Zane menyelinap keluar dari ranjang. Apa masih ada pilihan lain? Ibu Kos mungkin jadi satu-satunya harapan terakhir. Tak ada salahnya bicara sebentar dengan beliau, siapa tahu ada jalan keluar yang lebih baik. Ruang kecil kantor Ibu Kos penuh dengan pernak-pernik gajah keramik dan wangi dupa cendana yang manisnya sampai menusuk hidung. Maew duduk di belakang meja yang dihiasi rangkaian bunga mawar plastik yang sudah agak pudar. Maew, seperti Rena, juga seorang kathoey. Maew jauh lebih tua. Ia menyambut Zane dengan senyum lebar hingga gigi putihnya terlihat jelas.
"Duduklah," sapa Maew. "Ada masalah? Rena tidak merepotkanmu, kan? Dia itu malaikat kecil di sini. Penghuni lama, sopan, bersih."
Zane berdiri kaku di ambang pintu, menolak tawaran duduk itu.
"Saya butuh kamar terpisah. Atau setidaknya, teman sekamar yang... yang benar-benar perempuan."
Maew memiringkan kepalanya. Dia tersenyum geli.
"Kesulitan apa, Nak? Rena kan juga... yah, Rena. Kalian harusnya berteman baik. Lagi pula, dia kan senior di kampus yang sama. Kalian punya banyak kesamaan, kan?" Maew menjeda, menghela napas. "Aku tidak bisa memberimu kamar kosong lagi, Sayang. Sudah penuh. Kecuali kamu mau tidur di loteng, bersama kucing-kucing liarku yang bau."
Zane merasa putus asa. Dia sudah menduga akan begini. Mungkin memang tidak akan semudah itu untuk pisah kamar apalagi harus pindah ke kos lain. Itu akan merepotkan Rendi.
"Jujur saja agak sulit. Saya baru di sini, saya sulit beradaptasi." Zane menekankan. Ia mencoba sekuat tenaga untuk tidak menyebutkan rasa cemasnya yang disebabkan oleh Rena di malam hari. Maew menghela napas panjang. Ia menyandarkan tubuhnya, matanya menyipit dan sangat paham apa yang dimaksud oleh Zane.
"Apakah dia mengintip saat kamu ganti baju? Apakah dia mengambil barang-barangmu? Atau, yang lebih serius, apakah dia mencoba... kau tahu..." Maew bertanya dengan sedikit ragu, tidak tahu harus pakai kalimat apa.
"Belum... maksud saya, tidak. Saya hanya tidak terbiasa berbagi ruang seperti ini. Apalagi setelah.... setelah pindah dari Indonesia, ini semua baru bagi saya." Zane mengelak, mencoba mencari kata-kata yang tidak menyinggung status Maew atau Rena, tetapi tetap menjelaskan traumanya secara samar.
"Di Bangkok, kami tidak serumit itu soal identitas, apalagi soal ruang. Kalau terjadi sesuatu atau kalau dia macam-macam, kamu tidak perlu ragu untuk melapor atau berteriak. Dan sebenarnya... kamu tidak perlu cemas soal jenis kedekatan itu dari Rena. Rena, dia beda. Dia sudah memilih jalannya. Dia tidak akan tertarik padamu."
Zane mengerutkan dahi. Maew mencondongkan tubuhnya ke depan, memastikan Zane mengerti.
"Dia melihatmu... sebagai adik. Sebagai teman. Percayalah padaku. Aku mengenalnya lama. Jika ada yang dia inginkan darimu, itu hanya sebagai teman. Kamu akan aman."
Zane tidak menginginkan kehangatan, ia ingin terpisah, sesederhana itu. Seluruh ketakutannya masih hidup hingga sekarang. Maew justru memberinya alasan logis untuk membuang rasa cemasnya. Baiklah, aku tidak bisa berharap ada orang lain yang melindungiku, pikir Zane.
"Saya mengerti. Terima kasih," kata Zane.
Zane berjalan kembali ke lantai tiga. Maew hanya melihat seorang mahasiswa Indonesia yang cemas dan mungkin terlalu konservatif. Dia tidak melihat korban pelecehan, apalagi dari sosok yang garis gendernya kabur, yang justru membuatnya terasa semakin tidak dapat diprediksi. Tidak apa-apa. Garis itu. Aku akan hidup dengan garis itu, pikir Zane.
Ketika Zane sampai di Kamar 305, Rena sudah bangun. Dia tidak berada di ranjang, melainkan duduk di kursinya, membaca buku catatan, sesekali menyeruput kopi panas dari cangkir lucu yang baru ia lihat. Rambutnya disanggul tinggi, menampakkan lehernya yang jenjang. Zane berhenti di ambang pintu. Matanya langsung tertuju ke lantai. Garis selotip hitam tebal itu masih ada, membentang dari ranjangnya ke pintu lemari.
Rena mendongak dan melihat Zane.
"Selamat pagi, Zane. Kamu sudah bertemu Nyonya Maew? Aku sudah menduga kamu akan mencarinya," sapa Rena. Rena tidak terlihat sedikit pun tersinggung. Mungkin sebelumnya sudah menghadapi hal yang sama dari orang lain. Zane mengangguk kaku, melangkah ke sisi kamarnya. Rena meletakkan buku catatannya. Ia lalu menunjuk ke lantai dengan ujung pensilnya.
"Dan ini… karya seni. Boundary marker. Aku mengerti. Garis ini," kata Rena.
"Itu batas. Batas mutlak. Tidak ada barang yang melintasi garis ini. Tidak ada benda-benda dari sisimu. Aku tidak peduli itu lucu atau mahal. Semua harus berada di sisi ini."
Zane memastikan pandangannya tetap dingin. Ia harus membuatnya mengerti bahwa ini adalah masalah serius, masalah kelangsungan hidupnya di tempat ini.
"Aku mengerti sepenuhnya. Aku janji aku tidak akan melewatinya." Rena menggerakkan kursinya lebih jauh ke sudut, memastikan ia sepenuhnya berada di sisinya. "Aku akan mengikuti apa pun yang membuatmu nyaman. Aku ini orang yang sangat menghormati peraturan, Zane. Kamu bisa memeriksanya kapan saja. Aku janji."
Zane merasakan lonjakan aneh, ada rasa bersalah karena ia sudah menuduh orang sebaik Rena. Itu membuat Zane merasa seolah dia adalah monster.
"Terima kasih," ucap Zane.
"Sekarang, karena garis pertahananmu sudah selesai, maukah kamu bersikap lebih santai sedikit?"
Rena bangkit dari kursinya, berjalan ke lemari kecil di sudut kamar, lemari yang penuh dengan makanan ringan Thailand. Rena membuka bungkus camilan keripik beras rasa rumput laut. Aromanya menyeruak, asin dan gurih. Rena berjalan kembali ke tengah ruangan, berhenti tepat di garis selotip hitam. Kakinya berjingkat sedikit, sengaja tidak ingin kakinya melewati batas yang ditetapkan Zane. Ia memegang sebungkus besar keripik beras itu di tangannya.
"Ini enak sekali, renyah. Cobalah."
Zane menatap paket camilan itu.
"Aku... aku tidak suka keripik," jawab Zane.
Rena membeku sejenak, camilan itu tetap terangkat. Senyum di bibirnya tidak hilang, tetapi Zane melihat ada bayangan rasa sakit yang sangat cepat dan sekilas melintas di mata Rena.
"Oh. Aku mengerti," kata Rena.
Kamu benar-benar terluka, ya. Kira-kira begitulah yang disampaikan oleh tatapan itu. Rena menyingkirkan camilan dari hadapan Zane. Perlakuan ini membuat Zane semakin tertekan. Mengapa dia tidak marah saja? Mengapa dia malah terlihat begitu dewasa?
Ia memutuskan untuk meninggalkan kamar itu lagi, tertuju pada sebuah toko perangkat keras yang besar, dengan deretan peralatan konstruksi dan alat-alat isolasi.
"Aku akan keluar sebentar," ujar Zane tanpa melihat ke arah Rena. "Jangan pindahkan apa pun."
Rena mengangkat tangan tanpa menoleh dari bukunya. "Kap. Santai. Wilayahmu aman."
Zane berjalan menyusuri gang sempit di dekat kampus, akhirnya menemukan toko perabotan dan perlengkapan teknis.
Setelah lima belas menit menyusuri lorong-lorong yang berbau cat dan karet, ia menemukan selotip hitam tebal industrial grade, digunakan untuk menandai lantai gudang, untuk menutup paket-paket yang mengandung bahaya kimia.
Harganya dua kali lipat dari selotip biasa, tetapi Zane tidak peduli. Ia membayar tunai, membawa gulungan besar itu kembali ke asrama. Ketika ia kembali, Rena sedang duduk di ranjang, menyetel headphone sambil menyortir pakaian.
Zane mengabaikan Rena. Ia membuka kemasan selotip itu, merobek plastiknya, dan menjatuhkannya ke lantai. Bunyi gedebuk kecil itu menarik perhatian Rena, dan membuatnya mencabut satu sisi headphone-nya.
Zane membentangkan selotip hitam tebal dari pintu kamar mandi di satu sisi, melewati antara dua meja belajar, dan berakhir di tembok dekat jendela. Menekan tepi-tepinya ke lantai semen, memastikan tidak ada gelembung udara.
Rena hanya mengawasi. Zane berharap Rena akan sedikit kesal, marah, protes. Reaksi itu akan memvalidasi ketakutannya. Tapi Rena hanya memandanginya.
Setelah lima menit, saat Zane selesai merapikan, ia berdiri memandang ke bawah. Kamar itu kini terbagi dua, menjadi milik Zane dan milik Rena.
"Rena. Aku perlu bicara sebentar," katanya.
Rena melepas headphone-nya dan meletakkannya dengan rapi di ranjang. Ia bersandar, kakinya dilipat rapi di bawah tubuhnya.
"Silakan. Katakan padaku. Apa aturan untuk pita hitam besar yang baru ini?"
Zane melangkah maju, kakinya berhenti tepat di sisi batas.
"Ini bukan pita. Kamu tidak akan pernah melintasinya. Barang-barangmu. Kaki, tangan, ujung jari. Jika kamu punya buku yang jatuh, biarkan di sana sampai aku mengembalikannya."
"Tentu saja. Cukup jelas." Rena mencondongkan tubuh sedikit.
"Dan ini berlaku sebaliknya. Barisanku, termasuk kakiku dan semua barangku, tidak akan melintasi sisimu."
Zane berhenti, menunggu protes. Dia mengharapkan keluhan tentang sempitnya ruang atau karena dia terlalu arogan. Rena hanya tersenyum lebih lebar. Itu membuat setiap saraf pertahanan Zane terasa bodoh.
"Kamu tidak perlu terlalu khawatir, Zane. Aku sudah mengatakannya, aku sangat menghargai privasi. Batas ini? Ini fantastis. Aku tidak akan pernah menyentuh wilayahmu. Tidak sedikit pun."
"Terima kasih," ucap Zane, sekali lagi kata itu terasa sulit keluar.