Part 7. Saturday Night

3060 Words
Alarm ponsel Max berbunyi, menginterupsi kedua insan yang kini mulai kembali ke alam sadar. Max pun tersenyum saat matanya terbuka, mata sebiru laut milik Catherine pun menyambutnya. “Good morning...” ucap Max mengecup bibir manis itu. Catherine pun tersenyum sembari memukul d**a bidangnya, “Mengapa kau mencium ku?” tanyanya kesal membuat Max menggaruk kepalanya bagai i***t. “Bukankah semalam kita sudah berciuman dan kau adalah kekasih ku, bukan?” tanya Max membuat Catherine tersenyum malu seraya menggelengkan kepalanya. “Tidak sekarang Max, kau masih menjadi sahabat terbaik ku hingga detik ini. Selamat pagi...” ucap Catherine memeluk Max seraya menyesap d**a bidangnya. Max tersenyum sembari mengecup puncak kepala Catherine, “Mengapa sulit sekali untuk menjadi kekasih mu?” “Tidak sulit Max, kau hanya perlu bersabar menunggu waktu yang tepat.” ucap Catherine membuat Max pasrah atas keputusan gadis itu. “Baiklah Cath, aku akan menunggu waktu itu dengan sabar.” Tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, “Dan sekarang waktu sedang tak bisa menunggumu, kau harus pulang...” ucap Catherine membuat Max tertawa ringan. “Ah, rasanya tak ingin pulang...” gumam Max menguap saat melihat jam dinding yang sudah menunjukkan pukul 05.45 am. “Kau harus pulang...” ucap Catherine bersambut dengan ketukan pintu kamarnya membuat mereka berdua terkejut. Tok! Tok! Tok! “Buka pintunya, Cath! Kau tidak bisa membawa pria untuk tidur denganmu!” teriak Cecilia terus menggedor pintu sesuka hatinya. Max dan Catherine saling tatap, “Sudah kubilang, Cecilia pasti akan marah.” Gumam Max membuat Catherine menggelengkan kepalanya. “Kita tidak melakukan apapun, cepat pakai baju mu. Aku akan membukakan pintu.” Ucap Catherine membuat Max menganggukkan kepalanya. Max segera bergegas memakai baju kaosnya, Catherine pun berjalan membuka kan pintu untuk Cecilia. “Catherine!” teriak Cecilia begitu pintu terbuka. “Kau kenapa, hah?!” teriak Catherine membuat Cecilia menatap Max yang berada didalam kamar Catherine dengan curiga. “Apa yang telah kau lakukan, hah?!” teriak Cecilia membuat Catherine membuang napasnya kasar. “Aku tidak melakukan apapun! Max hanya menumpang tidur karena malam tadi hujan sangat deras. Aku menahannya untuk menginap. Apakah salah?” tanya Catherine kesal. “Kau tidak boleh bermalam dengan seorang pria, Catherine! Itu tidak baik, bisa-bisa kau kehilangan-” “Kehilangan perawan, maksud mu? Kami tidak melakukan seks, Cecilia! Jangan menilai ku sebagai cerminan dirimu!” teriak Catherine marah membuat Max menahan pundaknya. “Jangan berlebihan, Cath.” tegur Max pada Catherine, lalu menatap Cecilia penuh penyesalan, “Maaf telah menginap tanpa meminta izin darimu, Cecile.” ucap Max membuat Cecilia menggelengkan kepalanya dan tertawa canggung. “Maafkan aku, aku terlalu panik tadi saat mendapati ada sandal pria di depan. Aku pikir...” “Aku tidak akan pernah melakukan hal-hal diluar batasan, terlebih dirumah orang lain.” ucap Catherine membuat Cecilia menganggukkan kepalanya. “Ya, seharusnya aku tahu itu, aku sungguh sangat menyesal karena terkesan menuduh mu, Cath.” ucap Cecilia salah tingkah. Dia benar-benar takut bahwa Catherine melakukan sesuatu dengan seorang pria, karena Madam Pixie menyuruhnya untuk memastikan bahwa Catherine masih gadis hingga malam nanti. Ah well, rasanya aroma uang 20.000 dolar itu sudah tercium cukup jelas. “Lain kali jangan menuduh ku seperti itu, Cecile” ucap Catherine menatap Cecilia kecewa. “Ah, aku sungguh sangat menyesal, maafkan aku Cath...” ucap Cecilia memeluk tubuh Catherine. “Sepertinya kau habis bepesta malam tadi, Cecilia.” ucap Catherine yang mencium aroma alkohol dari tubuh wanita itu. Tersenyum canggung, “Ya, mungkin sisa pengaruh alkohol yang membuatku marah begitu saja padamu. Sekali lagi aku minta maaf.” ucap Cecilia penuh sesal. “Tidak apa-apa, Cecilia. Sebaiknya kau beristirahat sekarang.” ucap Catherine membuat Cecilia mengangguk setuju. “Max, katakan pada Quince bahwa aku akan datang pukul sepuluh hari ini.” Ucap Cecilia mendapat anggukan dari Max. “Aku pasti akan mengatakan padanya, baiklah aku akan pulang sekarang. Maaf sudah membuat mu mengkhawatirkan Catherine.”  ucap Max benar-benar merasa sangat tak enak hati. “Tidak apa-apa, Max. Aku rasa aku yang terlalu berlebihan. Catherine, I’m so sorry.” ucap Cecilia lagi membuat Catherine tersenyum padanya. “Tidak apa-apa, lebih baik kau mandi dan segera tidur. Aku akan mengantarkan Max keluar.” “Baiklah, aku akan masuk sekarang.” ucap Cecilia memasuki kamarnya. Max menatap Catherine seraya mengangkat pundaknya, “Aku tak menyangka Cecilia memiliki temperamen yang buruk.” “Mungkin efek alkohol yang dia konsumsi malam tadi. Mari aku antarkan keluar.” ucap Catherine menarik tangan Max bersamanya. Max tersenyum melihat tangan Catherine yang menggenggam tangannya, “Kau lebih baik tidur lagi Cath.” “Tidak, setelah ini aku akan bebersih rumah.” ucap Catherine membuat Max mengerutkan dahinya. “Kita tidur pukul satu, kau masih kurang tidur. Seharusnya...” “Seharusnya aku yang mengatakan hal tersebut padamu, Max. Tidur mu kurang, pulang dan tidur sebelum mengantarkan ku bekerja malam nanti. Aku paling akan tidur lagi setelah makan siang.” ucap Catherine berjinjit mengecup pipi Max seraya berbisik. “Hati-hati di jalan...” senyuman Max merekah, pria itu memberikan balasan dengan mengecup dahi Catherine. “Aku akan menjemputmu pukul 6 sore nanti.” “Pukul 7 saja Max. Kita sekalian pergi makan malam terlebih dahulu.” ucap Catherine melempar senyuman manisnya. “Apakah ini kencan pertama kita Baby?” tanya Max merengkuh pinggang ramping Catherine. Memukul d**a bidang Max, “Kita sudah sering pergi makan malam bersama.” “Tapi malam ini malam minggu setelah kita berciuman malam tadi, Cath.” ucap Max berusaha mengingatkan dan wajah Catherine kontan memerah. “Berhenti menggoda ku, Max. Hati-hati berkendara. Aku akan masuk kedalam.” ucap Catherine meninggalkan Max yang tergelak karenanya. “Aku sangat mencintai mu, Catherine Swan!” “Shut up, Max!” teriak Catherine menutup kedua telinganya seraya berlari kembali ke apartemennya. Max tersenyum memperhatikan tubuh gadis yang dia sukai hingga menghilang. “Ah, aku sangat senang hari ini...” gumam Max seraya memasuki lift yang terbuka untuknya. Senyuman tak pudar di wajahnya, malam tadi sungguh sangat indah... === -Darko Group- Lantunan musik klasik berputar memenuhi ruangan kantor CEO Darko Group. Pria itu memejamkan matanya dengan wajah datar dan kaki yang sedikit bergoyang. Semua orang yang mengenalnya di perusahaan ini pasti akan sangat memahami bahwa suasana hatinya sangatlah baik. Bahkan pintu ruangannya terbuka tanpa di ketuk pun, pria itu tak menggubrisnya. Biasanya Alexander akan berteriak marah dan langsung memecat siapapun pekerja yang melakukan hal tersebut. Tak heran sudah belasan sekretaris pribadi yang di pecat sejak ia menjabat selama enam tahun ini. Alexander Murich, pria berusia 35 tahun yang menjabat sebagai CEO Darko Group. Memiliki gelar sebagai CEO tampan nan dingin yang juga merupakan pemilik perusahaan tersebut. Alexander Murich adalah seorang perfectionist yang tegas dan sulit tersentuh. Dia sangat membenci kesalahan sekecil apapun, senang memerintah dan suka mengatur apapun itu. Darko Group adalah prusahaan yang menguasai berbagai bidang perniagaan baik itu legal maupun ilegal dan sebagai keturunan Murich, Alexander memiliki watak dingin ayahnya dalam bernegosiasi dan semua orang selalu takhluk di dalam genggamannya. “Woaaah... Sepertinya suasana hatimu sedang bagus saat ini” ucap Benedict Charlos yang merupakan sahabat terbaik sekaligus rekan bisnis Alexander Murich. Pria berparas dingin itu membuka kelopak matanya, obsidian kelam terpancar begitu saja, sangat kontras dengan kulitnya yang begitu pucat seperti keramik. “Apa yang membawa mu datang kemari?” tanya Alexander datar tanpa melihat kearah Ben. Pria tampan berambut hitam pekat itu berdecak kesal, “Bagaimana kau menjadi seperti ini kepada sahabat mu?” “Jika tak suka, kau bisa pergi.” Ben mendengus tak suka, “Mengapa kau begitu dingin, bahkan terhadap ku...” sungutnya kesal. “Katakan apa yang sebenarnya ingin kau ketahui dariku.” tegas Alex membuat Ben sedikit berpikir seraya mengusap dagunya. “Apakah kau benar-benar menginginkan gadis itu?” “Apakah aku wajib memberitahukannya padamu?” tanyanya Alexander menyugar surai coklat gelapnya. “Gadis itu sepertinya gadis baik-baik.” ucap Benedict membuat Alexander mencebik acuh. “Gadis manapun selalu baik menurutmu. Aku menawarkan harga yang pantas. Dia pasti tak akan bisa menolak uang dengan jumlah fantastis.” ucap Alexander membuat Ben mengangguk samar. “Bagaimana jika Pixie yang menjebaknya demi memenuhi keinginan mu?” tanya Benedict. Mengangkat kedua pundaknya acuh, “Itu bukanlah urusan ku. Jika kau tidak senang, kau bisa menghentikan ku.” ucap Alexander penuh tantangan. Ben hanya dapat membuang napasnya kasar, “Kau boleh bermain dengan wanita manapun yang memang terjun ke profesi itu, tapi kau tak bisa membuat seorang gadis terseret kedalam pekerjaan itu karena dirimu.” Menatap Ben skeptis, “Mengapa tidak boleh? Aku menginginkannya dan tak ada seorang pun yang bisa mencegah ku termasuk dirimu.” tegas Alex merasa malas ingin berdebat. Ben hanya dapat menganggukkan kepalanya, “Baiklah jika begitu, terserah apa yang ingin kau lakukan. Kau harus mengingat satu hal, sekilas dia memang mirip dengan Anne, tapi dia sama sekali bukan Anne.” ucapnya membuat Alexander menatap sinis padanya. “Perlu ku tegaskan padamu, aku menginginkannya bukan karena mereka mirip. Jika tak ada keperluan sama sekali, lebih baik kau pergi.” tegas Alexander kesal. Benedict mengangkat kedua tangannya sebagai tanda menyerah, “Aku harap harimu menyenangkan dan tak ada penyesalan setelahnya karena aku yakin gadis itu masih belum pernah tersentuh pria manapun.” ucap Benedict meninggalkan ruangannya. “Aishh, sejak kapan kau menjadi pakar s**********n?” tanya Alexander pada Ben yang sudah menghilang entah kemana. “Oh ayolah, ini New York! Bahkan banyak gadis remaja yang sudah memberikan segalanya kepada pacar mereka.” Gumam Alexander kembali memejamkan matanya. Sementara diluar, Benedict  merasa sangat yakin gadis berambut pirang itu hanyalah gadis polos yang terpaksa bekerja di klub malam tersebut. Bahkan masih lekat diingatannya bagaimana mata biru yang indah itu memancarkan ketakutan saat seseorang melecehkan nya. Bagaimana nanti jika Alexander benar-benar memperlakukannya seperti jalang? Sungguh kasihan, tapi Benedict tak bisa melarang keinginan Alexander Murich. = Alexander memutar kursinya hingga netra kelamnya menatap lanskap kota New York yang indah sore hari ini. Sudut bibirnya pun tertarik. Waktu yang terus berjalan akan membawanya bertemu dengan gadis pirang yang memikat keinginannya sejak seminggu lalu. Tapi apakah benar gadis itu masih terlalu suci untuk dia beli malam ini? Alexander merasa tak perlu memikirkan hal tersebut. Ketika dia dan uangnya bergerak, tidak pernah ada hal yang tidak mungkin. Alexander Murich selalu mendapatkan apa yang dia inginkan... === Catherine mengernyit tak suka saat melihat tampilan dirinya di cermin, mini dress hitam itu terlihat sangat tidak layak untuk dipakai bekerja. Belahan d**a yang rendah, pahanya tak sampai sejengkal terlindungi dan kain menerawang dibagian perut hingga ke pinggulnya membuatnya merasa sangat malu. “Cath, apa kau sedang bersiap?!” teriak Cecilia dari ruangan makan membuat Catherine terkesiap. “Ya, aku sedang bersiap!” teriak Catherine melihat jam yang sudah menunjukkan pukul setengah tujuh. Dia pun bergegas melepaskan dress tersebut dan segera memakai sweater serta celana jeans nya. “Aku akan memesan pizza, apa kau ingin makan pizza juga? Jika kau mau, aku akan memesan ukuran besar!” teriak Cecilia lagi. Cklek! Kriiieeet... “Tidak Cecile, aku akan pergi makan malam bersama Max.” ucap Catherine keluar dari kamarnya. “Apakah kau tidak menerima pekerjaan itu, malam ini?” tanya Cecilia berhati-hati. Menggelengkan kepalanya, “Tentu saja aku menerima pelajaran itu, Max akan mengantarkan ku setelah kami makan malam.” jelas Catherine membuat Cecilia tersenyum senang. “Syukurlah, kau tak kehilangan pekerjaan mu.” ucap Cecilia membuat Catherine tertawa. “Tentu saja aku tidak ingin kehilangan pekerjaan ku. Baiklah, aku akan pergi sekarang.” ucap Catherine hendak pergi. “Tunggu sebentar, Cath!” teriak Cecilia berlari masuk ke kamarnya. Catherine mengerutkan dahinya, “Ada apa Cecilia?” “Tunggu saja sebentar!” teriak Cecilia dari kamarnya. Catherine merasa sedikit bingung dengan tingkah Cecilia yang terasa sedikit aneh hari ini. Wanita itu tak pergi kemanapun padahal ini malam minggu, bahkan dia izin bekerja hari ini padahal dia berkata pada Max akan pergi bekerja pukul sepuluh. “Aku akan memberikan mu ini, Cath.” ucap Cecilia memberikan kotak make up untuk Catherine. “Make up?” tanya Catherine tak mengerti. “Ya, ini sudah ada two-way-cake, foundation, lipstick, blush on dan eye shadow. Oh ya, ini kuas untuk mengaplikasikan nya ke wajah mu” ucap Cecilia memberikan semua itu pada Catherine. “Mengapa kau memberikan semua ini padaku?” tanya Catherine tak mengerti. “Paling tidak kau harus memakai make-up tipis. Apa Madeline tak mengatakannya padamu?” tanya Cecilia membuat Catherine menggelengkan kepalanya. “Bahkan Madeline tak memberitahukannya padaku, mengapa aku harus berdandan?” tanya Catherine ingin menolak pemberian Cecilia. “Bawa saja, Cath. Jika Madeline tahu kau tidak memakai make-up, dia pasti akan menyuruh Asisten nya mendandani mu dengan begitu menor.” ucap Cecilia membuat Catherine bergedik takut. “Terima kasih banyak, Cecilia.” ucap Catherine sembari memasukkan kotak make up dan satu set kuas itu kedalam tas nya. “Dengan senang hati, Catherine. Aku harap pekerjaan mu hari ini berjalan dengan lancar.” “Ah well, thank you. Aku akan pergi sekarang.” ucap Catherine pada Cecilia yang kini mengantarkan nya sampai kedepan pintu. Catherine tersenyum saat melihat Max yang keluar dari lift, “Hai Max!” “Aku baru saja berniat akan menelpon mu, Cath.” ucap Max membuat Catherine tersenyum senang. “Tidak perlu repot-repot, Max. Aku sudah tahu kau tidak pernah terlambat menjemput ku...” ucap Catherine memeluk lengan Max. Max tersenyum senang kembali masuk kedalam lift bersama Catherine, “Kau terlihat sangat cantik malam ini.” ucap Max mengusap rambut pirang Catherine yang terlihat sedikit bergelombang malam ini. “Aku hanya ingin terlihat lebih segar malam ini.” “Jangan terlalu cantik, nanti banyak pria yang tertarik padamu. Aku tidak suka. Mengerutkan dahinya, “Aku juga tidak suka jika sahabat ku menjadi begitu posesif.” tegas Catherine membuat Max mendesah lelah. “Aku ini calon kekasih mu, Cath.” “Makanya aku merasa takut untuk menjalin hubungan lebih dari sekedar sahabat denganmu, kau pasti akan menjadi jauh lebih posesif.” ucap Catherine mengerucutkan bibirnya. Max pun tertawa renyah, “Baiklah, aku tak akan membuatmu merasa takut padaku. Aku akan menjadi pria yang super pengertian untuk mu.” Catherine memeluk lengan Max erat, “Ah, itu baru calon pacar yang baik.” ucapnya membuat tawa Max memecah. === Muda-mudi itu melewati malam minggu nya dengan menyenangkan. Berjalan di sekitaran Time Square, pergi menonton dan memakan beragam cemilan di Central Park. Catherine tak henti tertawa dengan kelakar Max dan Max merasa sangat senang dengan sabtu malam ini. Mereka sungguh menikmati kebersamaan ini. Di sepanjang perjalanan, Catherine memeluk tubuh Max dengan erat, banyak hal yang mereka ceritakan dan entah mengapa Catherine merasa tak ingin malam ini segera berakhir dan bertemu saatnya mereka harus bekerja. Catherine merasa sedikit tidak siap dengan pekerjaan barunya malam ini, namun dia tak bisa mengatakannya pada Max. “Apakah aku harus menjemputmu pagi nanti?” tanya Max membuat Catherine menggeleng samar. “Tidak usah Max, aku akan menghubungi mu besok.” ucap Catherine membuat Max mengangguk seraya menghentikan motornya. “Semoga pekerjaan mu berjalan dengan baik.” ucap Max membantu Catherine melepas helm di kepalanya. “Terima kasih Max. Aku akan masuk sekarang...” ucap Catherine hendak pergi, namun Max menarik tangannya dan mengecup pipinya. “Jangan lupa hubungi aku, besok...” bisik Max membuat Catherine balas mengecup pipi Max. “Pulang lah dan istirahat. Sampai jumpa di lain waktu.” Bisik Catherine membuat Max tersenyum senang. Bukankah hubungan mereka telah terjalin dengan begitu mendebarkan, Max yakin dirinya hanya perlu menunggu sedikit lagi sampai Catherine bersedia menjalin hubungan cinta dengannya. ♣️Roxanne Club♣ Catherine menghembuskan napasnya kasar saat melangkah memasuki ruangan loker klub tersebut, bahkan sapaan Luke dan Alinski tak membuat perasaannya jauh lebih baik. Catherine sedikit terkejut saat melihat Madeline menunggu tepat di dekat loker nya. “Ka-kau disini?” tanya Catherine sedikit terbata. Madeline tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, “Aku senang kau datang tepat waktu, aku akan mengantarkanmu keruangan ganti untuk para petugas ruangan VIP. Kau bisa mengemas barang-barang mu di loker ini.” “Apakah aku tak akan kembali lagi menjadi pelayan bar?” tanya Catherine memastikan. “Setiap minggu akan ada perputaran sampai kau menjadi pegawai tetap dan kau berhak memilih untuk menjadi pelayan dibagian mana di klub ini.” ucap Madeline menjelaskan. “Itu berarti aku boleh memilih menjadi pelayan bar saat menjadi pegawai tetap nantinya?” tanya Catherine sedikit bersemangat. “Tentu saja, sekarang kau bisa ikuti aku.” ucap Madeline melangkah semakin dalam dan Catherine mengikuti langkahnya. Kini Catherine merasa sedikit bimbang dengan apa yang dia rasakan saat ini. Antara takut dan berusaha mensugesti dirinya bahwa semuanya akan baik-baik saja. = “Aku akan berdandan sendiri.” Jawab Catherine cepat saat mendengar tawaran dari Madeline. Melihat jam tangannya, “Baiklah jika begitu, kau akan menemani pelanggan VIP tepat pukul 12.30 am. Aku akan menunggu disini, segera bersiap.” “Baik, aku tidak akan lama.” ucap Catherine memasuki ruang ganti. Sementara di pintu masuk, lebih dari lima bodyguard masuk kedalam club tersebut mengawal tuannya yang merupakan tamu terbaik di Club ini. Semua pegawai lama di club itu sangat segan dengan pengusaha muda ternama yang dikenal dengan Alexander Murich. “Aah... Dia benar-benar sangat keren...” gumam Luke melihat pria itu berlalu. “Siapa dia?” tanya Alinski penasaran. “Alexander Murich, tamu nomor satu di klub ini.”ucap luke membuat Alinski mengangguk paham. “Berarti dia tamu VIP?” “Ya, tentu saja!” seru Luke mengangguk penuh semangat. “Kau tahu, katanya hari ini Catherine menjadi pelayan diruang VIP.” ucap Alinski membuat Luke membelak tak percaya. “Kau tahu darimana?!” teriak Luke tak percaya. “Aku mendengarkan percakapan Stacey dan Madeline tadi.” Luke terdiam sejenak, “Rasanya aneh jika Catherine langsung menjadi pelayan untuk tamu VIP. Gadis itu masih sangat baru.” “Apakah sebelumnya tidak pernah ada?” tanya Alinski tiba-tiba merasa penasaran. “Ada beberapa, tapi mereka telah bersepakat untuk memberikan pelayanan lebih untuk tamu diruangan VIP.” ucap Luke menatap Alinski dengan mata membesar. “Jadi...” “Apakah Catherine memang bersedia melakukannya?” tanya Alinski tak percaya. Luke mengusap wajahnya kasar, “Oh tidak...” “Mungkin Catherine memerlukan uang dalam jumlah besar dalam waktu singkat.” ucap Alinski membuat Luke menggeleng samar. “Aku harap dia tak mengambil langkah sejauh itu...” “Ya, dia gadis yang baik...” ucap Alinski membuat Luke mengangguk setuju. “Aku berharap dia baik-baik saja...” ucap Luke. Alinski menganggukkan kepalanya, “Aku juga mengharapkan hal yang sama...” Tapi sudah jelas, Catherine tidak baik-baik saja...
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD