Setelah mengucapkan beberapa kalimat yang sejujurnya sangat pedas untuk didengarkan, Rama segera memacu kendaraannya meninggalkan taman kota. Kacau berumah dalam relung hatinya kini, bahkan sakit hati dengan apa yang dikatakan Sinta. Dia melajukan mobilnya dengan amarah yang nyaris meledak. Tapi ketika sampai pada sebuah perempatan yang kebetulan sedang menyala lampu merah, tiba-tiba kesadarannya seperti muncul.
Sejujurnya, dia pun sangat menyesali ucapan kasarnya pada Sinta. Tapi, bukankah Sinta punya alasan mengapa dia ngotot putus? Seketika ingatannya kembali pada wajah Sinta yang tadi menatapnya dengan penuh luka, saat dia mengatakan bahwa gadis itu memang tak pantas untuk dipertahankan.
Tanpa berpikir dua kali, Rama kembali memutar kendali mobilnya menuju ke taman kota. Dia berniat kembali menemui Sinta. Ia ingin meminta maaf karena telah berkata kasar dan akan meminta agar gadisnya itu tetap berada di sisinya, apapun yang terjadi.
Sesampainya di taman kota, Rama segera turun dari mobilnya. Pandangannya celinguk kanan dan kiri mencari keberadaan Sinta. Dan sejenak kemudian, Rama tersenyum lega meski hatinya masih kacau, karena di sebuah kursi taman, terlihat Sinta duduk termenung.
Maka sekonyong – konyong Rama mendekati Sinta dengan hati yang ikut teriris karena Sinta kelihatan demikian mengenaskan. Tatapan kedua bola mata perempuannya itu tampak kosong. Kehadiran Rama, sampai tidak Sinta ketahui.
“Sin…” panggil Rama, dengan suara lirih dan nada bergetar. Sinta spontan menoleh ketika ada suara memanggil namanya. Perempuan itu terlihat terkejut, dilihatnya Rama kembali berada di taman itu. Sinta melepaskan udara dari paru-parunya panjang. Perasaan sedih itu, masih terasa. Ia tidak berani memandang kedua mata Rama.
“Ram…” tak sadar Sinta bergumam lirih.
“Ya, ini aku” Rama menjawab lirih.
Dengan langkahnya yang lebar dia segera menghampiri Sinta lebih dekat. Kemudian dengan hati yang sama sakitnya dengan Sinta, diraihnya perempuan itu ke dalam pelukannya. Tubuh meraka merapat erat, seolah tak ingin lagi melepasnya. Sinta yang seiyanya gamang, seketika menangis dalam dekapan Rama. Keduanya menangis. Degup jantung mereka berirama cepat dalam kesesakan.
“Maafkan aku, Sinta! Maafkan kata kasarku tadi, aku menyesal” kata Rama lirih.
Dalam dekapannya, Sinta menggeleng.
“Kamu benar, Rama. Aku memang tak pantas dipertahankan…” jawab Sinta lirih dan terbata. Rama menggeleng. Direnggangkannya pelukannya, diraupnya kedua sisi wajah Sinta yang sembab.
“Kamu perempuan terbaik yang pernah kutemui. Jadi apapun, aku akan tetap mempertahankanmu!”
Sinta terkesiap.
“Tapi, Ram…”
Rama menggeleng tegas.
“Tidak ada kata tapi dalam hubungan kita, Sinta. Apapun yang terjadi, aku tak akan meninggalkan kamu, asal kamu janji, nggak akan ninggalin aku..”
Ucapan Rama membuat Sinta tertegun, perasaannya bergeliat gamang. Dekapan Rama serasa surga baginya, tapi ia takut menjadi neraka bagi Rama. Ia tak sesempurna dahulu, Sinta kekasih Rama.
Sinta berusaha melepaskan dekapan Rama, ia berdesah mengusir perasaan tak karuan di dadanya, “Tak semudah yang kita inginkan, Ram.” ucap Sinta sambil menunduk.
“Memang, tapi berjanjilah bahwa kamu akan selalu ada di sisiku!” pinta Rama terdengar tak ingin kehilangannya.
Sinta menatap jauh ke kedalaman mata Rama. Dan selalu saja Sinta tak pernah menemukan kebohongan di sana, membuatnya semakin merasa kotor. Karena pada akhirnya dia yang berbohong, dia yang menyembunyikan sesuatu.
“Apa aku pantas?” Sinta bertanya lirih.
“Ya, kamu selalu pantas untukku..”
bisik Rama mengangguk mantab. Sinta menggeleng sendu.
Apakah kamu akan tetap mencintai aku jika tahu yang sebenarnya? Tanya Sinta dalam hati. Sinta ingin mengungkapkan apa yang terbetik di hatinya, tapi mulutnya seperti terkunci. Hingga tak satupun kata terucap.
“Kamu tak mau lagi berada di sisiku?”
Sinta menggeleng.
“Aku terlalu mencintaimu, Ram. Hingga aku tak sanggup jika hidup tanpamu. Tapi akan ada banyak hal sulit yang kita temui di kemudian hari..” Sinta mengurai lirih. Lelaki itu hanya menggeleng tegas. Rama, menguntaikan jemarinya dalam jemari Sinta. Hangat tubuh Rama, mengalir dalam dinginnya tubuh Sinta.
“Aku hanya butuh kata bahwa kamu mencintai aku, dan aku akan mampu menghadapi badai sebesar apapun” kata Rama berusaha memohon pada kekasihnya itu.
Sinta masih menatapnya ragu, tapi kemudian desakan hati kecilnya, berhasil membuatnya untuk mengangguk.
“Tetaplah ada untukku, Sinta..” Rama kembali membawa Sinta ke dalam hangat dekapannya. Rama begitu posesif, membuat Sinta semakin merasa tak pantas untuk lelaki sebaik Rama.
Di ujung taman yang lain, seorang lelaki yang tadi hendak melangkah mendekati Sinta, spontan mengurungkan niatnya. Langkahnya membeku, tangannya mengepal, geram. Dilihatnya Sinta kembali bersama kekasih yang selalu dipuji Sinta, Rama. Dia semakin kalut, gusar dan marah sendirian.
-0-
Rafael PoV
Entah sudah menjadi sore yang ke berapa, aku lupa. Semenjak senin pagi, sedari Sinta tak masuk kantor itu, aku selalu keliling kota untuk mencoba menemukannya. Konyol memang, tapi aku tak merasa lega sebelum menemukannya. Hingga sore ini, dengan pakaianku yang masih menggunakan baju kerja tadi pagi, tak peduli dengan diriku yang belum pulang ke rumah meski untuk mandi, aku nekad ke taman kota. Turun dari mobil yang kuparkir di bawah pohon. Dan awalnya, aku hanya ingin mencari udara segar dan siapa tahu ada Sinta.
Kuedarkan pandanganku kesekeliling taman. Beberapa pasangan muda mudi yang melintas dengan mesra membuat hatiku sedikit tercubit. Aku hanya bisa tersenyum miris. Tapi langkah lebar seorang laki-laki mampu membuatku berdebar. Dia? Bukankah itu, Rama, ya, dia adalah Rama kekasih Sinta. Lalu mau kemana dia? Maka dengan hati penasaran, aku mengikuti langkahnya meski dengan jarak yang agak jauh.
Kini tersuguh di depan mataku sungguh telah membuat jantungku berdebar melebihi kapasitas normalnya. Karena di sana, pada sisi taman kota ini kudapati Rama menemui seorang perempuan.
Aku memicingkan mataku, berusaha melihat jelas sosok perempuan yang Rama temui. Detak jantungku seketika berdegup kencang, diiringi desir hangat di d**a. Aku menyadari, bahwa perempuan itu adalah sosok yang kucari seminggu ini. Ya, Rama memang menemui Sinta. Lalu aku mencari tempat untuk bisa memantau mereka tanpa mereka tahu.
Kulihat keduanya berbincang. Rama dengan ekspresi riangnya dan Sinta dengan kemurungannya. Tapi beberapa saat kemudian, keduanya terlihat bersitegang, bahkan Rama bergegas meninggalkan Sinta dalam tangisnya yang tertahan.
Sialan! Mengapa justru aku merasakan sakit, seolah aku tahu apa yang dirasakan Sinta? Kulihat Rama menjauh, dan aku harus mendekatinya, mengajaknya berbicara ke mana saja seminggu ini menghilang, dan mengapa dia meninggalkan aku di villa malam itu.
Eits, tunggu! Apa iya Sinta mau menemui aku, apalagi ini di tempat umum? Mengingat kelakuanku sebelumnya pada Sinta, aku ragu dia sudi menemuiku. Tapi, tidak! Apapun yang terjadi aku harus menemuinya sebagai konsekuensi kelakuanku. Aku harus meminta maaf, harus berusaha meluruskan mengapa aku nekad melakukan hal itu, tentu karena aku sangat menginginkan dirinya. Sinta harus menjadi milikku. Untukku! Hanya untukku!
Dengan langkah lebar hendak mengikuti langkah Sinta yang berjalan pelang meninggalkan tempatnya semula. Aku merasa ada sesuatu yang membuatnya semakin terguncang.
Sialan, Rama! Beraninya dia membuat perempuan impianku ini bersedih. Pada jarak beberapa meter di depan, aku nyaris mendapatkannya, ketika seorang laki-laki yang tiba-tiba mendekat ke arah Sinta. Yang entah bagaimana, laki-laki itu kulihat meraih Sinta ke dalam dekapannya. Kulihat keduanya tergugu, dalam guncangan emosi.
Sungguh, aku merasa sakit melihat mereka berpelukan. Ada luapan api di dalam tubuhku, melihat mereka berdekap tanpa jarak. Karena ternyata Rama kembali pada Sinta. Aku benci karena Sinta sepertinya tak menolak kehadiran Rama. Aku muak melihat mereka punya cinta yang tangguh. Aku merasa bahwa seharusnya aku yang memeluk Sinta. Meski aku sadar, kecemburuanku salah dan tidak pada tempatnya. Tapi persetanlah! Nyatanya aku tak sanggup menepis hasratku untuk memiliki Sinta! Dan ingat, keperawanan Sinta telah menjadi milkku terlebih dahulu.
Apapun kondisinya, aku harus membuat mereka terpisah. Dengan kesal, aku meninggalkan pasangan yang sedang kasmaran itu. Dalam hati aku berkata, Nikmatilah kebersamaan kalian, karena mau tidak mau, Sinta akan menjadi milikku.
-0-
Sinta PoV
Aku tak tahu mengapa kepalaku mengangguk ketika Rama kembali hadir dalam kehidupanku, sore tadi. Setelah perdebatan itu, dia meninggalkan aku. Dengan rasa marah yang tak pernah aku lihat sebelumnya.
Aku terpuruk oleh keputusanku sendiri. Karena sejujurnya, aku nyaris tak mampu menghadapi hari tanpa kehadirannya yang selalu penuh cinta. Tapi ketika kuingat keadaanku sekarang, aku semakin gamang. Ya, setelah Rama kembali memintaku untuk tetap berada di sisinya, yang kusanggupi dalam keadaan bimbang, dia membawaku makan malam.
Sungguh, perdebatan kami membuat perutku membutuhkan asupan makanan. Semua menguras pikiranku. Di warung lesehan mewah langganan kami, Rama membawaku. Aroma masakan di tempat itu, seolah membius kesedihanku. Aku bersama Rama kini, dan aku berusaha untuk menikmati dan berusaha melupakan masalahku sejenak. Sepanjang acara makan, dia tak hentinya menatapku, seolah sedang berusaha mengorek isi kepalaku hingga menginginkan putus.
Selama perjalanan pulang ke tempat Anis, kami terkurung dalam suasana diam. Bahkan ketika akhirnya kami sampai dan Rama mematikan mesin mobilnya. Aku hendak turun, ketika dia mencekal lenganku, menahan langkahku.
“Kenapa, Ram?”
“Cukup sekali ini kita berdebat tentang perpisahan, Sinta. Aku tak mau lagi mendengar kamu minta putus, karena aku tak akan mengabulkannya.” kata Rama sambil menatap manik mataku, tajam.
Dan sebagai jawabannya, aku hanya tersenyum.
“Kita tak bisa memaksakan takdir kan?” akhirnya aku mengungkapkan kegamanganku.
“Selama kamu mencintai aku, dan aku mencintaimu, kita akan mengubah takdir!” jawab Rama tegas meski suaranya lirih.
Aku hanya tersenyum.
“Selamat malam, Ram..” ucapku.
Dan lelakiku ini, selalu melakukan hal paling manis jika hendak berpisah denganku. Diusapnya pipiku dengan punggung tangannya yang lembut. Tubuhku berdesir, membuatku memejamkan mata, merasakan Rama yang mengasihiku, tulus.
“Sinta ... “ panggilnya lembut.
Aku membuka mataku, menatapnya dalam tanya yang tak kuungkap.
“Tetaplah menjadi wanitaku, ya…” Rama meminta dengan tatapan lembutnya.
Dan sungguh, ini bukan seperti uforia kebahagiaan seperti yang seharusnya dirasakan seorang perempuan ketika ditembak lelaki impiannya. Karena ini bahkan menjelma menjadi godam duri yang menghantam ragaku.
Aku kembali tersenyum.
“Terima kasih sudah mengantar aku ke sini, Ram.”
Dia mengangguk.
“Senin nanti aku akan menjemputmu berangkat kerja. Di sini apa ke apartemenmu?”
Aku terdiam. “Ke apartemen saja,”
Rama mengangguk dan tersenyum.
“Selamat malam, Sinta.”
“Selamat malam, Ram..”
Aku turun dari mobilnya dan berjalan menuju teras tempat kost Anis. Berhenti untuk melepas kepulangan Rama. Ketika mobilnya beranjak menjauh dari depan rumah Anis ini, kulihat dia masih melambaikan tangannya dengan senyum paling manis dan memabukkan yang selalu diberikannya untukku.
Tuhan, pantaskah aku jadi wanita dalam hidupnya?
-0-