Splaaas! “Akh!” Plak! “Please stop it, Pa! Aku tidak akan mengulanginya...” Plak! “Dasar anak bodoh! Kau tak tahu bagaimana kakek mu membuat nama keluarga kita terkenal di dunia perdagangan seluruh Amerika Utara ini! Kau tidak boleh lemah, apalagi menangis!” teriak pria paruh baya itu membawa bocah remaja bertubuh kurus itu dalam jambakan rambutnya. “Kau kalah turnamen menembak kali ini dan kau mendapatkan skor terjelek dalam berkuda! Kau lihat dirimu! Kau benar-benar paling lemah, bagaimana kau bisa menjadi penerus Darko Group?” Alexander muda saat itu menatap wajahnya yang babak belur di cermin serta bekas pecutan tali pinggang sang ayah pada tubuhnya. “Maafkan aku, aku akan berusaha lebih keras lagi mulai dari sekarang...” “Sudah kubilang padamu, otak pintar itu tidak penting

