bc

Satu Kota Dengan Banyak Rindu : Pergi, Datang, dan Kembali.

book_age18+
0
FOLLOW
1K
READ
HE
drama
city
polygamy
like
intro-logo
Blurb

Seorang pemuda kembali ke kota lamanya setelah lama pergi karena sebuah masalah yang menimpanya. Bukan tanpa alasan dia mengapa akhirnya kembali, banyak rindu yang harus dia bayar tuntas. Beberapa diantaranya adalah Rindu akan keluarga yang telah lama ia tinggsl, Rindu akan senda gurau sahabatnya yang ingin ia ulang kembali, dan tentunya rindu akan Cinta lamanya disana. Sebuah janji akan Cinta lamanya juga menjadi alasan yang membawa dia kembali ke kota itu.Saat kabar dia kembali mulai tersebar, Keluarga dan para Sahabat menyambutnya dengan sangat baik. Sangat mudah bagi dia diterima kembali disana. Namun sayangnya, kabar kembalinya tidak disambut baik oleh Cinta lamanya. Ternyata selama kepergiannya, Cinta lamanya berusaha untuk melupakannya. Kini Cinta lamanya sudah mempunyai seorang kekasih dan terlihat bahagia. Meskipun begitu pemuda itu tetap ingin menepati janjinya di masa lalu kepada cinta lamanya. Dia berusaha menemui cinta lamanya namun selalu gagal, karena cinta lamanya selalu berusaha menghindar darinya. Akhirnya pada suatu waktu, sang pemuda dan cinta lamanya dapat bertemu. Mereka berdua akhirnya bercengkrama kembali setelah sekian lama. Sang pemuda menjelaskan bahwa dia kembali untuk menepati janji di masa lalu. Hal itu membuat Cinta lamanya bingung akan apa yang harus dia lakukan. Dia tidak ingin melukai hati sang pemuda dan kekasihnya sekarang. Akhirnya, Cinta lamanya memilih untuk bertahan dengan kekasihnya sekarang. Sang pemuda hancur, dan tidak tau apa yang harus dia lakukan. Sang pemuda akhirnya mencoba untuk mengikhlaskan semuanya dan belajar dari itu. Dia akhirnya sadar, bahwa itu adalah keputusan terbaik. Pada dasarnya dia tidak bersalah, dia hanya kembali untuk menepati janji dan bukan kembali untuk bersama lagi. Sang pemuda akhirnya melanjutkan hidup sebagaimana mestinya dan memulai ulang hidupnya. Rindu adalah suatu hal yang harus dibayar tuntas, namun pada dasarnya rindu hanyalah sebuah perasaan yang kita tidak akan tau akhirnya. Apapun itu kita harus selalu menerimanya, dan terus melanjutkan hidup.

chap-preview
Free preview
Rindu dan Janji membawaku Kembali.
Siang itu, cuaca terasa sangat terik. Jalanan dipenuhi banyak kendaraan umum maupun pribadi. Bunyi klakson bersautan menandakan bahwa lampu lalu lintas yang tadinya berwarna merah, kini sudah beralih menjadi hijau. Mereka bergegas bergerak menuju tujuan mereka masing-masing. Para pedagang asongan yang tadinya menjajakkan dagangan mereka di tengah jalan, kini sudah berjalan menepi menuju bahu jalan. Diantara kerumunan kendaraan tadi, ada seorang lelaki mengendarai sepeda motor yang nampak sedikit kotor. Mengenakan helm dengan banyak tertempel stiker band rock idolanya, jaket hitam yang warnanya mulai luntur, celana jeans dengan bandana terselip di saku belakang, sepatu lusuh yang nampak ada sedikit jahitan, dan tidak lupa tas punggung dengan isinya yang iya bawa menembus macetnya jalanan. Itu adalah aku, Alessandro. Aku baru saja kembali ke kota ini setelah kurang lebih satu tahun pergi merantau ke kota lain. Sedikit tentang diriku, Alessandro Zefanya atau sering dipanggil Sandro. Aku baru saja lulus SMK satu tahun yang lalu, kemudian bekerja sebagai pegawai swasta di salah satu perusahaan yang terletak agak jauh dari kota tempat tinggalku selama satu tahun belakangan ini. Aku sangat terobsesi menjadi seorang Rockstar, sejak kecil aku memang sudah menyukai musik. Namun nasib baik belum berpihak kepadaku, keadaan memaksaku untuk berhenti sejenak mengejar mimpi itu. Aku bisa dikatakan sedikit nakal saat masih sekolah. Bolos, berkelahi, dan merokok dalam lingkungan sekolah sering aku lakukan dulu. Dengan suasana riang aku kembali menarik kabel gas sepeda motorku. Belok kanan, belok kiri, melewati jembatan, dan menikmati jalanan lurus yang mulai sepi. Senang rasanya aku hampir sampai pada tujuanku. Sepuluh menit sejak lampu merah terakhir telah berlalu, sampailah aku ke sebuah warung kopi di pinggiran sungai. Gerbang hijau, dan pohon kelapa tinggi kian menyambut kedatanganku kembali. Saat melewati gerbang, suasana nostalgia kian kuat terasa. Bangku-bangku panjang tempat dulu aku dan beberapa temanku duduk bersama masih terihat kokoh. Sedari kejauhan sudah nampak banyak berjejer minuman dan makanan ringan yang khas. Deretan sachet bubuk minuman, salah satunya bubuk kopi s**u favoritku dulu. Tumpukan kardus mie instan juga terlihat didalamnya. Senyuman beberapa teman lama yang hangat membuatku semakin tidak sabar untuk memesan kopi dan mengobrol dengan mereka. Akhirnya setelah bersalaman dengan semua teman dan orang yang ada disana aku mulai duduk dan mulai menyeruput kopiku, nikmat sekali rasanya. Kubakar rokok filterku dan aku pun mulai bercengkrama hangat dengan teman-teman lamaku disana. Kami saling bertanya kabar, bercerita tentang pekerjaan satu sama lain, dan semakin lama pembahasan kami semakin meluas. Senang sekali, satu persatu teman akhirnya datang. Semakin ramai suasana warung saat ini, terasa membawaku kembali mengingat kenangan-kennagan indahku dulu. Tanpa terasa canggung, pembicaraan semakin seru. Canda dan tawa bersautan terdengar membawaku semakin jauh bertamasya ke masa lalu. Kisah Pertemanan, perkelahian, hingga asmara adalah pembicaraan yang kian tiada habisnya jika diceritakan. Ini hanyalah beberapa dari tujuanku kembali ke kota ini, tujuan utamaku yang sebenarnya adalah menepati janjiku pada seseorang. Dia adalah cinta lamaku, Evinanda. Evinanda Damara, nama yang indah seperti orangnya. Setiap mendengar nama itu aku selalu bisa membayangkan rambut hitam panjang dengan kuncir di belakang Bibir merah merona yang sangat indah saat tersenyum, dan Mata setengah sipit yang nampak indah meski tertutup poni. Aku dan dia telah lama bersama. Kami berteman sejak kelas 4 SD. Kami juga memiliki hobi yang sama, yaitu bermusik. Aku tidak pernah berani mengungkapkan perasaanku kepadanya, namun aku yakin jika dia sebenarnya pasti tau perasaanku. Alasanku tidak pernah mengungkapkannya adalah karena kami telah lama berteman dan akan terasa canggung pasti saat aku mnegungkapkannya. Biarkan ini selalu menjadi begini, meski terkadang aku juga ingin untuk mempunyai hubunga dengannya. Waktu semakin larut, tak terasa langit sore hari ini nampak indah. Aku dan seorang temanku bernama Wildan memutuskan untuk duduk di depan warung. Sambil menikmati keindahan langit sore itu, wildan tiba tiba bertanya, "Eh, gimana hubunganmu dengna Evina. Kamu masih sering chating sama dia kan selama pergi." Begitu ujar wildan dengan polos. Sambil terseyum dan menyeruput kopiku, aku jawablah, "Entahlah, mungkin salah satu alasanku kembali kesini adalah dia. Tapi, selama aku pergi, aku tidak pernah mendengar kabar tentang dia. Memangnya kamu tidak pernah chating atau bertemu dengan dia wil? Kan rumah kalian berdekatan." "Sudah lama sekali San, dia jarang terlihat di sekitar peruamhan." Jawab wildan dengan nada lirih Aku lantas terdiam dan mencoba memahami apa yang terjadi. Tidak biasanya Evina begitu, dia adalah seorang yang tidak betah dirumah. Bertanyalah lagi aku kepada wildan, "Apa mungkin dia pindah wil? Dia juga kan satu kampus denganmu, bagaimana bisa sama sekali tidak ada kabar tentang dia." Nadaku, dengan heran. " Sejak kamu pergi, kurasa dia sudah merubah hidupnya san. Dia bukan lagi Evina yang ceria, bukan lagi seorang Evina yang mudah ditemui. Jelas dia tidak pindah san, dia juga terlihat di kampus namun selalu menghindar setiap aku hendak berinteraksi dengannya. Ada apa dengan kalian sebenarnya?" Tanya wildan kembali. " Aku rasa tidak ada apa apa dengan kami, saat aku hendak pergi dulu juga tidak ada masalah yang aku tinggal. Dia bahkan memintaku berjanji untuk kembali. Dan lihat, aku kini kembali." Jawabku Dengan memperlihatkan handphone-nya, " Lihat san, pesan dan teleponku tidak pernah dia balas. Bahkan kini nomornya sudah tidak aktif." Segera aku mengecek HP-ku dan mencoba untuk mengeceknya sendiri. Dan ternyata benar, " Ternyata benar wil, nomornya tidak aktif. Kenapa aku tida sadar? Dan sebelumnya, ternyata dia meninggalkanku pesan. Dia bilang, semoga aku segera kembali. Namun dia juga meminta maaf karena mungkin saat aku kembali, dia akan sulit ditemui." Wildan membakar rokok. dan menyedotnya. Lalu ia berkata, "Entahlah, tidak ada yang tau persis apa yang dia alami san. Yang terpenting kamu telah kembali, beristirahatlah karena kamu pasti lelah dalam perjalanan." Aku dan wildan terus disana sampai malam tiba, sebelum akhirnya kami berdua pulang ke tempat masing-masing. D perjalanan dan sampai dirumah-pun, aku masih memikirkan Evina. Aku masih bertanya-tanya kenapa sebenarnya dengan dia. Semalaman aku mencoba informasi tentang dia sekarang, namun hasilnya tetap nihil. Tidak ada yang tau tentang dia, ternyata dia memang benar benar telah menghilang dari aku dan teman-temannya. Aku akhirnya memutuskan untuk menemuinya besok di rumahnya. Dengan perasaan yang kacau, akhirnya aku paksa mata ini untuk segera terpejam. Dan berharap pagi segera datang, aku yakin besok bisa bertemu dengan Evina.

editor-pick
Dreame-Editor's pick

bc

TERNODA

read
204.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
196.0K
bc

Kali kedua

read
223.0K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
237.5K
bc

Bukan SEX-retaris Simpanan

read
23.0K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1.5K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
23.8K

Scan code to download app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook