-Murich’s House- Catherine meringis saat jarum suntik itu menusuk kulit pinggangnya perlahan, hanya gigitan semut, betul jika dikatakan tak ada apa-apanya dengan rasa sakit fisik dan hatinya dengan perlakuan Alexander sejak pria itu menemukannya. “Sudah, Ms. Catherine...” ucap dokter wanita itu seraya mengusapkan kapas dingin yang dibubuhi cairan antiseptik pada bekas suntikannya. Catherine hanya tersenyum hambar, “Terima kasih banyak, Dokter Swarezz...” ucapnya sembari tersenyum canggung membuat dokter itu membalasnya dengan senyuman lebar. “Awalnya aku pikir kau adalah Anne, tapi ternyata kau jauh lebih cantik dan lebih muda...” Mengerutkan dahinya, “Anne? Siapa dia?” tanya Catherine merasa bingung sekaligus ingin tahu. Wanita berambut pendek itu hanya tersenyum seraya menggel

