Part 12. Really good start!

2611 Words
Hari beranjak petang, Cecilia benar-benar merasa sangat frustasi dengan kemarahan Madame Pixie karena kelalaian nya menjaga Catherine hingga gadis sialan itu bisa kabur dan Madeline mengatakan dia harus mengembalikan uang sebesar 20 ribu dolar sebagai bentuk ganti rugi sore ini. Sedangkan diluar sana, Max terus menunggunya keluar karena membutuhkan penjelasan lebih darinya tentang apa yang terjadi dengan Catherine. Kekasihnya pun memilih pergi karena merasa masalah yang dia hadapi terlalu rumit dan beresiko besar. Dasar pria sialan! Ponselnya berdering, Cecilia benar-benar merasa sangat frustasi melihat nama Madeline tertera disana. Apa yang harus dia lakukan sekarang? "Ya Madeline…" "Kau tidak melupakan kewajiban mu sore ini, bukan? Kembalikan segera uang itu atau seseorang akan datang mengambilnya darimu." ucap Madeline terdengar dingin dan tak punya hati. Menggigit bibirnya dalam bimbang, "Ya, aku sedang bersiap untuk kesana." ucap Cecilia sembari memutar otaknya, tentu saja dia tak ingin kehilangan uang tersebut. "Tepat pukul empat atau para bodyguard akan mengambil paksa uang itu darimu. Jangan berpikir untuk kabur, atau urusan mu dan Madame Pixie semakin rumit!" ancam Madeline seolah paham betul niat busuk di kepalanya. "Oke, tunggu aku datang kesana. Aku pergi sekarang." ucap Cecilia memutuskan panggilan tersebut. Cecilia membawa tas nya dan berjalan cepat keluar apartemennya. Max pun menyambutnya dengan berdiri menghadang langkahnya. "Beritahukan padaku apa yang sebenarnya terjadi pada Catherine, Cecile?!" gertak Max membuat Cecilia menghembuskan napasnya frustasi. "Apa yang harus kuberitahukan padamu, hah?!" bentak Cecilia tak terima. "Katakan padaku, apakah Catherine terpaksa menjadi pelayan diruangan VIP?" tanya Max membuat Cecilia tertawa sinis. "Apakah kau pikir Catherine mu itu gadis yang polos?" tanya Cecilia membuat wajah Max memucat. "Apa maksudmu, Cecilia?!" sergah Max tak terima. Memutar kedua bola matanya, "Catherine mu itu meminta sendiri untuk menjadi pelayan diruangan VIP karena tergiur dengan tawaran 400 dolar per jam dan dia mabuk hingga lost her virginity!" pekik Cecilia mengarang kebohongan agar Max berhenti mengganggunya. "Kau jelas berbohong, Cecile! Aku tahu itu!" sentak Max tak terima. Menggelengkan kepalanya, "Lalu kau ingin menyalahkan ku atas apa yang dia sendiri lakukan?!" Cecilia berteriak marah. "Pasti kau juga melakukan kesalahan hingga Catherine meninggalkan rumah mu!" Max tak ingin kalah debat. "Kau yang menjadi alasan besar Catherine pergi dari sini! Catherine ingin menjalani hidup yang dia mau dan pergi dari pria sialan yang terus menempel dan berharap padanya. You're loser, Max! Kau membuat seorang gadis menjadi risih dan muak denganmu! Apakah masih kurang jelas?!" bentak Cecilia membuat Max kehilangan seribu bahasa. Ego pria itu terluka dengan begitu hebatnya. "Jika tidak ada, biarkan aku pergi dan jika kau peduli dengan Catherine, lupakan dia!" Cecilia menegaskan kata-katanya seraya berlalu. Pertahanan Max pun runtuh bersama dengan seluruh kepingan hatinya yang hancur dan terus menusuk hingga dia tak memiliki apapun lagi yang tersisa. Dia hanyalah seorang pecundang yang menjadi beban untuk seorang gadis yang selama ini dia jaga dan dia cintai. Kehilangan Catherine adalah kenyataan terpahit yang harus dia terima. Cecilia berlari memasuki taksi yang terparkir di depan apartemennya, "Antar aku ke Airport!" pinta nya tanpa pikir panjang. Dia harus pergi, lari dan bersembunyi bersama uangnya. Belum jauh taksi itu pergi meninggalkan kawasan apartemennya, sebuah mobil van hitam menyalip dan menyudutkan taksi ke arah trotoar, hingga taksi itu harus mengerem mendadak. Ckiiittt!!! "Aaaa!!!" Cecilia berteriak histeris seraya menutup kedua telinganya karena berpikir tabrakan akan terjadi. "Maafkan saya, nona…" ucap supir taksi itu merasa bersalah. Cecilia masih merasa bingung dengan apa yang terjadi ketika pintu penumpang taksi tersebut dibuka paksa oleh seseorang dan saat menyadari nya. Dia tahu, kali ini tamat riwayatnya… Bugh! Sebuah hantaman dari tinjuan tangan besar itu di wajahnya, membuat Cecilia kontan kehilangan kesadarannya. === ♣ Roxanne Club ♣ Plak! Wajah Cecilia lantas terlempar kesamping oleh tamparan kuat Madame Pixie. "Aku sangat benci dengan orang yang berniat untuk membodohi ku!" teriak Madame Pixie menjambak rambut Cecilia. "A-aku hanya ingin menyelamatkan jatah uang ku, Madame…" ucap Cecilia sembari merintih kesakitan. "Jatah uang apa maksudmu, hah?! Kau tidak menjaga Catherine dengan baik, itu berarti kau tak mendapat jatah apapun lagi!" "Tapi kau sudah terlalu berbuat banyak untukmu, jika aku tidak membawa Catherine kemari, kau tidak mungkin bisa menjebaknya!" teriak Cecilia marah. "Madeline?!" pekik Madame Pixie membuat Madeline bersuara. "Total semua uangnya, 28.830 dolar." ucap Madeline membuat Cecilia membelak marah. "Bukankah kau hanya meminta 20 ribu dolar dariku? Itu bukanlah murni yang yang kau berikan. Kau tak berhak mengambilnya!" teriak Cecilia semakin tak terima. Bugh! "Aaaakh!" Pixie menghempaskan kepala Cecilia hingga menghantam lantai dan menginjak kepala perempuan lancang itu hingga meringis. "Hak apa yang kau bicarakan, hah? Kau menghilangkan barang berharga milikku dan kau berniat membawa uang ku kabur! Kau seharusnya mendapatkan hukuman yang setimpal atas perbuatan mu!" Membelak tak percaya, "Kau benar-benar serakah, Pixie! Kau pasti mendapatkan lebih banyak daripada yang kau berikan untukku dan kau tidak bisa menghukum ku!" teriak Cecilia membuat wanita itu tertawa nyalang. Menjambak rambut Cecilia dengan penuh amarah, "Jika Catherine tidak berhasil kutemukan, kau harus membayar banyak untuk semua uang ku yang hilang Cecilia! Kau harus bekerja melayani tamu2 ku sampai uang 2 juta dolar ku kembali!" teriak Madame Pixie membuat Cecilia menggelengkan kepalanya. "Aku tidak mau menjadi b***k mu!" "Kau tidak memiliki pilihan selain mati!" teriak Madame Pixie melemparkan kepala Cecilia hingga kembali membentur lantai. "Madame, telepon dari Orlando…" ucap Madeline membuat Pixie menyambut telepon genggam itu. "Apakah kau sudah menemukan keberadaannya?" tanya Pixie to the point. Terdengar helaan napas diseberang sana, "Dia mengambil seluruh uangnya dari bank cabang di Midtown. Nomor ponselnya juga terakhir di lacak di area pusat kota sekitar pukul tujuh lewat tiga puluh. Kami tidak dapat menemukan detail keberadaannya sekarang." "Bagaimana dengan catatan panggilannya?" "Kami sudah menelusuri catatan panggilannya, hanya ada dua nomor yang dia hubungi di waktu yang berdekatan dengan jam terakhir ponselnya sudah tidak aktif. Satu nomor terdaftar atas Max Thompson dan saat kami telepon menanyakan perihal Catherine, pria itu juga menanyakan keberadaannya." "Bagaimana dengan nomor telepon yang satunya?" "Begitu juga nomor lainnya yang terdaftar atas nama Kateline Swan. Dia ibu kandung Catherine, kami sudah menghubunginya dan dia mengatakan sudah hampir 2 bulan Catherine meninggalkan rumah. Kami juga mengunjunginya untuk memastikan dengan mendatangi rumahnya. Namun Catherine tidak berada disana. Dia hanya menelpon ibunya untuk berpamitan." "Jadi, kau tidak bisa mencarinya dengan cara lain lagi?" "Mungkin bisa memakan waktu lebih dari 3 hari sesuai permintaan anda, kami harus melacak cctv area dan kemungkinan-kemungkinan tempat yang gadis itu datangi." "Seriously?! Aku tidak bisa menunggu jika begitu!" teriak Madam Pixie marah seraya memutus panggilan telepon tersebut. Kilatan matanya yang marah, menatap pada Cecilia lalu beralih kepada Madeline. "Segera cari orang lain agar segera mendapatkannya!" teriak Pixie hingga lehernya menerik. Madeline berkedip sejenak seraya berpikir, "CCSpy adalah tim mata-mata terbaik yang kita pekerjakan selama ini. Tapi sepertinya Catherine merencanakan kepergian nya dengan begitu rapi. Gadis itu terlalu pintar." Menghembuskan napasnya kasar, "Lalu, apa kau pikir itu berarti dia pantas membodohi ku?!" bentak Pixie tak terima. Madeline dengan pembawaannya yang tenang, berusaha mengendalikan dirinya agar tidak down. Dia selalu menggunakan otaknya dengan baik. "Sekarang, hanya ada dua hal yang bisa kita lakukan, Madame. Memberikan waktu lebih banyak kepada CCSpy untuk mencari Catherine-" "Kau tahu, waktu kita hanya sampai hari kamis! Akhir pekan Mr. Murich pasti akan melakukan kunjungan lagi!" sergah Pixie marah, memotong ucapan tidak masuk akal yang diucapkan oleh Madeline. "Jika begitu hanya ada kemungkinan terakhir, segera laporkan masalah ini kepada Mr. Murich agar dia dapat menemukan Catherine dengan caranya sendiri." "Apa kau sudah gila?!" teriak Madeline dengan matanya yang melotot marah. "Demi meminimalisir resiko, lebih baik kita segera mengatakan kepadanya." ucap Madeline berkeras dengan sarannya. "Bagaimana jika dia berhenti mengunjungi klub ini dan dia meminta uangnya kembali, lebih parahnya bagaimana jika dia mengambil alih klub ini untuk dijadikan gudang perusahaannya? Hutang ku dengannya masih sangat besar Madeline dan Murich tidak pernah suka jika barang yang dia sukai hilang! Oh gosh, aku sangat frustasi sekarang…" gumam Pixie memijat kepalanya. "Lebih baik memberitahukannya lebih cepat, Madame. Daripada nanti dia sudah berencana untuk kemari dan merasa sangat marah karena Catherine tidak ada. Masalah akan semakin rumit dan merugikan dirimu sendiri." ucap Madeline membuat Madam Pixie mengangguk setuju pada akhirnya. Melakukan sebuah panggilan kepada orang yang sedang mereka bicarakan sedari tadi, Alexander Murich… === -Green Bay Pacific Beach Hotel- Matahari perlahan tertelan cakrawala, bias oranye senja yang indah serta sinar merah matahari sore hari yang megah menerpa wajah cantik Catherine. Pipinya memerah seperti bibirnya yang kini tertarik sempurna dalam senyuman yang mewah. Menikmati suset di balkon Hotel yang terletak di satu kawasan dengan apartemen serta unit rumah hunian tepi pantai yang ingin dia sewa untuk beberapa tahun. Sembari persiapan berkas-berkas kontrak dan unit rumah siap huni untuknya, Catherine memilih tinggal di kamar hotel termahal yang ada di hotel ini dengan balkon dan kolam renang yang langsung menghadap ke arah Pantai Pasifik dengan pasir putih dan air lautnya yang biru. "Aaah… Really good start! Aku berharap benar-benar sebuah permulaan yang baik…" gumam Catherine seraya menyesap Blue lemonade yang menyegarkan dari gelas kristal yang cantik itu. Catherine benar-benar menikmati suasana baru yang menenangkan ini. Meski cuaca cenderung lembab nan basah dengan langit yang tidak begitu cerah akibat dia sedang berada di musim gugur, namun tetap saja tempat ini memiliki sunset yang indah. Catherine sudah menelpon ibunya tadi dan ibunya mengatakan agar mereka tidak berkomunikasi dulu untuk sementara. Ibunya pun meminta dirinya untuk membuang ponselnya dan berganti dengan yang baru. Madame Pixie sialan itu sepertinya masih enggan untuk menyerah. Catherine lantas menegapkan tubuhnya yang semula bersandar malas saat mengingat wajah sialan Alexander Murich. Bagaimana jika pria itu menemukannya? Menghembuskan napasnya kasar, "Catherine please, jangan rusak suasana hatimu saat ini. Tempat ini memiliki keamanan dan kantor polisi. Kau hanya cukup hidup dengan kewaspadaan yang tinggi. Kau pasti bisa!" teriak Catherine dengan kedua tangannya yang mengepal erat sebagai bentuk penyemangat diri. Catherine pun tersenyum sembari kembali merebahkan tubuhnya, tidak ada lagi yang perlu dia cemaskan. Tidak satupun orang yang bisa menyeretnya kembali untuk di manfaatkan. Dia bebas untuk tidak mau dijadikan b***k oleh siapun. Sejatinya seperti itu. Catherine tersenyum saat melihat sepasang kekasih sedang berciuman seiring dengan matahari yang tenggelam habis, membawa semua oranye langit bersamanya hingga yang tersisa hanyalah kegelapan. Menurunkan kacamata hitam yang bertengger manis di wajah cantiknya sedari tadi, Catherine memeluk tubuhnya sendiri seraya menatap jatuh kedepan. "Tuhan… Aku tidak menginginkan banyak hal darimu. Hanya satu permintaan dan aku harap kau akan mengabulkannya tanpa ragu…" ucap Catherine seraya memejamkan matanya. Aku ingin hidup dengan baik dalam ketenangan dan tak ada seorang pun lagi yang menyakiti ku… …dan ku harap ibuku segera datang kemari bersamaku… Catherine meneteskan air matanya saat mengingat Max, betapa dia masih merindukan Max. Tapi dia sudah tidak mungkin lagi menjalin hubungan apapun dengan Max. Max pantas bahagia dengan wanita lain di masa depan. Bukan dirinya… Hubungan pertemanan mereka bisa dilanjutkan nanti, mungkin beberapa tahun kedepan dalam keadaan yang lebih baik dan Catherine harap Max telah memiliki wanita lain yang mencintainya. === Rahang pria itu lantas mengeras, obsidiannya mengkilat kelam dalam tatapannya yang tajam. "Aku sudah berusaha untuk menjaganya, tapi dia melarikan diri dari rumah sewanya…" "Hentikan omong kosong mu! Apakah kau sudah berusaha mencarinya?!" bentak Alexander dengan nada dingin nan tajam. "Tentu, aku sudah mencarinya. Tapi dia menghilang di lokasi terakhir ponselnya sudah tidak aktif." ucap Madeline membuat Alexander semakin menggeram marah. Kirimkan data-data yang kau dapatkan ke email asisten ku!" teriak Alexander memerintah dan memutus panggilan tersebut secara sepihak. Mengusap wajahnya kasar, "Mengapa kau begitu sulit untuk diatur?" tanyanya entah pada siapapun itu, lalu menghubungi asisten pribadinya. "Selamat sore, Mr. Murich. Apakah ada yang bisa-" "Tunggu email dari Pixie, Jay. Dan segera perintahkan tim khusus untuk mencari perempuan itu. Temukan dia besok dan aku tak akan memaklumi alasan apapun. Harus temukan dia besok dimana pun itu, bawa dia padaku tanpa kurang dari satu apapun…" desis Alexander dengan geraman amarahnya yang tertahan. "Baik tuan, aku akan memerintahkan kepada tim khusus untuk segera mencarinya dan membawakan nya kepada anda." ucap asisten pribadinya itu membuat Alexander memutus panggilan itu sepihak. Mengusap wajahnya kasar seraya memijat pelan kepalanya yang terasa sangat pening. Alexander Murich paling tidak suka kehilangan barang yang telah dia tandai sebagai hak miliknya. Dering ponselnya menginterupsi, "Ya ada apa?" tanya Alexander menjawab panggilan tersebut tanpa menunggu. "Apakah kau ingin keluar untuk bersenang-senang malam ini?" tanya Benedict Carlos membuat Alexander berdecak kesal. "Aku sedang sangat tidak berselera, jadi tolong jangan mengganggu." ucap Alexander dengan nada penuh peringatan. "Oh ayolah Alex, malam ini Golden tag menyediakan wanita-wanita cantik untuk melayani kita. Pesta yang menyenangkan untuk meredakan sakit kepala mu…" bujuk sahabatnya membuat Alexander menyerah. "Aku hanya ingin wanita berambut pirang dan bermata biru, persiapkan dia untukku!" ucap Alexander kelam. Dan siapun gadis itu, pasti akan menjadi tempat pelampiasan amarahnya malam ini. Terkadang, Alexander Murich memang seperti tak mempunyai hati. Pria itu sangat beringas, bahkan sisi binatang dalam dirinya lebih kuat daripada sisi kemanusiaan nya. = Pesta VVIP di Golden tag itu berlangsung dengan glamor dan elegan. Para w*************a melakukan pole dance dengan pakaian tembus pandang untuk memanjakan mata-mata pria yang selalu lapar akan hawa nafsu mereka. "Ini semua wanita pirang bermata biru sesuai pesanan mu, kau bisa memilihnya…" bisik Benedict membuat Alexander mengeraskan rahangnya. "Sama sekali tidak ada yang ku inginkan…" desis nya tak berselera. "Untuk kau hukum atau melampiaskan amarah mu tidak ada?" tanya Benedict memastikan dengan senyumannya yang bagaikan psikopat gila. Pria itu paham betul apa yang dapat memperbaiki dan meredam amarah seorang Alexander Murich. "Nomor tiga dari kiri." ucap Alexander berdiri dari duduknya menuju kamar yang telah tersedia untuknya. Benedict pun tertawa, "I'll send you super soon!" teriaknya seraya berjalan mendekati penyedia para wanita itu. Salah satu wanita cantik berambut pirang dan bermata biru itu turun dari panggung bak model papan atas. Memamerkan senyum kemenangannya tanpa tahu bahwa malam ini dia akan segera remuk redam oleh Alexander Murich. = "Selamat malam, Mr. Murich. Saya Gwen Dakota…" Alexander menatap wanita yang masuk itu tanpa selera, "Kau bisa memulainya…" ucapnya tanpa selera untuk berbasa-basi. Layanan seks tersebut dimulai dengan oral yang wanita itu lakukan padanya, Alexander pun menjambak rambutnya dengan kuat. Berlanjut dengan hubungan seks yang dilakukan dengan begitu kasar sampai wanita itu berteriak-teriak dan nyaris pingsan. Meskipun tubuhnya tidak seindah tubuh gadis bernama Catherine Swan yang telah membuatnya sangat marah. Namun Alexander berhasil melampiaskan semua rasa amarahnya yang membuat kepalanya hampir meledak. "Aaakh!" teriak wanita itu ambruk di ranjang yang empuk itu. Alexander berjalan tanpa kata meninggalkan nya untuk membersihkan diri. Dia harus segera mendapatkan informasi tentang Catherine dan membuat wanita tak tahu diri itu meminta maaf padanya. "Sialan kau, Catherine…" gumam Alexander dengan rahang mengeras. === Deru ombak membuat Catherine tersenyum senang, merasakan semua kebahagiaan dan ketenangan memenuhi jiwanya. Dengan bertelanjang, Catherine memasuki kolam di balkon kamar hotelnya. Dia berenang, melepas semua rasa stress yang memenuhi kepalanya. Mendengar kabar dari sang ibu bahwa Madame Pixie mencarinya, membuatnya sedikit takut. Takut jikalau semua ini hanyalah ketenangan sementara untuknya. Takut pada akhirnya dia akan kembali dalam lingkaran setan itu dan tak akan pernah lepas lagi, terjerat dan terbuang hingga saatnya nanti usia membuat hidupnya tak berarti apapun lagi… "Haaahhhh!!!" teriak Catherine keluar dari air tersebut seraya mengusap wajahnya kasar. "Tidak apa-apa Cath, semuanya akan baik-baik saja. Mereka tak akan bisa menemukanmu…" gumam Catherine meyakinkan dirinya sendiri. Apakah dia harus pergi ketempat lain lagi dengan menggunakan jalur darat? Ke Los Angeles? Catherine meneteskan air matanya, dengan bibir yang bergetar takut. Rasanya baru saja beberapa jam dia merasakan ketenangan karena sudah bebas. Menatap jauh kearah pantai, "Apakah awal yang baik akan aku dapatkan setelah aku mati?" tanya Catherine dengan air matanya yang kembali terjatuh. Rasanya dia ingin menyerah dalam semua rasa keputusaannya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD