Dering ponsel silih berganti berbunyi, Catherine tahu siapa yang menelpon. Dirinya hanya terlalu malas untuk meladeni Max dan berakhir kembali memarahi pria itu. Catherine tidak meragukan maksud baik Max, tapi setidaknya dia ingin Max sedikit saja memberikan kepercayaan untuk dirinya. Ini hidupnya, baik dan buruk hanya dia yang tahu dan biarkan dirinya sendiri yang memilih dan menjalani.
Catherine pun tak mampu melawan hatinya sendiri, meraih ponselnya dalam berjuta bimbang, Max adalah sahabatnya yang baik, mereka memulai persahabatan ini sejak mereka belum mengenal apa itu dunia. Meskipun lebih tua satu tahun darinya, Max memilih masuk sekolah dasar ditahun yang sama dengannya. Hanya demi menjaga dan selalu memastikan bahwa dirinya tak sendirian.
Jadi tak seharusnya dia marah seperti itu pada Max, pria baik itu mengkhawatirkan dirinya. Tapi apakah harus selamanya seperti itu?
Mungkin Catherine memang terlalu realistis, dia tahu tak selamanya Max akan selalu memprioritaskan dirinya. Waktu yang berlalu selalu siap mengubah semuanya. Hingga berbeda dan tak lagi sama.
"Halo Max..."
"Thanks god! Finally aku dapat mendengar suara mu lagi..."
"Jangan berlebihan Max" ucap Catherine menahan tawanya.
"Cath, aku benar-benar menyesal dan meminta maaf karena terkesan memaksakan mu untuk mengikuti apa yang menurut ku benar." ucap Max sarat akan penyesalan.
Catherine pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, "Ya, aku mohon setelahnya, jangan ulangi lagi..." ucapnya penuh peringatan membuat Max tertawa."Yass, captain!Aku berjanji padamu!" ucap Max penuh semangat.
"Kau sedang apa, Max?" tanya Carherine untuk berbasa-basi.
"Aku baru saja selesai untuk pengiriman barang terakhir hari ini. Rasanya sangat lapar, lelah dan ingin bertemu denganmu." Senyuman manis pun tercipta di wajah cantik Catherine.
"Datanglah kemari, aku akan memasakkan makanan untukmu."
"Wooaah, apa kau serius, Cath?" terdengar suara Max yang sangat bersemangat dan takjub.
"Aku tidak bercanda, Max datanglah kemari. Aish kau ini, sudah hampir jam sepuluh malam belum juga makan." omel Catherine membuat Max tertawa diseberang sana.
"On the way, Cathy!"
"Ya, hati-hati berkendara, Max. Jangan mengebut!"
Ayeay, Ma boo!" teriak Max membuat Catherine tersenyum malu.
Sahabatnya yang paling berharga di dunia ini, Catherine sangat menyayanginya.
-
Dengan sedikit berhati-hati Catherine keluar dari kamarnya dan mendesah lega saat mengetahui Cecilia dan teman kencannya sudah tak berada dirumah. Dia berniat memanaskan krim sup jagung yang dia masak untuk makan malam tadi dan menggorengkan beberapa potong ayam untuk Max.
"Aku harap kau tidak memberitahukan pada Max bahwa aku bekerja untuk tamu VIP dengan gaun seperti ini." ucap Catherine memastikan pada Cecilia.
"Oh Cath, apa untungnya aku mengatakan itu pada, Max?" tanya Cecilia membuat Catherine tersenyum hambar.
"Max pasti akan sangat khawatir dan mengganggu ku jika mengetahuinya." ucap Catherine membuat Cecilia tertawa.
"Apakah Max pacarmu?" Catherine sontak menggeleng.
"Tidak, dia hanya sahabat baik ku, Cecil."
"Nah, untuk apa kau takut dengannya? Jika dia bukan pacar yang dapat mencukupi kehidupanmu, jangan pedulikan dia."
"Tapi Max selalu khawatir berlebih akan keadaan ku" ucap Catherine dengan kening bertaut.
"Jika begitu, minta dia mengencani mu, tinggal bersama dan mencukupi kebutuhan hidupmu. Jadi kau tak perlu bekerja lagi dan dia tidak perlu mengkhawatirkan mu."
"Tidak Cecilia, Max sahabat terbaik yang ku miliki. Aku tak ingin hubungan cinta merusak persahabatan kami"
Cecilia berdecak kesal, "Hubungan dan pikiran para remaja memang benar-benar rumit..." keluhnya membuat Catherine tertawa.
"Kau sendiri baru berusia 20 tahun, Cecilia!"
"Yup, tapi aku hidup dengan realistis. Kau juga, Cath. Jaga jarak dengan sahabat posesif mu itu atau selamanya dia akan mengekang langkah mu dengan alasan demi kebaikan dirimu. Sigh!"
"Akh!" teriak Catherine saat ujung jarinya terkena penggorengan panas.
Catherine membuang napasnya kasar, menjaga jarak dari Max? Bukankah itu akan menyakiti hati Max?
Catherine terkesiap oleh dering ponselnya yang menggema dari saku ponselnya, "Ya Max?" jawabnya dengan segera.
"Aku sedang membeli minuman dan coklat untukmu, Apakah kau ingin yang lainnya?" tanya Max membuat Catherine tersenyum.
"Apakah kau sudah dekat?" tanya Catherine memastikan.
"Mini market tepat disamping apartement."
"Belikan aku banana milk dan eskrim coklat. Cepatlah datang."
"Yes baby..."
Pip!
Catherine tersenyum malu, lalu terburu-buru mengangkat ayam goreng untuk Max dan senyumnya semakin merekah saat microwave berbunyi pertanda garlic bread untuk Max sudah siap. Max benar-benar datang tepat waktu.
=
Ting..tong!
"Ya, sebentar!" teriak Catherine berlari membukakan pintu untuk Max.
"Selamat malam, Ms.Swan..." ucap Max menyodorkan setangkai mawar merah dan coklat untuknya.
"Terima kasih, Max..." ucap Catherine menyambut tanda permintaan maaf dari Max.
Selalu seperti ini sejak mereka berada di middle school. Max akan memberinya coklat dan bunga saat mer, ka berbaikan setelah bertengkar. Siapa bilang Catherine tidak menyimpan rasa untuk Max, Max adalah pria terbaik dalam hidupnya. Catherine tak ingin menjalin hubungan disaat mereka masih sangat labil. Jika mereka putus, mungkin Catherine akan kehilangan segalanya.
Begitu Max masuk dan pintu terturup, Catherine pun memeluk tubuh Max erat.
"Maafkan aku juga, Max..."
Bagai angin segar, Max balas memeluk Catherine dengan begitu erat.
"Aku yang seharusnya meminta maaf padamu, maaf telah egois menentukan apa yang baik untukmu..." ucap Max menyesal.
Catherine melepaskan diri dari pelukan Max, "Ayo Max, kau harus makan!" ucapnya menarik tangan Max untuk kedapur bersamanya. Wah, kelihatannya sangat lezat..." ucap Max membuat Catherine tersenyum.
"Kau harus menghabiskannya, sangat sayang jika harus membuang makanan." ucap Catherine menyodorkan ayam goreng ke mulut Max.
"Aku pasti akan menghabiskan semuanya. Ah, sudah sangat lama rasanya tidak memakan masakan mu..." ucap Max disela kunyahan nya.
"Tepung instant ayam goreng ini sangat enak, Aku selalu menggunakannya bahkan untuk membuat crispy beef steak." ucap Catherine membuat Max tersenyum.
"Jika menjadi suami mu, aku pasti akan selalu senang saat pulang bekerja..." ucap Max membuat Catherine membelak tak percaya,
"Oh Max, you just ninteen!" teriak Catherine membuat Max tergelak Senang.
"Aku akan menjadi Hot Daddy di usia 20 tahun jika kita menikah sekarang." kelakar Max membuat Catherine bergedik geli seraya memakan eskrim coklat yang Max belikan untuknya.
Makan malam itu berlangsung dengan menyenangkan. Mereka saling bertukar cerita dan Catherine tak sama seksli menceritakan tentang dirinya yang mulai besok akan mendapatkan tugas sebagai pelayan diruangan VIP dengan pakaian yang sangat minim. Catherine yakin, minggu depan dia akan menerima pekerjaan dibagian lainnya. Dia berharap dapat kembali menjadi pelayan bar. Orang-orang disana sangat menyenangkan.
"Jadi, besok aku boleh mengantarkan mu pergi bekerja?" tanya Max menarik Catherine dari lamunan nya.
Mengangguk mantap, "Ya, harus berapa kali aku mengatakan nya padamu?" tanya Catherine seraya meletakkan minum untuk Max yang melemparkan senyum bak i***t padanya.
"Ahh, aku pasti akan tidur dengan nyenyak malam ini..." ucap Max bersambut dengan kilatan langit yang gelap.
"Sepertinya akan turun hujan." ucap Catherine disusul oleh suara gemuruh petir yang sangat kencang.
Blaaar!
"Aaaa!" teriak Catherine histeris, berjongkok menutup kedua telinganya.
Max yang khawatir langsung membawa Catherine kedalam pelukannya. Catherine tetap saja seorang gadis yang takut akan petir.
"Sssstt... jangan takut, aku ada disini..." bujuk Max disertai hujan yang mulai turun diluar sana.
"Hujannya sangat deras Max..." ucap Catherine terlihat khawatir.
"Ya, Cath..."
"Bagaimana kau akan pulang?" tanya Catherine dalam gumaman nya.
"Setelah hujan reda, aku akan pulang. Sekarang aku akan mengantarkan mu ke kamar."
"Kau juga harus mandi, Max. Pasti sangat gerah seharian berada di jalanan." ucap Catherine.
"Apakah aku boleh menumpang mandi?" tanya Max membuat Catherine mengangguk dan mengambilkan haduk cadangannya untuk Max.
"Mandilah..." ucap Catherine membuat Max menatapnya khawatir.
Max mengambil headphone dari dalam tasnya, "Dengarkan musik saja, ya? Aku khawatir akan ada petir lagi..." ucapnya memasangkan ke kepala Catherine.
"Terima kasih, Max."
"Berbaringlah, aku tak akan lama." ucap Max dituruti oleh Catherine.
Max menyalakan lagu Love you like song milik Selena Gomez yang sangat Catherine sukai. Mengusap rambut pirang gadis cantik yang melemparkan senyuman kepadanya. Max sangat menyukai binar bahagia dimata sebiru langit yang indah milik Catherine.
Dan itulah yang menjadikan alasan terbesar Max mencintai dan selalu ingin membahagiakan Catherine. Max selalu ingin melihat permata biru itu bersinar indah, akan lebih membahagiakan jika itu karena dirinya.
Max berharap suatu saat Catherine akan membalas semua perasaan cintanya...
***
Roxanne Club
"Benar-benar suatu kehormatan bagiku anda mengundang ku kemari, Madame Pixie." ucap Cecilia membuat senyuman wanita paruh baya yang cantik dan licik itu merekah sempurna.
"Aku selalu mengundang seseorang yang berjasa dan sangat aku perlukan." ucap Pixie langsung ke intinya.
"Wow, jasa apa yang telah ku berikan padamu dan apa yang kau perlukan dari ku, Madame?" tanya Cecilia turut langsung ke inti pembicaraan. Wanita paruh baya itu sangat benci terlalu banyak basa-basi.
Madame Pixie menuangkan wine terbaik miliknya dan menyodornya kepada Cecilia, "Terima kasih karena telah membawa gadis itu bekerja disini..."
Mata Cecilia pun membelak sempurna, "Catherine Swan maksud mu?"
Madame Pixie mengangguk, "Ya, paras cantik nya dan senyumannya yang murni membuat para pelanggan bar sangat menyukainya. Ya, meskipun dia terlalu naif, tapi dia sangat cepat beradaptasi..."
"Apakah itu alasan mu menugaskannya langsung keruangan VIP? Dia sangat polos dan masih perawan..." bisik Cecilia membuat Madame Pixie tertawa lepas.
"Karena itulah aku berterima kasih padamu. Kau tahu pelanggan nomor satu klub ini, bukan?"
Cecilia kembali membelak dan menutup mulutnya tak percaya, "Jangan bilang, kau akan menjual Catherine padanya?!"
Madame Pixie kembali pecah dalam gelaknya, "Kami sudah bersepakat dan besok adalah transaksi nya." ucap wanita paruh baya itu melemparkan amplop uang untuk Cecilia.
"Apa ini?" tanya Cecilia membuka amplop itu dan matanya seakan ingin keluar saat mengetahui jumlahnya.
"10.000 dolar pertama sebagai upah karena kau telah membawa gadis berharga itu kemari dan 20.000 dolar akan aku berikan lagi jika kau dapat memastikan dia datang besok, karena kata Madeline dia terlihat begitu ragu."
Cecilia mengangguk antusias saat mengetahui tugasnya tidaklah sulit, "Aku pasti akan memastikan dia pergi, besok."
"Dan, bisakah kau memastikan apakah dia masih perawan atau tidak? Aku akan menaikkan harga tertinggi jika dia masih perawan."
Cecilia kembali mengangguk dengan penuh keyakinan, "Aku sangat yakin dia seratus persen masih belum pernah melakukan seks."
Madame Pixie pun tersernyum puas, "Aku akan memberimu akses untuk bersenang-senang diruangan VIP malam ini."
"Benarkah? Bukankah anda memberiku terlalu banyak?" tanya Cecilia takjub.
"Catherine Swan yang membuat kita mendapatkan banyak besok malam..."
"Aku sangat bersyukur karena telah menolongnya..." ucap Cecilia dengan senyuman licik yang terbit.
"Bersenang-senang lah malam ini, Cecilia..."
"Tentu saja, aku akan bersenang-senang sampai pagi..."
"Ingat akan tugas mu." ucap Pixie mengingatkan gadis sialan yang gila narkoba dan berpesta itu.
"Sure, Madame" Cecilia keluar dengan bahagia dari ruangan wanita paruh baya yang gila uang itu.
Kedua wanita berbeda generasi yang sama-sama gila.Saling mengatai dalam hati masing-masing, namun mereka bekerja sama demi tujuan yang sama. Uang yang berlimpah.
Dasar para manusia serakah...
***
Catherine kembali menguap karena suara hujan dan angin membawa rasa kantuk untuknya. Max yang sudah mandi terlihat sibuk menonton youtube di ponselnya demi menghibur diri.
"Max, sepertinya akan hujan sampai pagi..." ucap Catherine dengan hatinya yang mencemaskan Max.
"Tidak apa-apa, begitu reda aku akan pulang. Jangan cemaskan aku." ucap Max yang kini menangkap Catherine yang sedang menguap karena rasa kantuknya.
"Apakah kau sudah sangat mengantuk?"
"Ya, Max..."
"Tidurlah, petirnya sudah menghilang." ucap Max membuat Catherine menggelengkan kepalanya. Entah mengapa, Catherine mersakan perasaan yang sangat tidak nyaman malam ini.
"Aku akan keluar jika kau tak bisa tidur karena ku..."ucap Max kini merasa tak enak hati.
Catherine membuang napasnya kasar, "Bukan begitu, Max..." sungut Catherine kini membuat Max merasa serba salah. Takut salah dan kembali membuat Catherine marah padanya.
"Jadi, apa yang harus ku lakukan, Cath?" tanya Max memastikan.
"Sebaiknya malam ini kau menginap saja..." ucap Catherine membuat Max menjadi salah tingkah.
"Bagaimana jika Cecilia tidak mengizinkan?" tanya Max membuat Catherine mengulurkan tangannya kepada Max.
"Kemarilah Max, rasanya aku ingin tidur di dalam pelukan mu. Cecilia tidak akan marah, kau sahabat ku dan kita tak akan melakukan apapun. Santai saja..." ucap Catherine meyakinkan Max yang terlihat ragu.
"Ayolah, Max. Peluk aku, aku sudah sangat mengantuk dan kau perlu untuk tidur, besok kau harus bekerja." omel Catherine membuat Max melihat jam di ponselnya yang sudah menunjukkan hampir pukul satu pagi.
"Iya Cath, aku harus melepas Hoodie ku dulu." ucap Max tak sanggup mendengarkan Omelan Catherine.
"Buka juga baju mu, Max."
"Hah?!" tanya Max terkaget.
"Kau sudah memakai nya seharian, pasti gerah jika kau pakai untuk tidur..." ucap Catherine membuat Max mengangguk paham.
Max begitu canggung merebahkan tubuhnya di ranjang sempit Catherine dengan bertelanjang d**a. Dia sedikit terkejut saat Catherine memeluk tubuhnya dan menyandarkan kepala pada d**a bidangnya.
"Max, aku khawatir jika kau pulang malam ini, apalagi engan motor. Jalanan licin, kau bisa tergelincir. perasaan ku malam ini benar-benar sangat tidak nyaman. Tak tahu mengapa..."
Max pun tersenyum mengusap surai pirang Catherine yang lembut, "Terima kasih telah menghwatirkan ku, Cath..." gumamnya membuat Catherine semakin memeluk tubuh Max dengan erat.
"Aku tak ingin kehilangan mu, Max. Kau satu-satunya yang ku miliki di dunia ini..." ucap Catherine membuat Max menangkup wajahnya dan menyatukan dahi mereka.
"Kau juga satu-satunya yang ku miliki, Catherine. Karena tak memiliki sosok seorang ibu dalam hidup ku, kau lah cinta pertama dalam hidup ku..."
Catherine menatap mata hijau Max, menelisik kesungguhan pria itu. Max juga pria pertama yang paling dia sayangi di dunia ini.
"Aku juga sangat menyayangi mu, Max..." ucap Catherine membuat Max mengecup puncak kepalanya.
"Kau tahu? Sesungguhnya aku sangat cemburu melihat mu nyaman dengan dunia pekerjaan mu. Dunia malam yang bebas akan membuatmu bertemu dengan banyak pria, entah itu baik ataukah buruk, aku taku gagal menjaga dan memiliki mu..." ucap Max membuat Catherine tersentuh.
"Aku pasti akan menerima persaan mu, Max. Kau pria terbaik dalam hidup ku, tapi tidak mungkin sekarang..." ucap Catherine dengan mata berkaca-kaca.
"Aku percaya padamu, Cath. Tapi aku mohon jaga dirimu dan hati mu, demi ku..." ucap Max penuh permohonan membuat Catherine tersenyum seraya menganggukkan kepalanya.
"Ya, Hanya kau pria terbaik di dunia ini, aku rasa tidak mungkin aku bisa menerima pria lain dalam hidup ku selain dirimu..." ucap Catherine bersungguh-sungguh.
"Benarkah?" tanya Max memastikan.
"Ya Max..." ucap Catherine mendongak dan menarik wajah Max hingga bibir mereka bertemu dalam sebuah ciuman.
Max sedikit terkejut dan senang saat Catherine memberikan ciuman pertama untuknya. Itu juga ciuman pertama untuknya. Dengan gerakan ksku keduanya saling memberikan kecupan untuk bibir mereka. Ciuman amatir itu terjalin, keduanya memejamkan mata mengikuti naluri masing-masing. Catherine sedikit terkejut saat bibirnya dikulum oleh Max, namun rasa dari kuluman bibir Max membuatnya dapat menikmati dan turut melumat bibir Max.
Keduanya saling membuka mata saat ciuman itu terlepas, dengan napas memburu keduanya tertawa.
Max mengusap pipi Catherine, "Terima kasih telah memberikan ciuman pertama mu, untuk ku..." ucapnya membuat pipi Catherine semakin memerah. Catherine memeluk tubuh Max dengan erat menyembunyikan wajahnya yang memerah malu kedalam d**a bidang Max.
"Sudahlah Max, ayo kita tidur..." ucap Catherine merasa sangat malu dan dadanya kini berdebar hingga ingin meledak. Hatinya pun senang ketika mengetahui debaran itu tak hanya miliknya sendiri.
Max berdebar bersamanya...
"Aku sangat senang dapat melewati sepanjang malam dengan nyanyian hujan yang romantis ini bersama mu..." ucap Max membuat Catherine tersenyum senang. Sejujurnya, dia juga menikmati malam yang indah ini.
Catherine berharap ciuman tadi tidak merusak persahabatannya dengan Max...