Catherine terjaga dalam pelukan pria itu, entah suara hujan dan petir diluar sana yang membuatnya resah ataukah debaran hatinya yang membuatnya gelisah. Pria dingin dengan auranya yang kelam ini sedang memeluknya. Awalnya dia terbuai seperti gadis bodoh dalam pelukan teraman pria itu, tapi setelah logikanya kembali, perasaannya kontan bercampur aduk karenanya. Bagaimana hatinya berdebar saat berada di dalam pelukan binatang buas yang selalu siap memangsanya kapanpun? Bahkan pria ini sempat membuatnya terancam dalam cengkramannya, memberitahunya siapa yang berkuasa atas dirinya, lalu mengajaknya bersenggama. Suka atau tidak suka, mau atau tidak mau. Catherine bersyukur logikanya cepat kembali, dirinya harus kembali mencari cara untuk lari. Bukannya membiarkan Alexander menguasai hatinya

