Bab 3 Party

1279 Words
Setibanya di rumah, Embun tampak sedang duduk di meja kerja yang berada di kamar. Matanya menatap layar laptop, tapi pikirannya jelas tidak pada pekerjaan itu. Ia memikirkan tentang pertemuannya dengan Rain siang tadi, merasa bahwa Rain sangat berbeda dengan Rain yang dulu. Embun mendesah, “Ayolah, apa yang kamu harapkan? Enam tahun sudah berlalu bahkan setiap detik saja sikap dan sifat manusia bisa berubah-ubah.” Menopang pipi, Embun coba kembali fokus dengan apa yang dia kerjakan, yaitu memeriksa laporan tahunan hotel. Di kota yang Embun tinggali sekarang papinya memiliki dua buah hotel. Sky Hotel yang berdiri sejak puluhan tahun yang lalu sampai sekarang masih dikelola oleh papinya dan rencananya hotel itu akan diberikan ke adik laki-laki Sky. Sementara itu, hotel yang sekarang ditempatinya adalah hotel yang baru saja dibeli papinya sekitar lima tahun yang lalu karena hampir bangkrut. Hotel itu direbranding dan diberi nama “B Hotel” dan Embun sekarang bekerja sebagai general manager di hotel itu. Embun menjatuhkan pundak, bukan karena pusing mengamati deretan angka pada layar laptop, akan tetapi karena wajah Rain terus saja melintas di dalam pikirannya. Akhirnya, Embun pun memilih keluar dari kamar. Dengan sandal model kelinci dan dompet di tangan, dia berniat pergi ke minimarket yang ada di seberang hotel untuk membeli makanan. Jam menunjukkan pukul tujuh malam saat Embun tiba di lobi, dia terlihat begitu santai menggunakan piyama tidur dan cardigan panjang selutut berwarna hitam. Gadis itu tak hentinya mengukir senyum saat melewati lobi karena sapaan hangat dari para stafnya. Beberapa menit kemudian, Embun kembali menyeberang menuju hotel. Selain membeli kopi untuk dirinya sendiri, Embun juga membelikan beberapa cangkir kopi untuk para staf yang saat ini sedang lembur bekerja karena hotelnya disewa untuk mengadakan sebuah acara pesta. Setelah membagikan semua kopi yang dibawanya, Embun bergegas kembali ke kamarnya. Setibanya di depan lift, gadis itu langsung menekan tombol untuk naik ke lantai atas. Sambil menunggu pintu lift terbuka, dia menyesap kopi kaleng yang baru saja dia beli. Wajahnya berseri mendapati rasanya enak. Ia bahkan sampai membaca merek kopi itu untuk bisa diingat. Embun masih memandangi kaleng kopi itu saat pintu lift terbuka. Hingga dia kaget melihat seorang gadis berada di dalamnya. Gadis itu juga menatap ke arahnya dengan ekspresi sama-kaget. “Bening.” “Embun.” Gadis itu keluar dari dalam lift sedangkan Embun memilih langsung masuk ke dalam, Embun hanya terdiam melihat punggung gadis itu menjauh hingga beberapa saat kemudian tepat bersamaan dengan pintu lift yang tertutup, gadis yang ternyata benar adalah Bening itu menoleh dan masih terus berpikir soal wanita yang dilihatnya tadi apa benar saudara kembarnya atau bukan. *** Setibanya di depan kamar, Embun langsung membuka pintu dengan acces card. Dia yakin bahwa gadis yang berpapasan dengannya tadi adalah Bening. Rasa benci pun seketika menyelimuti hatinya, seolah sudah tidak ada lagi kasih sayang yang tersisa untuk saudara kembarnya itu. Terduduk di tepi ranjang, Embun mengingat setiap ucapan Bening yang menyakitkan. Ucapan yang membuatnya merasa sebagai aib yang seharusnya tidak diketahui oleh banyak orang, bahkan dia meninggalkan cinta pertamanya juga karena itu. Ia merasa tidak pantas berhubungan dengan Rain. Rasa rendah diri membunuh kepercayaan dirinya, hingga butuh waktu lama bagi Embun untuk bisa bangkit kembali. *** Sementara itu di tempat lain, Rain tampak sudah bersiap pergi ke acara pesta. “Mau ke mana Rain?” Rain hanya melirik lantas kembali menatap pantulan dirinya di depan cermin, dia sibuk mengancingkan kemeja saat ibundanya masuk ke dalam kamarnya. Tak mendapat jawaban, Bianca memilih meraih tangan putra kesayangannya, membantu Rain mengancingkan ujung lengan kemeja. “Kamu mengadakan pesta lagi?” Bianca menaikkan dua alis mata mendapat anggukan kepala dari Rain. “Di mana?” tanyanya kemudian. “B Hotel.” “Rain ngomong itu gratis, nggak bayar lho! pelit banget sih. Seperti yang selalu mama bilang, kamu boleh bersikap dingin ke orang lain, tapi tidak ke Mama, ada apa lagi hari ini sampai kamu begini?” cerocos Bianca. Rain tersenyum tipis, tanpa bicara apa-apa pria itu mendaratkan sebuah kecupan di pipi sang mama. “I love you, Ma.” Bianca tertawa lantas menghela napas. Dia pandangi wajah putranya yang kini sudah dewasa. Menurutnya, Rain juga sudah pantas untuk menikah, tapi putranya itu selalu berkata bahwa menikah tidak ada dalam prioritas hidupnya lima tahun ke depan, sama persis seperti dirinya saat akan dijodohkan dengan suaminya dulu. Setelah memastikan penampilannya, Rain pun beranjak dari kamar meninggalkan sang mama sendirian hingga wanita yang melahirkannya itu mengingat sesuatu dan tergesa mengejarnya. “Rain! Ingat, jangan sampai mabuk, jangan menerima minuman apa pun dari orang lain.” Tanpa menoleh, Rain menaikan ibu jari tangan kanannya, membuat Bianca lagi-lagi menghela napas. Dulu Rain sangat cerewet sama seperti dirinya. Namun, sang putra mulai berubah dingin dan tak banyak bicara sejak patah hati ditinggal Embun. *** Beberapa jam kemudian, tepat pukul 11 malam. Suara dentuman musik dan teriakan terdengar dari rooftop hingga membuat beberapa penghuni kamar hotel menjadi tak nyaman. Embun yang hampir tidur pun sampai terbangun. Gadis itu bergegas membuka buku catatan di meja kerjanya, salah satu tugasnya adalah menganalisa apa kekurangan hotel itu dan kini Embun menemukan salah satunya. “Kamar kurang kedap suara,” gumamnya sambil menulis. Embun mengetuk-ngetukkan pulpen ke buku catatannya dan kembali mendengar suara teriakan dari atas rooftop disusul dengan tamu di sebelah kamarnya yang marah-marah. Ia juga mendengar suara staff yang sedang berusaha meminta maaf meskipun dimaki-maki. Hingga dia memilih keluar dan membuat staf dan penghuni kamar yang marah itu kaget. Dengan sopan, Embun memperkenalkan diri serta menjelaskan apa posisinya di hotel itu. Ia bahkan dengan luwes mendengarkan keluhan penghuni kamar, hingga dia memejamkan mata saat suara teriakan dari rooftop terdengar kembali. “Tolong beri tahu penghuni kamar itu agar lebih tenang dan menghargai penghuni kamar lain!” ucap penghuni kamar penuh emosi. “Maaf atas ketidaknyamanan ini, sebagai gantinya kami akan mengembalikan full akomodasi yang sudah Anda bayarkan untuk malam ini.” Embun menunduk dengan sopan, beruntung tamu itu mau menerima kompensasi yang dia berikan. Setelah tamu itu kembali masuk ke kamarnya, Embun bertanya ke staf hotel yang sejak tadi masih berada di sana. “Mereka booking sampai jam berapa?” “12 malam.” Embun kembali ke kamar, dia memilih untuk tidak tidur sampai pesta itu selesai. Namun, sampai lewat pukul dua belas malam suara musik masih terdengar, dia pun kesal. Embun turun ke lobi dan bertanya apakah orang yang memesan rooftop memperpanjang durasi sewanya. “Tidak.” Jawaban dari staffnya menuntun langkah Embun menuju rooftop. Gadis itu pun menggerutu dalam hati. “Dasar! Bagaimana negara ini mau maju kalau generasi mudanya saja hobi dugem dan tidak bisa menghargai waktu?” Setibanya di rooftop Embun mendekat ke arah karyawannya yang sedang berjaga, dia yakin tidak ada tips yang diberikan orang-orang yang berpesta itu ke anak buahnya. “Kamu tahu di mana tuan rumah pesta ini?” tanya Embun ke karyawannya. Sebuah anggukan kepala dari sang karyawan membuatnya menuntut sebuah jawaban lagi. “Tunjuk orangnya!” Karyawan Embun menunjuk ke seorang pria yang tengah berdiri di dekat kolam renang dengan posisi memunggunginya, Ia pun berjalan mendekat dengan langkah penuh percaya diri. “Permisi, apa Anda yang bertanggung jawab untuk pesta malam ini?” tanya Embun dengan hati-hati. “Ini sudah lewat jam ….” Pria itu menoleh dan seketika membuat Embun kaget dan terdiam. Dia bahkan mundur ke belakang hingga lupa bahwa di sisinya adalah kolam renang. Embun terhuyung, kakinya kehilangan pijakan. Ia sudah pasti akan terjatuh ke air jika pria itu tidak sigap memegang pergelangan tangannya. “Rain!” Embun hanya bisa menyebut nama pria itu di dalam hati. jantungnya berdetak kencang. Ia menelan saliva, berharap Rain akan menarik tubuhnya yang menggantung dengan aman. Akan tetapi, Rain malah membentuk smirk di wajah tampannya. “Kalau kamu sampai berani melepaskan, kubunuh kau Rain!”
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD