Rindu dan Janji membawaku Kembali.
Siang itu, cuaca terasa sangat terik. Jalanan dipenuhi banyak kendaraan umum maupun pribadi. Bunyi klakson bersautan menandakan bahwa lampu lalu lintas yang tadinya berwarna merah, kini sudah beralih menjadi hijau. Mereka bergegas bergerak menuju tujuan mereka masing-masing. Para pedagang asongan yang tadinya menjajakkan dagangan mereka di tengah jalan, kini sudah berjalan menepi menuju bahu jalan.
Diantara kerumunan kendaraan tadi, ada seorang lelaki mengendarai sepeda motor yang nampak sedikit kotor. Mengenakan helm dengan banyak tertempel stiker band rock idolanya, jaket hitam yang warnanya mulai luntur, celana jeans dengan bandana terselip di saku belakang, sepatu lusuh yang nampak ada sedikit jahitan, dan tidak lupa tas punggung dengan isinya yang iya bawa menembus macetnya jalanan. Itu adalah aku, Alessandro. Aku baru saja kembali ke kota ini setelah kurang lebih satu tahun pergi merantau ke kota lain. Sedikit tentang diriku, Alessandro Zefanya atau sering dipanggil Sandro. Aku baru saja lulus SMK satu tahun yang lalu, kemudian bekerja sebagai pegawai swasta di salah satu perusahaan yang terletak agak jauh dari kota tempat tinggalku selama satu tahun belakangan ini. Aku sangat terobsesi menjadi seorang Rockstar, sejak kecil aku memang sudah menyukai musik. Namun nasib baik belum berpihak kepadaku, keadaan memaksaku untuk berhenti sejenak mengejar mimpi itu. Aku bisa dikatakan sedikit nakal saat masih sekolah. Bolos, berkelahi, dan merokok dalam lingkungan sekolah sering aku lakukan dulu.
Dengan suasana riang aku kembali menarik kabel gas sepeda motorku. Belok kanan, belok kiri, melewati jembatan, dan menikmati jalanan lurus yang mulai sepi. Senang rasanya aku hampir sampai pada tujuanku. Sepuluh menit sejak lampu merah terakhir telah berlalu, sampailah aku ke sebuah warung kopi di pinggiran sungai. Gerbang hijau, dan pohon kelapa tinggi kian menyambut kedatanganku kembali. Saat melewati gerbang, suasana nostalgia kian kuat terasa. Bangku-bangku panjang tempat dulu aku dan beberapa temanku duduk bersama masih terihat kokoh. Sedari kejauhan sudah nampak banyak berjejer minuman dan makanan ringan yang khas. Deretan sachet bubuk minuman, salah satunya bubuk kopi s**u favoritku dulu. Tumpukan kardus mie instan juga terlihat didalamnya. Senyuman beberapa teman lama yang hangat membuatku semakin tidak sabar untuk memesan kopi dan mengobrol dengan mereka.
Akhirnya setelah bersalaman dengan semua teman dan orang yang ada disana aku mulai duduk dan mulai menyeruput kopiku, nikmat sekali rasanya. Kubakar rokok filterku dan aku pun mulai bercengkrama hangat dengan teman-teman lamaku disana. Kami saling bertanya kabar, bercerita tentang pekerjaan satu sama lain, dan semakin lama pembahasan kami semakin meluas. Senang sekali, satu persatu teman akhirnya datang. Semakin ramai suasana warung saat ini, terasa membawaku kembali mengingat kenangan-kennagan indahku dulu. Tanpa terasa canggung, pembicaraan semakin seru. Canda dan tawa bersautan terdengar membawaku semakin jauh bertamasya ke masa lalu. Kisah Pertemanan, perkelahian, hingga asmara adalah pembicaraan yang kian tiada habisnya jika diceritakan.
Ini hanyalah beberapa dari tujuanku kembali ke kota ini, tujuan utamaku yang sebenarnya adalah menepati janjiku pada seseorang. Dia adalah cinta lamaku, Evinanda.
Evinanda Damara, nama yang indah seperti orangnya. Setiap mendengar nama itu aku selalu bisa membayangkan rambut hitam panjang dengan kuncir di belakang Bibir merah merona yang sangat indah saat tersenyum, dan Mata setengah sipit yang nampak indah meski tertutup poni. Aku dan dia telah lama bersama. Kami berteman sejak kelas 4 SD. Kami juga memiliki hobi yang sama, yaitu bermusik. Aku tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku kepadanya, namun aku yakin jika dia sebenarnya pasti tau perasaanku. Alasanku tidak pernah mengungkapkannya adalah karena kami telah lama berteman dan akan terasa canggung pasti saat aku mnegungkapkannya. Biarkan ini selalu menjadi begini, meski terkadang aku juga ingin untuk mempunyai hubunga dengannya.
Waktu semakin larut, tak terasa langit sore hari ini nampak indah. Aku dan seorang temanku bernama Wildan memutuskan untuk duduk di depan warung. Sambil menikmati keindahan langit sore itu, wildan tiba tiba bertanya,
"Eh, gimana hubunganmu dengna Evina. Kamu masih sering chating sama dia kan selama pergi." Begitu ujar wildan dengan polos.
Sambil terseyum dan menyeruput kopiku, aku jawablah,
"Entahlah, mungkin salah satu alasanku kembali kesini adalah dia. Tapi, selama aku pergi, aku tidak pernah mendengar kabar tentang dia. Memangnya kamu tidak pernah chating atau bertemu dengan dia wil? Kan rumah kalian berdekatan."
"Sudah lama sekali San, dia jarang terlihat di sekitar peruamhan." Jawab wildan dengan nada lirih
Aku lantas terdiam dan mencoba memahami apa yang terjadi. Tidak biasanya Evina begitu, dia adalah seorang yang tidak betah dirumah.
Bertanyalah lagi aku kepada wildan,
"Apa mungkin dia pindah wil? Dia juga kan satu kampus denganmu, bagaimana bisa sama sekali tidak ada kabar tentang dia." Nadaku, dengan heran.
" Sejak kamu pergi, kurasa dia sudah merubah hidupnya san. Dia bukan lagi Evina yang ceria, bukan lagi seorang Evina yang mudah ditemui. Jelas dia tidak pindah san, dia juga terlihat di kampus namun selalu menghindar setiap aku hendak berinteraksi dengannya. Ada apa dengan kalian sebenarnya?" Tanya wildan kembali.
" Aku rasa tidak ada apa apa dengan kami, saat aku hendak pergi dulu juga tidak ada masalah yang aku tinggal. Dia bahkan memintaku berjanji untuk kembali. Dan lihat, aku kini kembali." Jawabku
Dengan memperlihatkan handphone-nya,
" Lihat san, pesan dan teleponku tidak pernah dia balas. Bahkan kini nomornya sudah tidak aktif."
Segera aku mengecek HP-ku dan mencoba untuk mengeceknya sendiri. Dan ternyata benar,
" Ternyata benar wil, nomornya tidak aktif. Kenapa aku tida sadar? Dan sebelumnya, ternyata dia meninggalkanku pesan. Dia bilang, semoga aku segera kembali. Namun dia juga meminta maaf karena mungkin saat aku kembali, dia akan sulit ditemui."
Wildan membakar rokok. dan menyedotnya. Lalu ia berkata,
"Entahlah, tidak ada yang tau persis apa yang dia alami san. Yang terpenting kamu telah kembali, beristirahatlah karena kamu pasti lelah dalam perjalanan."
Aku dan wildan terus disana sampai malam tiba, sebelum akhirnya kami berdua pulang ke tempat masing-masing. D perjalanan dan sampai dirumah-pun, aku masih memikirkan Evina. Aku masih bertanya-tanya kenapa sebenarnya dengan dia. Semalaman aku mencoba informasi tentang dia sekarang, namun hasilnya tetap nihil. Tidak ada yang tau tentang dia, ternyata dia memang benar benar telah menghilang dari aku dan teman-temannya. Aku akhirnya memutuskan untuk menemuinya besok di rumahnya. Dengan perasaan yang kacau, akhirnya aku paksa mata ini untuk segera terpejam. Dan berharap pagi segera datang, aku yakin besok bisa bertemu dengan Evina.