Bu Elma dan Pak Hamid tak peduli dengan status anaknya yang mengaku sudah menikahi pacarnya secara siri. Mereka akan tetap melanjutkan rencana perjodohan antara Roni dan Arifa. Bagi mereka pernikahan Roni dan Shahnaz itu bukan rintangan. Apalagi hanya nikah siri yang hanya sah di mata agama. Pasti akan mudah untuk memisahkan keduanya. Pikir mereka. Bagi orangtua Roni, Arifa adalah menantu idaman mereka.
Semalam Roni langsung pergi dari rumah orangtuanya setelah terjadi perdebatan dengan mereka. Pemuda berzodiak Taurus itu sangat kecewa dengan ayah ibunya yang tak bisa diajak kompromi. Ia memilih tidur di tokonya yang kebetulan ada ruangan khusus untuknya. Di sana ada juga mes karyawan. Sesuai kesepakatan ia tak akan tinggal di rumah Shahnaz untyk beberapa saat.
"Bos kenapa sih mukanya muram durja begitu?" Zaki, sahabat sekaligus orang kepercayaan Roni menatap pria bersweater abu itu dengan pandangan heran disertai tanda tanya besar di kepalanya. Belakangan ini bosnya itu selalu murung. Padahal biasanya selalu ceria dan penuh semangat. Kondisi seperti itu tentu saja mengganggu kinerja karyawan. Mereka berpikir bosnya marah. Roni sangat sensitif. Tak biasanya juga ia tidur di toko.
"Saya lagi banyak masalah Ki." Roni mengusap wajahnya kasar. Kepalanya hampir saja meledak memikirkan kelanjutan masa depannya berkenaan dengan kisah asmaranya yang rumit seperti benang kusut yang sulit untuk dirapikan.
"Masalah apaan sih Bos? Sepwrtinya berat banget? Barangkali ada yang bisa dibantu?" Zaki menawarkan diri, siapa tahu ia bisa meringankan beban pikiran Roni.
"Saya dijodohkan dengan Arifa. Sementara saya dan Shahnaz sudah menikah siri. Tadinya berharap pernikahan ini bisa membatalkan perjodohan itu. Ternyata tidak. Malah saya terjebak harus poligami. Ini sangat gila!" Roni mengungkapkan masalah yang tengah menimpanya saat ini. Sangat berat! Sebab ini menyangkut masa depannya. Memiliki dua orang istri tak pernah ada dalam pikirannya, bermimpipun tak pernah.
"Astaghfirullah, berat sekali masalahmu, Bos. Eh, bos ga bilang-bilang dah nikah?" Zaki memperlihatkan keterkejutannya
"Sorry, Ki. Semuanya serba mendadak. Ga ada yang dikasih tahu. Pwrnikahan ini terjadi untuk mencegah perjodohan saya dan Arifa. Tapi nyatanya ini ga berpengaruh kepada keputusan ayah dan bunda." Roni memberikan penjelasan.
"Sabar ya, Bos." Zaki menepuk bahu Roni pelan.
"Menurutmu, saya harus bagaimana?" Roni meminta solusi. Ia tak mau poligami. Membangun rumah tangga poligami itu memerlukan ilmu yang tinggi tak cukup bermodalkan materi. Butuh kesiapan menyal dan spiritual dengan ilmu agama yang mumpuni.
"Minggat saja Bos dan bawa Shahnaz pergi jauh biar tak ada yang merecoki. Urusan perjodohan batal dan selesai sudah." Tanpa berpikir panjang Zaki mengemukakan idenya yang sederhana.
"Ide kamu boleh juga. Kamu emang sahabat paling baik." Roni langsung setuju. Urusan pekerjaan biar Zaki yang menangani. Ia bisa memantaunya lewat online.
Roni heran mengapa ia tak berpikir sampai ke sana. Minggat.
"Thanks ya, udah ngasih solusi jitu. Sekarang saya mau mempersiapkan diri." Roni sangat berterima kasih. Kini senyumnya kembali terbit.
Ia ingin menemui sang istri secepatnya. Selain itu ia juga harus menemui Arifa.
***
Roni meraih kunci motor dan jaketnya. Ia sudah janjian dengan Arifa untuk membahas rencana pernikahan mereka, lebih tepatnya Roni ingin membatalkannya sekarang juga.
Ia menuju sebuah taman kota, tak jauh dari kampus tempat sahabatnya mengajar. Sejak dua hari ia resmi menjadi staff pengajar di kampus almamaternya.
"Aku pikir kamu ga datang. Aku sudah menunggu sejak sejam lalu." Arifa tersenyum lebar menunjukkan binar bahagia di wajah cantiknya.
"Aku pasti datang untuk acara sepenting ini." Roni menjawab dengan nada datar. Ia tak sehangat biasanya, bahkan tak mengucapkan permohonan maaf atas keterlambatan. Ia sengaja berbuat seenaknya agar Arifa tidak menyukainya.
"Terima kasih." Arifa memperlebar senyumannya hingga menampilkan deretan gigi putihnya.
"Tak usah berterima kasih." Roni merasa tak berbuat baik apapun. Ia hanya memenuhi janji temunya saja.
Keduanya kini duduk di bangku taman. Jangan bayangkan ada adegan romantis demoet-dempetan. Keduanya justru menciptakan jarak yang cukup renggang.
"Aku dan Shahnaz sudah menikah Fa." Roni sengaja menemui Arifa. Ia ingin menggagalkan rencana pernikahannya dengan gadis itu. Ia tak mau menduakan Shahnaz dan juga tak mau menyakiti Arifa yang notabene adalah sahabat sekaligus tetangga.
"Apa?"Arifa terkejut bukan kepalang. Tak menyangka jika calon suaminya melangkah sejauh itu.
Ia tahu jika Roni tengah menjalin hubungan asmara dengan gadis bernama Shahnaz namun tak menyangka jika keduanya telah menikah. Bu Sarah pun tak pernah menyinggungnya. Arifa benar-benar terpukul.
"Benar, kalau tidak percaya lihat saja foto ini." Roni memperlihatkan Foto-foto akad nikahnya bersama Shahnaz. Pria itu sangat berharap membuat Arifa patah hati.
"Kamu tidak bercanda kan?" Arifa mulai berkaca-kaca. Tega sekali Roni berkhianat disaat persiapan pernikahannya sudah delapan puluh persen.
"Aku serius, makanya ayo kita batalkan pernikahan kita. Aku tidak mau kamu menyesal di kemudian hari. Melanjutkan pernimahan ini hanya akan melukai perasaanmu saja. " Roni memgungkspkan maksudnya.
"Tidak mungkin batal karena persiapannya sudah 80 persen. Kasihan orang tua kita yang sudah susah payah mengurus semua. Kamu jangan egois Roni!" Terdengar nada sendu terucap di bibir mungil Arifa. Ia tak sanggup membayangkan orang tuanya menanggung malu dihadapan keluarga besar dan koleganya. Kegagalan pernikahan mwrupakan aib besar
"Aku akan mengganti semua kerugian." Roni menatap Arifa. Sebenarnya Roni pun merasa bersalah. Namun ia harus memperjuangkan cintanya kepada Shahnaz. Ia tak ingin mendusksnnya.
"Keluarga kita pasti menanggung malu. Lagipula undangan sudah dicetak dan sebagian sudah disebar." Arifa tidak berbohong. Beberapa kerabat jauh sudah diundang, pun dengan orang-orang penting lainnya.
Dua insan itu diam tak bergeming. Urusannya semakin runyam.
"Aku tetap ingin membatalkannya!" seru Roni tak peduli. Ia memang egois namun ini demi ketentraman jiwanya.
"Tidak!"Teriak Arifa histeris.
Arifa tak terima. Gadis itu tetap meminta Roni untuk melanjutkan pernikahan.
"Aku tak masalah menjadi istri kedua kamu," ujarnya lantang.
Arifa memutuskan melanjutkan pernikahan mereka.
"Kamu gila." Roni menatap tajam sahabatnya. Arifa sungguh keras kepala, tak mau mendengarkan kata-kata Roni.
"Iya. Kita harus lanjutkan. Apapun yang terjadi. Kalau kamu mau menceraikanku nanti setelah acara pernikahan juga tak masalah." Arifa benar-benar nekat. Ia tak peduli jika nanti harus menjanda sebelum malam pengantin. Harga diri dan kehormatan keluarganya lebih penting.
"Kamu jangan mempersulit aku." Roni membentak Arifa. Ia sangat kesal.
Arifa menangis. Tanpa bicara sepatah katapun gadis itu berlari meninggalkan Roni. Sementara Roni tak peduli dan tak berniat mengejarnya. Biarkan saja ia terluka dan patah hati.
Roni pun segera melanjutkan perjalanannya, ia berniat menemui Shahnaz di butik tempatnya bekerja. Rencana mengasingkan diri harus segera dilakukan demi kelangsungan masa depan mereka berdua.
***
Bersambung