Suara kicau burung terdengar becicit pagi ini. Sinta merentangkan kedua tangannya, melonggarkan otot-ototnya yang terasa kaku. Dalam-dalam ia hirup udara sekitarnya, kemudian dihembuskannya kembali. Sinta ingin setelah ia membuka mata, hari kemarin adalah mimpi. Tapi, rasa gelisah di hatinya ternyata masih mengambang, belum hilang.
Mata Sinta menyapu seisi kamarnya. Secarik kertas di atas meja, membuatnya tersadar apa yang harus ia lakukan hari ini. Tujuannya satu, menyerahkan surat pengunduran diri. Dia tahu, Pak Adam pasti murka dengan kemangkirannya seminggu ini. Dan sebelum dia diberhentikan dengan tidak hormat, dia akan menyodorkan surat pengunduran diri. Sesudahnya, mungkin Sinta akan menenangkan hidupnya yang akhir-akhir ini kacau barang sejenak. Atau, mungkin juga dia akan mempertimbangkan tawaran Rama untuk ikut bergabung dengan perusahaan tempatnya bernaung. Tanpa berlama-lama di kasurnya, Sinta pun bangkit dan bersiap untuk pergi ke kantornya pagi ini juga.
Dengan jantung berpacu sedikit lebih cepat, Sinta membawa berkas pengunduran dirinya. Ketika dia memasuki ruangannya untuk berbenah sebelum Pak Adam mengusirnya dengan halus, ia mendapat pandangan penuh tanya dari Niken. Teman kantornya yang berperangai culas.
“Luar biasa! Setelah hengkang seminggu, kamu masih punya nyali untuk datang ke kantor ini rupanya,” Niken berkata dengan demikian menyakitkan telinga.
Sinta bertekad bahwa harus bisa manahan diri untuk tidak mencakar mulut Niken yang pedas itu.
“Hei, Sin! Aku bicara sama kamu!” ucapnya lagi, dengan gaya bertolak pinggang di depan Sinta. Tatapan sinis Niken, menumpahkan sedikit panas di hati Sinta. Tapi Sinta masih manahan diri dan menatapnya acuh.
Niken masih tidak menyingkir dari hadapan Sinta, seakan ingin menghalangi langkah Sinta. Sinta mengendus sebal, dan menjawab ucapan Niken.
“Kalau kamu tak suka dengan absenku, selamat Niken! Aku tidak akan lama di kantor ini. Aku akan mengundurkan diri tanpa kamu harus mencercaku, karena itu bukan wewenang kamu.” jawab Sinta setenang mungkin. Wajah Niken mengerenyit beberapa detik, lalu kembali memasang arogan di wajahnya.
Tingkah Niken, membuatnya semakin bulat untuk mengundurkan diri. Sejujurnya, jika Sinta mengikuti nafsu hatinya, ia bisa saja meledak pada Niken agar wanita itu bisa mengunci mulutnya yang terlalu menyebalkan. Niken, memang sudah lama menguji kesabaran Sinta, tidak hari ini saja keculasan Niken dipertunjukan pada Sinta.
“Baguslah kalau kamu cukup tahu diri,” balas Niken berlalu dari hadapan Sinta.
Sinta hanya bisa geleng kepala dengan sikap wanita itu. Tidak hanya kali ini, tapi setiap kali. Sebenarnya Sinta tahu, bahwa dia merasa tersaingi dengan keberadaannya di kantor ini. Terutama, tersaingi di depan Pak Adam! Pak Adam memang laki-laki impian, tapi tidak untuk Sinta. Karena Rama jauh lebih sempurna untuknya.
Lagi-lagi Sinta merasa Rama, sosok sempurna. Hati Sinta mencelos setiap kali ia memikirkan begitu sempurnanya Rama, sedangkan dia kini bukanlah perempuan berharga. Dia tak lagi mampu mengimbangi kesempurnaan Rama. Sinta masih terngiang dengan ucapan Rama ketika malam itu, usai mereka bertengkar karena Sinta ingin putus, namun akhirnya kami kembali bersama.
Flashback ...
Dengan berbagai pertimbangan, Sinta akhirnya menganggukan kepala ketika Rama meminta Sinta kembali menjadi wanitanya. Meski selanjutnya, ia tak tahu apa yang akan terjadi jika Rama mengetahui, bahwa Sinta telah kehilangan harga dirinya.
Ya, Sinta telah ternoda!
Dan itu sudah mampu membuat Sinta merasa tak pantas, untuk tetap bersama dengan Rama. Tapi perlahan dan suatu saat, dia berjanji bahwa dia pasti akan mengatakannya sejujurnya. Apapun resikonya.
“Boleh aku masuk ke dalam ?”, Rama meminta ijin saat dia mengantar Sinta sampai ke depan pintu apartemen perempuan itu, karena Sinta memutuskan untuk pulang ke apartemennya, dengan diantar oleh Rama. Ini bukan pertama kalinya Rama mengantar Sinta sampai ke atas, tapi sejauh ini hanya sampai depan pintu. Tak lebih. Sinta menatap Rama ragu.
“Aku, hanya ingin berbincang. Tak ingin yang lain. Karena aku sangat merindukanmu,” Kata Rama penuh permohonan.
Sinta menatapnya dengan banyak pertimbangan yang berkecamuk di kepalanya, namun akhirnya Sinta mengangguk. Dibukanya pintu apartemen yang sudah seminggu ini tak dia sapa. Rama mengikuti langkah Sinta. Mengamati interiornya sembari berjalan masuk. Sederhana, itu yang ada di kepala Rama pertama kali masuk.
“Mau minum sesuatu? Maksudku, teh panas mungkin?” ucap Sinta menawarkan. Rama memandang ke arah pantry Sinta. Di sana, beberapa botol soft drink tersedia di atas meja. Sinta sepertinya lupa memasukkan ke dalam lemari pendingin. Sinta menatap Rama kembali, lelaki itu mengangguk,
“Teh hangat sepertinya enak,” pinta Rama sedikit memberi saran di udara yang terasa dingin.
Tak butuh waktu lama bagi Sinta untuk menyediakan dua cangkir teh panas untuk mereka. Ia menaruhnya di meja kecil yang biasa digunakannya untuk makan, meski selalu sendirian. Dilihat Rama menatap pemandangan kota dari apartemen ini. Dia telah menyibak kain gorden hitam putih kesayangan Sinta itu dan membuka kacanya. Seketika angin menyeruak masuk, membawa aroma hujan yang turun merintik di luar sana.
“Minum tehnya, Ram...”
Rama menoleh ke arah Sinta dan tersenyum. Namun Rama merasa bahwa masih saja ada mendung di wajah Sinta. Entah apa, Rama tak bisa mengoreknya sekarang.
“Sebelum hangatnya menjadi dingin, sebaiknya segera diminum Ram. Aku akan mandi sebentar,” Sinta lantas berjalan menuju ke kamarnya. Terdengar suara pintu dikunci oleh Sinta. Sejenak Rama tersenyum dengan sikap protektif kekasihnya itu.
Suara hujan seperti membisu. Hanya rupanya saja terlihat dari jendela, seperti ribuan jarum jatuh dari langit. Rama duduk sambil menikmati suasana malam ini, sesekali ia menyesap teh buatan Sinta dengan penuh kenikmatan. Sinta belum juga keluar dari kamarnya, dengan sabar Rama menunggu kekasihnya itu. Tangannya membuka sedikit jendela agar aroma hujan masuk tuk ia nikmati. Wangi hujan selalu membuat Rama merasa damai. Namun, harum yang menyegarkan mendominasi wangi udara hujan, menyapa indera penciumannya, membuat Rama menoleh. Di sana didapatinya Sinta yang telah mengganti bajunya dengan pakaian rumahan, setelah baju tidur sederhana yang jauh dari kata seksi. Warna soft pink yang dipakai Sinta membuatnya terkesan jauh lebih muda jika dibanding dengan usianya.
“Hei,” Sinta menyapa Rama yang menatapnya sangat intens, membuat gadis itu tersipu.
Rama tersenyum. Didekatinya Sinta yang duduk di sofa. Kesegarannya seusai mandi membuat Rama terpesona.
“Apa.. apa ada yang salah denganku? Hingga kamu menatapku seperti ...seperti ...”
“Sssstttt .....” ucapan Sinta terhenti oleh jari telunjuk Rama yang membujur di bibirnya, meminta Sinta untuk tidak banyak berkata-kata.
Hingga ketika Rama terbuai oleh pesona ayu Sinta, laki-laki itu mendekatkan wajahnya ke wajah Sinta. Tak terbayang bagaimana gugupnya Sinta dengan sikap Rama yang sedemikian intens. Dan perempuan itu berniat memprotes ketika dirasakannya sebuah sentuhan lembut menyapa bibirnya.
Dadanya berdegup kencang.
“Ram... “
Tapi Rama menulikan telinganya karena dia meneruskan aksinya. Menciun lembut bibir Sinta yang bergetar di bawah kulumannya. Manis, semanis gulali yang dikecap Rama sewaktu kecil.
Sinta yang semula terkejut dengan sikap Rama yang tiba-tiba, kini bahkan ikut terbuai kelembutan yang disuguhkan Rama. Pelan namun pasti, Sinta membalas setiap inci kecupan yang diluncurkan Rama di bibirnya.
Dengus nafas Rama menunjukkan betapa lelaki itu demikian tergoda dengan lenguhan lembut yang tak sengaja meluncur dari mulut Sinta. Rama memegang kedua sisi wajah Sinta, memiringkan wajahnya sendiri untuk dapat merasakan dan mengeksplorasi kenikmatan yang tersuguh oleh bibir Sinta. Harum tubuh Sinta, membuat Rama terbius lebih dalam. Naluri lelakinya menuntun tangannya untuk menyentuh kelembutan lain yang tersembunyi di balik baju sederhana Sinta. Jemarinya yang kokoh bergetar merasakan betapa kulit Sinta demikian lembut dan halus.
Sementara Sinta merasakan panas yang menjalar ke seluruh sarafnya, saat tangan kokoh Rama meraba dan meremas lembut dadanya. Mengirimkan ribuan gelenyar yang melumpuhkan logikanya. Mematikan rasa malu dan tersipu yang terkadang menyapanya ketika berdekatan demikian intens dengan Rama.
Dan kali ini, ketika Rama menuntunnya bangkit untuk menuju ke kamarnya, Sinta tak sadar bahwa dia kini telah berada di atas ranjangnya yang lembut dan wangi. Bahkan Rama yang kini menggelutinya semakin intens, tak membuatnya ingat, bahwa ini bukan dia yang biasanya.
Pelan tapi pasti, nafsunya terbangkitkan. Gairahnya terbakar seiring kemahiran Rama membuai dan membawanya menyeberangi logika. Sinta melenguh ketika Rama mulai menggusur busananya satu demi satu. Bahkan bukan rasa dingin yang dirasakannya, melainkan semakin hangat, hingga bulir keringat hampir membasahi seluruh tubuhnya. Rama pun tanpa tahu kapan melakukannya, tapi yang pasti, semua pakaiannya telah jatuh ke lantai. Dan ketika Rama bersiap untuk menuntaskan nafsu yang menguasai kepalanya, Sinta tersadar. Di dorongnya Rama sekuat tenaga.
“Rama?!” Sinta memekik histeris.
Rama tersentak. Matanya yang berkabut gairah, tetiba memilu dalam penyesalan. Sungguh, bukan hal mudah meredam nafsu yang sudah demikian menggunung. Maka dengan terpaksa, dia menggulirkan tubuhnya yang terasa terbakar, ke sisi Sinta. Mengusap wajahnya agar kesadarannya yang tadi melemah segera terkumpul kembali.
“Maaf, sayang...” ucap Rama lirih. Deru napasnya masih terdengar memburu. Tangannya meraih selimut untuk menutupi tubuh mereka yang telanjang, memejamkan matanya. Menata kembali debaran jantungnya.
“Aku juga salah,” jawab Sinta, tak kalah lirih dari pernyataan Rama.
Rama membuka matanya, menoleh ke arah Sinta. Lalu dengan pelan, dipeluknya tubuh Sinta. Sinta yang menyadari bahwa dia takut kembali lupa diri, segera bergerak hendak melepaskan diri dari pelukan Rama.
“Sssttt .... biarkan aku memelukmu seperti ini ya,” kata Rama lirih, meredam pemberontakan Sinta.
“Ram ... aku..”
Rama menggeleng. “Aku janji, tak akan lebih dari ini...”
Sinta terdiam. Dibiarkannya pelukan Rama menghangatkan raganya. Meski di sudut hatinya yang lain, sungguh dia mengejek dirinya sendiri, bahwa dia nyaris seperti perempuan murahan.
Flashback 0ff ...
Ting !! HP Sinta berbunyi, tanda sms masuk.
Pak Adam sudah memasuki ruangannya, silahkan kalau Mbak Sinta mau menghadap sekarang.
Desna, sekretaris Pak Adam memberitahu lewat SMS. Tanpa sengaja, Sinta mengangguk sendiri. Maka dia segera berkemas, membawa beberapa berkas yang akan disodorkannya pada Pak Adam. Berkas pengunduran dirinya. Kemudian dengan langkah mantap yang dipaksakan, perempuan itu berjalan menuju ruang Pak Adam.
“Bisakah saya menemui beliau sekarang, Des?” Sinta bertanya sopan pada sekretaris Pak Adam yang cantik dan ramah ini.
“Mbak Sinta tunggu sebentar ya?”
Sinta mengangguk.
Tak lama, Desna kembali dan mempersilahkan Sinta memasuki ruangan Pak Adam. Hatinya sedikit galau membayangkan bagaimana murkanya Pak Adam dengan kemangkirannya seminggu ini.
“Silahkan duduk, Nona Sinta..” Pak Adam berkata dengan nada datar.
“Terima kasih, Pak.” jawab Sinta sembari duduk. Tangannya langsung saja menyodorkan berkas pengunduran dirinya yang tersusun di map.
“Apa ini, Nona Sinta?”
“Maaf, Pak. Itu surat pengunduran diri saya.” jawab Sinta tegas. Meskipun dia sadar, bahwa jika permohonannya terkabulkan, dia tentu akan sedikit kesusahan mencari pekerjaan yang sesuai dengan keahliannya.
Belum lagi Pak Adam menanggapi pengajuan Sinta, teleponnya berdering. Segera saja diangkatnya demi menghindari kebisingan akibat telepon yang berteriak minta diangkat.
“Ya, hallo?”
-0-
Rafael PoV
Pagi ini aku terbangun sedikit lebih cepat dari biasanya. Bukan karena ada pertemuan dengan klien baru Ayah atau hal lain. Tapi, aku ingin menemuinya, kembali. Sungguh, aku tak bisa membohongi hatiku lagi, karena aku sangat merindukannya.
“Tumben, sepagi ini sudah ready, Raf?” suara Ibu menghentikan langkahku yang berderap lebih cepat untuk menggapai pintu.
“Hmm ... aku, aku ada sedikit janji dengan teman, Bu!” jawabku sedikit gugup mencari jawaban. Karena tak menduga akan secepat ini Ibu menyapa keberangkatanku. Kulihat Ibu sedikit mengernyitkan dahi. Aku tersenyum dan mendekati beliau.
“Tak usah khawatir, aku bisa makan di luar kalau nanti lapar.”
Ibu lantas tersenyum. Aku bergegas menuju mobilku yang sudah dipanasi Pak Pon, sopir Ibu. Mobilku melaju meninggalkan rumah, tujuanku hanya satu, apartemen Sinta. Aku yakin perempuan tercintaku itu sudah kembali ke apartemennya. Sedikit lebih cepat kupacu mobilku untuk menghalau kemacetan Jakarta. Tapi setiba di halaman parkir kawasan hunian ini, aku dibuat panas dalam oleh pemandangan di depan mataku.
Rama sudah berdiri bersandar di mobilnya yang mengkilap. Kedua tangannya terselubung ke dalam saku celananya. Jas hitam dengan dalaman hem warna soft pink, serta dasi yang bertengger di lehernya membuat Rama semakin terkesan maskulin. Tapi bukan penampilan Rama yang membuatku harus membahasnya, melainkan kehadiran Sinta yang terlihat sangat gembira, keluar dari apartemen dan tersenyum cerah ke arah Rama.
Aku muak melihat keharmonisan mereka! Kupacu mobilku meninggalkan pasangan sok romantis itu. Setibanya di kantor, suasana yang asri dengan banyaknya pegawai Ayah yang cantik, tak membuat kondisi kepalaku mendingin. Karena bayangan Sinta dan Rama tak juga enyah dari kepalaku. Ah, ya ... aku harus menghubungi Adam.
“Ya hallo... ?”
“Dam. Sedang apa?”
“Aku sedang bekerja, Tuan. Aku bukan sepertimu yang hanya ongkang kaki saja uang dan perempuan mengalir mendekatimu,” kudengar Adam tertawa dengan penuh ejekan. Sialan!
“Serius!”
“Okay, baiklah.. Aku sedang kedatangan pegawai seniorku yang seminggu ini mangkir dari pekerjaannya tanpa memberiku kabar sama sekali.”
“Sinta?” aku bertanya penasaran. Sangat penasaran.
“Ya, benar. Bagaimana kau tahu?”
“Sudahlah, itu tak penting. Apa dirimu akan memecatnya?” aku bertanya penasaran.
“Tergantung, Tuan. Tergantung alasan yang hendak dia utarakan.”
“Kalau kau memecatnya dan membuatnya kehilangan pekerjaan, kupastikan aku akan memenggal kepalamu, Dam!” ancamku tak terlalu serius, tapi mendengar Sinta sedang berada di sana, darahku berdesir cepat membuat aku ingin segera melangkah meraih Sinta! Adam terdengar terkekeh mendengar ancamanku.
“Hei, Tuan Muda.. apa yang membuatmu demikian gila hingga berniat memenggal kepalaku?” Adam masih saja terkekeh.
“Sudahlah, Aku akan menceritakannya nanti!”
“Hei, jangan lupa bahwa kamu berhutang dua penjelasan padaku!”
“Terserahmulah! Pastinya, aku tak mau dengar kau memecat Sinta!”
Klik!
Aku menutup sambungan teleponku. Tak peduli meski di seberang sana Adam memaki karena kebiasaanku mematikan telepon kini kumat lagi. Aku tersenyum membayangkan Sinta menghadap Adam. Aku tahu, pasti Adam akan sedikit mempermainkannya. Tak apa, biarkan perempuan itu mendapatkan sedikit shock therapy dari Adam.
Aku tahu apa yang harus aku lakukan setelah ini. Ya, aku harus kembali datang padanya, meminta untuk menjadi wanitaku. Persetan dengan pertalian persaudaraan yang mengikat kami. Karena nyatanya aku tak mampu membendung hasratku untuk memilikinya.
Untukku. Hanya untukku.
Meski untuk itu aku harus menggunakan trik paling kotor sekalipun.
-0-
Sementara di kantor Adam, Sinta hanya menyimak perbincangan Adam, boss-nya itu dengan seseorang. Tapi Sinta hanya mendengarnya.
“Jadi, bagaimana, Nona Sinta?” tanya Adam begitu Rafael selesai meneleponnya.
“Saya mengajukan surat pengunduran diri!” jawab Sinta tegas. Adam menatapnya intens.
“Bolehkan saya mendengar alasan paling logis yang bisa Anda ungkapkan, Nona?”
Sinta terdiam karena seiyanya dia hanya merasa bersalah karena mangkir tanpa alasan.
“Jika Anda tak memiliki alasan yang kuat agar saya meloloskan keinginan Anda untuk resign, sebaiknya Anda kembali bekerja menyelesaikan yang seminggu ini terbengkalai, Nona..”
Sinta mendongak.
“Tapi, Pak?”
“Silahkan kembali bekerja, Nona!” kata Adam tegas.
Sinta yang kebingungan hanya mengangguk.
“Terima kasih, Pak..”
Sepeninggalnya Sinta dari ruangannya, Adam segera menghubungi Rafael. Hanya beberapa saat dan Rafael langsung mengangkatnya.
“Kamu memang laki-laki paling sialan yang pernah menjadi temanku, Raf!”
“Hei, apa yang terjadi?”
“Tak tahukan kau, hanya karena kau akan memenggal kepalaku jika aku memecat Sinta, maka aku terpaksa melanggar kode etik perusahaan yang tetap mempekerjakan pegawaiku meski dia mangkir seminggu!”
Terdengar kekehan Rafael di ujung telepon.
“Jangan banyak tertawa, sekarang kamu bisa jelaskan padaku apa yang terhutang olehmu itu.”
“Tentu saja, tapi tidak di sini. Temui aku nanti pas jam istirahat di kafe depan kantormu!”
“Baiklah...baiklah!”
Klik!
Adam mematikan sepihak sambungan teleponnya. Tak peduli bahwa di seberang Rafael mengumpat kesal. Sementara di seberang, Raf tersenyum senang.
Kita akan lihat, Sayang, bahwa kau hanya milikku seorang. Bukan milik Rama, kekasih tercintamu itu! Serapah Raf dalam hati. Ia tertawa puas sendiri dan membayangkan apa yang akan ia perbuat untuk mendapatkan Sinta dalam pelukannya. Selamanya!
-0-