Bab 7

1159 Words
Suasana IGD tampak tegang. Pak Hamid dan Roni berada di samping Bu Elma yang tengah diperiksa dokter. Wanita cantik itu akhirnya sadar dari pingsannya. Rambutnya sedikit acak-acakan dengan wajahnya yang pucat. Dokter ditemani oleh seorang perawat langsung memeriksanya. Pak Hamid menjelaskan kronologis kejadian yang menjadi penyebab istrinya pingsan. "Ibu sepertinya kaget, tensinya cukup tinggi, detak nadinya juga. Ini seranagn jantung ringan. Kalau dibiarkan bisa bahaya." Dokter paruh baya itu memberikan informasi. Ia masih memegang stetoskopnya. "Terus sekarang bagaimana, Dok? Istri saya memangnlemah jantungnya." Pak Hamid masih diliputi suasana panik. Ia khawatir terjadi hal buruk kepada istrinya. Bukan sekali du kali Bu Elma pingsan jika mendengar berita mengejutkan. "Nanti saya beri resep dan sementara ini ibu harus dirawat intensif. Kita lihat perkembangannya sampai besok. Beruntung ibu segera ditangani dan pernafasannya juga bagus." Dokter ini memberikan informasi. "Sementara ini istri Anda jangan terlalu banyak pikiran." Dokter memberikan saran. Pak Hamid menyimak dengan baik. Perawat langsung memasangkan infus di lengan kiri Bu Elma. "Harap tunggu sebentar ya, Pak. Saya akan mengecek dulu ruangan. Nanti petugas akan kesini menjemput ibu untuk pindah ke ruangan." Perawat memberikan informasi. Seteleh pemeriksaab sekesai, Dokter dan perawat pamit meninggalkan ruangan itu. "Terima kasih banyak." Pa Hamid mengantar perawat dan dokter hingga pintu ruangan. Bu Elma mengalihkan pandangan ke arah Roni yang kini berdiri tepat di samping ayahnya "Bunda kecewa sama kamu Roni." Bu Elma menatap putranya dengan sorot mata penuh rasa kecewa. Ia merasa hancur mendengar Roni telah menghamili pacarnya. Pantas saja ia buru-buru menikahinya. "Dosa apa, yang telah Bunda perbuat hingga harus menerima kenyataan pahit ini." Bu Elma tak kuasa membendung air matanya. "Sudah, Bund. Jangan banyak pikiran dulu. Bund jangan nangis. Ingat pesan dokter." Pak Hamid berusaha menenangkan istrinya agar emosinya tak terpancing. Masalah Roni jelas menjadi penyebab utama. "Roni minta maaf, Bunda." Roni menyesal dengan kejadian ini. Ia sama sekali tak bermaksud menyakitinya. "Sebaiknya kamu keluar dulu Ron!" Pak Hamid tak ingin istrinya banyak pikiran apalagi jika harus ribut dengan Roni. Secara pribadi, Pak Hamid pun kesal dan marah kepada putranya. Namun saat ini bukan waktu yang tepat untuk bertikai apalagi istrinya tengah sakit. Roni menurut. Ia melangkah meninggalkan ruangan yang hanya dihuni dua orang pasien. Ayah Shahnaz dan Bu Diah berada di luar. Di sana ada juga Pak Cahya. Mereka tampak akrab. "Roni, bagaimana kondisi Bundamu?" Pak Ruslan menjadi orang pertama yang menanyakan kabar besannya. "Alhamdulilah sudah sadar, Pi." Roni menyampaikan kondisi kesehatan terkini Bu Elma. "Syukurlah." Pak Ruslan bernafas lega. Ia tak menyangka jika kabar yang dibawanya menimbulkan efek seperti ini. "Boleh kami melihatnya." Pak Cahya dan Bu Diah tak sabar melihat kondisi kesehatsn tetangganya yang juga calon besan mereka. "Tunggu saja, sebentar lagi akan dipindahkan ke ruang inap." Roni menjalankan amanat dokter agar ibunya tak menerima banyak tamu. "Baiklah." Mereka tak ngotot dan berusaha mentaati perintah dokter. *** Roni dan Pak Ruslan pulang lebih awal. Ia butuh menenangkan diri. Bekas tamparan di wajahnya terasa linu. Tiba di rumah mertuanya ia langsung mengabari Shahnaz tentang kondisi kesehatan ibunya. Pak Ruslan sendiri enggan berhadapan dengan putrinya. "Abang kenapa?" Shahnaz merasa kaget melihat suaminya babak belur. "Ga knapa-napa, kok." Roni berusaha memyembunyikannya. "Sebetulnya ada apa sih, Bang? Kwnapa Abang kusut seperti itu?" Shahnaz menatap suaminya yang tampak kacau. "Bunda masuk rumah sakit." Roni memberitahukan kabar buruk yang menimpa ibu kandungnya. "Ke rumah sakit? Memangnya kenapa? " Shahnaz tampak terkejut. "Darah tinggi," Roni memberikan jawabannya sesuai keterangan dari dokter yang memeriksanya "Apa?" Shahnaz kaget. "Dia kaget mendengar Papi kamu memgatakan kalau kita menikah karena kamu tengah hamil." Roni memberikan penjelasan. Keduanya berjalan menuju kamar Shahnaz. Mereka butuh tempat tertutup untuk membicarakan masalah serius. "Kenapa Papi nekat bertemu orang tua Abang? Aku kan sudah bilang, tidak secepat ini kita " Shahnaz tampak menyesal dengan tindakan ayahnya yang gegabah. Shahnaz tak menyangka ayahnya bertindak sejuh itu. Ia bahkan tak mendiskusikannya terlebih dulu dengannya. "Aku juga kaget, saat tiba di rumah. Papi dan Ayah tengah bersama. Saat Abang datang, Ayah memukuli Abang hingga babak belur. Bunda dan Tante Diah muncul." Roni menceritakan kronologis kejadiannya. Shahnaz memperhatikan luka lebam di wajah suaminya yang nampak sangat jelas. "Aku obatin ya, Bang." Dengan cepat, Shanaz membawa kotak p3k dan segera melakukan pengobatan untuk calonnya. "Terus bagaimana rencana kita untuk pergi." Shahnaz telah bersiap. Ia pun telah mengemas barang-barangnya ke dalam koper. "Kita tunda dulu sampai Bunda keluar dari rumah sakit." Roni memberikan keputusannya. Ia tak ingin menabah masalah. "Boleh, aku jenguk Bunda?" Shahnaz ingin menjadi menantu yang baik. Meskipun belum mendapatkan restu darinya, Shahnaz akan berusaha mendekatinya. Roni berpikir sejenak. Ia khawatir ibunya malah akan mengusir Shahnaz dan itu akan membuat istrinya terluka. "Sebaiknya tidak perlu. Bunda masih marah sama Abang. Semua inikarena kehamilan palsu kamu, Naz." Roni tak yakin sang bunda mau menerima Shahnaz. "Maunya Abang bagaiman? Aku jujur kalau semua ini bohong, begitu?" Shahnaz menatap suaminya. Menciptakan kebohongan itu sangat melahkan karena akan terus menciptakan kebohongan lainnya. Roni dilanda kebingungan. Tak mungkin ia mebebrkan fakta sebenarnya tentang kehamilan palsu istrinya yang ada mereka akan menjauhkan Shahnaz dan Roni. Masa depan rumah tangganya akan semakin suram. "Tidak juga. Jujur hanya akan memperkeruh masalah. Bisa-bisa kedua orang tua kita memisahkan kita berdua. " Roni tetap akan bersandiwara. Ia telah banyak berkorban mendapat serangan pemukulan dari ayah dan ayah mertuanya. "Lantas kita harus bagaimana?" Shahnaz tak paham dengan jalan pikiran pria berhidung mancung yang berstatus sebagai suaminya itu. Roni terlalu banyak bertindak spontan. "Kita jalani saja sandiwara ini, hingga situasi memungkinkan untuk menjelaskan yang sebenarnya." Roni memberikan keputusan. Shahnaz hanya bisa pasrah. **** Esok harinya Roni kembali ke rumah sakit untuk membesuk ibunya. Wanita yang masih terlihat cantik di usia setwngah abadnya itu masih terbaring dengan selang infus. Wajahnya tak sepucat kemarin. Ia tampak lebih segar. "Bagaimana kabar, Bunda?" Roni berusaha mendekati ibunya, tak peduli jika ia akan marah. "Baik. Bunda sudah mendengr semua penjelasan darinayah." Bu Elma menatap putranya. "Kalau kamu masih sayang Bunda dan ingin melihat Bunda hidup kamu nikahi Arifa. Biar Bunda bicara dengan Shahnaz." Bu Elma memanfaatkan kondisinya untuk menekan Roni. Saat Arifa membesuknya tadi pagi, gadia itu tetap bersedia dinikahi Roni. "Bunda, Roni... "Tak ada yang tahu umur Bunda sampai kapan. Ayolah, anggaplah ini merupakan permintaan terakhir Bunda." Bu Elma mendramatisir keaadaan. Roni tak bisa berkata-kata. Mengapa urusannya semakin rumit, padahal ia baru saja mnyusun rencana ingin menjauh dari keluarganya. Melihat wanita yang telah melahirkannya kedunia tampak lemah tak berdaya, hati nuraninya sangat tersentuh. "Baiklah, Roni akan menikah dengan Arifa." Dengan berat hati ia menyanggupi permintaan ibunya. Roni akhirnya setuju. Namun ia berjanji akan segera menceraikan Arifa, apalagi saat di taman Arifa menyatakan kesiapannya untuk diceraikan usai pernikahan mereka. Pernikahan mereka hanya unyuk menyelmatkan harga diri keluarga kedua belah pihak. Terus terang Roni dilanda kebimbangan dalam menghadapi Shahnaz dan keluarganya. Ia benar-benar b******k karena tak tegas dalam memgambil.keputusan. Berada diposisinya bukanlah pilihan yang mudah. Di satu sisi ia amat sangat mencintai istrinya, di sisi lain ia ingin berbakti kepada orang tua yang telah menjaga dan mendidikya hingga dewasa. *** Bersambung
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD