Part 11. Goodbye from now…

2853 Words
Keesokan harinya… Kini ditemani ibunya, Catherine duduk dengan tenang menunggu panggilan untuk pelayanan customers disebuah bank swasta ternama di kota New York. Catherine menunggu proses pencarian seluruh uang di rekening yang Madame Pixie buka atas namanya. "Ms. Catherine Swan!" teriak petugas layanan pelanggan itu membuat Catherine maju ke meja pelayanan bersama sang ibu. Wanita cantik petugas bank itu menatapnya dengan penuh penilaian, "Rekening perbankan atas nama Catherine Swan." ucap wanita itu membuat Catherine menganggukkan kepalanya, "Ya, itu saya." ucapnya canggung. "Silakan duduk, Ms. Swan." ucapnya mempersilahkan dengan sangat sopan. "Disini anda mengajukan permohonan untuk penarikan semua uang di rekening anda, bukan?" tanya wanita itu dengan begitu sopan. Catherine menganggukkan kepalanya, "Saldo rekening ku tersisa, 1.4 juta dolar, jadi apa aku bisa mengambil semuanya?" tanya Catherine membuat petugas cantik itu tersenyum ramah padanya. "Anda dapat menarik saldo sebesar satu juta tiga ratus sembilan puluh sembilan ribu delapan ratus lima puluh dolar saja, karena wajib meninggalkan saldo sebesar seratus lima puluh dolar untuk biaya penutupan rekening." ucap wanita itu membuat Catherine menganggukkan kepalanya pertanda setuju. "Apakah membutuhkan waktu yang lama untuk Pencairan?" tanya Catherine memastikan dia bisa segera memasukkan kembali uang itu ke bank swasta lainnya dan segera mendapatkan tiket pesawat ke San Diego setelah ini. Ya, San Diego, salah satu kota pantai di California Selatan dengan biaya hidup lumayan murah. Memiliki jarak begitu dekat dengan Los Angeles, kota impian nya selama ini. Sebenarnya tanpa perlu melakukan ini, dia bisa saja meninggalkan New York dengan kartu debit yang Madame Pixie buat untuknya. Tapi hal itu bisa membuat wanita paruh baya sialan itu akan lebih mudah mencarinya melalui pelacakan lokasi melalui penggunaan kartu debit saat menyadari kepergian nya. Katakan saja Catherine sungguh overthingking dan terlalu takut untuk sesuatu hal yang belum tentu terjadi. Tapi mengikuti logikanya dan film-film yang pernah dia tonton, memutus akses orang-orang untuk mencarinya adalah satu-satunya cara terbaik untuk dia menghilang tanpa ada seorang pun yang mengganggu. "Kami akan menyiapkan uang anda secepat mungkin, Ms. Swan. Apakah anda membawa tas atau ingin kami mengemasnya kedalam paper bag?" tanya wanita itu menginterupsi Catherine dari lamunannya. "Gunakan ini saja..." ucap Catherine seraya memberikan tas pakaian yang baru dia beli tadi. "Baiklah, silahkan kembali menunggu di kursi tunggu sekitar kurang lebih 20 menit. Kami akan memanggil anda kembali." ucap wanita itu seraya berjalan memasuki pintu yang ada di sudut ruangan. Catherine menatap ibunya seraya menghembuskan napasnya kasar, "Semoga tidak lama…" ucap Catherine membuat Kateline menganggukkan kepalanya. "Biarkan waktu berlalu sayang, tidak perlu terburu-buru." "Terima kasih telah menemani ku disini, Mom. Kau membuatku merasa jauh lebih tenang…" ucap Catherine penuh rasa syukur karena kehadiran ibunya. Kateline tersenyum seraya mengusap kepala putrinya yang cantik itu, "Justru aku yang merasa sangat bersyukur karena dirimu tidak pergi tanpa memberitahukan padaku terlebih dahulu, jika seperti ini aku tidak akan terlalu mencemaskan mu. Tapi tolong jangan lupa untk selalu menghubungi ku." ucapnya membuat Catherine tersenyum seraya mengangguk patuh. "Setelah membeli nomor telepon baru disana, aku pasti akan segera menghubungi mu." ucap Catherine membuat Kateline menganggukkan kepalanya. "Aku akan selalu menunggu kabar darimu, nak. Kunjungi segera agen jasa penyewaan apartemen yang telah kau catat tadi. Bayar sewanya langsung selama 4-5 tahun. Kau pasti tidak perlu membayar uang deposit atau apapun itu. Segera daftarkan dirimu ke Universitas, agar kau dapat segera beraktivitas dengan kehidupan baru mu disana. Cath, Mom akan segera menyusul mu disana…" ucap Kateline meneteskan air matanya. Hatinya benar-benar sangat sedih tak bisa menjaga Catherine dengan baik. "Jangan menangis Mom, kau melukai hatiku…" lirih Catherine mengusap air mata ibunya dengan mata berkaca-kaca. Dirinya sungguh merasa sangat emosional saat ini. = JFK International Airport- Setelah menyelesaikan urusan pemindahan uangnya, Catherine pun langsung membeli tiket pesawat dan kini taksi yang membawa mereka telah terhenti tepat di terminal keberangkatan JFK internasional Airport. Kateline keluar lebih dulu dari taksi tersebut, "Apakah sudah dekat waktu penerbangannya?" tanyanya membuat Catherine menggelengkan kepalanya. "Masih 30 menit lagi, Mom. Apakah lebih baik aku Chek-in sekarang?" tanya Catherine membuat sang ibu menggelengkan kepalanya. "Apakah kita tak perlu memberitahukan tentang kepergian mu kepada, Max?" tanya Kateline ingin memastikan putrinya tidak berubah pikiran. Catherine menunduk seraya menggelengkan kepalanya, "Aku merasa lebih baik menghilang tanpa perlu membuatnya berharap padaku, Mom. Cepat atau lambat, Max pasti akan terbiasa dan melupakan ku…" Kateline menghembuskan napasnya kasar, "Baiklah jika begitu. Kau lebih baik Chek-in sekarang…" ucapnya dengan senyuman manis. Catherine memeluk tubuh ibunya erat seraya menyembunyikan air matanya, "Aku akan sangat merindukanmu, Mom…" "Mommy juga akan sangat merindukanmu, sayang. Hiduplah dengan baik disana. Setelah rumah terjual, Mommy akan segera menyusul mu pergi kesana…" "Jangan terlalu lama, Mom. Aku sangat membutuhkan mu…" gumam Catherine sembari menahan tangisannya. Menangkup wajah cantik putrinya, "Ssssttt… jangan menangis, sayang. Secepatnya, aku janji akan secepatnya menyusul mu…" bujuk sang ibu membuat Catherine tersenyum malu. "Maaf, aku tetaplah putrimu yang cengeng…" gumam Catherine mendapatkan pelukan dari sang ibu. Mengusap punggung Catherine, "Sampai kapanpun, kau tetaplah putriku, Cath. Apapun yang kau rasakan nanti, selalu ingat bahwa Mommy selalu menyayangimu…" bisik Kateline membuat Catherine kembali memeluk tubuhnya dengan sangat erat. "Segera temui aku, aku akan selalu menunggumu…" bisik Catherine melepas pelukannya dan berjalan mundur dua langkah, memutar tubuhnya berjalan kearah pintu keberangkatan untuk melakukan Chek-in kedalam gateway penerbangan. Selamat tinggal dari sekarang dan sampai jumpa nanti... Hatinya terasa remuk redam, dulu dia pikir pergi meninggalkan kota ini adalah hal terbaik yang akan dia lakukan. Meskipun dirinya tahu bahwa kini dia berbekal banyak uang untuk memulai hidup baru, tapi rasanya begitu berat harus meninggalkan ibunya dan Max. Sesungguhnya Catherine takut sendirian, takut bertemu dengan orang jahat yang akan memanfaatkan dirinya lagi. Dia bukanlah gadis perawan, dia telah kehilangan kegadisannya. Tapi Catherine merasa dirinya masih memiliki segalanya, dia memiliki kehidupan yang harus ia perjuangkan. Dengan tekad yang bulat, Catherine melangkah dengan penuh semangat seraya melambaikan tangannya kepada sang ibu. Mulai sekarang, mulai dari pesawat itu terbang meninggalkan kota New York dengan segala kenangan hidupnya yang berantakan, Catherine akan memulai kehidupan yang baru, kehidupan yang jauh lebih baik untuk rencana masa depannya yang indah. Bolehkah dia bermimpi indah untuk terakhir kalinya?" = Pengumuman pramugari diiringi dengan lampu kabin yang meredup, Catherine tiba-tiba merasakan suasana di dalam kabin menjadi begitu senyap dan rasa haru menyeruak dihatinya. Saat pesawat perlahan terasa bergerak, air matanya pun terjatuh begitu saja. Catherine menangis karena rasa sesak didalam dadanya, rasa sesak yang sulit untuk dia jabarkan. Raganya serasa terbang meninggalkan semua kesedihannya. Tepat dihari Senin 07 Oktober 2019 pukul 10.49 am, pesawat membawa tubuhnya terbang meninggalkan kota New York menuju San Diego, kota pantai di California Selatan dalam penerbangan selama 6 jam 30 menit. Catherine ingin berharap, berharap akan kehidupan yang lebih baik dapat ia raih. Kehidupan sederhana yang nyaman dengan suara ombak pantai yang menenangkan. Tempat dimana tak ada lagi seseorang yang memandangnya dengan sebelah mata, tempat dimana dirinya dapat bermimpi indah tanpa ada seorang pun yang merasa berhak menghempaskan mimpi-mimpi itu. Meskipun kini dirinya adalah burung kecil dengan sayapnya yang rapuh, bahkan terluka. Catherine ingin terbang lebih jauh lagi tanpa terjatuh. Ya, dia tak akan pernah jatuh lagi… === Tok! Tok! Tok! "Catherine, buka pintunya! Ini sudah siang dan kau sekalipun tak keluar sejak malam tadi! Jawab aku dan buka pintunya Cath!" teriak Cecilia hingga lehernya menerik. "Jadi bagaimana, babe? Apakah kita harus mendobrak pintunya?" tanya kekasihnya membuat Cecilia memijat kepalanya yang terasa sangat pusing. Cecilia benar-benar sangat panik saat Max menelponnya dan menanyakan tentang Catherine dan kenapa dia tidak bekerja hari ini. Max mengatakan terakhir kali Catherine menghubunginya, gadis itu mengatakan bahwa Max harus melupakannya dan Catherine mengancam akan mengakhiri hidupnya. "Bagaimana jika dia sudah tidak bernyawa?" tanya Cecilia dengan wajah memucat saat memikirkan bagaimana jika benar Catherine telah berbuat nekat. "What the f**k, Cecile?! Maksud mu kemungkinan dia mengakhiri hidupnya?!" teriak kekasihnya membuat Cecilia menggeleng samar. "Aku benar-benar sangat takut sekarang…" gumamnya putus asa. Menganggukkan kepalanya, "Kita harus menghubungi 911" ucap John mengambil ponselnya. Cecilia hanya dapat menganggukkan kepalanya takut. Berbagai asumsi dan bayangan-bayangan menyeramkan tentang mayat Catherine memenuhi kepalanya. "Ya, kami akan menunggu kedatangan polisi." ucap kekasihnya membuat Cecilia menatap pria itu putus asa. "John, aku benar-benar takut sekarang…" "Ssst… Tenang lah, jika terjadi sesuatu padanya, ini bukan kesalahan mu. Dia yang salah karena melakukan hal bodoh di apartemen mu. Tenang lah…" Cecilia memejam hingga air matanya terjatuh. Jika sesuatu hal yang buruk benar-benar terjadi pada Catherine, dia pasti akan merasa bersalah seumur hidupnya. Ting! Tong! Dering bel menginterupsinya, Cecilia lantas berlari membukakan pintu untuk para petugas kepolisian yang mungkin saja datang begitu cepat. Begitu pintu terbuka, Cecilia sedikit terkejut saat Max memegang pundaknya dengan kuat. "Dimana Catherine?" tanya Max panik saat melihat mata Cecilia yang terlihat memerah karena tangis. "A-aku tidak tahu, Max…" ucap Cecilia tergagap dan tubuhnya semakin bergetar takut hingga menangis putus asa. "Apa yang sebenarnya terjadi? Dimana Catherine?!" teriak Max semakin panik karena tangisan Cecilia. "You should to stop, dude!" seru John menepis tangan Max dan memeluk tubuh Cecilia yang semakin bergetar dalam tangis. "Apa yang sedang terjadi?! Cath, Catherine!" teriak Max berlari menuju kamar Catherine dan pintu gadis itu terkunci rapat. Max hendak mendobraknya namun kedatangan pihak kepolisian membuatnya menepi. Segala keriuhan tercipta dan pintu kamar Catherine akhirnya terbuka dan tidak ada siapapun didalam sana. Polisi menyusuri seluruh kamar tersebut hingga kamar mandi. "Tidak ada siapapun disini, apakah kalian sudah memastikan keberadaannya sekarang?" "Ponselnya tidak aktif…" ucap Max menatap Cecilia yang kontan menggelengkan kepalanya. "Kapan terakhir kali anda melihatnya?" tanya petugas kepolisian itu pada Cecilia. "Sejak dia pulang kemarin pagi, aku tak melihatnya, tapi aku tahu dia ada di kamar dan malam tadi dia memakan makan malam yang aku siapkan untuknya. Setelah itu, sejak pagi dia tak kunjung keluar dari kamar. Aku benar-benar khawatir dan takut…" ucap Cecilia membuat polisi itu menganggukkan kepalanya. "Jika dia tak kunjung kembali, kau bisa melaporkan untuk kasus orang hilang dalam kurun waktu 2x24 jam. Karena tidak terjadi apapun, kami pamit pulang…" "Terima kasih dan maaf, aku akan mengantarkanmu keluar…" ucap John menawarkan diri. "Bagaimana bisa Catherine pergi dan kau tak tahu apapun?" tanya Max membuat Cecilia mendengus marah. "Kau pikir aku harus menjaganya selama 24 jam penuh? Aku sudah berbuat baik padanya dan apa yang teman mu itu lakukan padaku?!" teriak Cecilia kesal. Max menggeleng samar seraya berjalan membuka lemari baju Catherine yang tak terkunci lalu membuang napasnya kasar saat tak menemukan apapun disana selain amplop yang bertuliskan. Untuk Cecilia… "Apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa Catherine pergi dengan cara seperti ini?" tanya Max semakin tak mengerti. "Aku tidak tahu apapun, Max! Tanyakan lah semuanya pada Catherine! Kau lebih baik pergi dari sini!" teriak Cecilia merampas amplop itu dari tangan Max. "Aku merasa perlu melihat isi amplop itu jika memang tidak terjadi apapun diantara kalian! Catherine tidak pernah pergi begitu saja jika seseorang tak melakukan kesalahan fatal padanya!" bentak Max membuat Cecilia menatap amplop itu penuh pertimbangan. Apakah Catherine mendengarkan percakapan nya dengan Madeline atau gadis bodoh itu mengetahui keterlibatan nya? "Buka amplop itu kataku, Cecilia!" bentak Max membuat Cecilia membuka amplop itu dan menuangkan isinya tepat diatas ranjang kosong kamar di kamar itu. Beberapa lembar uang 100 dolar beterbangan bersamaan dengan selembar surat dengan tulisan tangan Catherine. Belum sempat Cecilia mengambilnya, Max sudah mengambil surat itu terlebih dahulu. "Ternyata, mataku telah buta oleh kebaikan. Seribu dolar, aku membayar sewa tempat tinggal dengan fasilitas memasak dan kamar mandi yang nyaman di apartemen mu ini. Serta aku membayar semua kebaikan mu selama ini. Aku tak peduli jika itu palsu, tolong jangan cari aku." Max memejamkan matanya karena tak sanggup membaca pesan terakhir di surat yang Catherine tinggalkan. Sampaikan salam ku untuk Max, berbahagia lah dan lupakan aku… Dengan mata berkaca-kaca Max menatap marah pada Cecilia, "Katakan padaku, sebenarnya apa yang telah terjadi, Cecile!" teriaknya membuat Cecilia menatapnya tajam. Merampas surat itu dari tangan Max, "Sudah kubilang padamu, tak ada yang terjadi! Pergi dari sini dan cari temanmu itu! Katakan padanya, aku tak akan pernah memaafkan nya yang pergi dengan cara seperti ini!" teriak Cecilia dengan penuh amarah mendorong tubuh Max keluar dari rumahnya. "Catherine tak pernah melakukan apapun tanpa alasan, Cecile! Aku tahu, sesuatu yang salah pasti telah terjadi!" "Pergi dari sini! Pergi!" "Ada apa, sayang?" "Tolong usir dia dari sini, John!" teriak Cecilia marah dan berlari mengunci diri di kamarnya. "Kau lebih baik pergi dari sini dan jika ada pertanyaan, tanyakan kepada temanmu itu mengapa dia pergi. Cecilia begitu perhatian dan mengkhawatirkan nya, jika kau sekarang ingin menuduh yang tidak-tidak kepada Cecilia, kalian sungguh tidak tahu rasa terima kasih pada kebaikan kekasih ku…" ucap John membuat Max menyerah dan pergi meninggalkan apartemen itu. Segalanya terasa tidak masuk akal di kepalanya, apa yang harus dia lakukan sekarang? Dia tahu betul, mungkin sesuatu yang buruk telah terjadi… "Cath, kau dimana sekarang? Apa yang harus ku katakan pada ibumu?" tanya Max tak tahu pada siapa. Kepalanya benar-benar terasa ingin pecah saat ini… - Sementara di kamarnya, Cecilia terus mondar-mandir dalam kebingungan. Lalu meremas kepalanya seraya menghempaskan tubuhnya di tengah-tengah ranjang. "Sialan kau Catherine! Kau membuat masalah saja, jalang kecil!" teriak Cecilia marah. Meraih ponselnya dari dalam saku celana, melihat catatan panggilan keluar tertera dua nama yang membuatnya kian pusing. Apakah dia harus menghubungi Madeline atau Madame Pixie? "Oh gosh! Aku benar-benar pusing sekarang…" gerutu Cecilia seraya memutuskan untuk menelpon Madeline. Biar bagaimana pun, dia harus memberitahukan lebih cepat bahwa Catherine menghilang agar dia tak terlalu di persalahkan. "Halo, Madeline…" === ♣ Roxanne Club ♣ Prang!! Botol minuman itupun terlampar melewati Madeline hingga hancur saat berbenturam dengan pintu. Dengan napas memburu wanita paruh baya itu menyesap pipa tembakau nya. "Bagaimana bisa dia melarikan seperti ini? Apakah dia menganggap aku hanyalah sebuah lelucon?" tanya wanita paruh baya itu dengan senyuman sinis nya. Madeline hanya menunduk dan tak dapat berkata apapun lagi. "Cepat lakukan pelacakan transaksi perbankan dan nomor ponselnya! Kerahkan semua orang dan bawa dia kepadaku dalam keadaan tidak kurang dari satu apapun itu!" teriaknya memberi perintah dengan penuh amarah. "Baik, Madame Pixie. Saya akan segera melaporkan perkembangannya kepada anda…" ucap Madeline membuat wanita paruh baya itu meminum wishkey nya dengan tegukan kasar. "Tinggalkan aku sendiri…" desis nya tajam membuat Madeline membungkuk sopan dan meninggalkan Madam Pixie dengan amarahnya yang sedang memuncak itu. "Sialan, seharusnya aku tak membiarkannya pulang, apalagi dengan uang…" gumam Pixie merasa kesal. Uang tak dapat membuat Catherine menyerah begitu saja. Dasar gadis berkepala batu… === -San Diego international Airport- Sejak keluar dari pesawat, Catherine dapat merasakan aroma yang sangat berbeda dari New York dan San Diego. Aroma yang hangat, cuaca musim gugur yang sangat hangat membuatnya harus melepas jaket yang ia kenakan. Namun matahari yang redup tak membuatnya terlalu merasakan cuaca panas tersebut akibat angin sejuk yang bertiup. Catherine tersenyum manis saat matanya melihat pintu kedatangan yang terbuka lebar, tempat yang baru dan suasana yang baru. Bahkan begitu kental aksen Meksiko saat dia mendengarkan orang-orang berbicara di sekitarnya. Catherine menatap ponselnya dan berjalan menuju loket untuk membeli nomor ponsel baru untuk ponselnya. Catherine sedikit takjub saat menyadari sekarang baru pukul 13.18 pm karena dia pikir sekarang sudah sekitar pukul empat sore dan dia baru teringat perbedaan waktu 3 jam antara New York dan San Diego. San Diego lebih lambat 3 jam daripada New York. Untuk hal yang sangat sederhana Catherine pun tertawa sendiri, dia suka suasana asing yang dia lalui hari ini dan dia merasa benar-benar sedang berada disebuah petualangan yang mendebarkan. Begitu memiliki nomor telepon baru, Catherine langsung menelpon agen properti yang mengelola rumah sederhana dengan view laut yang berada tak jauh dari Pacific Beach. Catherine berencana ingin tinggal disana. "Halo Blake Property Agent disini, ada yang bisa kami bantu?" tanya wanita pada sambungan telepon itu membuat senyuman Catherine merekah indah. "Halo, ini saya seseorang dari New York yang menghubungi anda pagi tadi atas nama Catherine Swan." ucap dengan penuh percaya diri. "Ya, apakah anda yang memesan satu unit rumah di kawasan Green Pacific?" tanya wanita itu membuat Catherine mengangguk antusias. "Ya, sekarang saya sudah berada di perjalanan menuju kesana, bisakah anda mempersiapkan surat perjanjian sewa rumah itu untuk saya segera?" tanya Catherine membuat wanita di seberang sana tertawa ringan. "Ya, anda perlu mendatangi alamat kantor kami dan kami akan mengantarkan anda ke unit kosong yang akan segera kami persiapkan untuk anda. Jika dirasa cocok, kita bisa segera melakukan kesepakatan kontrak untuk sewa unit tersebut." "Baiklah saya sedang menuju kesana." ucap Catherine merasa tak sebaran untuk segera mendapatkan tempat tinggal. Dengan bersusah-payah Catherine membawa tas besar yang berisi barang bawaannya. Dia pun memasuki taksi yang terbuka untuknya. Supir taksi itupun menyambutnya dengan sangat ramah. Catherine menunjukkan alamat yang tertera di ponselnya dan supir itu menganggukkan kepalanya mengerti. "Kenakan sabuk pengaman anda, Nona. Saya akan mengantarkan anda sampai selamat ke tempat tujuan." "Terima kasih…" ucap Catherine tulus. Taksi itupun perlahan pergi meninggalkan bandar udara tersebut. Ini adalah langkah pertamanya begitu sampai di San Diego, Catherine berharap benang takdir terus hanya membawanya melewati jalan yang baik. Catherine berharap dapat hidup dengan lebih baik di kota ini…
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD