Part 3. Good Start!

3178 Words
Tring! "Cheers!" Denting gelas bertemu, disusul oleh tawa yang menggema. "Terima kasih atas jamuan makan malam mu Cecilia. Aku benar-benar suka dengan rumah mu ini." ucap Catherine dengan binar matanya yang indah. "Semoga kau betah berada disini, Cath." "Aku pasti akan sangat betah disini, terlebih pemandangan Central Park yang menenangkan dapat kulihat dari kamar ku. Semuanya terasa menyenangkan. Terima kasih karena sudah bersedia memberikan tempat untukku." Cecilia pun tersenyum, "Aku pernah menyewakan kamar juga untuk teman ku yang baru datang ke New York. Ya, hitung-hitung menolong sesama pendatang. Aku juga sebagai orang Asia merasa perlu mencari teman untuk beradaptasi disini awalnya." Ya, Cecilia Hwang adalah pendatang dari Asia, Korea Selatan tepatnya. wanita berusia 20 tahun itu adalah orang Korea asli yang merupakan pendatang sejak 3 tahun lalu di New York untuk mengadu nasib. "Aku benar-benar sangat salut kau bisa pergi sejauh itu untuk mengadu nasib." Catherine tidak sungkan menunjukkan ke kagumannya pada Cecilia. "Awalnya aku pergi bersama seorang teman dengan visa kunjungan, tapi setelah mendapat pekerjaan, aku kembali lagi ke Korea Selatan mengurus visa tenaga kerja dan kembali untuk bekerja di toko Josh. Beruntung selama setahun aku sudah di percaya sebagai kasir tokonya." " Kau benar-benar hebat Cecilia, menjadi mandiri dan beradaptasi di negeri orang dengan kultur budaya yang berbeda pasti akan sangat sulit." "Kau tahu, bahkan awalnya Cecilia memiliki bahasa inggris dengan aksen koreanya yang sedikit sulit di mengerti. Tapi setelah aku sering memberitahukan cara penyebutan yang benar selama setahun bekerja dengannya. Bahasa Inggris Cecilia semakin baik dan lancar" ucap Max membuat gadis cantik itu tertawa malu. "Ya, kembali lagi dimana pun kita hidup, kehidupan tidaklah mudah. Ada kalanya kita harus menerima kenyataan bahwa beradaptasi itu sangat sulit dan memulai hidup yang baru tidaklah segampang yang kita impikan. Cath, aku harap kau lebih berpikir secara realistis sekarang." Catherine mengangguk patuh, "Terima kasih atas nasihat baik mu Cecilia." "Dengan senang hati, sebagai teman serumah, kita sudah sepatutnya untuk saling mengingatkan." Catherine dan Max saling pandang sembari tersenyum, mereka benar-benar percaya pada Cecilia yang baik hati. Terlebih Max kini merasa lega Catherine tidak perlu merasa sendirian tinggal diluar rumah. Mungkin terlalu cepat bagi mereka mempercayai seseorang. Tapi Max tahu betul reputasi Cecilia di tempat kerja mereka, Josh yang merupakan bos mereka selalu memuji bahwa Cecilia adalah pegawai yang baik dan jujur. = Makan malam itupun usai, Catherine kini mengantarkan Max keluar untuk pulang karena sudah pukul sepuluh malam. "Kata Cecilia, besok malam dia akan membawa ku bertemu dengan Madame Pixie pemilik Roxanne Club dimana dia bekerja menjadi pelayan bar. Ahh aku tak sabar ingin bekerja dan menghasilkan uang." Max mengenggam tangan Catherine, "Bolehkah besok aku mengantarkan mu?" Catherine tersenyum dan menggelengkan kepalanya, "Jangan, nanti akan menimbulkan kesan canggung. Aku sudah dewasa Max, percayalah padaku. Semuanya baik-baik saja." "Tapi aku tahu apa yang para pelayan bar alami selama bekerja. Dilecehkan secara verbal, fisik dan banyak lainnya. Aku benar-benar merasa tidak tenang memikirkan hari kedepannya." Catherine memeluk tubuh tinggi Max hingga dia harus berjinjit, "Tidak apa-apa Max, bukankah setiap pekerjaan memiliki resiko tersendiri? Aku akan menjaga diriku dengan baik selama beberapa bulan ini. Aku akan menabung sambil mencari pekerjaan lainnya, kau bisa mengunjungi ku bekerja sesekali, Max…" Max balas memeluk Catherine. "Aku juga akan mengambil kerja sambilan di pelabuhan bersama Daddy." Catherine menarik diri dari pelukan Max dan menatap Max lamat-lamat, "Untuk apa bekerja sambilan, Max?" Max menangkup wajah Catherine, "Aku ingin mendapatkan penghasilan tambahan untuk membantu mu menyewa apartemen tahunan." Catherine menggelengkan kepalanya, "Kau tidak perlu melakukan itu Max." Max mendekap tubuh Catherine, "Aku bisa melakukan apapun demi dirimu, Cath. Aku ingin kau merasa selalu aman dan nyaman." Max yang begitu tulus benar-benar selalu berhasil menyentuh hati Catherine. Catherine balas memeluk tubuh Max, mereka berpelukan cukup lama. Dibanding perasaan yang tercipta oleh dua insan, perasaan mereka jauh lebih dalam, perasaan seperti keluarga dan ikatan persaudaraan yang kuat. "Aku sangat menyayangimu, Max…" "Terlebih aku, aku memiliki rasa sayang yang melampaui semua rasa yang kau miliki, My Catherine…" Catherine menganggukkan kepalanya seraya melepaskan pelukan itu, "Aku sangat beruntung karena memiliki sahabat sepertimu dalam hidupku Max…" ucapnya dengan mata berkaca-kaca. Max pun mencuri kecup bibir Catherine yang langsung mencium pipinya, "Jangan mencuri, Max…" kelakarnya membuat Max mendesah lelah. "Aku benci terjebak friendzone…" keluh Max dan Catherine pun tertawa. "Kau harus pulang, ini sudah terlalu larut." "Ya Cath, aku pulang sekarang." ucap Max mengecup dahi Catherine penuh kasih. Catherine pun selalu dapat merasakan ketulusannya, "Hati-hati Max…" "Aku akan menghubungimu sesampainya dirumah. Sampai jumpa di lain waktu Cath. Aku akan sangat merindukanmu…" Max memeluk Catherine sekali lagi sebelum dia benar-benar meninggalkan apartemen itu. Catherine pun tersenyum tipis, memasuki lift dan kembali kerumah barunya. Apartemen Cecilia Hwang. "Max sudah pulang?" tanya Cecilia membuat Catherine menoleh padanya. "Ya, Max sudah pulang." ucap Catherine dengan senyuman manisnya. "Apakah kalian menjalin hubungan?" tanya Cecilia membuat dahi Catherine berkerut. "Apakah kami terlihat seperti itu." tanyanya malu. "Ya, sangat terlihat jelas. Max terlihat sangat menyayangimu. Kalian terlihat sangat manis…" Catherine terse malu, "Tidak, itu hanya karena kami sudah bersama sejak kecil. Max sudah seperti saudara dan keluarga ku sendiri." Cecilia pun tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, "Pantas saja Max begitu khawatir mendengarkan mu akan bekerja di Club. Dia pria yang baik dan religius, dia pasti mengkhawatirkan banyak hal buruk yang dapat terjadi di klub malam. Tapi percayalah padaku Catherine, Roxanne adalah Club besar. Bukan orang-orang sembarangan yang dapat menikmati malam disana. Semua pelanggan datang dari kalangan menengah keatas, aku yakin kau akan baik-baik saja." "Aku percaya padamu Cecilia, akupun sudah mengatakannya pada Max semuanya akan baik-baik saja. Dia juga akan mengunjungi ku sesekali nantinya. Max memang khawatir demi kebaikan ku." Cecilia pun tersenyum, "Aku hanya tak ingin kau bekerja dengan tidak serius, baru beberapa hari sudah ingin berhenti. Aku akan merasa tak enak dengan Madame Pixie karena aku yang memperkenalkan mu padanya." "Kau tidak perlu khawatir Cecilia, aku akan bekerja dengan bersungguh-sungguh. Percayalah padaku." Catherine berusaha meyakinkan Cecilia. Tersenyum seraya menganggukkan kepalanya, "Aku percaya padamu, Cath. Besok aku akan mengajakmu bertemu Madam Pixie dan kau akan melihat sendiri bagaimana keren nya klub itu." ucap Cecilia membuat Catherine mengangguk antusias. "Ah rasanya tak sabar menunggu besok, Cecilia terima kasih sudah banyak membantu ku." Berdecak kesal, "Harus berapa kali kau berterima kasih padaku, hem? Cath, anggap saja aku ini saudara mu. Jangan merasa tak enak hati, okay?" ucap Cecilia membuat Catherine merasa sangat senang. "Baiklah Cecilia, aku akan bersiap untuk tidur sekarang. Sekali lagi terima kasih…" ucap Catherine memeluk Cecilia singkat. Cecilia mengangguk setuju, "Oke, akupun harus bersiap untuk tidur karena besok pagi harus bekerja." Catherine tertawa pelan, "Aku akan membantu mu mengemasi rumah besok, ah rasanya aku ingin segera memiliki kesibukan sendiri..." ucapnya seraya berlalu. Cecilia pun tersenyum tipis melihat kepergian, "Aku harap kau betah berada disini…" ucapnya seraya berlalu memasuki kamar. = Catherine tersenyum saat melihat layar ponselnya menyala, sudah pasti Max yang menelpon karena hanya pria itu yang mengetahui nomor barunya. "Max, apakah sudah sampai?" tanya Catherine menjawab panggilan itu sambil menggosok rambut pirangnya yang basah dengan handuk. "Syukurlah Cath, aku sangat senang dapat mendengar suara mu lagi dan kau baik-baik saja." Catherine membeku ditempatnya dan langsung memutuskan panggilan tersebut. PIP! Apakah Max telah menghianatinya? Catherine tidak ingin lagi bertemu dengan ibunya untuk beberapa saat ini. Tapi mengapa Max malah membiarkan ibunya menelpon dirinya? === Sementara dirumah Max Kateline mendesah lelah melihat layar ponsel Max, "Catherine memutus panggilan begitu saja saat mendengarkan suara ku..." ucap Kateline terlihat begitu sedih. "Kau sudah tahu bahwa Catherine baik-baik saja. Apakah sudah merasa lega, Kate?" "Apakah kau tidak bisa membujuknya pulang, Max?" tanya Kateline penuh harap. Max menggelengkan kepalanya, "Hubungan mu dengan Catherine hanya akan semakin memburuk jika kau memaksakan nya untuk pulang kerumah, apalagi menyebarkan berita kepada polisi untuk mencarinya sebagai orang hilang. Biarkan Cathy memilih jalannya sendiri untuk hidup mandiri selama beberapa waktu ini sampai dia merasa ingin pulang atas kemauannya sendiri." ucap Max memberikan pengertian untuk Kateline yang mengancam akan mencari Catherine melalui pihak kepolisian sebagai orang hilang. "Tapi Max, kau pasti lebih paham bagaimana kehidupan diluar sana yang menyeramkan. Aku khawatir Catherine akan salah melangkah, aku akan sangat hancur jika dia terjebak dalam kesalahan sepertiku dulu." ucap Kateline dengan mata berkaca-kaca membuat Max mengusap punggungnya prihatin. "Saat ini juga sangat sulit untuk membawa Catherine pulang, dia masih dalam keadaan marah padamu dan kau masih bergelut dalam pekerjaan yang paling dia tidak sukai." "Max, aku melakukan ini karena ini cara ku untuk memberikan dan mempersiapkan kehidupan yang layak pada Cathy kedepannya." "Kau juga harus mengerti posisi Cathy, Kate. Lebih baik sekarang biarkan dia melakukan apa yang dia inginkan. Catherine sangat ingin menjadi mandiri dan hidup dengan keinginannya sendiri diluar sana." "Aku sangat mengkhawatirkannya, Max." "Tenang lah Kate, Catherine memulai hidup barunya dengan sangat baik dan aku akan selalu menjaganya. Jika hari ini kau memaksakan padanya untuk pulang, kemungkinan hal yang paling buruk bisa saja terjadi. Kalian sama-sama keras kepala, semakin dilarang akan semakin menentang." ucapan Max membuat Kateline tertawa dalam kesedihannya. " Oh Max, kau benar-benar sangat mengenali kami." "Aku sangat mengenal kalian karena kita sudah seperti keluarga..." "Jika kau benar-benar ingin menjadi bagian dari keluarga ku, aku akan sangat senang untuk menerima mu, Max..." ucapan Kateline membuat Max tersenyum malu. "Aku pasti akan menjadi bagian dari keluarga mu, Kate. Entah kapan itu akan terjadi." "Aku akan sangat senang memberi restu untuk pria sebaik dirimu, Max." "Baiklah Kate, sekarang aku harus beristirahat. Kau juga, aku akan menjaga Catherine dan kau bisa mempercayai ku untuk itu." "Aku sangat mempercayai mu, Max. Tolong jaga putriku, dia terlalu buta akan dunia luar. Dia masih sangat muda dan polos." "Ya, Kate. Aku sangat tahu itu. Kau harus menjaga kesehatan mu, jika bisa berhenti lah bekerja. Catherine tidak pernah menginginkan apapun itu selain kau berhenti dari pekerjaanmu." "Ya Max, aku memang sedang mempersiapkan segalanya untuk berhenti." ucap Kateline terlihat lebih tenang dari sebelumnya. Kateline terus menangis dan mendesak Max untuk memberitahukan dimana Catherine, jika tidak dia akan meminta bantuan pihak kepolisian karena Catherine telah hilang selama lebih dari tiga hari. "Baiklah, aku akan pulang sekarang. Sampai jumpa nanti Kate." "Max, tolong selalu jaga dan perhatikan, Cathy…" "Ya Kate, aku tentu akan melakukannya" Kateline tersenyum sedih melihat punggung Max yang berlalu pergi, setidaknya sekarang sudah cukup baginya setelah mendengarkan suara putrinya. Catherine terdengar begitu bersemangat dan baik-baik sana diluar sana. Mungkinkah hidup jauh darinya membuat Catherine hidup lebih bahagia? Kateline menyeka air matanya dan berjalan memasuki rumah. Dia harus menjadi wanita yang kuat untuk bisa hidup lebih baik agar Catherine kembali padanya lagi. === Messages from Max : Jawab telepon ku Cath, aku memiliki alasan untuk tadi. Please... Catherine membuang napasnya kasar saat melihat ponselnya kembali berbunyi. Max memang terkadang sangat menyebalkan dan senang membanting mood-nya hingga ke dasar. Dengan hati yang masih marah Catherine menjawab panggilan itu, "Ya Max. Kau benar-benar membuatku marah." ucapnya dingin. "Maafkan aku Cath, aku hanya ingin Kateline menjadi tenang. Dia sangat mengkhawatirkan mu sampai-sampai berniat melapor polisi. Aku langsung saja menelpon mu dan membiarkan dia berbicara denganmu sebelum semuanya menjadi begitu rumit." penjelasan Max membuat Catherine menghela napasnya lelah. "Jadi bagaimana? Apakah kau memberitahukannya dimana tempat tinggal ku sekarang?" tanya Catherine ingin memastikan bahwa ibunya tidak akan datang dan memaksakannya untuk pulang kerumah. "Tidak Cathy, sejauh ini aman. Aku sudah berhasil meyakinkan bahwa kau baik-baik saja dan ibumu tidak perlu tahu dimana kau berada sekarang" Catherine mendesah lega, "Syukurlah, kau tahu sendiri bagaimana gilanya ibuku jika sudah memaksakan kehendaknya?" "Tentu saja aku tahu, Cath. Sangat tahu..." ucap Max tertawa geli. Catherine berdecak kesal, "Apakah ini sangat menyenangkan bagimu?" "Tidak Cath, aku hanya merasa sangat pusing berada diantara kalian berdua." "Maka menyingkirlah." ucap Cathy ketus. "Aku tidak bisa menyingkir darimu, Cath. Tidak pernah bisa, kau tahu itu?" tanya Max dengan lembut membuat Catherine tersenyum salah tingkah. "Aku sangat tahu Max. Oh ya, apa kau sudah mandi?" "Belum, aku baru saja pulang dari rumah mu." "Maaf telah banyak menyusahkan mu, Max..." "Tidak, Cath. Aku sangat senang kau percaya bahwa aku bisa membantumu..." ucap Max membuat Cathy tersenyum malu. "Pergilah mandi dan tidur. Ini sudah hampir lewat tengah malam." ucap Catherine membuat Max mendesah lelah. "Berikan aku sebuah ciuman, aku masih sangat merindukanmu, Cath..." "Eiy, kita baru saja bertemu, bodoh!" Catherine larut dalam gelaknya. "Aku tidak tahu bagaimana harus berapa kali mengatakannya padamu, Cath. Aku sangat-" "Jangan terlalu sering mengatakannya, Max. Nanti aku bisa bosan." ucap Catherine tanpa tahu membuat senyuman Max memudar. "Baiklah, aku akan mengatakannya besok lagi." "Terlalu cepat bodoh!" bentak Catherine seraya tertawa. "Baiklah, aku akan mengatakannya lagi minggu depan..." "Max, aku sangat menyayangimu. Kau sahabat terbaik yang ku miliki di dunia ini…" ucap Catherine sedih. "Aku juga akan menjadi pria terbaik dalam hidupmu, Catherine. Aku akan menunggu sampai kau menyadarinya..." "Max..." ucapan Catherine terpotong. "Baiklah, sudah waktunya kita untuk istirahat. Sampai jumpa nanti Cath." Catherine tahu Max terluka karenanya, "Max, mimpi indah. Aku juga akan tidur." "Tidurlah yang nyenyak, Cath. Aku sangat menyayangimu..." "Ya, selamat malam..." ucap Catherine memutus panggilan tersebut. Pip! Entah mau sampai kapan hubungan mereka menjadi begitu canggung saat Max menyatakan perasaannya seperti tadi. Hal itu hanya akan membuat Catherine merasa takut kehilangan dan tak enak hati. Dimana persahabatan tak kenal kata putus dan berpisah. Itulah mengapa Catherine tak ingin perasaan cinta merusak persahabatannya dengan Max. Hanya Max satu-satunya teman yang dia miliki di dunia ini... === Next day... Tit-Cklek! Kriiieeet... Bunyi password pintu terbuka membuat Catherine menatap kearah pintu melihat jam dinding yang memperlihatkan sekarang sudah pukul tujuh malam. "Selamat datang, Cecilia!" sapa Catherine dengan senyuman manisnya. "Woaaah aroma apa ini?" tanya Cecilia mengendus-ngendus sembari menyimpan tasnya di kamar. "Aku memasak makan malam untuk kita. Baked chicken dan mashed potato." ucap Catherine membuat Cecilia yang keluar dengan rambut tergelung pun tersenyum senang. "Waah, aku tiba-tiba menjadi sangat lapar, kita makan dulu ya. Setelah makan dan aku bersiap, kita akan pergi ke klub." ucap Cecilia membuat Catherine mengangguk setuju. "Aku harap kau menyukainya..." ucap Catherine menyajikan baked chicken dan mashed potato di piring Cecilia. "Thanks Cathy." "With my pleasure, Cecilia." "Oh my God! Ini sangat enak Catherine! Aku sangat menyukainya!" seru Cecilia dengan mulut penuh. Catherine tersenyum puas, "Aku akan membuatkan mu menu lainnya besok." Cecilia pun menggelengkan kepalanya, "Sebenarnya aku sangat jarang makan malam." "Kau sedang diet?" tanya Catherine takjub. Tubuh Cecilia sudah terlihat begitu ideal dan sempurna. "Aku hanya menjaga pola makan karena gampang gemuk." ucapnya tertawa geli. Tapi sudah dua malam ini aku makan bersama mu, tapi tak masalah anggap saja ini pesta penyambutan mu tinggal disini." ucap Cecilia membuat Catherine tertawa. "Seumur hidupku, aku belum pernah melakukan diet." ucap Catherine membuat mata Cecilia membelak. "Really?" "Ya!" Cecilia pun mendongakkan kepalanya, "Oh Tuhan, aku sangat iri pada wanita bertubuh indah yang tak perlu mengenal diet." Catherine larut dalam gelaknya, "Aku bahkan selalu takjub melihat wanita-wanita dengan tubuh ideal harus melakukan diet." "Bagi kami, kaum yang mudah bertambah berat badan dan sulit kurus, diet itu penting, Cath!" Obrolan ringan pun terjalin disela kegiatan makan malam mereka, Catherine merasa senang menikmati suasana baru ini. Tinggal bersama Cecilia, wanita yang senang berbicara membuatnya merasa sangat mudah akrab dan beradaptasi. Catherine tahu ini adalah permulaan yang baik dalam hidup barunya, dia selalu berharap Tuhan tak lelah memberikan yang terbaik untuknya dan dia pun berharap agar Tuhan tak memberikannya ujian hidup diluar batas kemampuannya. Hidup ini sulit, kehidupan memang selalu berdampingan dengan masalah. Catherine tahu itu, tapi dia optimis bahwa awal yang baik akan membawa akhir yang baik. Semoga saja... === ♣ Roxanne Club ♣ Dentuman musik memecah ringan bersama lampu pijar yang berpendar acak dalam lautan cahaya biru, merah, hijau dan sebagainya. Catherine mengikuti langkah Cecilia memasuki kelab malam itu. Meskipun belum ramai karena masih terbilang pagi untuk berpesta, tapi sudah banyak orang yang datang ke klub itu dan musik pun sudah dimainkan. Mereka sedang menunggu panggilan seseorang setelah Cecilia mengatakan ingin bertemu dengan Madam Pixie. Sudah hampir dua jam mereka menunggu dan Catherine mengerti bahwa wanita pemilik bar ini sudah pastinya sangat sibuk. "Jika kita datang tepat pukul sebelas malam, pasti akan lebih ramai daripada ini. Dan kau akan melihat penampilan para penari strip tease, atraksi bartender, pole dance di malam puncak. Semua itu akan menjadi pemandangan yang akrab dan sering kali kau lihat." "Apakah kau masih mengambil pekerjaan sambilan disini?" tanya Catherine membuat Cecilia menganggukkan kepalanya. "Aku mengambil pekerjaan setiap akhir pekan, tapi bukan sebagai pelayan bar ." "Lalu?" "Aku menjadi pelayan untuk tamu diruangan VVIP. Pekerjaan yang sama, hanya tip yang mereka berikan lebih besar." ucap Cecilia membuat Catherine menggeleng kuat dengan pikiran aneh yang terbit di kepalanya. "Tenang saja, club ini tidak menyediakan jasa prostitusi untuk pekerjanya, kecuali pekerjanya sendiri yang ingin memberikan pelayan plus-plus." ucap Cecilia membuat Catherine mengangguk mengerti. "Cecilia, Madam Pixie telah menunggumu di kantor nya." ucap Madeline yang menyambut kedatangan mereka tadi. Menurut kata Cecilia, Madeline adalah manager klub ini sekaligus orang kepercayaan Madam Pixie. "Baiklah, kami akan kesana sekarang. Thanks Madeline..." ucap Cecilia menarik tangan Catherine bersamanya. Wanita bernama Madeline itu melemparkan senyuman manis kepada Catherine dan Catherine pun membalas senyuman itu. Tok! Tok! "Masuk!" teriakan suara berat wanita paruh baya dari dalam membuat Catherine sedikit gugup, terlebih saat Cecilia mendorong pintu itu. "Selamat malam, Madam!" seru Cecilia berhambur memeluk wanita paruh baya itu. "Selamat datang, Cecilia. Apa yang membawa mu datang kemari?" tanya wanita itu menatap kepada Catherine dengan penuh penilaian. Catherine yang cantik, berambut pirang dengan mata birunya yang bulat, bentuk wajahnya yang sempurna benar-benar membuatnya terlihat seperti boneka. " Aku datang bersama teman ku, dia sedang membutuhkan pekerjaan." ucap Cecilia menatap Madame Pixie yang tak melepaskan tatapannya pada Catherine. "Perkenalkan namaku Catherine Swan, Madame Pixie." ucap Catherine mengulurkan tangannya. Wanita paruh baya itu menyambut tangannya dengan senyuman manis, "Baiklah Catherine, senang mengenalmu. Silakan duduk." ucap wanita paruh baya itu membuat Catherine dan Cecilia duduk di sofa yang ada diruangan itu. "Berapa usia mu?" tanya wanita paruh baya itu pada Catherine. Catherine tersenyum gugup menyelipkan rambutnya pada sela telinga, "Usia ku 19 tahun." "Sudah memiliki kekasih?" tanya wanita paruh baya itu lagi membuat Catherine sedikit terkejut. "Hah?" Cecilia pun mengenggam tangan Catherine, "Madame perlu tahu apa kau memiliki kekasih atau tidak karena..." "Kau akan bekerja di klub dan jika kau memiliki kekasih akan membuatmu kesulitan bekerja karena dia cemburu." ucap Madame Pixie menjelaskan maksudnya. Catherine pun tersenyum seraya menggelengkan kepalanya, "Aku belum pernah memiliki kekasih. Ma-maksud ku, aku tidak memilikinya…" ucapnya gugup dan wanita paruh baya itu tersenyum lebar. "Apakah kau benar-benar ingin bekerja?" Catherine mengangguk tanpa ragu, "Ya, aku sangat ingin bekerja." ucapnya mantap. "Untuk masa percobaan kau akan bekerja dari pukul 21.00 malam -03.00 pagi dengan gaji 340 dolar perminggu. Apakah kau sanggup?" tanya Madame Pixie lagi. Catherine mengangguk antusias, "Aku sanggup Madame dan aku tak akan mengecewakan mu." ucapnya membuat wanita paruh baya itu tersenyum seraya menganggukkan kepalanya. "Baiklah, jika begitu kau boleh bekerja besok. Datanglah dan Madeline akan menunjukkan kepadamu bagaimana kau harus bekerja." "Terima kasih banyak atas kebaikan anda, Madame Pixie" ucap Catherine menjabat tangan wanita paruh baya itu dan memeluk tubuh Cecilia dengan begitu senang. Bukankah ini permulaan yang baik dalam kehidupan barunya?
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD