Part 8. I’ve lost everything

3024 Words
Pria tampan dengan sorot matanya yang dingin itu menunggu panggilan yang tersambung itu agar segera dijawab dengan suasana hati yang lumayan tidak baik. “Ya, Mr. Murich.” Sapa wanita paruh baya itu terdengar memuakkan. “Dimana dia?” “A-ah ya, Madeline sedang membawanya untuk bersiap. Mungkin sebentar lagi mereka akan menuju kesana. Apakah aku harus menyuruh Madeline agar lebih cepat?” tanya wanita itu dengan suara lembut yang dibuat-buat. “Tidak usah, biarkan saja dia datang tanpa perlu di buru. Aku akan menunggu dengan sabar.” ucap Alexander dengan sedikit penekanan dengan kata-katanya. “Ah ya, Mr. Murich. Seperti yang ku katakan padamu, gadis itu terlalu naif. Dia masih membutuhkan sedikit lebih banyak waktu untuk bersiap.” Pip! Alexander memutuskan panggilan itu sepihak seraya membuang napasnya kasar, dia pun menatap pantulan bayang dirinya dari cermin. Biasanya dia akan memilih wanita jalang mana yang dia inginkan untuk teman satu malamnya, tapi segalanya mulai terasa sedikit aneh saat dia terkesan memaksakan seorang gadis untuk menjadi pelayan tetap untuknya disini, secara pribadi. Jalang yang harus melayani setiap dirinya meluangkan waktu untuk datang kemari. Dan wanita yang ia inginkan saat ini adalah wanita yang jelas masih gadis. Bisa dibilang wanita itu adalah gadis perawan untuknya. = Jemari lentik itu memulas pewarna untuk bibir ranumnya, warna merah muda dengan sedikit sentuhan jingga membuat wajahnya yang kini merasa takut dan bimbang terlihat tak terlalu pucat. Catherine kembali menghembuskan napasnya kasar, “Kau sudah melakukan yang terbaik, ini hanya pekerjaan. Tidak masalah.” ucapnya bersambut ketukan pintu. Tok..tok..tok! “Catherine, apa ada masalah?” tanya Madeline disela ketukan pintu. Kembali menghembuskan napasnya seraya menatap cermin lebih optimis. Catherine memberikan sugesti pada dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. “Ya, sebentar!” teriak Catherine sedikit membenahi rambut pirangnya yang tergerai agar mampu menutupi pundaknya yang terbuka. Bagi banyak wanita Amerika pada umumnya, memakai pakaian seksi di club adalah hal yang wajar. Tapi tidak untuk dirinya, pakaian ini terasa tidak pantas untuk dia kenakan di depan umum. Cklek! Kriiieeet... Catherine mengeluarkan kepalanya dari celah pintu, “Apakah orang-orang tak akan menatap aneh padaku?” tanyanya ragu membuat Madeline menggeleng seraya tersenyum manis. “Kau tak akan bertemu siapapun selain tamu mu, Cath.” Netra biru Catherine sedikit membelak tak percaya, “Jadi, kita tak akan berjalan melewati keramaian?” tanyanya takjub saat Madeline menganggukkan kepalanya. “Sekarang kita harus kesana. Tamu mu sudah datang dan menunggumu.” ucap Madeline membuat Catherine mengerutkan dahinya. “Apakah sistem pelayan ruangan VIP memang seperti itu?” “Maksudmu?” Madeline turut melemparkan pertanyaan. Tiba-tiba Catherine merasa sedikit gugup, “Ti-tidak, maksud ku apakah memang tamu VIP yang menunggu pelayan nya?” Wanita cantik berkacamata itu menganggukkan kepalanya, “Ya, pelanggan VIP memang berhak memilih pelayan yang dia inginkan dan sekarang kau mendapatkan tamu. VIP pertama mu. Ayo ikuti aku.” ucap Madeline tersenyum hangat. Catherine pun keluar dari kamar ganti tersebut, “Baiklah, ayo kita kesana sekarang...” ucapnya membuat Madeline mengeluarkan sesuatu dari dalam tas tangan yang ia bawa. Catherine membelak takut, “Suntikan apa itu?” tanyanya tiba-tiba merasa sangat takut. Madeline tersenyum seraya mengusap lengannya, “Ini adalah suntikan penetral alkohol, kau mungkin akan terpaksa minum demi profesionalitas pekerjaan.” ucap Madeline jelas berbohong, itu adalah sutikan pencegah kehamilan. Catherine menggeleng penuh curiga padanya, “Apakah ini sejenis narkotika?” tanyanya membuat Madeline tertawa. “Tidak Catherine, ini aman dan tidak akan membuat mu mabuk, bolehkah aku menyuntikkannya sekarang?” tanya Madeline membuat Catherine tak memiliki opsi apapun selain menganggukkan kepalanya. “Akh!” teriak Catherine saat jarum tajam itu menusuk kulit lengannya. “Sudah selesai. Sekarang ikuti aku...” ucap Madeline seraya membuang tabung suntik itu ke tong sampah. Catherine mengangguk canggung dan mengikuti langkah Madeline menuju kesebuah lorong yang terlihat begitu redup, hanya penerangan minim berwarna biru dan merah muda yang menjadi penerangan untuk langkah mereka. Catherine meneguk ludahnya saat mereka keluar dari lorong tersebut, kini dia berpijak disebuah lantai keramik yang begitu indah, bercahaya di sepanjang lorong yang tak kalah redup. Dinding-dinding yang berkilauan bagai kristal, bingkai-bingkai pintu dari potongan kaca dengan lampu-lampu gantung berwarna emas dengan pecahan kristal bening yang begitu indah. Madeline menoleh padanya seraya tersenyum, “terlihat sangat indah, bukan? Ini adalah lorong khusus untuk tamu VIP. Dan sekarang kita sedang menuju keruangan nomor satu disini. “Nomor satu?” tanya Catherine dalam kebingungan nya. “Ya, pelanggan VIP pertama mu adalah pelanggan nomor satu di klub malam ini. Jadi bersikaplah. Kemarahan nya bisa memicu kebangkrutan usaha hiburan malam ini.” ucap Madeline seolah-olah mewanti-wanti Catherine dalam sebuah peringatan penting. Catherine bergedik takut, “Aku merasa takut untuk membuat kesalahan...” ucapnya dalam gumaman. Tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, “Jangan takut, siapapun pasti akan memperlakukan mu dengan baik jika kau berperilaku dengan baik.” Catherine tersenyum manis mendengar ucapan Madeline, “Terima kasih banyak atas nasihat baik mu, Madeline...” Madeline tersenyum canggung seraya membenarkan letak kacamata nya, “Baiklah, selamat bekerja, Catherine...” Catherine tergagap takut saat melihat sekitar lima orang pria bertubuh besar dan tinggi berdiri rapi dan membungkuk sopan menyambut kedatangannya. Madeline menepuk pundaknya pelan, “Tidak apa-apa, semua orang kaya memiliki bodyguard yang selalu mendampingi mereka. Aku pergi sekarang...” ucap Madeline seraya meninggalkan Catherine. Catherine mengepalkan jemarinya erat. Menatap para bodyguard itu dengan sedikit keraguan. “Mr. Murich telah menunggu anda di dalam...” ucap pria tinggi besar itu setelah puas menilai penampilannya. Catherine mengangguk canggung, “Terima kasih...” ucapnya saat pintu itu terbuka untuknya. Ketukan sepatu hak tinggi yang Madeline berikan padanya tiba-tiba terdengar lebih banyak saat ia memasuki ruangan tersebut. Lantai dengan marmer hitam yang indah dengan tubuh tegap seorang pria dengan surai coklat gelap yang terlihat bercahaya. Pria itu berdiri membelakanginya, membuatnya ingin melangkah mundur dalam keraguan. Tapi pintu itu tertutup begitu saja. Blam! Pria itu memutar tubuhnya dan melempar senyuman padanya, “Selamat datang Catherine Swan...” Tidak, itu bukanlah senyuman, melainkan sebuah seringaian jahat. Cklak! Catherine sedikit terperanjat saat mendengar suara pintu terkunci. Catherine memutar tubuhnya dan menarik pintunya, namun ternyata pintu itu benar-benar terkunci. Seketika jantung nya berdegup kencang, firasat nya pun mengatakan ada sesuatu hal yang buruk akan terjadi. “Ke-kenapa pintunya terkunci?” tanya Catherine membuat senyuman pria itu terbentuk semakin nyata. “Hanya ada dua kemungkinan yang masuk di logika, kemungkinan pertama agar para b******n diluar sana tidak turut masuk dan mengganggu kita. Kemungkinan kedua, agar kau tak lari kemanapun...” Pria itu mengulurkan tangannya kearah Catherine, “Kemari lah, duduk disini atau kau ingin duduk di pangkuan ku? Terserah...” ucap pria itu dengan seringaian yang semakin tergambar penuh ke mesuman di wajahnya. Meneguk ludahnya kasar, “A-aku tidak ingin duduk sekarang, tugas ku disini adalah untuk melayani anda.” ucap Catherine terbata dengan suaranya yang bergetar ketakutan. “Begitu kah?” tanya Alexander melemparkan senyuman yang terkesan meremehkan Catherine. Pria itu berdiri dari duduknya dan berjalan mendekati Catherine, Catherine pun tergagap mundur hingga tubuhnya merapat di pintu. Alexander menghimpit tubuhnya dan mengukungnya agar tak pergi kemanapun. “Kau memang berada disini untuk melayani ku...” Catherine berusaha menolak tubuh pria itu agar mereka berjarak, “Aku akan melayani anda dengan baik, tapi aku mohon jangan seperti ini atau aku akan melaporkan mu kepada pemilik klub ini!” gertaknya membuat pria itu mengangkat dagunya. “Lalu, menurut mu cara seperti apa yang layak? Aku membayar mu dengan jumlah uang yang cukup besar kepada Pixie untuk mendapatkan pelayanan seks darimu. Jadi, apa kau pikir dia akan datang kemari untuk menyelamatkan mu? Uangnya pasti jauh lebih penting daripada dirimu...” bisik pria itu membuat Catherine membelak tak percaya. “Apakah anda sudah gila, tuan?! Aku berada disini hanya untuk melayani mu minum!” teriak Catherine membuat pria itu tertawa hingga rahangnya mengeras. “Berani-beraninya kau meneriaki ku, hah?!” teriak pria itu mrncengkram rahang Catherine hingga sebulir air matanya jatuh. Dirinya merasa sedang tertangkap oleh jebakan yang dibuat oleh Madam Pixie dan orang-orangnya sekarang. Apa yang harus dia lakukan sekarang? Apakah dia akan berakhir menjadi wanita jalang seperti ibunya. “Jangan berpikir untuk memberontak untuk bisa lepas dariku, sekarang ku beri dua pilihan untukmu. Layani aku disini, didalam ruangan ini, atau kau ingin melayani sepuluh bodyguard ku diluar sana? Aku tak pernah menyia-nyiakan apa yang telah ku beli dengan uang ku!” desis Alexander melepaskan wajah Catherine dari cengkramannya. “Kuberi kau waktu satu menit untuk berpikir dan aku tak pernah bermain-main dengan ucapan ku...” Lutut Catherine seketika melemas hingga jatuh berlutut di lantai tersebut saat melihat pria itu memasuki sebuah ruangan di dalam sana. Air matanya pun bertumpah ruah begitu saja mengingat ucapannya yang selalu kasar saat mengatai pekerjaan hina ibunya dan bagaimana dengan keras kepala dia saat menolak saran terbaik dari Max agar dia berhenti untuk bekerja. Apakah kini Tuhan sedang memberi tamparan keras untuknya? Menamparnya dengan sebuah realita kehidupan, mematahkan kedua sayapnya yang rapuh. “Aku sungguh tidak ingin seperti ini, Tuhan...” Tolong aku... Tolong aku!! Teriak Catherine dalam hatinya yang kini terasa hancur berkeping-keping, bahkan tak bersisa. “Tuhan tak akan pernah mendengarkan mu! Waktu mu telah habis, jika dalam hitungan ketiga kau tak kunjung masuk kemari, para bodyguard ku akan menyeretmu keluar, menghabisimu dan membuang mu ke tong sampah setelahnya!” teriakan pria itu membuat Catherine menepis air matanya. “Satu!” Teriakan pria itu membuat Catherine kontan berdiri hingga tubuhnya hampir limbung dan terjatuh karena kehilangan keseimbangan. Dia pun berjalan setengah berlari untuk memasuki kamar tersebut. “Dua!” Alexander kembali berteriak seraya mengulum senyumannya saat mendengar ketukan sepatu gadis itu berjalan cepat kearahnya. Dapat mengendalikan seseorang adalah kebahagiaan tersendiri untuk Alexander Murich. “Tiga!” “Tunggu!” teriak Catherine yang kini berada diambang pintu. Mengangkat sebelah alisnya, “Tunggu untuk apa?” Alexander kembali meleparkan senyum meremehkan kepada Catherine. Senyuman yang paling Catherine benci. Jika bisa, Catherine ingin menjambak rambut pria itu sampai memohon ampun padanya. Tapi kini dirinya sadar, bahwa dia tak memiliki kekuatan apapun untuk melawan. “Aku bertanya padamu, nona manis...” ucap Alexander entah sejak kapan berada dihadapan Catherine. Catherine berkedip takut seraya menggelengkan kepalanya, “Aku akan melayani mu!” ucapnya dengan tangan terkepal erat. “Benarkah begitu?” tanya pria itu lagi-lagi menarik dagu Catherine. Catherine membuang tatapannya kebawah seraya mengangguk ragu, “Ya, aku memilih untuk melayani anda, Mister...” ucapnya bahkan tak tahu harus memanggil pria itu dengan sebutan apa. Menyelipkan rambut pirang Catherine yang menempel diwajah basahnya disela telinga, “Aku suka panggilan itu. Sekarang tunjukan padaku bagaimana pelayanan yang ingin kau berikan untuk ku...” ucap Alexander menatap mata sembab itu dengan seksama, rona merah pipi gadis cantik itu, bahkan hidungnya yang memerah seakan menambah kecantikkan pada kulit putih pucatnya. Catherine berkedip sejenak saat menangkap tatapan dari mata hitam pekat milik pria itu, intimidasi yang pria itu berikan padanya seakan dapat membuat dadanya meledak begitu saja. “Aku paling tidak suka menunggu begitu lama...” ucap Alexander membuat Catherine tergagap dan menarik wajahnya. Catherine memejamkan matanya saat berhasil menyatukan bibir ranumnya tepat di bibir tebal pria itu. Sudut bibir Alexander tertarik saat bibir itu bergerak perlahan mengecup bibirnya berulang dan melumat bibirnya perlahan. Matanya tak lepas menatap gadis yang sedang memejam sembari memberikan ciuman yang terasa begitu amatiran untuknya itu. Catherine sedikit terkejut saat pria itu membalas lumatan bibirnya seraya mendorong tubuhnya hingga merapat ke dinding. Pria itu merengkuh pinggang nya, perlahan memberi usapan pada punggungnya. Melumat bibirnya dengan hisapan-hisapan yang kuat dan konsentrasi Catherine buyar saat pria itu menelusupkan lidah kedalam mulutnya yang terbuka untuk mencari oksigen seraya membawa kedua tangannya untuk mengalung dipundak pria itu. Catherine  sontak membuka matanya dan langsung memejam saat kristal biru netranya menemukan obsidian kelam yang menatap sendu kearahnya. “Ngghh...” gumam Catherine saat tangan pria itu dengan lancang menyentuh buah dadanya yang masih terbalut rapat dalam gaun hitam yang memiliki bantalan d**a itu. Matanya kembali terbuka saat pria itu melepaskan ciuman mereka. “Aku harap kau mulai mengerti bagaimana caranya mencium seseorang dengan benar...” bisik pria itu tepat dibibirnya, lalu Catherine kembali memejam dan mendongakkan kepalanya saat pria itu memberikan cumbuan pada lehernya disertai remasan yang kian seduktif. Catherine menahan pundak pria itu agar berhenti dan membenci tubunya yang begitu mudah untuk menikmati sensasi geli  yang pria itu berikan. “Aaahhh.. mmhhh... hentikan!” teriak Catherine berhasil membuat pria itu berhenti dan menatap wajahnya dengan senyuman bak psikopat. “Ah aku hampir melupakannya. Kau yang berkewajiban melayani ku malam ini. Baiklah, tunjukan padaku pelayanan seperti apa selanjutnya.” ucap Alexander membuat Catherine menggelengkan kepalanya. “Ma-maaf, aku sungguh tak tahu harus melakukan apa lagi...” ucap Catherine terbata seraya menundukkan kepalanya. Pria itu berjalan mundur seraya menarik tangannya, rasa takut membuat Catherine terus berusaha menghindari tatapan setajam elang milik pria itu. Tubuhnya sedikit terperanjat saat pria itu menjatuhkan dirinya sendiri hingga terduduk di ranjang. “Berikan pelayanan padaku, buka pakaian ku satu persatu hingga polos. Aku rasa tidak ada gadis polos yang tidak mengetahui apapun tentang seks...” ucap Alexander melemparkan seringaian khas nya kepada gadis itu. Catherine meremas kedua tangannya dalam bimbang dan kembali terkejut saat pria itu menarik pinggang nya hingga tubuh mereka merapat. “Aku sangat tidak suka dengan suasana yang kian membosankan...” desis pria itu menarik tubuh Catherine, memeluknya dan mendaratkan kepalanya pada perut rata gadis itu. “Cepat lakukan!” Alexander membentak. “Ya!” teriak Catherine karena rasa terkejutnya. Catherine kembali menarik wajah pria itu dan kembali memberikan lumatan pada bibir tebalnya. Lalu sedikit menunduk memberikan lumatan pada kulit leher pria itu yang sangat putih. Catherine memberikan cumbuan dengan rasa bimbang yang semakin membuatnya takut. “Ya, seperti itu...” gumam pria itu saat Catherine membuka satu persatu kancing kemejanya. Catherine hanya dapat melakukan yang terbaik untuk pria itu agar dia tidak menjadi santapan sepuluh orang diluar sana. Bibirnya kini terus mencumbu setiap inci tubuh pria itu dengan kedua kaki yang telah berlutut di lantai. Catherine memberikan cumbuan tepat pada otot-otot perut pria itu yang berbentuk kotak-kotak, hingga segalanya terhenti saat pria itu mencengkram rambutnya dan menolak kepalanya menjauh. “Aakh!” Catherine refleks bertariak tanpa perhitungan. “Aku sangat benci bertele-tele! Sekarang lepaskan ikat pinggang ku!” bentak Alexander membuat Catherine tergagap takut. “Segera lakukan!” teriak pria itu memerintah seraya mencengkram rambut Catherine semakin kuat. Catherine pun seolah terbangun dalam dirinya yang hampir terlena, tangannya yang bergetar bergerak membuka kaitan besi ikat pinggang itu dan menariknya hingga lepas. Dengan d**a yang berdegup kencang oleh rasa takut yang ada, Catherine berhasil melepas kancing celana itu berikut resleting nya. Matanya membelak takut saat tangannya merasakan  benda yang mengeras didalam celana dalam hitam yang pria itu kenakan. Dehaman yang pria itu keluarkan terdengar penuh ancaman, Catherine menatap pria itu dengan mata biru nya yang memancarkan segala ketakutan yang ada. “Bawa dia keluar...” ucap pria itu dengan suara beratnya. Catherine menganggukkan kepalanya, menarik turun kain celana itu dan matanya berkedip takut saat melihat benda asing itu mengacung tepat di depan wajahnya. Remasan tangan pria itu menjambak rambutnya kuat membuat Catherine mengusap benda itu perlahan. Dirinya memang tak sepenuhnya polos, dia pernah melihat kejantanan pria dan dia pernah menonton film biru bersama Max saat berusia 13 tahun karena penasaran. Namun, ini untuk pertama kalinya dia melihat benda itu tepat di depan matanya. Tiba-tiba perkataan Max terngiang diingatannya. Catherine, aku selalu ingin menjadi pria pertama untukmu. Menjadi cinta pertama untukmu, kekasih pertama dan terakhir mu, menjadi pria pertama yang mencium mu dan menjadi pria pertama yang bercinta dengan mu. Aku akan menunggumu sampai kapan pun itu. Sampai kita dewasa dan kau merasa benar-benar sudah siap. Ucapan Max saat dirinya genap berusia 18 tahun tahun kemarin membuat Catherine tiba-tiba merasakan sakit hatinya. Dia tak dapat menepati janjinya terhadap Max dan dia tak tahu, apakah setelah ini dia akan sanggup bertemu dengan Max lagi atau tidak. “Cepat lakukan, Catherine Swan!” bentak Alexander membuat Catherine tertarik dari lamunannya. Catherine memegang benda asing pria itu dan memberikan usapan perlahan membuat pria itu mengerang pelan. “Eating my c**k, Cath...” desis pria itu pelan. Dengan keraguan, Catherine melakukan perintah pria itu sembari mensugesti diri bahwa benda itu adalah eskrim loli kesukaannya. “Akhh... Lebih cepat, Catherine....” gumam pria itu mendesak, membantu mendorong dan menarik kepalanya. Dan semakin lama, pria itu semakin kuat dan cepat melakukannya hingga berulang-ulang Catherine tersedak hingga ingin muntah saat benda keras itu menyentuh tenggorokannya. Plup! “Hash... Haaah...” Catherine berusaha bernapas dengan baik saat pria itu mengeluarkan benda itu dari mulutnya. “Aaaakh!” Catherine berteriak kaget saat pria itu menarik dan menghempaskan tubuhnya di ranjang. Merobek bajunya begitu saja dan mencumbu dirinya, Catherine pun semakin terkejut saat tangan pria itu membuka dirinya, melakukan semua hal asing yang seharusnya tidak mereka lakukan dan Catherine tidak memiliki pilihan lain selain menerimanya dalam segala rasa sakit yang mendera pusat tubuhnya. - “Aaakh!” teriak Catherine meremas kuat seprei itu hingga tangannya merayap naik dan mencengkram lengan pria itu saat menghentak dirinya semakin keras didalam sana, bahkan berulang kali dia berteriak dan berulang-ulang ia merasakan dirinya seolah akan berhenti bernapas. Namun pria itu tak kunjung menurunkan ritme nya Catherine merasakan sakit yang luar biasa sangat dan merasa sangat marah saat terselip rasa nikmat disana. Tubuhnya berkhianat dengan harga dirinya yang terluka saat ini. Malam ini dirinya benar-benar sudah menjadi jalang sepenuhnya. Tidak jauh berbeda dengan ibunya. “Aaaaaaahhhh!!!” teriak Catherine saat tubuhnya berguncang hebat diiringi dengan teriakan pria itu dan dia merasakan sesuatu yang tumpah didalam sana. Catherine pun pecah dalam tangis nya, bagaimana jika nanti dia harus hamil? Dia sedang berada dalam masa suburnya. Catherine mengutuk semua orang yang terlibat dan membuatnya kehilangan selaput dara nya malam ini. Dirinya telah kehilangan segalanya... “Maafkan aku, Max...” lirih Catherine dengan tubuh bergetar dalam tangis saat pria itu ambruk diatas tubuhnya. Alexander pun tersenyum mendengar gumaman Catherine, “Sampaikan salam ku untuk kekasih mu, mulai malam ini kau adalah milik ku...” bisik pria itu menarik dirinya dan meninggalkannya begitu saja. Catherine langsung meringkuk dan menangis kencang, memeluk lututnya erat dan merasa dirinya benar-benar sangat kotor sekarang. “Mom, I’m so sorry....” lirih Catherine semakin pecah dalam tangisannya hingga tak sadarkan diri. Entah bagaimana akan hari esok, dirinya sama sekali tidak tahu...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD