Sosok di hadapannya berparas sangat manis, rambut panjang hitam yang mengalir melewati bahu, kulit putih s**u yang terlihat sempurna, mengenakan kaus katun polos dan rok pendek selutut. Senyumnya ramah, matanya intens melihat Zane dari atas ke bawah. Fisik yang terlalu rapuh, garis leher yang jenjang, pinggang yang kecil.
Rena meletakkan barang-barangnya di lantai.
"Kamu Zane, ya? Aduh, senang akhirnya kita bertemu. Maaf ya, aku baru pulang dari salon, rambutku tadi keramas lagi—"
Lalu suara itu. Itu adalah suara bariton, meskipun sangat manis dan feminin. Kontras total dengan penampilan fisiknya yang luar biasa.
"Aku Rena. Selamat datang di Bangkok, Sayang. Semoga kita betah ya sekamar—"
Rasa terkejut menghantam Zane. Tubuhnya bereaksi, kembali pada mode ‘fight or flight’. Sosok ini begitu lembut, tetapi suaranya maskulin. Zane tiba-tiba merasa dinding yang ia bangun tadi baru saja dilanggar sebelum benar-benar tegak. Ia bahkan tidak bisa membuka mulut untuk menjawab.
"Aku tidak bisa," potong Zane, cepat. Kata-kata itu meluncur sebelum ia sempat memikirkan konsekuensinya. Ia menunjuk ke arahnya, lalu ke arah kamar.
"Aku akan menghubungi Ibu Kos sekarang."
Rena memiringkan kepalanya, matanya sedikit berkaca-kaca. Namun, sebelum Zane bisa mengumpulkan kata-kata untuk membenarkan penolakannya, Rena meletakkan tangan di d**a.
"Tunggu. Kamu nggak perlu takut. Aku nggak berbahaya, aku jamin. Aku ini…" Rena tertawa kecil, suara baritonnya merayap.
Rena kemudian berjalan masuk, menutup pintu di belakangnya, dan perlahan-lahan melangkah menuju batas garis spidol di tengah meja, matanya terpaku pada garis hitam tebal itu. Rena menunduk, mengangguk perlahan, lalu menatap Zane.
"Aku sudah melihat garis yang kamu buat ini, Zane. Jangan khawatir. Garis itu tidak akan kulewati. Aku janji, aku bukan ancaman untukmu." Rena mengangkat kedua tangan.
Zane berdiri kaku. Rena, siapa pun atau apa pun, dia terlalu dekat. Meskipun ia berjanji untuk tidak melewati garis itu, Rena memenuhi pikiran Zane dengan pertanyaan, dengan bahaya potensial yang tidak bisa ia definisikan.
Zane menggeleng. Ia harus bergerak.
Zane dengan cepat menarik koper dan membuka kotak kardus yang ia bawa, berisi buku-buku. Ia harus menempatkan semua miliknya di area kekuasaannya sekarang. Itu satu-satunya cara ia bisa bernapas.
Rena menghela napas panjang yang terdengar sedikit berlebihan. Ia kembali membongkar tasnya, mengeluarkan kotak-kotak makanan Thailand yang berbau manis, disusul sebotol air mineral yang didinginkan.
Zane mencengkeram tumpukan buku tebalnya. Ia memaksakan pikirannya kembali pada tugas penataan ini, menghindari semua pertanyaan yang berteriak di kepalanya. Trauma masa lalu telah merampas kemampuannya untuk bernegosiasi dalam nuansa abu-abu.
"Kamu bisa... kamu bisa meminta kamar lain, kan?" tanya Zane. Ia berbicara ke arah lemari pakaian, seolah sedang berbicara dengan gantungan baju yang tergantung di sana. Rena menghentikan aktivitas makannya. Zane merasakan mata Rena menusuk punggungnya, meskipun ia menolak untuk berbalik.
"Oh, kamu ini lucu sekali. Kalau aku bisa, sudah kulakukan dari lama. Aku juga tidak suka hidup bersama. Tapi, di Bangkok, kamar kos dekat kampus ini langka dan mahal, dan ini adalah yang terbaik yang kita punya. Kita berbagi karena tuntutan finansial."
Rena berjalan mendekati Zane, mengambil sehelai pakaian bersih milik Zane yang terjatuh. Zane segera menarik tangannya, hampir tersentak.
"Jangan disentuh," kata Zane, menyesali kekasaran nada bicaranya tetapi tidak mampu menarik kata-kata itu kembali. Rena mengangkat kedua alisnya yang tipis dan rapi, tidak menunjukkan rasa tersinggung, hanya terkejut sebentar, kemudian berubah menjadi iba.
"Astaga, maafkan aku. Aku tidak bermaksud melewati batas, sungguh. Aku hanya ingin membantumu melipat kaos ini dengan benar." Rena menunjukkan cara ia melipat dengan ujung jari yang lentik. "Aku ini perfeksionis. Anggap saja ini hobi."
"Aku tidak butuh bantuanmu," balas Zane. Ia menarik kaos itu dan memasukkannya dengan kasar ke dalam laci. "Aku sudah mengatur batas."
"Ya, aku melihat batasnya. Garis di meja. Bagus sekali," kata Rena, kembali ke mejanya sendiri dan duduk di bangku. Ia bersandar dengan santai. "Tapi batas kamar kita jauh lebih luas daripada itu, kan? Kita punya lemari ganda. Ada sekat di tengah. Kita punya dua tempat tidur. Dua meja belajar. Aku tahu kamu butuh isolasi, Zane."
Zane menoleh. Ia menatap Rena, mencari kebohongan, mencari tanda-tanda ancaman di balik paras manis itu. Rena mengenakan senyum yang terlalu polos, sambil mengunyah camilan Thailand yang renyah.
"Dengar, Zane, aku mengerti kalau kamu cemas. Mungkin karena aku berbeda? Apa pun itu, kamu harus tahu, aku bukan ancaman bagimu. Jadi, tarik napas, Sayang. Aku ini temanmu, bukan musuhmu."
Zane berdiri kaku di depan lemarinya. Kata-kata Rena itu seharusnya meyakinkannya, tetapi efeknya justru kebalikan. Perkataan itu menegaskan bahwa orientasi dan identitas Rena sepenuhnya tidak sesuai dengan asumsi standar Zane.
"Aku... aku tidak peduli tentang apa pun itu. Aku hanya ingin sendirian," ucap Zane.
Rena mendesah.
"Aku tahu kamu mau sendiri. Tapi cobalah lihat dari sisi positifnya. Aku senior. Aku bisa bantu kamu beradaptasi di kampus dan di kota asing ini. Anggap saja ini semacam simbiosis. Aku dapat teman, kamu dapat pemandu dan ruang privasi yang kujamin akan kuhormati. Bahkan, aku akan bicara dengan Ibu Kos agar kamar kita... yah, tidak ada tamu asing. Hanya kita berdua."
Zane merasa energi untuk berargumen meninggalkannya. Setelah penerbangan panjang dan kelelahan di bandara, dia merasa sedikit tidak berdaya.
Mencari kos baru akan menghabiskan waktu, uang, dan harus kembali berinteraksi dengan orang asing yang belum terbukti keamanannya. Di sini, setidaknya, Rena sudah menyatakan batasannya.
Tapi aku tidak yakin. Aku tidak yakin dengan semua ini.
Zane mundur dan duduk di tepi ranjangnya, menghadap dinding, menghindari pandangan Rena. Kepalanya terasa berat, dan ia meremas sisi celananya.
Rena tampaknya memahami perdebatan ini berakhir, setidaknya untuk saat ini. Ia mulai membenahi barang-barangnya lagi, mengeluarkan botol-botol lotion yang wangi dari tas, dan memutar musik klasik dengan volume sangat pelan, hampir tak terdengar, dari ponselnya.
"Kamu lapar, Zane? Aku tadi beli Pad See Ew. Enak sekali."
"Tidak. Terima kasih."
"Kalau begitu, jangan sungkan minta ya. Anggap saja kita ini seperti... seperti kakak beradik yang terpaksa tinggal serumah. Aku akan mengurus Ibu Kos besok pagi, kita akan memastikan aturan main kita disepakati."
Zane hanya mengangguk kecil, masih menatap ke dinding. Kepalanya mulai berdenyut. Aroma bunga dari lotion Rena tercium cukup wangi.
Ia membuka ransel dan mengeluarkan satu-satunya foto berbingkai yang ia bawa, foto Rendi dan Perl yang tersenyum di depannya. Foto itu diletakkan menghadap dinding di nakas. Ia masuk ke kamar mandi, mengambil selusin menit ekstra untuk mengunci pintu dan memeriksa setiap sudut ruangan. Keran, sabun, ubin, tidak ada yang salah. Semua terkendali.
Ketika Zane keluar, ruangan itu tampak lebih redup. Lampu utama sudah dimatikan, hanya menyisakan lampu tidur kecil di sisi Rena. Rena sedang duduk di meja, dengan cermin kecil di depannya, sibuk merapikan rambutnya dengan sisir berwarna pink neon.
Rena melirik ke arah Zane.
"Mau pakai kamar mandinya sebentar, Zane? Setelah ini giliran aku."
"Aku sudah selesai," kata Zane. Ia bergegas menuju sisi ranjangnya, menahan pandangan Rena yang tampak seperti wanita cantik.
Rena masuk ke kamar mandi. Kali ini, ia menghabiskan waktu lebih lama.
Zane mengeluarkan selimutnya. Ia memiliki kebiasaan tidur yang aneh, ia tidak bisa tidur tanpa guling, tetapi ia juga tidak bisa tidur tanpa memposisikan dirinya sangat dekat dengan dinding. Hal itu memberinya perasaan bahwa setidaknya di satu sisi, ia aman dari segala hal yang tidak ia lihat.
Rena keluar dari kamar mandi, sudah berganti pakaian. Ia mengenakan baju tidur satin yang terlihat halus dan berwarna abu-abu muda.
"Selamat malam, Zane," ucap Rena.
"Malam," jawab Zane tanpa menoleh. Ia berbaring miring, punggungnya menempel keras ke dinding yang dingin.
Rena segera naik ke ranjangnya, memosisikan boneka beruang pink di sisinya, lalu menarik selimut hingga ke leher. Zane bisa mendengar desahan kecil Rena saat tubuhnya menyentuh kasur. Lampu tidur kecil itu dimatikan.
Jarak antara dua ranjang itu terasa memendek. Mungkin hanya satu meter, tetapi dalam imajinasi Zane yang terganggu, jarak itu seperti jurang sempit yang setiap saat bisa dilompati. Ia tidak tahu apakah Rena sudah tidur. Nafas Rena terdengar normal, teratur, meskipun mungkin sedikit lebih dalam daripada nafas wanita.
Zane menoleh sedikit. Gelap mencegahnya untuk melihat dengan jelas, tetapi ia bisa melihat bayangan Rena di ranjang sebelah. Dia tidak berbahaya.
Ia mengulang mantra ini dalam hatinya. Tetapi tubuhnya menolak untuk patuh.
Ranjangnya empuk, seprai bersih. Tetapi Zane tidur dalam keadaan siaga. Otot lehernya mengunci. Ia memaksakan matanya terpejam, mencoba mengatur napasnya menjadi lambat dan stabil, seperti yang diajarkan oleh psikolognya. Satu-dua-tiga tarik, empat-lima-enam buang.
Ia bahkan tidak bisa melepaskan posisi kaku dari punggungnya yang menempel pada dinding. Ia menggunakan tangan kanannya untuk memeluk gulingnya dengan erat, sementara tangan kirinya bersembunyi di bawah selimut tebal. Ia tidur, atau setidaknya mencoba tidur, dengan posisi melindungi bagian-bagian tubuhnya yang paling rentan.
Waktu merayap lambat. Lima belas menit. Tiga puluh menit. Nafas Rena kini benar-benar tenang. Zane merasakan kakinya mulai kesemutan karena tekanan menahan posisi miring yang terlalu lama, tetapi ia tidak berani bergerak.
Ia mencoba menghitung domba dalam imajinasinya. Ia mencoba fokus pada bunyi AC. Ia mencoba untuk meresapi bau deterjen di seprai barunya, mengabaikan sisa aroma lotion manis Rena.
Namun, pikirannya malah dipenuhi gambar bus sekolah. Zane menarik napas, memaksa dirinya kembali.
Aku aman. Ini hanyalah kamar kos. Dia hanya teman sekamar.
Ia mencoba memejamkan mata, memaksakan tidur. Malam itu, ia terlelap. Tubuhnya tetap miring, menghimpit dirinya sendiri pada dinding dingin, sejauh mungkin dari bayangan Rena di sisi ranjang yang lain—
Dan kemudian, Zane tiba-tiba tersentak. Tidak ada suara. Sebuah sensasi aneh. Atau hanya mimpi. Dia tidak yakin. Dia membeku, napasnya tertahan. Jantungnya kini berdetak cepat, liar.
Rena?
Ia memaksa matanya untuk menyesuaikan diri dengan kegelapan lagi. Bayangan di ranjang sebelah masih diam, tenang. Tidak ada pergerakan. Zane menghela napas, sangat perlahan. Hanya mimpi. Hanya night terror. Itu pasti disebabkan oleh perubahan tempat dan jet lag.
Ia memejamkan mata lagi. Tetapi sensasi aneh itu menolak untuk pergi. Rasanya seperti ada tangan yang menjulur dari ranjang Rena, meskipun ia tahu jaraknya terlalu jauh bagi Rena untuk melakukan itu tanpa ia sadari.
Zane mencengkeram gulingnya erat-erat, membalikkan tubuhnya sedikit, membiarkan tubuhnya semakin merapat ke dinding. Rasa sakit menjalar di tulang rusuknya karena tekanan yang tak wajar.