
"Meskipun begitu, semua keputusan ada ditangan Shahnaz." Bu Mieke menegaskan.
Tentu saja Roni tahu dan ia butuh dukungan moril dari kedua mertuanya.
***
Roni berada di kamar sang istri untuk beristirahat sejenak agar pikirannya menjadi fresh. Ia juga tengah merenung untuk menemukan kata-kt yang telat saat harus mengatakan kenyataan pahit kepad Shahnaz. Ia pejamkan matanya agar bisa tertidur.
Saat tengah memejamkan matanya, tedengar suara pintu dibuka, mnampilkan wajah Shahnaz dengan senyuman terbaiknya.
"Abang, aku pikir Abang bohong akan kesini siang-siang." Shahnaz mendekat ke arah suaminya lalu mencium tangannya mesra.
Roni menatap istrinya penuh cinta. Ia makin jatuh hati kepada Shahnaz karena istrinya itu semakin cantik. Setelah menikah dengan Roni, ia memang makin sering berdandan dan merawat diri demi tampil sempurna di hadapan lelaki yang sangat dicintainya itu.
"Aku senang Abang pulang. Sudahlah mendingan Abang tiap hari pulang ke sini. Supaya aku ga kesepian lagi kalau malam tiba." Shahnaz langsung mwnyambut suaminya dengan pelukn manjanya. Namanya juga pengantin baru sudah barang tentu hari-harinya selalu dipenuhi hasrat yang mengelora.
"Iya. Abang usahakan." Roni mencium pipi istrinya. Shahnaz tidak lebih cantik dari Arifa namun ia pribadi yang menyenanhkan, rendah hati, sopan dan lemah lembut menjadi poin plus.
"Bener ya, Bang." Shahnaz kegirangan. Ia sudah bosan harus main petak umpet. Lebih baik ia minta segera diresmikan saja.
Roni mengangguk pelan.
"Bang, kita adakan acara akad nikah saja ya." Shahnaz memikirkan hal itu. Ia butuh buku nikah dan ingin pernikahannya dengan Roni sah secara hukum dan agama.
"InsyaAllah secepatnya, " Roni semakin bingung mengungkapkan niatnya.
Ia tak sanggup membayangkan reaksi istrinya yang hancur begitu mengetahui dirinya akan menikah lagi.
"Na, Abang kangen banget sama kamu." Sejenak Roni berpikir untuk saling berbagi kesenangan. Menghibur diri saat kondisi terpuruk diyakininya akan meringankan masalhnya.
"Masih siang, Bang!" Shahnaz tersipu malu. Suaminya itu m***m sekali
"Tak apa. Mau kapan saja tak maslah, karena kita pasangan halal." Bisik Roni.seolah memggoda sang istri.
Pipi Shahnaz yang putih langsung berubah merona.
Tanpa menunggu lama, Roni langsung melancarkan aksinya dengan memberikan serangan ciuman bertubi-tubi. Shahnaz pasrah menikmati setiap sentuhan pria bernama lengkap Roni Syahputra.
***
Roni dan Shahnaz baru selesai mandi, mereka tampak segar setelah kelelahan akibat bergulat di atas ranjang.
"Sayang, ada sesuatu yang harus Abang sampaikan." Roni memberanikan diri untuk menyampaikan masalahnya.
"Katakan, saja!" Shahnaz bersiap menunggu apa yang akan dikatakan.
"Maafkan Abang, Bunda bersikukuh meminta Abang menikah dengan Arifa. Abang galau karena Bunda meminta seolah itu adalah permintaan terakhirnya, Abang terlanjur mengatakan iya. Sayang, maafkan Abang. Tolong beri izin Abang menikahi Arifa dan pernikahan ini tak akan lama. Abang pastikan tak akan menyentuh Arifa sedikit pun." Roni memgungkapkan semua itu dalam keadaan banjir air mata.
"Apa?!!"ini tidak mungkin. Engga Bang aku ga mau dimadu." Shahnaz berteriak histeris. Ia tak terima dijodoh-jodohkan.
***
Bersambung