Bab 6

1250 Words
Roni menjalankan motornya perlahan menyusuri jalanan ibukota. Cuaca panas tak ia hiraukan demi menemui sang istri. Hanya butuh waktu tiga puluh menit saja ia telah tiba di butik tempat Shahnaz bekerja. Usai memarkir motornya ia langsung masuk butik. Beberapa karyawan menyambutnya dengan senyuman. Roni sudah sering datang ke sana jadi mereka sudah sangat mengenalinya. Dari kejauhan tampak Shahnaz tengah duduk menunggu kedatangannya di teras belakang butik. Kebetulan butik ini menyatu dengan mes karyawan. "Assalamualaikum." Roni mengucapkan salam saat sudah berjarak kira-kira dua meter darinya sangbiatri. "Waalaikumsalam." Shahnaz menoleh ke arah sumber suara. "Kok Abang telat sih. Aku sudah nunggu dari tadi." Ia melayangkan tatapan kesalnya. Roni tentu saja menyadarinya. "Maaf ya Cantik, Abang lagi banyak urusan jadi ga bisa buru-buru ke sini. Kamu ga marah, kan?." Roni memberikan alasan. Tak mungkin ia menceritakan pertemuannya dengan Arifa, bisa-bisa isterinya itu salah sangka dan cemburu. "Kangen Abang!" Tanpa malu Shahnaz berdiri langsung memeluk suaminya. Raut wajah kesalnya seketika berubah menjadi manja. Mereka sudah halal dan telah melaksanakn ritual suami istri jadi tak ada lagi rasa canggung yang menjadi penghalang "Abang juga kangen kamu." Roni mencium pipi istrinya tanpa peduli keadaan sekitar. "Kita jalan-kalan yuk!" Shahnaz ingin makan siang di luar. Ia telah menahan rasa laparnya demi bisa makan bersama dengan sang pujaan hati. "Kamu kan lagi kerja, memangnya ga apa-apa kita pergi." Roni khawatir tantenya Shahnaz yang terkenal disiplin dan tegas cenderung galak itu melarangnya. Apalagi ini telh lewat jam istirahat. Biasanya Roni ke butik untuk mengantar jemput, tak pernah sengaja mendatangi istri cantiknya pada saat jam kerja. "Aku sudah minta izin sama Tante Winny." Sebagai keponakan dari pemilik butik ia memiliki keringanan meskipun harus pandai merayu tantenya. "Ya sudah, kalau gitu kita berangkat sekarang." Roni tak sabar ingin segera membahas rencananya. "Mau makan dimana?" Roni bertanya tentang tujuan mereka. "Lagi ingin makan pizza." Shahnaz tak pernah ribet tentang makanan. "Boleh." Roni pasti setuju semua saran istrinya. Apapun makanannya Roni pun tak masalah asalkan halal. "Naik mobil kamu saja, Abang ke sini pakai motor." Kalau bepergian sendiri, Roni lebih nyaman memakai motor alasan biar bisa cepat dan bisa motong jalan, parkirnya juga gampang. "Ya sudah." Shahnaz menyerahkan kunci mobil yang ia ambi dari tasnya. Keduanya meninggalkan butik usai pamit kepada para karyawan. Kemungkinan besar Shahnaz tak akan kembali. Pasangan pengntin baru itu kini berada di dalam mobil. Roni memacu sedan BMW milik istrinya ke sebuh restoran cepat saji. Hanya butuh waktu kurang dari tiga puluh menit mereka telah tiba di lokasi. Kini keduanya tengah duduk menantiksn pesanan diantar pramusaji. "Abang sudah memutuskan untuk pergi dari rumah dan kita harus pindah ke suatu tempat." Roni membuka percakapannya. Usulam Zaki harus segera direalisasikan. "Maksud Abang pindah bagaimana?" Shahnaz tak mengerti apa yang temgah direnenkan suaminya itu. Akhir-akhir ini Roni sering berbuat aneh dengan memberikan keputusan mendadak yang mengagetkan dirinya "Kita tinggal bersama dan pergi jauh dari keluarga Abang supaya mereka tak mengganggu kehidupan kita. Ayah dan Bunda tak bisa diajak kompromi. Mereka berdua tak peduli dengan pernikahan kita." Roni memberikan penjelasan tentang niatnya. "Kita ke luar kota?" Shahnaz seolah ragu. "Iya, jika perlu." Roni ingin hidup bebas. "Baiklah, kemana pun Abang pergi aku ikut." Shahnaz sepakat. Mungkin itu jalan terbaik bagi masa depan mereka berdua. "Makasih yoa, Sayang. Sekarang kamu tinggal siap-siap mengepak barang-barang tang akan dibawa." Roni tersenyum ceria. Tak susah untuk membujuk Shahnaz. Ia semakin yakin akan ketulusan cinta istri cantiknya itu. Pesanan mereka akhirnya tiba dan keduanya segera menyantap hidangan makan siangnya. Sebenarnya ini adalah jam makan siang yang terlambat. *** Di kediaman Pak Hamid suasana tampak ramai karena orang tua Shahnaz tanpa diundang datang berkunjung. Ayah kandung Roni tampak terkejut melihat sosok yang ada di hadapannya. Pak Ruslan berdiri di depan pintu dengan sama terkejutnya. "Hamid?" Pak Ruslan tampak kaget saat ia melihat siapa yang berdiri. "Ruslan?" Pak Hamid menatap sosok berkacamata berdiri di hadapannya tanpa berkedip. "Apa kabar?" tanya Pak Ruslan. Pria itu datang sendirian tanpa Bu Mieke. "Alhamdulillah sehat," jawab Pak Hamid. Pak Ruslan merasa pangling. "Ayo, masuk!" Pak Hamid mempersilakan tamunya. Kesuanya kini dusuk di sofa ruang tamu. "Jadi kamu orangtuanya Roni ya?" Pak Ruslan tak menyangka jika putrinya menjalin hubungan dengan anak sahabatnya. Pantas saja wajah Roni mengingatkan dirinya kepada seseorang. "Iya." Pak Hamid mengangguk. Pria berusia lima puluhan itu penasaran ada urusan apa teman lamanya bertanya tentang Roni. "Perkenalkan, aku ayahnya Shahnaz, Mid." Pak Ruslan memperkenalkan status dirinya. "Shahnaz?" Pak Hamid tampak kaget. Gadis itu kan yang diakui oleh putranya sebagai istri sirinya. Pak Hamid tak tahu jika Shahnaz adalah putri dari sahabatnya. "Iya. Aku ke sini mau mengabarkan jika anakmu sudah menikahi putriku. Aku ingin membicarakan pernikahan resmi mereka." Pak Ruslan menatap Pak Hamid lekat. Ingin rasanya Pak Hamid lenyap dari muka bumi ini. Shahnaz ternyata anak sahabatnya, pria yang berjasa terhadap usahanya. "Saya tak menyangka jika kamu ayahnya Shahnaz, jujur saja saya bingung sebab sebenarnya Roni akan menikah dengan anak tetangga yang juga sahabatnya." Pak Hamid memberikan kabar penting tentang putranya. "Apa? Dia selingkuh?"Pak Ruslan menunjukkan keterkejutannya. Tak menyangka menantunya itu berbuat curang. "Kami yang menjodohkannya. Dia anaknya Cahya." Pak Hamid kembali memberikan informasi penting lainnya tentang putranya "Muhamad Cahya?" Pak Ruslan mengerutkan keningnya. Nama itu tak asing baginya. Selain pernah satu kampus ia juga terlibat kerjasama. "Iya." Pak Hamid mengangguk. Giliran pak Ruslan yang merasa kaget, Pria yangbtadi di sebutkan namanya itu merupakan investor di perusahaannya. "Astagjfirullahaladzim." Ia memggelengkan kepalanya. Kini urusan putrinya semakin rumit. "Anakku lagi hamil, Mid." Pak Ruslan memberitahukan kabar Shahnaz yang disangkanya tengah berbadan dua. "Apa?" Pak Hamid tak menyangka jika putranya yang terlihat alim tak lupa aholat puasa dan mengaji itu ternyata melakukan perbuatan zina yang dilarang agama. "Iya." Pak Ruslan mengangguk dengan raut wajah sedihnya. "Dia tak mengatakan apapun." Pak Hamid menunjukkan penyesalan yang teramat sangat. "Assalamualaikum." Terdengar ucapan salam. Roni yang baru saja tiba di rumah merasa kaget dengan kehadiran ayah mertuanya. Sebenarnya ia ke rumah untuk mengambil barang-barangnya. "Roni!" Pak Hamid menatap tajam anaknya yang baru memasuki ruang tamu. Pria satu anak itu menatap putra kebanggaannya dengan sorot penuh kebencian. Amarah dan kecewa yang bercampur menjadi satu. Pak Hamid swgwra berdiro dan memburu putranya. Plak Plak Bugh Bugh Pak Hamid tak kuasa lagi menahan amarah yang bergejolak di dadanya. Ia merasa gagal menjadi seorang ayah yang baik. Anak semata wayang yang selalu menjadi kebanggaan keluarganya berkelakuan b***t. Pak Ruslan terdiam melihat pemandangan di hadapannya. Ia bingung bagaimana melerainya. "Ayah... Roni jatuh tersungkur. Ia menahan sakit, tampak dari sudut bibirnya memgeluarkan darah. Ingin rasasanya Roni membongkar hal yang sebenarnya. Beberapa hari yang lalu mertua lelakinya yang menyeramg dirinya. Kini gantian ayah kandungnya yang memberikan hadiah. "Ayah tak menyangka kamu sebejad itu merusak anak gadis orang. Padahal kamu sudah disekolahkan " Teriaknya penuh kemurkaan. "Baiklah kalau begitu kita batalkan pernikahan kamu dan Arifa." Pak Hamid memberikan keputusannya. "Ayah, ada apa ini?" Bu Elma dan Bu Diah datang. Kedua wanita calon besan itu baru pulang selepas belanja keperluan pernikahan anak-anak mereka. "Roni sudah menghamili Shahnaz makanya mereka nikah secepatnya dan itu ayah Shahnaz. Tentang penikahan dengan Arifa kita batalkan!" Pak Hamid memberikan keputusannya. "Ini ga mungkin!!" Bu Elma berteriak hiateris. Dalam hitungan detik ia terjatuh ke lantai. Mendengar keterangan dari suaminya, seketika Bu Elma langsung pingsan. "Bu...Bunda, Nangun Bund!" Pak Hamid langsung memburu istrinya. Suasana rumah mendadak panik. "Kita bawa ke rumah sakit saja!" Bu Diah memberikan usulan. Ia tahu jika sahabatnya itu memiliki masalah kesehatan terutama dengan tekanan darahnya. Tanpa pikir panjang lagi, Mereka langsung melarikan Bu Elma ke rumah sakit terdekat. *** TBC
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD