Si Ratu Sensi

1115 Words
Kini tepat seminggu setelah pelaksanaan acara PSB di pesantren. Semua santri yang lulus sudah resmi menjadi santri di pesantren ini, semuanya sudah nampak memakai seragam resmi pesantren. Hilir mudik para santri yang menyandang kitab di tangannya, menambah kesan tersendiri. Dari hari itu juga syila sudah menjalankan kewajibannya sebagai santri selama seminggu di pesantren tersebut dan nampaknya syila sudah mulai banyak tau. Satu minggu memang waktu yang sangat singkat, namun semua santri serta ustadz dan ustadzah mengakui kecerdasan syila dalam menangkap materi pembelajaran dan hal itu membuat tasya serta kedua sahabatnya yaitu nadia serta siska nampa semakin tidak menyukai syila. Pasalnya syila yang tenar di kalangan santri bukan dirinya. "Heh Lo syila, jangan belagu deh. Mentang-mentang kamu jadi santri tauladan sudah kaya bos saja." ucap tasya dengan merampas buku yang sedang syila baca. Syila yang sedang asyik membaca buku di perpustakaan pesantren dengan ke tiga sahabatnya berdiri dan mendekati syila. "Hey kamu ngomong apa hah sama syila? Oh ok aku tau kamu iri kan sama dia." ucap sintia di depan wajah tasya. "Hey gendut aku gak ada urusan ya sama kamu." ucap tasya. "Stop tasya. Kamu jangan bicara seperti itu ya sama sintia, setidaknya dia bisa bersikap sopan daripada kamu." kini syila yang angkat bicara. "Alaaah jangan sok belain sahabat deh." ucapnya dengan sedikit mendorong syila. "Hey si ratu sensi. Apa kau tidak malu berbuat demikian hanya untuk ketenaran mu. kita disini sama, yang membedakan adalah tingkat kesungguhan dan kerajinan serta niat awal masing-masing" ucap syila yang sedikit menatap lekat ke arah tasya. "Apa, Ratu sensi? Kau tidak tau sedang berurusan sama siapa syila" ucap tasya dengan sedikit mendorong syila dan berlalu pergi. Syila dan ketiga sahabatnya mengucapkan istigfar. Mereka semua keluar dari perpustakaan dan menuju kelas mereka. *********** Syila yang kini berada di kelas  mengikuti pelajaran Kaidah Tahsin pada siang ini nampak seperti kurang semangat. Kebetulan yang mengajar tentang kaidah tahsin ini merupakan ustadz hafizh, ya si ustadz yang terkenal dengan ketampanan namun bersifat dingin serta terkenal galak. Syila sepertinya kurang memperhatikan penjelasan dari ustadz hafizh, entah apa yang ia pikirkan. "Syila!" Panggil ustadz hafizh dengan sedikit menggebrak meja di depan syila. "Ganteng" ucap syila spontan yang mendapat teriakan dari teman-temannya. Syila yang merasa malu sedikit mengikut tangan sisil, karena kebetulan syila dan sisil duduk satu bangku. 'ada-ada saja kau syia. Lucu' (suara hati ustadz hafizh) Ustadz hafizh yang merasa kurang nyaman menetralkan kembali dirinya. Dia juga melihat syila yang begitu malu. "Syila kamu keluar kelas dan berdiri di depan kantor santri, cepat" ucap ustadz hafizh. "Tapi ustadz---"  . "Tidak ada penolakan" ucapnya tegas. "Hmmm galak banget." ucap syila pelan. "Saya mendengarnya syila." ucap ustadz hafizh melirik syila. Syila yang merasa ketahuan berjalan lebih cepat karena malu. 'aduuuhhh berapa kali aku seperti ini, Ya Ampun syilaa kau ini kenapa?' Syila terus merutuki dirinya yang berbuat bodoh dan memalukan. Kini syila berdiri di depan kantor santri seperti yang ia lakukan awal masuk pesantren. Sudah setengah jam syila berdiri, tiba-tiba syila merasakan sakit di bagian perutnya. Syila sudah merasa tidak karuan, seakan semua posisi terasa tidak nyaman. Peluh mulai bercucuran di balik hijab panjangnya. Syila merasa sakit di bagian perutnya yang terus bertambah membuat wajahnya semakin memucat. Syila berpegang pada tiang listrik yang ada di sana, syila juga mulai menyandarkan tubuhnya dan berjongkok di bawah sana. Ustadz hafizh yang baru keluar dari kelas melihat syila yang bermuka pucat dan nampak peluh membasahi pipinya merasa khawatir dengan kondisi syila. "Assalamualaikum ukhty antum Tidak papa?" ucapnya panik. "Wa---wa'alaikumussalam" ucap syila dengan suara parau. "Ukhty antum istirahat saja, hukumannya selesai" ucap ustadz hafizh yang terus menampakan wajah khawatir namun tidak menampakan itu di depan syila. "Syukron" syila berjalan melalui ustadz hafizh dengan gontai menuju ke kamarnya, namun belum sempat ia berjalan jauh sakit di perutnya bertambah seakan melilit. Syila berjongkok di bawah pohon dengan sedikit menyusut peluh di pipinya. Ustadz hafizh yang melihat itu mencoba menghampiri syila. "Hmm sebaiknya ukhty ke klinik pesantren saja." ucapnya dengan nada tetap tegas. Namun, syila tidak menjawab itu dia terus menahan sakit di perutnya. Ustadz hafizh membulatkan mata saat melihat bercak dara di ujung gamis yang syila kenakan, karena syila mengenakan gamis berwarna mocca jadi bercak darah itu nampak jelas terlihat. Ustadz hafizh benar-benar tidak dpat menyembunyikan kekhawatirannya lagi, dia mendekati syila yang nampak menahan sakit. Dia mencoba mencari bantua namun tidak ada ustadzah maupun santri wati yang lewat karena pasalnya ini jam belajar santri jadi tidak ada santri ataupun para ustadzah yang di luar. "Afwan" ucap ustadz hafizh yang mengulurkan sorban yang dia pakai kearah dyila,, hafizh mencoba ingin membantu syila dengan menyuruhnya memegang ujung sorban tersebut. Syila yang sedang berjongkok dan memejamkan mata di bawah pohon kaget dengan hal itu. "Kak ngapain ih." ucap syila menepis tangan ustadz hafizh. "Afwan ukhty saya hanya mau membantu ke klinik, saya takut terjadi apa-apa dengan antum hmmm itu ada bercak darah di ujung gamis antum. Maaf kalau begitu saya cari akhwat dulu." ucapnya dengan tetap suara tegas. Syila yang mendengar itu membelalakkan matanya, ia kaget benarkah demikian?. Syila melihat ujung gamisnya ternyat benar ada bercak darah di sana. Ustadz hafizh mencoba membantunya kembali. "Jangan kak. I--i--ini darah biasa" ucapnya gugup. "Ini bukan biasa-biasa syila, mari saya antar. Saya mengikuti dari belakang saja." ucapnya dengan sedikit nada kesal. . Namun syila terus menolak, dan membuat ustadz hafizh mencoba memaksa syila. "Ini darah datang bulan, PUAS?" ucap syila dengan mencoba bangkit dan berlali meninggalkan ustadz hafizh yang memandang kaget pada syila. Namun di sisi lain dia juga bahagia ternyata darah itu bukan sesuatu yang membahayakan. 'dia kenapa sih, kan aku udah bilang ga papa tapi dia masih aja tetep ngeyel. Yang berujung aku buka-bukaan bilang aku datang bulan. Huaaaa nyebelin banget sih. Andai aku bisa memutar waktu, aku akan putar waktu beberapa tahun lalu, agar dia jadi orang gak buat aku malu dan berbuat bodoh' Ucap syila yang terus berjalan dan berkata ngasal. Syila terus berjalan gontai menuju kamarnya. ************ Syila berbaring di kamarnya dengan memegang bagian perutnya yang terasa sangat sakit. "Syila kamu gak papa" ucap sisil, namun syila hanya menggelengkan kepalanya. "Ya Allah si teteh meuni pucat gitu mukanya" ucap gadis dengan bicara sundanya. "Aku gak papa kok" ucap syila dengan mencoba bangkit dan berdiri. . "Kamu mau kemana syil?" Tanya sisil khawatir. "Aku mau ke kamar mandi" ucapnya singkat. Syila meringis kesakitan dia terus berjalan dengan gontai menuju kamar mandi. Dia melihat pantulan wajahnya di cermin. Pucat.. Begitu yang di tangkap syila dari pantulan dirinya di cermin. Namun yang syila rasa bukan hanya sakit di bagian perutnya, namun di bagian tubuh yang lain dan itu membuat syila terus beristigfar dalam hati. "Ini hanya kecapean, aku yakin." Ucap syila pada pantulan dirinya di cermin. Syila menatap nanar pantulannya dan tersenyum kala memegang kalung yang ia kenakan. Teringat kalung itu adalah pemberian dari kakaknya saat ulang tahun syila yang ke 19 tahun beberapa bulan lalu. "Hmmm kok aku rindu kamu sih kak astral." ucpa syila pelan. "Rasanya aku kangen candaan yang kurang bermutu mu itu kak." ucap syila kembali. Syila kelur dari kamar mandi, dan kembali berbaring di tempat tidur nya dengan posisi yang sulit di bayangkan. Teman-teman syila meninggalkan syila sendiri saat mereka menganggap syila telah istirahat. Mereka berlalu dan kembali menjalani aktivitas masing-masing.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD