Bibir Embun hanya bisa meliuk ke sana ke sini tanpa bersuara. Rain pun mengukir senyum di sudut bibir, perlahan dia melonggarkan pegangan dan pada akhirnya benar-benar melepaskan tangannya hingga Embun jatuh ke kolam. Ia sempat gelagapan, tapi pada akhirnya, bisa menaikkan kepala. Rasa malu bercampur emosi bergejolak dalam dadanya. Embun berjalan mendekat ke tepian sambil menatap Rain yang berjongkok sambil tertawa mencibirnya.
“Apa kamu pemilik hotel ini sampai mau mengganggu pestaku?” tanya Rain dengan raut menjengkelkan.
Embun memilih diam, dia memang datang ke sana dengan piyama dan cardigan persis seperti saat dia membeli makanan di minimarket tadi. Wajar saja jika Rain menganggapnya tamu hotel.
Karyawan yang melihat kejadian itu bergegas mengambil handuk dan menyelimuti tubuh Embun. Gadis itu pergi dengan kesal, bahkan meninggalkan sandal kelincinya yang terlihat mengambang di kolam.
“Apa yang kalian lihat? Cepat kembali berpesta!” ucap Rain. Dia memalingkan muka dan tanpa sengaja bersitatap dengan Bening yang juga datang ke pestanya.
“Ternyata benar itu Embun,” batin Bening masih menatap Rain yang tampak kesal karena kedatangan Embun telah merusak pestanya.
***
Sementara itu, Embun yang kesal berjalan dengan memegang sisi handuk yang berada di depan d**a. Ia baru saja menanyakan di mana letak saklar lampu rooftop kepada stafnya.
Gadis itu berdiri tepat di depan tombol saklar dan berucap geram, “Pergi kau dari hotelku!” pekiknya dan menekan saklar dengan kasar.
Bersamaan dengan itu rooftop pun menjadi gelap gulita. Rain yang murka berjalan mendekat ke arah karyawan B Hotel yang berjaga dan menanyakan apa maksud semua itu.
“Maaf, Pak, tapi Anda menyewa rooftop kami hanya sampai jam 12 saja dan ini sudah lewat waktunya.”
Rain memalingkan wajahnya kesal. "Aku akan membayar lebih, nyalakan lampunya!" perintah pria itu penuh penekanan.
"Maaf, Pak, tapi General Manager kami meminta untuk tidak menerima perpanjangan sewa."
"Sialan! Siapa GM kalian?"
Karyawan itu hanya menunduk tanpa memberikan jawaban.
Rain yang murka memilih meninggalkan pestanya yang belum usai begitu saja, tamunya pun pada akhirnya ikut pergi dari sana, mereka bubar dan berjalan berhati-hati karena takut tercebur ke dalam kolam renang yang berada tepat di tengah-tengah tempat itu.
Setelah rooftop sepi, sebuah cahaya dari ponsel nampak menyorot ke dalam kolam, tangan seseorang tampak meraih sepasang sandal milik Embun yang tertinggal dan mengambang di kolam.
***
Setelah berada di kamar, Embun terlihat sudah membalut tubuhnya dengan selimut dan menangis. Ia tak menyangka bahwa Rain benar-benar benci padanya. Membawanya ke kantor polisi sepertinya tidak cukup, pria itu bahkan memilih menceburkannya ke dalam kolam, padahal pria itu punya pilihan untuk menariknya.
“Kejam, dasar pria jahat! Dia pikir cuma dia yang patah hati? Dia pikir hanya dia yang terluka.” Isak tangis Embun semakin terdengar nyaring.
“Mami …. “ Gadis itu memanggil ibunya dan menutup muka dengan selimut, Embun menangis sampai lelah dan tertidur pulas.
***
Di tengah rasa bersalahnya pada Embun, Bening kembali teringat akan masa lalu. Jika dulu Rain bisa sangat marah kalau ada orang lain yang ingin menyakiti Embun atau bahkan menjelekkan saudara kembarnya itu, sekarang Rain berubah 180 derajat karena bisa melakukan hal yang setega itu pada Embun?
“Rain, apa kamu akan terus seperti ini hanya karena Embun si anak haram itu?”
Rain sama sekali tidak peduli, dia meninggalkan gadis bernama Aura begitu saja tanpa berniat membalas ucapannya saat mereka berpapasan di koridor sekolah. Gadis yang cintanya dia tolak beberapa waktu yang lalu.
“Rain!”
Aura berteriak karena Rain mendorong kasar tubuhnya sampai membentur tembok. Cowok itu meletakkan tangan di sisi kepalanya dan menatap dengan sorot mata tajam.
“Sekali lagi kamu sebut namanya, aku tidak akan segan-segan membuat perhitungan denganmu,” ancam Rain.
Bening yang tanpa sengaja melihat sikap kasar Rain menjadi takut, tubuhnya bahkan terhuyung, terlebih Rain melewatinya begitu saja tanpa menyapa. Ia tahu bahwa Embun sudah pindah dari sekolah mereka. Saudara kembarnya itu bahkan kembali ke Australia tanpa berpamitan dengan sang mama.
“Rain,” sapa Bening saat Rain melewatinya. Namun, cowok itu sama sekali tidak menoleh ke arahnya.
Perasaan bersalah dan penyesalan seketika menyelimuti hati Bening. Ia bahkan hanya terdiam tanpa bisa membalas saat Aura yang baru saja mendapat perlakuan kasar dari Rain menghampiri dan mendorongnya sampai terjengkang.
Tidak ada lagi Embun yang tiba-tiba datang menolongnya dengan cara menjambak rambut Aura dari belakang. Pundak Bening bergetar, air matanya tumpah. Dia benar-benar menyesali perbuatan dan setiap perkataannya yang menyebut saudaranya itu seharusnya tidak lahir ke dunia.
“Maaf, Re, tapi Embun tidak ingin berbicara dengan siapa-siapa. Aku tidak bisa memaksanya.”
Suara Jojo di seberang panggilan terdengar jelas oleh Bening. Dia meminta mamanya mencoba menghubungi keluarga Embun saat tahu saudara kembarnya itu pergi, Bening benar-benar ingin meminta maaf dan menyesal.
“Lagi pula sepertinya cukup kalian menyakitinya sampai seperti ini, meski aku bukan orang yang melahirkannya, tapi aku bisa merasakan betapa hancurnya putriku dan ini juga menyakitiku.”
Suara parau dan tarikan napas berat dari Jojo membuat Rea sampai menitikkan air mata.
“Biarkan dia menenangkan diri, biarkan dia kembali seperti dulu sebelum mengenal kalian. Aku mohon jangan ganggu kehidupan kami, bukankah ini yang kamu inginkan?”
Bening meremas lutut, dia menunduk dalam. Rasa penyesalannya semakin menggunung. Embun menyayanginya dengan tulus, tapi hanya karena kecemburuan yang ada pada dirinya, dia tega menyakiti satu-satunya saudara kandung yang dia punya.