Mario dan Andine sudah berada di restauran paling terkenal di Prancis. Restauran yang menyajikan berbagai macam makanan, dari berbagai negara. Bahkan ketika mereka berdua masuk, mereka sudah menjadi sorotan orang yang berada didalam sana. Bagiamana tidak menjadi sorotan, nama Mario Glarendra sudah terkenal sebagai pemimpin perusahaan terkaya ke tiga di dunia. Setelah perusahaan milik David Aderxio yang menduduki peringkat pertama, dan perusahaan milik Adeks Abraska Frandes yang menduduki peringkat kedua. Omong-omong soal perusahaan milik Adeks, kepemilikan itu sekarang digantikan oleh Jessy Frandes, ibu kandung dari Adeks Abraska Frandes.
"Kamu mau pesan apa by?" tanya Andine yang sedari tadi terdiam. Sedangkan pelayan yang disamping Andine, diam menunggu apa yang dipesan Mario.
"Foie Gras saja, kalau kamu apa sayang?" tanya Mario setelah memilih makanan.
"Samakan saja by."
Mario tersenyum, dan setelah pelayan pergi untuk menyiapkan pesanan Mario dan Andine. Selepas kepergian pelayan itu, Andine menggeser duduknya sehingga jarak antara dirinya dan Mario tidak ada. Karena posisi duduk mereka bersebelahan, tidak bersebrangan.
"Ada apa sayang?" tanya Mario. Bukannya menjawab, Andine malah menyandarkan kepalanya dipundak Mario.
"Aku takut." dua kata yang keluar dari mulut Andine membuat Mario bingung. Apa yang ditakutkan istri kecilnya itu?
"Apa yang kamu takutkan sayang, bicarakan itu padaku." ucap Mario seraya memberikan senyuman manis miliknya. Sedangkan Andine yang mendengar langsung menegakkan tubuhnya.
"Aku takut, rumah tangga yang kita jalani tidak akan bertahan lama. Mengingat usia kita yang terpaut jauh, dan juga kita yang belum mengerti satu sama lain." Andine meremas jari-jari tangannya, yang menandakan jika dia sedang takut.
"Bukankah aku sudah pernah bilang, jika berbicara denganku kamu harus menatap mataku. Tidak menundukkan kepala seperti ini, dan kenapa kamu tiba-tiba membahas tentang masalah ini sayang?" tanya Mario dengan nada melembut. Sebenarnya, Mario ingin marah karena Andine menanyakan hal yang tidak penting seperti ini, tapi sebisa mungkin Mario akan menyembunyikan sifat temperamennya. Dia tidak bisa bayangkan jika Andine mengetahui bila dirinya sangat tempramen. Belum saatnya Andine mengetahui tentang dirinya.
"Sebenarnya sudah lama aku memikirkan itu, tapi baru sekarang aku bisa mengungkapkannya." jujur Andine yang membuat Mario menghela nafas panjang.
"Sudahlah Andine, aku tidak ingin membicarakan masalah ini. Dan kamu harus mengingat, bahwa hubungan kita akan terus berlanjut, aku tidak akan melepaskan mu!" tegas Mario, karena ia sudah muak dengan pembahasan ini.
"Iya by, tapi ak..." ucapan Andine terputus kala Mario kembali bersuara.
"case is closed."
Andine bungkam, ketika Mario berucap seperti itu. Mungkin, Andine tidak perlu membahas tentang ini, nyatanya jawaban Mario sama ketika dirinya bertanya tentang kelanjutan hubungan rumah tangganya.
Keduanya saling terdiam, bahkan Andine kembali menggeser posisi duduknya menjauhi Mario. Sampai pelayan datang membawakan pesanan mereka.
"S'il vous plaît profiter." ucap pelayan perempuan itu, sebelum pergi dari hadapan Mario dan Andine.
Mario mulai memakan makanannya, begitupun dengan Andine. Kedua orang tersebut saling diam, tanpa mengucap apapun saat melangsungkan aktivitas makannya.
Hingga beberapa saat, Mario selesai dengan aktivitas makannya, begitupun dengan Andine. Tapi, Andine masih sibuk membersihkan mulutnya dengan tisu yang disediakan.
Sedangkan Mario yang sedari tadi selesai makan, terus saja memperhatikan apa yang tengah dilakukan Andine. Mario tahu, Andine sengaja berlama-lama mengelap mulutnya, agar mereka tidak terlibat obrolan ringan.
"Andine kamu kenapa?" Mario menyentuh lengan Andine, membuat wanita itu terkejut.
"Nope, aku sudah selesai by, langsung pulang atau melanjutkan jalan-jalannya?"
"Pulang saja, apa kamu tidak keberatan?"
"Tidak, baiklah ayo pulang."
Mario dan Andine bangkit dari duduknya. Andine terlebih dulu keluar, sedangkan Mario masih harus membayar pesanannya.
Andine menunggu diluar restauran, sesekali menggosok kedua telapak tangannya, karena udara semakin malam semakin dingin. Kegiatan itu harus terhenti, ketika suara perempuan terdengar ditelinganya.
Andine menoleh dan mendapati seorang perempuan tersenyum kearahnya, dan mengulurkan tangannya, "Namaku Sella, kau istri Mario Glarendra kan?"
Aku mengangguk dan menjabat uluran tangannya, "Aku Andine."
"Senang bertemu dengan mu Andine." Andine tersenyum untuk menanggapinya. Tapi, satu yang ada dipikirannya saat ini.
Siapa perempuan bernama Sella ini?
"Maaf, sebenarnya siapa dirimu?" Andine bertanya dan semakin melangkah mendekati Sella.
"Aku Sella Maregan, mantan tunangan Mario Glarendra." jawab perempuan yang diketahui namanya Sella.
Seketika tubuh Andine menegang, ternyata perempuan didepannya ini adalah mantan tunangan suaminya.
"Kau mantan tunangan Mario, suamiku?" ulang Andine memastikan.
"Iya, sehari sebelum dia menikahi mu, dia memutuskan tunangan kita. Sebenarnya sih, jika tidak karena perjodohan yang dilakukan orang tua Mario, pasti sekarang aku dan Mario masih bertunangan. Karena pada dasarnya, Mario masih mencintaiku, dan dia terpaksa menikahi mu." jelas Sella panjang lebar, membuat hati Andine memanas.
"Hmm, kalau begitu aku pergi dulu. Beritahu Mario jika aku berada Prancis, nanti pasti dia akan menghubungi ku dan menanyakan aku tinggal dimana." setelah mengatakan kalimat itu Sella langsung pergi, meninggalkan Andine sendirian dengan berbagai perasaan yang mencampur manjadi satu.
"Aku baru tahu, sebelum kamu menikahi ku, kamu mempunyai tunangan Mario. Dan apa benar yang dikatakan Sella, jika kamu masih mencintainya Mario?" tanya Andine entah pada siapa. Air mata mulai turun. Membasahi pipi putihnya.