CHEETAH CANTIKKU

2511 Words
Waktu yang ditunggu-tunggu Adam, akhirnya datang juga. Rafael dan Adam duduk berdua. Mata Adam mendilik curiga disematkan tawa nakal pada Raf. Melihat tatapan Adam, Rafael hanya terlihat bingung dan resah. “Sebaiknya kamu segera bilang, apa hubunganmu dengan pegawai andalan kantorku itu.” Adam berkata dengan sewot karena sejak beberapa menit yang lalu, Rafael tak segera menjawab, karena sejujurnya dia bingung harus memulai dari mana, dan bagaimana mengungkapkan dengan bahasa yang baik yang bisa dipahami dan dimaklumi. “Dia tanteku, adik ayahku yang paling kecil..” jawab Rafael singkat dan dengan nada datar, hingga membuat Adam resmi mengumpat dengan kasar. “What? Mengapa baru kamu katakan? Kamu beruntung memiliki tante yang luar biasa seperti dia!” nada suara Adam meninggi penuh protes sekaligus terkejut. Bagaimanapun dia sedikit jengkel karena baru tahu sekarang bahwa Rafael memiliki hubungan saudara dengan pegawai andalan perusahaan ayahnya itu. “Kuperingatkan kamu, jangan coba-coba merayu ataupun mendekati dia. Karena jelas kamu akan berhadapan denganku!” kata Rafael sinis. Entah mengapa sikap posesifnya muncul, membuat Adam tergelak. “Hei?! Ada yang salah jika aku mendekati Sinta? Dia masih single, dan aku juga laki-laki lajang yang sangat normal, kamu tahu itu kan?” Adam kembali tergelak demi dilihatnya paras Rafael berubah. “Tidak bisa! Kupastikan aku akan mengebirimu jika kau berani melakukannya” “Hahaha..Raf...Raf, apa ada sesuatu tentang kalian yang tidak aku ketahui?” tanya Adam menohok ulu hati Rafael. Rafael menatap Adam tajam. “Karena aku menginginkannya!” jawab Rafael tegas sambil mengalihkan pandangannya dari Adam. “Maksudmu?” Mata Adam membulat, terkejut dengan ungkapan Rafael yang meski sederhana namun memiliki arti lain untuk telinga Adam. Rafael menghela nafasnya sedikit berat. “Aku mencintai dia. Aku menginginkan dia. Aku terobsesi dengannya. Bahkan..” Rafael diam sesaat. “Bahkan apa Raf?” Adam mengejarnya dengan tatapan tajam penuh selidik. “Bahkan aku sudah menidurinya...” jawab Rafael datar namun terdengar menyambar telinga Adam. “APA?! Kau gila Raf!” Adam benar-benar dibuat terkejut oleh kejujuran Rafael. Ia menggelengkan kepalanya, antara percaya dan tidak percaya. “Dia membuatku gila! DAM!” “Kamu benar-benar laki-laki paling b******k dan tidak normal yang pernah kukenal, Rafael!” Adam mengumpat kesal begitu Rafael menceritakan tentang semuanya. “Lalu apa yang bisa kulakukan jika yang ada di otakku selalu dirinya? Rasa ingin memilikinya begitu besar!” Adam menatap Rafael dengan tatapan tak mengerti. Laki-laki itu menggeleng lagi, dengan wajah frustasi. Adam membetulkan posisi duduknya. Ia menghentakkan hembusan napasnya. Lalu melontarkan pertanyaan yang sedari tadi membuatnya penasaran, “Kalian melakukannya dengan sukarela?” Rafael menggeleng. “Jadi?” “Aku tak memiliki cara lain ketika akhirnya hasratku yang berkuasa, selain... Memaksanya.” “s**t! Kamu benar-benar lelaki b******n, Raf! Itu keluargamu Raf....” Adam mendesis lirih, agar tak banyak pengunjung kafe yang mendengar percakapan sialan mereka. “Dia, cuma dia yang membuat aku merasakan itu. Aku menginginkannya melebihi wanita manapun yang pernah kukenal!” Adam mendesah. “Lalu apa yang akan kamu pertanggungjawabkan dengan kelakuanmu itu?” Raf terdiam. Dia melempar pandangannya ke luar jendela kafe di depan kantor Adam ini. “Aku akan memintanya menikah denganku,” “What?! Raf, kamu sudah hilang akal ya!” Adam mendesis dengan mengatupkan rahangnya mendengar kegilaan Rafael. Laki – laki itu tak habis pikir dengan otak Rafael yang mungkin sudah miring. Rafael memicingkan mata menatap Adam. Adam ternyata tak bisa mengerti perasaan yang ia miliki terhadap Sinta, tantenya. Raf mengalihkan pandangannya ke arah jalanan di luar kafe karena Adam menatap balik mata Raf seolah Raf adalah penjahat. Mereka berdua sebenarnya tidak jauh berbeda, Raf dan Adam sama-sama b******k ketika masih berada di luar negeri, bahkan sampai sekarang, meski mereka sudah kembali ke tanah air. Tapi sebejad-bejadnya Adam, otaknya masih berjalan cukup normal untuk tidak bercinta dengan perempuan yang memiliki hubungan persaudaraan dengannya. Tiba-tiba darah yang mengalir ke seluruh pembuluh tubuh Raf terasa membeku begitu matanya menatap kelebatan sepasang manusia yang sedang keluar dari sebuah mobil, di halaman kantor Adam. Bukan hanya karena siluetnya yang sangat dikenal oleh Rafael, melainkan gestur tubuh perempuan itu yang telah membangkitkan sisi liarnya, sisi posesifnya, bahkan menggugah kecemburuannya yang tanpa alasan. Adam mengikuti arah pandangan mata Rafael dan tersenyum pahit melihat wajah Rafael yang memerah menahan geram. “Setidaknya kamu tahu, ada banyak hal yang harus kamu pikirkan jika ingin menuruti kegilaan kamu itu, Raf.” kata Adam datar sambil menatap kembali ke arah Raf yang mendecih kesal. “Maksudmu?” “Selain melawan aturan norma yang normal, kamu juga harus menghadapi laki-laki yang beberapa tahun ini menjadi teman dekat Sinta.” Raf tercekat. “Beberapa tahun?” “Ya! Kata Papaku, pegawai andalan yang satu ini hanya memiliki satu teman lelaki.” “Memang sebegitu dekatnya Papamu dengan semua pegawainya?” Adam tersenyum. “Papa dekat dengan semua pegawai yang memiliki potensi luar biasa yang menguntungkan perusahaan. Sinta salah satunya” Raf menarik napas dan menghembuskan kembali, ia mulai merasa bosan. Sedangkan di dalam pikirannya, ia membayangkan Rama sedang bersenang-senang dengan Sinta. “Jadi mulai sekarang, kuharap kamu nggak akan terkejut kalau setiap hari aku akan datang menemui wanitaku”  Rafael menatap Adam masih dengan sikapnya yang tegang terbawa arus cemburu. Sekejap Adam tergelak “Whatever. Tapi aku sudah mengingatkanmu, bahwa apa yang kamu lakukan ini sedikit tidak wajar” Rafael tersenyum miring. Dengan resah disesapnya kopi yang nyaris dingin itu. “Tak ada yang wajar jika sudah berurusan dengan kata yang namanya cinta, Bro..” Adam kembali tergelak dan kemudian menggelengkan kepalanya dengan ketidakpahaman akan sikap Rafael yang sangat tidak biasa itu. “Kamu benar-benar kasmaran, Rafael. Kata-katamu yang seperti pujangga menggambarkan betapa kamu merana dengan cintamu kali ini”  kata Adam yang kemudian beranjak meninggalkannya untuk kembali ke kantornya. Rafael hanya terdiam dengan apa yang disimpulkan Adam. Karena mungkin saja kesimpulan Adam ada benarnya. Dengan langkah tergesa, Rafael beranjak meninggalkan kafe itu. Tapi sebuah rencana cantik telah tersusun di kepalanya, yang akan dijalankannya mulai besok. Besok adalah misi menggapai hati Sinta akan dilakukannya. Untuk hatinya dan untuk cintanya yang semakin menggelora. Tunggu dulu, Cinta? Sisi hati Rafael yang lain tertawa mengejek dengan istilah ‘cinta’ yang diungkapkan Rafael. Karena sisi hatinya tahu, bahwa itu bukan sebuah cinta. Itu hanya nafsu. Tapi sekali lagi, Rafael bahkan tak pernah peduli apa yang ia rasakan, ia hanya tahu satu. Sinta tidak boleh dimiliki Rama.   -0-   Rafael PoV Pagi ini aku sedikit kerepotan dengan ulah Ibu. Tiba-tiba saja menelepon Devi, anak perempuan teman arisan Ibu yang katanya seorang foto model, untuk datang ke rumah dan sarapan bersama kami. HUH! Karena aku terpaksa menanggapi apapun pertanyaannya yang manja dan sungguh aku tidak suka dengan perempuan manja. “Devi ini sering pemotretan ke Bali lho, Raf? Sudah cantik, model loh!“ Ibu memulai promonya ketika kami semua sedang duduk di ruang makan. Dan sungguh, menu pagi ini tak membangkitkan nafsu makanku sama sekali. “Oh, Bagus dong,” hanya itu komentar yang bisa aku ungkapkan untuk rayuan Ibu. “Minggu depan bahkan saya akan ke Singapore, lho Tant. Biasa, shooting iklan...” Devi dengan sombongnya memamerkan kegiatan keartisannya. Padahal aku sama sekali tak tergoda untuk tahu tentang dunia artis. “Emh, Bu. Sudah siang, jadi aku harus segera berangkat.”  kataku untuk kemudian bangkit “Lho, Raf, itu kantor Ayah. Kamu bisa kan datang sedikit lambat untuk menemani Devi kan?” suara Ibu berusaha mencegahku. “Maaf, Bu, aku terlanjur ada janji.” bergegas aku melangkah keluar. Kalau tidak, maka Ibu akan sukses dengan acaranya menyuguhkan perempuan itu untukku. Menyebalkan! Bahkan perempan secantik Devi tak mampu membuatku tertarik, karena yang ada di kepalaku hanya ada dia, Sinta. Ya, Tuhan ... aku memang harus memilikinya atau aku akan gila sendirian? Mobilku melanju keluar dari garasi rumah. Ayah sudah berangkat dari tadi pagi lebih dahulu.  Aku sudah menyusun rencanaku untuk menemui Sinta hari ini. Maka kantor Ayah bukan lagi tujuanku pagi ini, melainkan kantor Adam. Dalam perjalanan menuju kantor Adam, pikiranku menerawang jauh. Bibir Sinta yang ranum, membuatku rindu untuk mengulumnya, menghirup harum tubuhnya dan berdekapan erat dengan desah-desah yang terdengar darinya. Sinta, mengapa harus kamu menolakku, sedangkan banyak wanita mengiginkan aku, tergila-gila padaku. Perjalanan terasa cepat, kemacetan terlalui tanpa arti. Wajah Sinta, membuat obsesi hati ini tak sabar untuk merengkuhnya seperti di Villa waktu itu. Aku berjalan di lorong menuju ruanga Adam, dan Desna yang sekretaris Adam sama sekali tak mencegahku karena dia tahu, bahwa aku dekat dengan Adam. Tanpa permisi aku membuka pintu ruangan Adam.  Dia mendongak dari berkas yang dari tadi diamatinya dengan seksama. “Setidaknya kamu memiliki etika untuk tidak masuk ke ruanganku sembarangan!” suara Adam segera menyambut kedatanganku dengan sinisnya. “Sial! Aku tak perlu memakai etika jika denganmu, karena kita sama-sama b******k!” Adam tergelak. “Jadi apa yang membawamu sepagi ini datang ke sini?” “Rindu,“ Adam kembali tergelak. “Pada Sinta?” “Memangnya siapa lagi? Tapi ingat, jangan sesekali kamu membuatnya tak nyaman selama bekerja.” “Seharusnya kamu tak meragukan aku dalam urusan perempuan, karena aku selalu bisa menghandle mereka dengan baik.” “Baiklah...baiklah ... selamat menghandle, Kawan!” Aku tertawa kemudian berbalik untuk meninggalkan ruangan Adam. Sungguh, sebenarnya sangat tak ingin meminta ijin laki-laki tengik ini. Tapi bagaimanapun ini kantornya, dan kurasa aku tak salah jika berbasa-basi sebentar dengannya. Aku berjalan melintasi lorong di depan ruangan Adam. Sungguh, ini memang suasana kantor yang sangat eksklusif. Tapi bukan desain elegan ini yang membuat hatiku menghangat, karena jantungku bahkan berpacu lebih cepat dari yang seharusnya hanya karena aku hendak menemuinya kembali, setelah malam yang luar biasa itu. Dan kini aku telah berada di depan pintu ruangan Sinta, tanteku yang telah ku klaim bahwa dia adalah ... dia adalah wanitaku. Dengan atau tanpa persetujuannya. Kuketuk pintu ruangannya, menunggu beberapa saat ketika kudengar suaranya menyahut dari dalam. “Masuk..” God, bahkan kelembutannya membuat sesuatu dalam diriku bergerak bangkit. Ayolah, jangan bertanya karena kalian jelas tahu. Pelan aku membuka pintu. Di balik mejanya, perempuan mungilku itu terlihat serius dengan pekerjaannya sehingga tak juga menoleh ketika aku sudah memasuki ruangannya. Oke, kurasa dia tak tahu bahwa aku yang datang padanya kali ini. “Hm..hm... “ aku berdehem. Spontan dia mendongakkan kepalanya menatapku. Seketika kulihat rona terkejut di wajahnya yang tiba-tiba memucat. Sial, apa aku sebegitu menakutkan? “Hei?” aku menyapanya dengan ramah. Dia masih tergagap tak percaya dengan kehadiranku, bahkan kini kulihat dia bangkit dari duduknya dengan pertahanan diri yang sangat rapuh. “Kau? Apa... apa yang kau lakukan disini?”  tanya Sinta gugup. Aku tersenyum. Aku bahkan sangat menikmati kegugupannya kali ini. Baiklah, katakan aku tak normal karena merasa bahagia di atas ketakutan Sinta. Tapi, aku merasa aneh, sebab kegugupan perempuan  ini yang membuatku bahagia, dan membangkitkan sisi liarku  yang kadang tak terkendali Pandanganku lurus ke dua bola matanya yang gugup dan takut. “Tenang, Sinta.... aku tak akan berbuat macam-macam lagi, kecuali.. kecuali kita sepakat untuk kembali bercinta...” ucapku dengan suara setengah merayu, nakal. Astaga! Harusnya aku tidak mengatakan hal itu! Harusnya aku lebih bisa mengendalikan jika ingin mendapati kepercayaan Sinta dan berdekatan dengan perempuan wangi ini. Namun, sejujurnya, aku nyaris tak bisa bertahan. “Kamu.. sudah tidak waras Raf! Jadi, kumohon, keluar dari sini dan jangan temui aku lagi!” pinta Sinta dengan nada judes namun bergetar. Entah getaran marah atau takut, aku tak tahu. Tapi yang pasti aku sangat menikmati kegugupan dan wajah pucatnya kali ini. “Tenang sayang, aku ke sini untuk sesuatu yang baik..” kataku mencoba lembut. Tapi sialnya, tanganku tak mau diam karena sudah lebih dulu terulur untuk meraih dagunya. Tentu saja bukan hal manis yang kuterima, karena dia spontan mengelak dari jangkauanku. Di tengah wajah takutnya, aku mendengar nafasnya mulai terengah-engah. Ah! Sangat menggairahkan! “Tolong jangan kurang ajar ya, Raf! Aku tantemu dan aku tak mau pegawai lain berpikir aneh, jadi tolong, kamu keluar dengan baik-baik..” kata Sinta panjang lebar meski getaran dalam suaranya masih bisa kurasakan. Aku tak bisa menahan tawaku mendengar nada suaranya yang judes. Oke, ini semakin membuat aku terpesona karena kejudesannya ini membuatku semakin terobsesi. “Tan, Tantee? Hahaha!” Aku tertawa mendengar Sinta mengingatkan hal itu. “Lupakan segala t***k bengek tentang silsilah itu, Sinta!” jelasku tanpa kontrol karena pada detik berikutnya, aku memaksa menjangkau lehernya untuk kutekan ke arahku. Sungguh aku seperti di luar kendali ketika akhirnya mampu menyecapnya. Menyecap rasa manis yang tersuguh di bibir Sinta. Kenyal dan lembut serta harum kulitnya, membuatku menjadi bringas di dekatnya.  Sinta berusaha berontak hendak melepaskan diri dari lumatanku yang kian merakus. Tapi seharusnya dia harus mulai membiasakan diri, bahwa gayaku spontan dalam semua hal. Suara teriakan kecilnya mulai terdengar, ketika bibirnya yang kenyal mengundangku untuk menggigitnya, membuatnya berteriak melepaskan bibirku yang tak terkendali. “Kamu gila!” Teriak Sinta. Dua tangannya mendorong bidangnya dadaku dan berhasil membuat tubuhku bergeser dari tubuhny. Ah, Sinta masih saja marah padaku.  “Ya..ya..ya...Aku sudah menggila. Tapi kamu tahu, bahwa apa yang terjadi padaku, karena kamu!” Napas Sinta terdengar memburu. Dan napas karena marah ini semakin membuatku berasumsi lain. Oke, dia memang mendengus marah, tapi di telingaku, bahkan dengusan ini demikian, seksi. “Tolong keluar dari sini, sekarang!” Pekiknya kembali mengusirku, membuat aku tergelak. “Aku akan keluar, tapi kamu harus mendengar penawaran terbaik yang pernah kutawarkan pada perempuan,” aku berkata datar, masih tetap menatap kedua matanya. Kulihat dia masih marah dan menatapku sengit, sambil menyeka bibirnya yang basah olehku. “Menikahlah denganku, agar obsesiku padamu menemukan muara yang tepat..“ kataku sambil menatapnya tajam. Wajahnya yang semula pucat, kini berganti merah menahan marah. “Kamu benar-benar gila!” Sinta semakin marah. Aku tertawa. “Keluar dari ruangan ini, kubilang!” lagi-lagi, Sinta mengusirku. “BAIK! Aku akan keluar, tapi berjanjilah bahwa kamu akan mempertimbangkan tawaranku!” Aku beranjak hendak keluar dari ruangannya yang kurasakan sangat nyaman. Nyaman? Ah, semua ruangan biasa saja. Dan aku tahu bahwa yang membuatku nyaman tentu saja karena di dalamnya ada Sinta. Sintaku, wanitaku! Tapi ketika aku hendak menggapai handle pintu, aku menoleh kembali padanya. “Pikirkan tawaranku atau akan kukatakan pada Rama bahwa kita...” “Bahwa apa!” Sinta terlihat jengkel padaku. Ada raut takut di garis wajahnya, itu sangat aku suka! Aku menarik napas panjang, dan melanjutkan ucapanku, “Kita, telah bercinta dengan panas dan sangat luar biasa menyenangkan..” Ancamku disambut tawa penuh kemenangan. Sinta menunduk sedih, kuharap dia memikirkan perkataanku itu. Tapi tak beberapa detik kemudian, sebuah buku yang melayang ke arahku. Dan Sinta berteriak kembali mengusirku dari ruangannya. Sungguh, Semakin Sinta marah, semakin wajahnya mempesona. Bagai cheetah lincah yang menunjukkan aksinya! Aku segera menutup pintu agar terhindar dari amukan cheetahku yang cantik itu. Aku tergelak melihat kegarangan Sinta. Kutinggalkan ruangan Sinta diiringi tatapan penuh godaan dari beberapa pegawai Adam yang genit dan mengundang. Huft! Sorry, Guys... kalian bukan perempuan impianku. Aku membathin sambil melenggang keluar dari kantor Adam. Seketika, pikiranku menyadarkan bahwa... ASTAGA! Bukankah pagi ini Ayah mengajak aku menemui klien baru kami? Lihatlah, kalian tahu kan seberapa besar pengaruh cheetah liarku itu? Ternyata  Sinta berhasil mengacaukan hidupku tanpa harus melakukan apa-apa. Segera, kubergegas meninggalkan kantor Adam. Atau aku akan melihat Ayah melotot karena keterlambatanku mengikuti pertemuan dengan klien Ayah. Huft! Sinta benar-benar membuatku lupa akan segalanya!   -0-
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD