7. France [4] Sella ke kantor

917 Words
Cahaya matahari yang masuk melalui celah-celah korden, membuat tidur nyenyak Andine terganggu. Wanita cantik itu mengerjapkan matanya dan melihat kesamping. Sedikit terkejut karena Mario tidak ada disebelahnya. Dengan malas, Andine mengambil ponsel yang semalam ditaruhnya diatas nakas, sebelum tidur. Setelah ponsel berhasil di ambil, dengan segera Andine melihat jam yang terpampang dilayar ponselnya. Betapa terkejutnya Andine, ketika matanya melihat jika sekarang sudah pukul sepuluh pagi, dan menjelang sebelas siang. "Ya Tuhan, aku kesiangan." seperti dikejar setan, Andine dengan gerakan cepat melompat dari kasur dan masuk kedalam kamar mandi. Hanya membutuhkan waktu sekitar setengah jam untuk melakukan ritual mandinya. Dan sepuluh menit untuk memakai pakaian di walk in closet. Sekarang Andine sudah rapi dengan balutan dress berwarna cream. Dress panjang selutut itu sangat pas ditubuh Andine. Memang, pilihan Mario sangatlah sempurna. Hanya memoles wajah nya dengan make up natural, Andine keluar dari kamar berniat untuk menanyakan keberadaan Mario. Mungkin saja, salah satu pelayan disini mengetahuinya. Andine berjalan menuruni tangga dengan langkah pelan, dilihatnya banyak pelayan yang sedang sibuk dengan tugasnya masing-masing. Tidak ada yang sadar jika nyonya nya sudah berdiri tepat dibelakangnya. Sampai suara Andine mengentikan Legian mereka. "Excuse me, may i ask?" tanya Andine dengan menggunakan bahasa Inggris, karena ia tidak bisa berbahasa Prancis. "Sure madam." jawab pelayan berambut pirang, yang disanggul rapi. "Are you know where Mr. Mario is now? " Andine bertanya seraya menyelipkan rambutnya, dibelakang telinga. "Yes, since seven o'clock Mr. Mario has left the office." jawab pelayan itu lagi. Sekarang Andine tahu, bahwa sebelum dia bangun Mario sudah berangkat ke kantor. "Hmm thank you." "You're welcome, madam." pelayan tadi langsung kembali pada pekerjaannya. Sedangkan Andine melenggang pergi menuju ruang tamu. Setelah berbicara dengan bahasa Inggris, sekarang Andine yakin, jika Sella. Mantan tunangan Mario adalah orang Indonesia, sama seperti dirinya dan juga Mario. Yang membuat Sella seperti orang luar adalah rambutnya yang blonde. Karena semalam logat bicara Sella tidak seperti orang luar. Bahkan Sella sepertinya fasih berbahasa Indonesia. "Dimana kantor Mario? Ternyata Mario cukup kaya, buktinya dia mempunyai perusahaan di Prancis." ucap Andine sendirian. Lama terdiam dan duduk santai di sofa ruang tamu, suara perempuan terdengar digendang telinganya. Andine menoleh dan melihat dua pelayan perempuan sedang bercengkrama. Tapi, anehnya mereka menggunakan bahasa Indonesia bukan Prancis. "Selamat siang nyonya, makan siang akan segera dihidangkan. Nyonya silahkan menunggu di meja makan." ucap pelayan itu. Sebelum pelayan itu pergi, Andine mencekal lengannya. "Kau bisa berbahasa Indonesia?" "Tentu nyonya, pelayan tuan Mario pasti ada salah satu yang bisa berbahasa Indonesia. Termasuk saya." jelas pelayan itu, tapi sepertinya Andien sedikit bingung. "Aku Mardes, pelayan tuan Mario yang bisa berbahasa Indonesia. Kelihatannya nyonya bingung dengan penjelasan saya barusan, jadi lebih baik saya beri tahu nyonya. Tuan Mario memiliki banyak sekali perusahaan di berbagai negara, setiap negara pasti tuan Mario memiliki mansion disana. Dan tentunya pelayan, tapi setiap pelayan di mansion tuan Mario. Harus ada beberapa yang bisa berbahasa Indonesia, karena tuan Mario lebih suka berbicara dengan bawahannya menggunakan bahasa Indonesia, bahasa yang melekat pada dirinya. Jadi beberapa pelayan tuan Mario belajar bahasa Indonesia, termasuk saya." jelas Mardes panjang lebar, yang membuat Andine mengerti. "Baiklah, terima kasih atas informasinya." "Sama-sama nyonya." Sekarang, sedikit demi sedikit Andine mengetahui tentang Mario. Mungkin lama-kelamaan ia akan mengetahui semuanya, tentang Mario baik luar maupun dalam. ***** Mario sedang asik b******u mesra dengan perempuan cantik, berbaju ketat. Mereka menyalurkan rasa rindu Merkea dalam sebuah ciuman. Mario semakin menarik tengkuk sang perempuan, agar ciuman yang mereka lakukan semakin dalam dan panas. Sedangkan perempuan itu mengalungkan tangannya dileher Mario. Sepertinya Mario melupakan jika dia sudah mempunyai istri. Setelah merasa membutuhkan udara untuk bernafas, Mario melepaskan ciumannya, dan menatap perempuan didepannya, "Aku merindukanmu Sella." ucap Mario dengan terengah-engah. Sedangkan wanita itu, Sella. Hanya tersenyum dan kembali mengalungkan tangannya dileher Mario, "Aku juga merindukanmu, merindukan semuanya. Baru beberapa hari kita tidak bertemu, tapi kita sudah saling merindukan. Andai saja kau tidak menikahi dia, mungkin kita tidak akan menahan rindu seperti ini. Nyatanya, kau masih mencintaiku Mario." Mario terkekeh pelan, mendengar nada bicara perempuan didepannya ini, "Kau tahu bukan, aku sangat menyayangi orang tua ku. Jadi tidak mungkin aku tidak memenuhi wasiat mereka." "Ck ck, kita sudah berhubungan lebih dari satu tahun. Dan kau dengan mudahnya memutuskan demi untuk memenuhi wasiat itu. Dimana hatimu Mario, kau tak memikirkan perasaanku." gerutu Sella dan gerutuan itu membuat Mario yang gemas langsung mengecup bibirnya. "Maaf, tapi aku tidak bisa menolak wasiat itu." ucap Mario penuh penyesalan. "Tapi, kita akan tetap seperti ini bukan?" tanya Sella mulai serius. Mario yang mendengarnya mendadak menegang, tapi ia menarik nafas dan mengucapkan sesuatu. "Tidak Sella, aku sudah mempunyai Andine. Tidak mungkin aku bermain dibelakangnya. Ini terakhir kalinya kita bertemu, dan selanjutnya menjauhlah dariku. Dan aku akan berusaha melupakan mu dan melupakan cinta kita." putus Mario tegas. Dan apa yang baru saja Mario ucapakan, membuat hati Sella panas. "Apa kau mencintai istri mu itu?" pertanyaan yang keluar dari mulut Sella berhasil membuat Mario terdiam. Mario tak tahu harus mengatakan apa, pada dasarnya ia tidak mencintai Andine. Bukan, dia belum mencintai Andine, tapi seiring berjalannya waktu pasti ia bisa membuka hati untuk Andine dan mencintai Andine. "Kau tidak bisa menjawab Mario, dan aku tegaskan kepadamu. Bahwa kau hanya mencintai ku Mario!" setelah mengatakan itu, Sella keluar ruangan Mario dengan menghentakkan kakinya. Sedangkan Mario yang didalam. Hanya menghela nafas kasar, dan apa yang baru aja ia dan Sella lakukan itu semua salah. Mario dibutakan oleh rindunya pada Sella, dan melupakan jika dirinya sudah menikah. "Bodoh kau Mario, seharusnya kau tidak berciuman seperti itu dengan Sella." geram Mario. Tangannya mengusap wajahnya frustasi.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD