Ruangan makan itu terasa semakin sepi, kosong, bagai tak ada kehidupan. Catherine menopang wajah cantiknya dengan kedua telapak tangan yang menempel dipipi, bibir mengerucut, air mukanya pun tampak tak bersahabat. Menghembuskan napasnya kasar, “Mengapa dia lama sekali? Apakah dia tak tahu aku sudah menunggu lebih dari satu jam dan perutku terasa sangat lapar?” sungut Catherine pada akhirnya. Dirinya kini benar-benar sudah tak tahan menanggung bosan saat harus menunggu bos besar itu. Sendirian, dimeja makan yang cukup untuk delapan orang ini. Dirinya yakin, saat ini sudah lewat pukul delapan malam. Alexander benar-benar bodoh dan sangat menyebalkan... “Aish, untuk apa semua makanan enak ini jika aku hanya boleh meminum air sampai kembung...” Catherine kembali bersungut seraya menatap s

