Part 5. This is My Life

3133 Words
A few days later...  Waktu pun terlewati dengan baik, tak sepenuhnya baik, namun Catherine merasa dibalik semua kesulitan kecil yang dia hadapi, semua itu adalah tempatnya untuk belajar menyesuaikan diri. Ini hari keempat dia bekerja dan ini hari dimana dia harus masuk kedalam rumah saat dini hari dan melihat rumah Cecilia begitu berantakan, suara khas rintihan pasangan yang sedang bercinta dan mereka yang dalam keadaan mabuk memang seakan tak memiliki waktu untuk mengunci pintu.  Blam! Cklak! Catherine tak dapat melakukan apapun selain segera mengunci pintu kamar rapat-rapat dengan d**a yang bergemuruh takut. Kemarin dia jelas-jelas melihat Cecilia bercinta diruang tengah dalam keadaan mabuk bersama pria yang dia kencani. Pria yang berbeda setiap harinya membuat Catherine merasa tinggal bersama Cecilia tak jauh berbeda dengan tinggal bersama ibunya yang notanene nya seorang p*****r.  Catherine membuang napasnya kasar, "Don't judge her, Cath! Kau menumpang dirumahnya dengan bayaran perbulan yang terbilang murah..." desis nya kesal.  Catherine membuka tasnya dan membenarkan uang-uang yang terlipat. Ini uang tip dari para pelanggan, selalu lebih dari 100 dolar setiap malam dia dapatkan sejak hari kedua bekerja. Dirinya kini berusaha untuk santai menerima godaan para pelanggan dan semua uang tip ini pelanggan berikan setelah mengusap tangannya, menyenggol payudaranya dan menyentuh bokongnya. Tanpa sengaja, mereka mengatakan maaf karena tidak sengaja.  Mereka pura-pura tidak sengaja dan dirinya harus tetap tersenyum menerima semua maaf itu dan berpura-pura tidak apa-apa, dengan mengatakan 'tidak apa-apa'. Pekerjaan menuntutnya untuk seperti itu.  Bukankah dia tidak jauh berbeda dengan wanita jalang yang melayani pria demi uang? Mengapa dia menempatkan dirinya pada keadaan ini demi mencari uang?  "Tidak apa-apa, ini hanya untuk sementara...." ucap Catherine tersenyum miris memasukan uang itu kedalam dompetnya. Sudah mendapatkan 460 dolar uang tip dalam tiga hari, melebihi upahnya seminggu.  Catherine bingung harus merasa senang ataukah sedih... Membuang napasnya kasar, "Kau tidak boleh lemah. Ini masih langkah pertama." ucap Catherine menghibur dirinya sendiri. Mengusap wajahnya kasar dan memilih untuk mandi agar tidurnya jauh lebih nyenyak.  = Catherine langsung merebahkan tubuhnya, membiarkan matanya terpenjam. Dia tidak ingin lagi merenung dan berpikir lebih banyak, tubuh dan hatinya benar-benar sangat lelah.  Ada sebuah hasrat ingin segera mengumpulkan uang dan tinggal seorang diri di tempat yang lebih nyaman. Ada pula keinginan untuk mencari pekerjaan lain. Tapi seperti yang Megan katakan, bahwa bertahan tidak akan sulit jika kita memiliki tujuan akhir dari semua ini.  Catherine yakin tidak sampai lima bulan bekerja, bahkan dia bisa menyewa tahunan sebuah flat sederhana yang nyaman. Catherine akan mencari pekerjaan lainnya setelah mendapatkan tempat tinggal tetap. Dia akan memulai hidup dengan baik dan mengumpulkan uang untuk tinggal di Los Angeles ataupun San Francisco.  Memulai hidup baru di negara bagian beriklim sub tropis yang nyaman dan hangat. Aroma laut dan aroma bekas hujan yang menenangkan, Catherine ingin melanjutkan pendidikannya, memiliki pekerjaan yang lebih baik hingga dapat hidup dengan tenang.  Katakanlah ketenangan hanya sebuah fatamorgana semu dalam sebuah kehidupan, tapi Catherine tidak peduli dan akan terus mencari ketenangan itu sampai dia sendiri yang menemukan dan merasakannya.  Di dunia ini, Catherine hanya ingin mencari ketenangan...  *** Disebuah Mansion yang berada di kawasan Meadow Lane atau yang biasa disebut dengan Billionaire Lane yang berada di Southampton, Amerika Serikat. Tempat tinggal para billionaire dan orang-orang ternama di New York.  Pria itu duduk menatap hamparan pantai Hamptons yang indah dari dinding kaca kamarnya. Matanya yang terpenjam kembali terbuka saat dering ponsel berbunyi.  "Ada apa mengganggu ku, Pixie?" tanya pria bernama Alexander Murich itu dengan nada tak suka.  "Ah, maafkan aku, Mr. Murich. Tapi aku sudah menyediakan semua wanita yang kau pinta."  "Ya, aku tahu..." ucap Alexander tanpa selera. "Ya? Mengapa kau pergi tanpa memilih salah satupun dari mereka?"  "Aku tidak menginginkan mereka." Alexander berucap malas.  "Aku telah menyiapkan sesuai permintaan anda, gadis pirang bermata biru dengan senyum yang menawan."  Alexander membuang napasnya kasar, "Sudah kubilang padamu, gadis yang kuinginkan tidak ada disana, berhenti mengganggu ku atau aku akan berhenti mengunjungi tempat mu." "Apakah tidak ada ciri spesifik tentang gadis yang kau inginkan?" Wanita itu berkeras ingin tahu.  Alexander memejam, mengingat gadis cantik dengan senyuman yang menawan yang berkaca di kaca mobilnya. Gadis yang membuatnya resah dalam keinginan sejak pertama kali melihatnya, Alexander ingin memilikinya dan membawanya pulang sebagai peliharaan yang dapat memuaskan nafsunya.  Dan sepertinya, Alexander yang memiliki ingatan tajam mengingat sesuatu ciri yang spesifik.  "Dia berada di bar dengan seragam pelayan. Aku menginginkannya."  "Baiklah tuan, aku akan mempersiapkannya untukmu besok" ucap Madame Pixie sepertinya sudah sangat mengetahui siapa gadis yang dia inginkan.  "Tidak, aku menginginkannya malam sabtu." ucap Alexander memutus panggilan tersebut sepihak.  Lalu memejamkan matanya, gadis berambut pirang bermata biru dengan senyuman yang menawan. Dia pikir, tak akan pernah lagi menemukan gadis sesempurna itu di dunia ini. Bahkan mengalahkan kecantikan mantan kekasihnya, Alexander sangat menginginkan gadis itu tanpa tapi.  Menyesap sparkling wine ditangannya dan memejam sejenak, Alexander menghempaskan diri ke ranjangnya yang empuk.  Dia membutuhkan wanita yang selalu ada untuknya disini saat dia merasa penat dan membutuhkan hiburan darimana pun dan kapan pun itu. Dia ingin memiliki gadis itu secepatnya.  Alex merasa terikat pada pesona gadis  cantik itu yang memikat.  *** ♣️Roxanne Club♣️ Pada akhirnya telah genap seminggu Catherine bekerja di Roxanne Club, pagi ini tepat dihari jumat. Catherine yang sudah melepas seragamnya bersantai dengan setelan kasual yang sangat nyaman. Meminum moctail, minuman buah stroberi bercampur dengan daun mint dan soda buatan Alinski sambil menunggu seseorang.  "Kenapa belum pulang?" tanya Alinski ingin tahu.  "Aku hanya ingin bersantai disini sebentar." ucap Catherine dengan senyuman manisnya, lalu menjawab panggilan dari ponselnya yang berdering.  "Ya Max, aku menunggumu di meja bar utama." Catherine menoleh saat seseorang bertepuk tangan.  "Owoow, jangan bilang kau sedang menunggu pacar mu menjemput?!" teriak Luke riang dan terlihat begitu penasaran. "Kau ketinggalan berita, kemarin ada pria tinggi dan sangat tampan yang menjemput Catherine dan beberapa kali terlihat mengantarnya kemari. Sepertinya dia pria yang baik." ucap Megan Valenzki bergabung dengannya di meja bar.  Bar memang sudah tutup karena sekarang sudah hampir pukul lima lagi. Mereka hanya menghabiskan waktu bersama menunggu jemputan atau taxi langganan untuk pulang. Dan meja bar memang tutup paling akhir demi melayani para pekerja yang menunggu.  "Apakah selera mu memang pria yang baik?" tanya Luke membuat Megan tertawa.  "Seratus persen aku yakin bahwa selera pria Catherine jelas bukan pria sepertimu." ucapan Megan membuat Luke bersungut membuat Catherine tertawa.  "Aishh, dia Max temanku sedari kecil. Bukan pacar..." ucap Catherine bersambut seseorang yang menumpukan dagu pada pundaknya.  "Begitu kah?" tanya Max membuatnya terkaget.  Catherine memukul pundak Max, "Kau mengejutkan ku, Max!" pekik Catherine membuat Max tertawa.  "Hei, aku masih setengah ngantuk untuk datang menjemputmu. Jangan memarahi ku..." sungut Max membuat Catherine tergelak seraya memukul d**a bidang pria itu.  "Oh ya, perkenalkan ini Max. Max ini teman-teman ku yang sangat baik padaku selama hari pertama bekerja" ucap Catherine membuat Max mengulurkan tangannya untuk berjabat dengan teman-teman nya di bar itu.  "Hai Max, senang berkenalan denganmu..." ucap Megan dengan begitu ramah menerima jabat tangan Max.  "Aish, perempuan genit!" bentak Luke menarik tangan Max dari Megan, bergantian untuk berjabatan dengan pria tampan itu.  "f**k you, Luke!" umpat Megan kesal dan Luke menjulurkan lidahnya.  "Perkenalan aku Luke, pria paling baik dan tampan di klub ini." Max hanya dapat tersenyum.  "Senang berkenalan denganmu, Luke..." Max merasa lega pria yang sering Catherine ceritakan memang lah pria humoris yang menyenangkan.  "Dan aku Alinski, peracik minuman tanpa alkohol terbaik disini. Kau harus mencobanya Max." ucap Alinski menyodorkan moctail soda jeruk yang merupakan minuman paling laris disini.  Max pun meminumnya tanpa ragu, "Terima kasih..."  Mereka pun saling mengobrol dan tertawa bersama hingga pada akhirnya berpisah karena pagi telah menyapa dan bar harus tutup.  = "Aku senang kau memiliki teman-teman yang baik disana." ucap Max membuat Catherine tersenyum menyandarkan kepalanya pada punggung pria itu.  "Ya Max, dunia malam tidaklah sepenuhnya buruk." ucap Catherine.  Max mengenggam tangan Catherine yang memeluknya, "Tapi tetap saja aku khawatir jika kau harus bekerja terlalu lama disana." ucap Max membuat Catherine enggan menanggapinya.  "Max, aku sangat lapar. Sandwich di persimpangan jalan sana sangat enak, ayo singgah. Aku akan mentraktir mu."  Max pun tertawa, "Mentang-mentang baru gajian, kau akan mentraktir ku, heh?"  "Kau ini menyebalkan sekali, nanti sore aku mengambil upah mingguan. Sekarang aku akan mentraktir mu dengan uang tip." sungut Catherine kesal.  "Rasanya aku ingin menjemputmu setiap hari, besok aku jemput juga ya?" tanya Max memastikan.  Catherine menganggukkan kepalanya, "Hari ini aku mendapatkan libur, hanya datang untuk mengambil gaji nanti sore pada Madeline. Bagaimana jika kau menemani ku sore nanti?" ucapnya membuat Max tersenyum senang.  "Siap baby!" teriak Max bersemangat dan memarkirkan motornya di area parkir.  Mereka pun berjalan menuju kedai kopi yang berada di perempatan jalan tak jauh dari klub itu. = Sembari menunggu pesanan, mereka pun mengobrol akan banyak hal. Dan setelah selesai makan pun mereka melanjutkan obrolan mereka. Selalu seperti ini, seperti tak ada habisnya jika Catherine bertemu dengan Max.  "Kedai paman Carl Sepertinya mencari pegawai untuk dapur. Gajinya kira-kira 7.2 dolar per jam." ucap Max tiba-tiba.  "Tidak ada lowongan untuk pelayan?" tanya Catherine membuat Max menggeleng.  "Tip pelayan akan jauh lebih besar daripada gaji mereka." ucap Catherine membuat Max tertawa.  "Tapi pekerjaannya selama 12 jam, Cath. Dari pukul delapan pagi sampai delapan malam. Gajimu sekitar 604 dolar seminggu. Jauh lebih besar dari Gajimu di klub." ucap Max membuat Catherine mendesah lelah.  "Bahkan selama seminggu bekerja di klub, aku mendapatkan hampir 1000 dolar hanya untuk uang tip, Max. Menjadi pelayan bar membuatku mendapatkan uang lebih cepat." ucap Catherine berkeras.  Max menggenggam tangan Catherine erat, "Cath, orientasi kita bekerja memang untuk mencari uang. Tapi keselamatan mu jauh lebih penting daripada itu." Catherine tertawa, "Itu klub malam, bukan arena perang, Max." kelakarnya.  "Aku serius, Catherine..." ucap Max membuat Catherine tersenyum kecut.  "Aku juga serius, Max. Kau tidak mengerti Max, aku ingin segera mengumpulkan banyak uang. Paling tidak dapat menyewa rumah maupun apartemen secara tahunan, agar aku bisa fokus bekerja sambil menabung dan meninggalkan kota ini." ucap Catherine membuat Max menyerah.  "Uang tabungan ku sudah sangat cukup untuk menyewa tempat untuk jangka panjang. Kau lebih baik berhenti bekerja di klub itu, Cath." Catherine mendelik kesal, "Aku baru saja seminggu bekerja Max, apa kau sudah gila untuk memaksa ku berhenti?"  "Tidak seperti itu, Cath. Aku hanya ingin memastikan kau baik-baik saja."  "Aku hidup dengan sangat baik Max, berhenti mengatur ku seolah-olah kau adalah juru penyelamat hidup ku. Biarkan aku hidup dengan cara ku sendiri, mengumpulkan uang dengan tenaga ku sendiri." "Cathy..."  "Biarkan aku mewujudkan apa yang aku inginkan dengan usaha ku sendiri. Aku tidak suka kau atur, kau membuatku merasa sesak dan semangat ku menurun!" bentak Catherine kesal.  Menyeruput es kopinya sampai habis dan hendak pergi, namun Max menahan tangannya.  "Jangan seperti ini, Cath."  "Biarkan aku pulang sendiri, Max." Max membuang napasnya kasar, "Ayolah, biarkan aku yang mengantarkan mu pulang."  Catherine pun tak dapat menolak saat Max meminta persetujuan darinya dengan wajah memelas.  = Segalanya menjadi begitu senyap, Catherine merasa marah dengan sifat Max yang pemaksa dengan dalih semua demi kebaikan dirinya.  Apakah dia terlalu i***t dan kekanakan untuk membedakan yang mana yang baik dan yang benar? Max menarik tangan Catherine agar terus memeluk tubuhnya, dia tahu gadis itu marah padanya. Terlebih daripada itu, Max hanya ingin Catherine tahu betapa dia menyayangi dan ingin melindunginya. Sepanjang perjalan hingga mereka sampai di apartemen Cecilia, mereka hanya diam dan tak membicarakan apapun. Sesekali Max ingin memulai, tapi tak sekalipun Catherine menjawabnya.  "Kita sudah sampai..." ucap Max menoleh pada Catherine dengan senyuman manisnya.  Catherine turun dari motor Max dan meletakkan helm di jok motor pria itu, "Terima kasih dan jangan datang lagi untuk menjemput ku." tegasnya hendak berlalu, namun Max menahan tangannya.  "Bukankah kau sudah setuju aku akan mengantarkan mu mengambil gaji sore nanti, Cath?" Catherine menyentakkan tangannya kasar, "Lupakan saja Max." ucapnya seraya berjalan meninggalkan Max.  Max memarkirkan motornya dan mengejar Catherine, "Haruskah kau semarah ini padaku, Cath?" tanyanya menarik tangan gadis itu hingga langkahnya terhenti.  "Apakah aku tidak boleh marah?" tanya Catherine membuat Max menghela napasnya lelah.  "Aku tidak bermaksud jahat padamu, Cath. Aku hanya mengkhawatirkan mu."  "Jika memang keadaan ku membuatmu gelisah dan khawatir, lebih baik lupakan saja aku." "Tidak begitu, Catherine." ucap Max memegang pundak Catherine.  Menepis tangan Max, "Sudahlah Max, pergi dari sini atau lebih baik aku yang menghilang darimu!" teriak Catherine penuh ancaman.  "Baiklah jika begitu, aku pulang sekarang. Maafkan aku..." ucap Max bagai angin lalu untuk Catherine yang kini berlalu tanpa kata memasuki apartemen itu.  Catherine merasa bersalah telah memarahi Max, tapi pria itu terkadang bertingkah seperti ibunya. Memperlakukannya seperti gadis kecil yang dapat hancur dalam dunia yang kejam ini. Dirinya yakin, semuanya akan baik-baik saja sampai dia dapat mewujudkan semua yang dia impikan dengan kemampuannya sendiri.  Ini hidupnya, biarkan dia yang menentukan segala macam pilihan yang dia rasa benar. Tidak siapapun... *** ♣️Roxanne Club♣  Tepat pukul 5 sore Catherine mendatangi klub itu untuk mengambil honor mingguannya dari Madeline. Catherine pun tersenyum saat pria paruh baya yang merupakan kepala keamanan tersenyum manis padanya.  "Selamat sore, Catherine!"  "Selamat sore, Brooke! Bagaimana kabar mu?" tanya Catherine berbasa-basi.  "Melihat senyuman semua orang yang akan menerima upah mingguan hari ini membuatku merasa senang, terlebih melihat senyuman manis mu. Suasana hatiku membaik." ucap paman Brooke membuat Catherine tersenyum malu.  "Suasana hatiku pun turut membaik mendengarkan godaan mu, Brooke. Aku akan menemui Madeline sekarang." ucap Catherine membuat Brooke mengangguk setuju.  "Semoga kau mendapatkan bonus untuk bulan ini!" "Aku mengamini ucapan mu, Brooke!"  Senyuman Catherine kian mengembang kala melihat Luke menyambut kedatangannya dengan senyuman pria itu selalu terlihat riang dan segar dengan senyuman lebarnya. "Oh ya ampun, aku paling suka hari jumat. Semua orang-orang datang ke klub dengan senyuman indah mereka." ucap Luke membuat Catherine tertawa.  "Kau juga terlihat paling bahagia hari ini, Luke!" seru Catherine membuat Luke tertawa riang.  "Uang adalah salah satu unsur kebahagiaan di dunia ini..."  "Aku akan keruangan Madeline sekarang, nanti kita lanjutkan lagi ya!"  "Alinski akan membuatkan strawberry mint kesukaan mu!" teriak Luke.  "Terima kasih, Luke!" Catherine pun memasuki lorong menuju ruangan Madeline dengan begitu bersemangat. Suasana hatinya sungguh sangat baik.  = Catherine menghela napas saat langkahnya terhenti tepat di depan pintu ruangan Madeline. Meskipun Madeline adalah manager yang baik dan hangat, tetap saja Catherine merasa canggung dan segan.  Tok...tok...tok!  "Silahkan masuk!" teriak Madeline dari dalam. Catherine pun mendorong pintu itu dengan perlahan, "Selamat sore Madeline." ucap Catherine membuat wanita cantik itu tersenyum.  "Duduklah..." Madeline langsung menyodorkan amplop kepada Catherine.  "Ini gaji dan bonus untukmu..." ucap Madeline membuat Catherine menyambut nya dengan senang.  "Terima kasih, Madeline." "Bukalah dan hitung uang mu." perintah Madeline membuat Catherine menatapnya dan membuka amplop tersebut. Dengan berhati-hati Catherine menghitung uangnya dan menatap Madeline setengah percaya.  "Semuanya 540 dolar, Madeline. Apa kau tidak salah memberi ku bonus sebesar 200 dolar?" tanya Catherine dengan polosnya membuat Madeline tertawa.  "Jika kau bekerja dengan bagus, kau akan menjadi pegawai tetap disini, perusahaan akan membukakan rekening bank untukmu dengan pembayaran gaji dan bonus langsung disana." ucap Madeline membuat mata Catherine berbinar senang.  "Aku akan bekerja dengan baik, Madeline." ucap Catherine membuat wanita cantik itu tersenyum.  "Oh ya, kau masih ingat kan peraturan klub ini?"  "Tentu saja aku masih ingat" ucap Catherine bersemangat.  "Setiap minggu, pelayan akan berpindah lokasi kerja di klub ini. Karena kau bekerja dengan sangat baik, Madame Pixie menugaskan mu untuk langsung menjadi pelayan untuk tamu VIP." ucap Madeline meletakkan bungkusan yang berisi baju hitam untuk Catherine.  "Ini seragam untuk pelayan VIP. Kau bisa melihatnya..." ucap Madeline membuat Catherine mengangguk mengerti.  Catherine terkejut saat melihat gaun pendek hitam itu sangat minim, bahkan terlihat seperti pakaian renang. Dengan belahan d**a rendah dan bagian perutnya menerawang.  "A-aku harus memakai gaun ini?" tanya Catherine gugup.  "Semua pelayan VIP menggunakan ini dan tenang saja, ada lorong khusus untuk kesana. Jadi kau tak perlu malu melewati bar." Madeline menjelaskan.  Catherine menghela napasnya demi menghilangkan gugup, "Sebenarnya, aku sudah sangat nyaman menjadi pelayan bar." ucapnya canggung. Madeline tersenyum, "Kau bisa menolak kebaikan Madam Pixie dan bisa melanjutkan pekerjaan mu di bar. Tapi aku tidak yakin kau akan bekerja lebih dari sebulan. Madame Pixie tidak suka dengan pekerja yang menolak kebaikannya..."  Catherine tahu ada ancaman dibalik senyuman Madeline,"Baiklah, terima kasih banyak sudah memperingatkan ku, Madeline. Aku pasti akan memikirkannya dengan baik..." ucapnya menunduk sopan dan berdiri dari duduknya.  "Aku tunggu kedatangan mu di hari sabtu." ucap Madeline membuat Catherine menunduk sopan dan berlalu pergi setelah berpamitan.  Setelah menikmati minuman dan berbincang dengan Luke dan juga Alinski, Catherine memilih untuk pulang. Hatinya bimbang. Apakah dia harus bekerja dengan gaun terbuka seperti itu ataukah tidak. Hatinya bimbang dan ragu... *** "Kau sudah pulang?" tanya Cecilia dibalik meja dapur.  "Kau ada dirumah?" tanya Catherine membuat Cecilia tertawa.  "Tentu saja, aku pulang lebih awal dan malam ini tak ada jadwal untuk pekerjaan lepas ku." "Pekerjaan lepas?" tanya Catherine baru mengetahui perihal itu.  "Sabtu, Selasa dan Kamis. Aku bekerja lepas di Club yang sama denganmu." "Hah? Mengapa aku tidak pernah melihatmu?" tanya Catherine takjub.  "Tentu saja, Cath. Aku pelayan freelance untuk tamu VIP Roxanne Club." Catherine hanya ber-oh ria.  "Dengan seragam gaun pendek yang seperti bikini itu?" tanya Catherine memastikan.  Cecilia tergelak ringan, "Ya, Catherine!" seru nya riang.  "Bagaimana sistem pekerjaannya?" tanya Catherine ingin tahu.  "Melayani minuman, menari dan bernyanyi. Jika kau ingin bermain-main dengan tamu kaya raya disana, kau bisa ikut dengannya pulang atau membawanya pulang, jika dia pria beristri." ucap Cecilia berbisik lalu terbahak geli.  "Apakah harus seperti itu?" tanya Catherine ngeri.  "Tentu saja tidak, sebenarnya sama saja dengan pelayan bar. Tapi ya di tempat yang lebih mewah dan private. Dengan tamu-tamu yang berkelas, perihal kencan satu malam itu pilihan. Tidak ada pemaksaan." ucap Cecilia membuat Catherine mengangguk paham.  "Aku merasa takut dengan gaunnya dan semakin takut jika harus melayani pria sampai ke ranjang." ucap Catherine membuat Cecilia membulatkan matanya.  "Apa kau juga menerima pekerjaan diruang VIP untuk minggu selanjutnya?" tanya Cecilia membuat Catherine mengangguk tak bersemangat.  "Aku takut jika seseorang melecehkan ku dan tak ada yang menolong ku seperti di bar." ucap Catherine mengungkapkan rasa khawatirnya. Dia trauma dan takut menghadapi nafsu pria mabuk yang terkesan bagai binatang.  "Jika menolak, kau sudah pasti tak akan lama bekerja disana." "Mungkin lebih baik begitu." ucap Catherine ingin menyerah.  "Hei Catherine, yang menjadi pelayan diruangan VIP bukan hanya dirimu. Banyak pelayan lainnya dan tingkat keamanan disana lebih ketat. Para tamu VIP juga lebih sopan dan berkelas. Mereka tidak akan menyentuh mu tanpa sinyal persetujuan darimu." "Begitu kah?" tanya Catherine ragu.  "Kau lihat aku, apakah aku mati bekerja untuk melayani tamu VIP? Apa aku di perkosa disana? Kami melakukannya dengan suka sama suka dan tentu saja dengan uang yang telah di sepakati. Uang tip dari mereka tidak pernah dibawah 200 dolar meski hanya menari bersama mereka. Para konglomerat bukanlah preman bar-bar yang akan memperlakukan mu dengan sembarangan. Mereka menjaga reputasinya." ucap Cecilia terlihat berhasil meyakinkan Catherine.  "Terima kasih Cecilia, aku merasa sedikit rasa bingung ku berkurang..." ucap Catherine menghembuskan napasnya lega.  "Ya, tenang saja. Madam Pixie pasti sudah memastikan tamu yang baik untuk pemula seperti mu. Semuanya akan baik-baik saja."  Catherine mengangguk setuju, meskipun hatinya takut dan meragu. Dia yakin pasti semuanya pasti akan baik-baik saja... 
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD