Catherine tersenyum saat melihat jam di ponselnya yang menunjukkan lewat pukul lima sore, seperti kata Cecilia dia harus tidur lebih banyak di siang hari, agar dapat menyesuaikan diri dengan jadwal kerjanya yang akan mulai pada malam hingga dini hari.
Ini adalah kehidupannya yang baru, pola hidup yang berbeda dan cukup mendebarkan hatinya. Catherine melangkah penuh semangat setelah melepas bajunya dan melemparkannya sembarang. Lalu memasuki kamar mandi dengan handuk yang melilit dari sebatas d**a hingga paha.
Begitu shower menyala membasahi tubuhnya, Catherine bernyanyi dengan begitu riang. Seperti diva dunia, dia bernyanyi dengan begitu lepas hingga tak tahu ponselnya berbunyi diluar sana. Catherine bahkan membasahi rambutnya, dia ingin terlihat begitu segar dari ujung kepala hingga ujung kaki dihari pertamanya bekerja.
Good looking itu penting untuk kesan pertama…
Catherine keluar dari kamar mandi dengan rambut yang terbungkus handuk dan tubuhnya kini berbalut baju handuk yang nyaman. Tubuhnya yang terasa segar membuat suasana hatinya semakin membaik.
Dering ponsel menarik perhatiannya, dengan tergesa Catherine berlari untuk menjawab panggilan itu.
Dahinya terhenti saat melihat identitas pemanggil yang tertera di layar ponselnya, "Max…" gumamnya dengan dahi berkerut.
"Max ada apa?" tanya Catherine kesal, karena Max terus menelponnya.
"Kau masih bertanya padaku ada apa, hah?"
"Kau ini kenapa, huh?"
"Max, tolong bangunkan aku pukul setengah enam sore ya, aku ingin bersiap dan tak ingin terlambat." ucap Max meniru ucapan Catherine.
Catherine terdiam saat mengingat hal itu, "Max, maafkan aku. Aku sudah bangun lebih dulu dan langsung mandi."
"Lalu mengapa kau memarahi ku?"
"Aku kira ada apa kau terus menelpon. Kau merusak suasana hatiku…" ucap Catherine merasa tak enak hati.
"Kau ini, makanya jika orang menelpon tanyakan dulu ada apa. Jangan marah-marah seperti itu." ucap Max kesal.
"Eum, I'm so sorry. Apakah permintaan maaf ku tidak dapat diterima?" tanya Catherine memelas.
Terdengar suara tawa Max diseberang sana, "Sebagai gantinya, kau harus menerima tawaran ku."
"Tawaran apa itu, Max?" tanya sambil melepas bungkusan handuk dikepalanya.
"Aku akan mengantarkan mu hari ini."
Catherine memutar bola matanya malas, "Oh ayolah Max, jangan membuatku terlihat seperti anak kecil."
"Aku janji, aku tak akan masuk. Aku rindu bertemu dan makan malam denganmu, Cath."
"Aku mulai bekerja sekitar pukul 09.00 pm, jadi aku harus kesana 30 menit lebih cepat."
"Dengan motor ku semuanya akan lebih cepat ini baru setengah 7 malam, masih ada waktu kurang lebih dua jam. Aku akan menjemputmu dalam dua detik jika kau setuju."
Catherine membelak tak percaya, "Max, jangan bilang padaku kau sudah berada di depan rumah?"
Max tertawa, "Oh Catherine, kau yang paling mengenal ku. Ayo kita pergi makan malam sekarang."
"Max"
"Ayolah Catherine, aku tidak akan melakukan ini setiap hari. Hanya hari ini saja."
Catherine membuang napasnya kasar, "Tunggu aku 20 menit untuk bersiap."
"Apakah harus selama itu?" tanya Max takjub.
"Jika kau tidak menutup telepon nya, mungkin bisa 30 menit." ucap Catherine penuh ancaman.
PIP!
Catherine tersenyum geli, Max selalu takut dengan ancamannya. Sesungguhnya dia sedikit terganggu dengan Max yang selalu ingin memantau keadaannya, tapi Catherine tahu semua itu Max lakukan karena Max sangat peduli padanya. Sahabatnya yang paling baik dan tak pernah lelah untuk terus berada disisinya.
=
Cklek! Kriiieeet…
Max langsung memasang senyuman terbaiknya saat pintu apartemen itu terbuka untuknya.
"Maaf membuatmu lama menunggu Max." ucap Catherine membuat Max tersenyum manis.
"Tidak apa-apa Cath, rasanya semua penantian ku tidak berakhir sia-sia saat aku melihatmu…" ucap Max membuat Catherine tersenyum malu.
"Kau ini benar-benar pintar berkata-kata…" ketus Catherine memukul d**a Max.
"Ayo kita pergi…"
"Mau kemana?" tanya Catherine penasaran seraya menutup pintu apartemen itu.
Cecilia pun mengatakan akan pulang terlambat malam ini, karena sedang ada janji dengan seorang teman. Jadi Catherine tidak perlu menunggu Cecilia pulang untuk berpamitan pergi kerja.
"Kedai buger dan steak paman Karl. Tempat biasa aku membelikan mu burger dan milkshake setiap gajian."
Catherine membulatkan matanya, "Kau yang traktir ya, aku sudah lama tidak meminum milkshake coklat dan burger nya!" serunya bersemangat.
"Aku traktir semua yang kau inginkan, nanti saat kau gajian gantian ya." ucap Max seraya merangkul tubuh Catherine bersamanya.
"Siap bos! Tapi gaji ku hanya 340 dolar perminggu. Jangan mengharapkan aku bisa mentraktir mu banyak." ungkap Catherine membuat Max tertawa.
"Untuk pemula, 8 dolar per jam sudah lumayan. Setelah masa percobaan pasti kau akan mendapatkan bonus gaji yang lebih besar. Ingat, kau harus fokus menabung dan utamakan keperluan yang menurut mu penting." ucap Max membuat Catherine mengangguk mengerti.
"Aku hanya berharap mendapatkan rekan kerja yang baik agar aku merasa lebih betah, ya hitung-hitung bisa bertahan sampai mendapatkan pekerjaan yang baru." ucap Catherine membuat Max tersenyum seraya mengusap kepalanya.
"Kau harus semangat, okay! Oh ya, kau memakai baju bebas seperti ini?" tanya Max yang melihat Catherine hanya mengenakan setelan casual kaos lengan panjang yang ia padukan dengan celana jeans panjang.
"Tidak, kemarin Madeline, manager klub itu mengatakan akan memberikan seragam dan loker untuk ku saat datang bekerja hari ini. Makanya aku ingin datang lebih awal agar lebih siap untuk memulai pekerjaan ku."
Max tersenyum seraya memberikan helm kepada Catherine, "Aku senang melihatmu terlihat bersemangat seperti ini. Kita harus pergi dan makan sampai kau kenyang."
"Aah aku bisa mengantuk setelahnya…" keluh Catherine tersenyum saat Max membantunya menautkan tali helm.
"Kau pasti akan sangat bertenaga, Cath!" seru Max memukul pelan kepala Catherine yang dilapisi helm.
Catherine menaiki motor Max dan memeluk tubuh pria itu dengan erat, "Terima kasih Max, kau membuat rasa gugup ku sedikit berkurang." ucapnya tulus.
"Bukankah sudah tugas ku untuk selalu menjaga dan menemani mu?" tanya Max membuat Catherine tersenyum senang.
"Aku sangat menyayangimu sahabat ku…" senyuman Max memudar.
"Hatiku sakit setiap menyadari bahwa aku terjebak friendzone…"
"Kau harusnya senang berada di zona terbaik dalam hidupku"
Max menghela napasnya, "Zona terbaik adalah menjadi kekasih mu"
Catherine memukul punggung Max, "Sudahlah, jangan mulai lagi. Fokus saja menyetir!" bentaknya kesal.
"Sudah, jangan terus memarahi ku…" ucap Max menarik tangan Catherine agar kembali memeluk tubuhnya.
Catherine hanya dapat tersenyum menyandarkan kepalanya pada punggung Max, "Kau adalah satu-satunya pria terbaik dalam hidupku dan aku tak ingin mengubah apapun diantara kita…"
Mendengar gumaman Catherine, membuat Max hanya dapat menjawabnya dalam hati. Dia percaya waktu cepat atau lambat akan mengubah segalanya. Dirinya tak akan menyerah sebelum Catherine terjerat oleh pria lain yang belum tentu dapat menjaga dan menyayangi Catherine seperti dirinya.
===
♣Roxanne Club ♣
Setelah melewati makan malam yang menyenangkan bersama, Max membawa Catherine menuju ke tempat kerjanya tepat jam 08.45 pm. Sepanjang jalan Catherine sudah mengomel takut terlambat, tapi Max tetap mengatakan mereka akan sampai tepat waktu.
"Aish kau ini, aku benar-benar takut terlambat." ucap Catherine dengan helaan napas lega.
Max tersenyum sembari mencubit pipinya, "Bisa terbilang kau datang tepat waktu, Cath. Bahkan lebih cepat lima belas menit."
Catherine tersenyum mengembalikan helm kepada Max, "Terima kasih atas makanan dan sudah mengantarkan ku kemari, Max."
"Sama-sama, baby. Jika kau tak mendapatkan taxi saat pulang, aku akan menjemputmu."
"Tidak Max, kau harus tidur karena besok kau harus bekerja."
"Aku serius, telpon aku atau aku akan menunggumu disini sampai kau pulang." ucap Max membuat Catherine menghentakkan kakinya kesal.
"Aku bisa pulang sendiri, Max! Biarkan aku mandiri, lagipula Cecilia sudah mengajarkan ku untuk memesan taksi resmi tepat sepuluh menit sebelum pulang." sungut Catherine kesal.
"Iya-iya cerewet." ucap Max mengacak rambut Catherine yang semakin berteriak marah padanya.
"Kau merusak rambutku…"
Max pun tertawa, "Baiklah jika begitu aku pulang sekarang. Jaga dirimu baik-baik, okey!"
"Ya Max, tenang saja. Hati-hati di jalan!" teriak Catherine melambaikan tangannya kepada Max yang telah berlalu meninggalkannya.
Catherine menghembuskan napasnya kasar demi menghilangkan gugup, meskipun klub tersebut masih terlihat sepi pengunjung dan baru saja bersiap untuk buka. Hatinya berdebar gugup dan takut, jikalau dia akan sulit beradaptasi dengan tempat dan suasana yang baru.
Seorang keamanan yang berdiri di depan menatapnya penuh selidik, "Ada keperluan apa kau datang kemari jam segini?" tanya pria botak, bertubuh tinggi besar itu.
Catherine merapatkan bibirnya dengan gugup, "Madam Pixie menyuruh ku untuk datang kemari menemui Madeline agar bisa memulai bekerja hari ini."
Pria itu mengangguk mengerti, "Oh, kau pegawai baru disini? Masuklah, tanyakan pada bartender ataupun pelayan di dalam, dimana kau harus menemui Madeline."
"Terima kasih" ucap Catherine mengulurkan tangannya untuk berjabat, "Namaku Catherine Swan dan kalau aku boleh tahu siapa namamu, Sir?" tanya nya sopan membuat pria berwajah sangar itu menyambut jabat tangannya dengan senyuman.
"Panggil saja aku Brooke, Catherine. Aku kepala penjaga keamanan di klub ini. Semoga kau betah bekerja disini."
Catherine tersenyum sembari menganggukkan kepalanya, "Terima kasih atas batuan mu, Brooke. Aku senang mendapatkan rekan kerja sebaik dirimu." ucap Catherine pada pria yang mungkin sudah berusia 40 atau 50 tahun-an itu.
"Kau harus segera masuk sekarang. Oh ya sedikit informasi untukmu, Madeline adalah orang yang penuh disiplin. Dia sangat senang dengan orang yang datang tepat waktu. Dia pasti menunggumu."
"Ah well, thank you Brooke. Aku akan masuk sekarang." ucap Catherine.
Dengan penuh semangat dia memasuki klub yang masih terlihat begitu terang itu dengan beberapa pekerja yang sudah berlalu-lalang dengan kesibukan mereka masing-masing.
Catherine pun menghampiri seorang pelayan yang berada disana, "Hai, bolehkah aku bertanya dimana aku bisa menemui Madeline?"
Wanita berwajah Asia itu menghentikan pekerjaannya, "Tanyakan pada Luke yang berada dibalik meja bar." ucapnya membuat Catherine tersenyum manis.
"Terima kasih telah membantu ku." ucapnya ramah, namun wanita itu tidak menanggapi dan kembali melanjutkan aktivitas nya yang sibuk.
Catherine menghela napasnya, berjalan menuju ke meja bar, "Hai, apakah kau Luke?" tanyanya membuat pria tampan itu tersenyum.
"Kalau tidak salah, bukankah kau yang kemarin datang bersama Cecilia?"
"Woaaah, kau memiliki ingatan yang bagus." ucap Catherine kagum.
Pria itu tersenyum seraya mengulurkan tangannya, "Namaku Luke. Sangat mudah mengenali gadis pirang bermata biru sepertimu, terlebih kau sangat cantik."
Catherine menyambut uluran tangan pria itu dalam jabat tangan yang hangat, "Namaku Catherine dan aku tidak datang padamu untuk mendengarkan rayuan mu. Bolehkah aku tahu dimana ruangan Madeline?"
"Oh aku sangat suka dengan gadis to the point sepertimu. Well, mari ikuti aku." ucap luke membuat Catherine tersenyum senang. Rasanya panjang sekali jalan yang harus dia tempuh untuk menemui Madeline.
"Ini ruangan Madeline." ucap luke saat langkah mereka terhenti di depan sebuah pintu kayu.
"Thanks Luke…" tutur Catherine.
"With my pleasure, Cath. Aku sangat senang memiliki rekan kerja secantik dirimu. Bersiaplah, aku akan sering menggoda mu." ucap Luke tertawa seraya berlalu.
Catherine pun tersenyum sembari menggelengkan kepalanya, Luke adalah pria yang menyenangkan. Itu kesan pertama yang dia tahu.
Tok...tok...tok!
"Silakan masuk!" teriak suara yang sudah terdengar tidak asing lagi bagi Catherine.
Cklek! Kriiieeet…
Catherine mendorong pintu itu dengan sangat berhati-hati dan senyuman Madeline menyambut nya.
"Selamat malam, Madeline."
"Hai Catherine, mari silakan duduk." Catherine pun mengikuti gerak tangan Madeline yang mempersilahkan nya untuk duduk.
Madeline mengeluarkan secarik kertas yang memuat peta bagian-bagian dari kelab malam tersebut. Catherine pun melihatnya dengan seksama.
"Sebelum memulai pekerjaan mu, aku akan memberitahukan mu bahwa ada lima bagian yang ada di dalam club ini. Dari pintu depan adalah bar and lounge, tempat orang-orang menikmati alkohol dan bersantai. Area jalan dari sebelah kanan kedalam saat kau berjalan untuk menuju ke ruangan ku dan ruangan Madam Pixie, itu adalah diskotek. Pusat dari tempat ini disana akan lebih ramai dan berisik sampai pukul 04:00 pagi saat kita tutup. Sayap kanan tepat dua lantai keatas itu adalah ruangan karaoke. Sayap kiri tiga lantai keatas adalah ruangan VVIP. Dan tempat yang paling ujung adalah pub, tidak jauh berbeda dengan bar, tapi disana lebih tenang dan private untuk sekelompok orang yang bergabung di komunitas tertentu untuk berkumpul."
=
"Kau akan memulai pekerjaan sebagai waiters di bar and lounge untuk minggu pertama. Untuk minggu kedua mungkin kau akan menjadi pelayan di pub, diskotek, tempat karaoke, maupun ruang VVIP. Setiap bagian klub ini, gaji perjam tentu akan berbeda. Begitu pula dengan uang tip, kau bebas menerimanya dan kau bebas memberikan pelayanan apapun yang kau kehendaki. Perlu kau catat, kau bisa menolak jika memang kau tidak ingin disentuh seseorang. Jika mereka berbuat lancang dan menyentuh secara terang-terangan, apalagi memaksa secara seksual, kau bisa melaporkan kepada keamanan klub ini."
Catherine menganggukkan kepalanya saat perkataan Madeline mengenai peraturan kerjanya yang berlaku di klub ini. Saat ini dia berada di depan loker, memasukan tas dan bajunya dan mengambil ponselnya dia masukan kedalam saku rok yang berada dibalik celemek. Ponsel sangat di perlukan untuk panggilan darurat kepada pihak keamanan.
"Tapi, jika itu hanya sebuah senggolan biasa yang tidak disengaja atau pelecehan verbal dan fisik yang mungkin sedikit mengganggu tapi tidak berlebihan, kau harus tetap bersikap ramah kepada para pelanggan. Karena pelanggan yang datang adalah raja."
Catherine menghembuskan napasnya kasar mengingat pesan terakhir yang Madeline katakan padanya, berharap perkerjaan di hari pertamanya ini berjalan dengan lancar dan dia tidak di ganggu oleh pria-pria mabuk bertangan jahil.
"Kau pasti bisa, Cath!" teriak Catherine menyemangati dirinya sendiri.
"Ya, kau pasti bisa!" seru seorang gadis yang mungkin seusia dengannya.
"Thanks, maaf aku tiba-tiba merasa sangat gugup…" ucap Catherine tersenyum canggung.
Gadis cantik berambut brunette itu mengulurkan tangan kepadanya, "Perkenalkan namaku, Megan Valenzki."
"Catherine Swan." ucap Catherine tersenyum manis pada seorang rekan kerja yang mungkin akan menjadi teman pertamanya disini.
"Ini hari pertama mu, wajar saja kau merasa gugup. Aku juga masih merasa gugup meskipun sudah hampir sebulan bekerja disini." ucap Megan membuat alis Catherine terangkat.
"Apakah sangat sulit bekerja disini?" tanya Catherine ingin tahu, agar dapat mempersiapkan diri jikalau terjadi hal yang tidak diinginkan padanya.
Megan membuang napasnya kasar, "Sebagai pelayan, kita berhadapan langsung dengan para pelanggan dan setiap harinya kita akan bertemu dengan pelayan yang berbeda-beda perangai. Dari yang baik hingga dapat membuatmu jijik, tapi kau harus menahan itu semua demi mendapatkan uang." ucap Megan membuat wajah Catherine memucat takut.
"Tapi jangan terlalu menjadi beban untukmu, setiap pekerjaan memiliki resiko. Kau hanya perlu bersikap ramah dan menghindari sebisa mungkin pelanggan nakal tanpa perlu bertengkar dengan mereka. Karena bisa-bisa gaji kita di potong." lanjut Megan membuat Catherine tersenyum samar.
"Terima kasih sudah memberikan ku bagaimana gambaran tentang pekerjaan yang akan ku hadapi."
"Ya sama-sama, kau pasti bisa Catherine. Oh ya, aku juga kembali berada di bagian pelayan bar seminggu ini. Jika ini hari pertama mu, kau pasti menjadi pelayan bar, 'kan?"
Catherine mengangguk dengan senyuman indahnya, "Syukurlah, setidaknya aku tidak merasa sendirian ditempat asing ini."
"Ayo semangat untuk hari pertama mu, semuanya akan baik-baik saja dan aku akan membuatmu agar semakin mudah beradaptasi." ucap Megan merangkul pundak Catherine bersamanya.
Catherine merasa sangat lega, setidaknya Tuhan mempertemukannya dengan orang-orang baik di hari pertamanya.
=
Tring!
"Meja nomor 24, Cath!" teriak Luke membuat Catherine melangkah dengan tergesa mengambil nampan berisi dua cocktail, lemon dan dua botol whiskey, serta dua gelas kosong.
"Terima kasih Luke!" teriak Catherine hendak berlalu, dari meja bar itu, namun seorang pria dengan sengaja meremas bokongnya dengan kedipan mata genit.
"Ops, maaf tidak sengaja…" ucap pria sialan itu tersenyum tanpa beban.
Catherine hanya dapat melegos kesal membawa nampan itu ke meja 24 dimana pelanggan yang dia terima pesanan nya tadi. Sekelompok pria muda dengan dua wanita bersamanya.
"Hei, itu pesanan kita datang!" seru seorang pria berpura-pura menyambut nampan itu saat Catherine menunduk meletakkan diatas meja hingga tanpa sengaja tangan pria itu menyenggol payudaranya.
Catherine pun refleks mundur dan tak sengaja menyenggol pria di belakangnya, "Maafkan aku…" ucapnya membuat pria itu menatapnya dengan lapar.
"Tubuh mu benar-benar harum, nona manis."
Dan pria yang sengaja menyentuh payudaranya tadi pun tertawa, "Payudaranya pun sangat sekal, apakah kau masih perawan, sweet?" tanya pria itu membuat Catherine hanya diam.
Mengambil nampan dan memeluknya, dengan mata berkaca-kaca dia meninggalkan meja itu. Jelas-jelas dirinya di ganggu dan mendapatkan pelecehan verbal dan fisik dari pelanggan sialan itu. Tapi karena belum termasuk kategori pemaksaan secara seksual dan dia harus tetap bersikap ramah.
Catherine menepis air mata yang hendak keluar dan kembali berjalan ke arah pintu masuk untuk menyambut para pelanggan yang datang.
Beberapa pria berjas memasuki klub itu dan Catherine langsung menyebutkan kata-kata sambutan yang dia sebutkan berulang kali sedari tadi.
"Selamat datang tuan-tuan, tempat apa yang anda inginkan malam ini di Roxanne Club?" tanya Catherine membuat seorang pria menolak tubuhnya agar menepi.
"Reservasi VVIP room atas nama Murich." ucap pria itu membuat Catherine menganggukkan kepalanya dan berjalan kedalam ruangan menuju diskotek dimana meja resepsionis yang menyiapkan reservasi tamu VVIP berada.
"Reservasi VVIP atas nama Murich!" ucap Catherine sedikit berteriak karena suara musik yang sangat kencang.
Resepsionis cantik itu tersenyum ramah padanya, "Terima kasih, Cath!" name tag yang diberikan Madeline sungguh sangat membantu orang-orang mengetahui namanya.
Catherine pun tersenyum dan kembali ke bar, saat dia hendak menghampiri pelanggan yang baru saja duduk di meja bar, teriakan Luke membuat langkahnya terhenti.
"Cath, bisakah kau menolong ku?!"
Catherine pun menghampirinya, "Tentu saja Luke, apa yang bisa ku bantu?"
Luke mengeluarkan map yang terjepit selembar kertas di dalamnya, "Bisakah kau mengantarkan ini pada supir truk minum yang bersandar di gudang tepat di lorong jalan sebelah kiri gedung klub ini?"
"Baik Luke, apakah ada pesanan khusus kepada supir truk itu?" tanya Catherine memastikan.
Luke menggeleng, "Semua catatan sudah ada disana, kami hampir kehabisan barcadi dan cola. Pinta dia segera mengantarkan ketempat persediaan."
"Baiklah Luke, aku akan segera kesana!" teriak Catherine berlari membawa map itu keluar dari klub tersebut.
=
Catherine membuang napasnya kasar, berlari untuk kembali memasuki klub, namun langkahnya terhenti tepat di depan kaca mobil hitam mengkilap yang memperlihatkan rambutnya yang acak-acakan, bahkan rok belakangannya sedikit terlipat pun dia tak sadar. Catherine membenarkan penampilannya, menarik rok pendek coklat yang merupakan seragam kerjanya itu agar tidak terlalu membuat paha dari kaki jenjang indahnya terekspos lebih banyak.
"Seharusnya aku berbekal lipstik, apakah bibir ku terlihat pucat?" tanya Catherine merapatkan bibirnya lalu sedikit menjilatnya agar tidak terlalu pucat."
Lalu dia terkejut saat kaca jendela mobil itu perlahan terbuka, "Kau sudah terlihat sangat cantik, nona." ucap pria berambut hitam pekat itu membuat Catherine terkejut dan merasa sangat malu.
"Ma-maaf!" teriak Catherine tergagap dan berlari kembali masuk kedalam klub.
Pria itu tersenyum menatap rekannya yang hanya memasang wajah datar nan dingin seperti biasanya.
"Bukankah dia sangat cantik dan menarik, Alex?" tanya pria itu tidak membuat sahabatnya bersuara.
"Baiklah, lebih baik kita masuk kedalam, Tuan Murich…" ucap pria itu membuka pintu dan mempersilahkan rekannya untuk keluar dari mobil.
Alexander Murich menatap Benedict Charlos rekan bisnis sekaligus sahabatnya itu dengan tatapan tak berselera.
"Bisakah kau bersikap biasa saja, Ben?" tanyanya kesal.
"Oh tidak bisa Alexander, kau adalah Tuan Murich yang terhormat disini dan dimana pun." ucap Benedict membuat Alexander berjalan tanpa kata memasuki klub tersebut. Diikuti beberapa orang bodyguard yang tersisa bersamanya.
Sementara Catherine masih berlari kesana kemari, menerima dan mengantarkan pesanan untuk pelanggan di bar tersebut.
Tring!
"Meja nomor 18,Cath!" teriak Alinski yang merupakan bartender khusus minuman tidak beralkohol.
"Ya, aku kesana!" teriak Catherine hendak berlari ke meja bar, namun seorang pelanggan yang mabuk memeluk tubuhnya dan berusaha ingin menciumnya.
"Lepaskan aku!" teriak Catherine memukul pria yang sedang mencumbu tengkuknya itu.
Belum sempat Luke dan Alinski bergerak untuk membantunya, seorang pria yang baru masuk menolak tubuh tinggi besar pria itu dan menarik Catherine kedalam pelukannya.
"Kau tidak apa-apa, beautiful?" tanya pria itu membuat Catherine membelak dan melepaskan diri dari pria tampan yang menolongnya itu. Pria itu adalah pria yang sama yang memergokinya becermin di kaca mobil mewahnya.
Catherine membungkuk sopan kepada pria itu, terima kasih tuan…" ucapnya dengan takjub menatap pria yang memeluknya tadi kini sudah babak belur oleh pria berjas yang datang bersama pria itu.
"Sampah masyarakat memang harus dibersihkan sebelum mengganggu orang lain, lagipula kau memang terlalu cantik untuk menjadi pelayan disini…" bisik pria itu membuat Catherine memerah malu.
Pria itupun berteriak, "Hei Murich, tunggu aku!" tersenyum manis pada Catherine dan berlari pergi.
Catherine pun tersenyum menatap kepergian pria itu. Apakah dia salah satu dari sekian banyak orang baik yang Tuhan kirimkan padanya?
"Catherine, apakah kau baik-baik saja?" tanya Luke khawatir.
Menatap Luke yang terlihat khawatir seraya menggeleng, "Tidak Luke, aku baik-baik saja. Terima kasih." ucap Catherine membuat pria itu tersenyum mengusap kepalanya.
"Ayo lanjut bekerja, pekerjaan mu tinggal kurang lebih 2 jam lagi." ucap Luke menatap jam tangannya.
Catherine membelak tak percaya, "Benarkah?!"
Luke menepuk pundaknya, "Kau harus lebih bersemangat lagi dan menyelesaikan hari pertama mu bekerja dengan sempurna!" ucap Luke memberikan dukungan moril untuk Catherine yang jelas terlihat shock karena kejadian tadi.
"Terima kasih Luke, kau membuat perasan ku jauh lebih baik." ucap Catherine membuat pria itu tersenyum.
"Alinski sudah mempersiapkan moctail yang segar untuk memperbaiki suasana hatimu." ucap Luke membuat Catherine tersenyum senang.
"Terima kasih Luke!"
Meskipun ada kejadian buruk yang menimpa dan membuatnya syok, namun orang-orang baik yang berada di sekitarnya membuat Catherine merasa jauh lebih baik dan akan baik-baik saja…
Thanks God!