Hembusan angin malam yang dingin, menghantarkan Catherine ke alam mimpinya. Dirinya lelah berpikir sedari tadi tentang bagaimana mencari cara untuk berbicara lebih banyak dengan Alexander. Pria dingin berambut hitam pekat dengan iris matanya yang tak kalah pekat, berkilauan dan penuh intimidasi. Terkadang Catherine menemukan tempat dimana dia merasakan pria itu seseorang yang dingin namun juga hangat. Terkadang dia juga melihat bagaimana sorot mata pria itu terlihat kelelahan dan kesepian tanpa dapat dia ketahui apa sebabnya. Jangan tanyakan kenapa karena pria itu memasang dinding kokoh dibalik tampang dinginnya. Tak ada pertanyaan yang pria itu jawab dan itu melelahkan, Catherine membujuk dirinya untuk tertidur. Berbaring dalam balutan udara yang dingin, disertai deburan ombak bak lagu

