Bab 16

1610 Words
Pola ini rasanya akan tetap terulang. Ia memaksa dirinya mengerjakan tugas tambahan hingga jam tiga pagi, berharap tubuhnya akan menyerah. Ajaibnya, tidur yang ia dapatkan malam itu sangatlah nyenyak. Bukan sekadar tidur biasa, tetapi tidur yang terasa nyaman, dalam, dan tanpa gangguan. Tidak ada mimpi buruk, tidak ada kilas balik, dan yang paling melegakan, tidak ada sensasi sentuhan aneh yang membuatnya terbangun basah dan panik. Ia merasa terapung di dalam gelap, sepenuhnya terlindungi dan tanpa beban. Itu adalah tidur yang tidak pernah ia rasakan sejak insiden bus sekolah. Ketika ia akhirnya membuka mata, cahaya matahari sudah menyinari penuh jendela. Zane bingung sesaat, merasakan kasurnya yang lembut. Ia langsung panik saat melihat jam digital di nakas. Pukul 09.30 pagi. "Sial!" Zane melompat dari tempat tidur. Ia sudah melewatkan dua mata kuliah penting. Ia tidak pernah bangun kesiangan separah ini sejak ia tiba di Bangkok. Ia menoleh ke tempat tidur Rena, yang sudah rapi dan kosong. Zane bergegas keluar kamar mandi, matanya mencari Rena. Ia menemukan Rena sedang menyiapkan sarapan ringan di meja dapur kecil, bersiul kecil dengan ceria. "Rena! Kenapa kamu tidak membangunkanku?! Aku telat! Aku ada presentasi jam sembilan!" sembur Zane. Rena menoleh. "Aku tahu kamu telat, Zane. Tapi, lihat dirimu. Kamu tidur sangat nyenyak. Kamu tidak pernah tidur senyaman itu sejak kamu di sini." Rena berjalan mendekat. "Aku benar-benar tidak tega membangunkanmu. Wajahmu terlihat sangat lelah. Kesehatanmu jauh lebih penting. Aku sudah kirim pesan ke dosenmu, bilang kamu sakit perut dan tidak bisa datang." Zane terdiam. Kemarahannya mereda. Rena bertindak sebagai pengasuh, melindunginya dari konsekuensi keterlambatannya, mengutamakan "kesehatan" Zane. Zane tidak pernah tidur sebaik itu. "Tapi... presentasiku," gumam Zane, masih merasa bersalah. "Kamu bisa minta jadwal ulang. Tidak masalah. Sekarang, makanlah. Aku membuatkanmu sup. Ini akan menghangatkan perutmu yang 'sakit'." Zane duduk di meja, membiarkan Rena mengurusnya. Ia masih merasa aneh, tetapi tubuhnya terasa segar, tidak ada pegal-pegal karena gula, tidak ada otot yang kaku. Ia mengakui, untuk pertama kalinya, ia merasa beristirahat sepenuhnya. Rena kembali duduk di sampingnya. Bukan di seberang, melainkan tepat di sebelahnya. Rena tidak hanya duduk, ia melingkarkan lengannya dengan sangat santai di kursi Zane, jari-jarinya hampir menyentuh pundak Zane. "Aku sangat senang melihatmu tidur nyaman. Aku khawatir ketika kau memaksakan diri setiap hari." Dan berkat tidur yang sangat nyenyak itu, Zane bisa sedikit merasa segar ketika ke kampus di hari berikutnya. Walaupun ia harus menghadapi dosen untuk meminta pengunduran jadwal presentasi. Ia bisa menyerap materi dengan baik, mengerjakan tugas dengan cepat, dan bahkan berpartisipasi dalam diskusi kelompok. Mungkin rasa lelahnya memang separah itu beberapa hari terakhir. Namun, saat kelas baru saja dimulai, Zane merasakan sensasi yang tidak menyenangkan di area selangkangannya, seperti gesekan atau iritasi kecil. Ia mencoba mengabaikannya, tetapi rasa perih itu semakin terasa, membuat konsentrasinya terpecah. Ia mulai merasa gelisah, tangannya diam-diam meraba celana. Saat istirahat tiba, ia segera izin keluar dari kelas, berjalan cepat menuju toilet terdekat di gedung fakultas. Di bilik toilet, dengan tangan yang sedikit gemetar karena rasa khawatir, Zane menurunkan celananya. Ia memeriksa area sensitifnya. Tidak ada luka, tetapi ia melihat ada sedikit bercak merah kecokelatan yang lengket di celana dalamnya. "Menstruasi," bisik Zane pada dirinya sendiri. Bercak darah itu sangat sedikit, ciri khas permulaan siklus menstruasinya yang memang seringkali diawali dengan flek atau nyeri ringan. Ia mengambil pembalut darurat dari tasnya dan segera memasangnya. Rasa perih yang ia rasakan ternyata hanya nyeri ringan pra-menstruasi yang diperburuk oleh iritasi kecil pada kulit akibat pakaian ketat. Ia bersandar ke dinding bilik yang dingin, wajahnya memanas. Zane menyiram toilet, mencuci tangannya, dan menatap pantulan dirinya di cermin. Meski sudah jelas karena menstruasi, pada akhirnya Zane mulai merasa aneh karena siklus tidur itu. Ia tidak pernah tidur senyenyak itu dalam hidupnya. Benarkah itu hanya kelelahan biasa, ataukah Rena diam-diam memberinya sesuatu? Pikiran bahwa Rena telah memberinya obat tidur terasa sangat mengerikan, namun itu juga satu-satunya penjelasan yang masuk akal mengapa ia tidak merasakan sentuhan apa pun. Kecurigaan itu memuncak pada sore hari. Rena memberitahu Zane bahwa ia akan pergi ke pasar tradisional untuk membeli bahan masakan dan mungkin akan menghabiskan waktu sekitar dua jam. Ini adalah kesempatan yang sempurna. Begitu pintu kamar tertutup dan suara langkah Rena menjauh di koridor, Zane melompat dari kursi belajarnya, jantungnya berdebar kencang. Ia tahu ini salah, tetapi dorongan untuk membuktikan atau menghilangkan kecurigaannya jauh lebih kuat daripada rasa bersalah. Zane bergerak cepat menuju sisi kamar Rena. Ia mulai menggeledah. Pertama, ia memeriksa tas kuliah Rena, mengaduk-aduk buku dan alat tulis. Ia mencari botol kecil, pil, atau bungkus yang mencurigakan, tetapi hanya menemukan buku catatan, dompet, dan kosmetik. Kemudian, ia beralih ke meja belajar Rena. Ia membuka laci-laci. Di sana hanya ada alat rias, jurnal harian dengan tulisan tangan rapi, dan beberapa camilan manis. Zane membaca sekilas halaman jurnal, berharap menemukan petunjuk, tetapi isinya hanya curahan hati tentang kesulitan kuliah. Rasa frustrasi Zane meningkat. Ia bergerak ke lemari kecil Rena. Ia membuka pintu lemari, memeriksa saku jaket yang tergantung, dan mencoba mencari di bawah tumpukan baju. Ia bahkan memeriksa botol-botol suplemen vitamin yang tampak normal, mencium dan mengocok isinya. Sama sekali tidak ada apa-apa. Tidak ada paket obat tidur, tidak ada pil yang dihancurkan, tidak ada bubuk, atau botol mencurigakan. Zane kembali ke sisi kamarnya dengan napas terengah-engah. Ia duduk di tempat tidurnya, kepala di tangannya. Kamar itu hening. Tidak ada bukti. Rena bersih. Rasa malu dan bersalah menghantamnya. Ia baru saja menggeledah barang-barang teman sekamarnya yang sudah begitu peduli, hanya untuk membuktikan teori konspirasi gilanya. Tepat saat ia hendak menata pikirannya, ia mendengar suara kunci pintu diputar. Rena sudah kembali. Zane hanya punya waktu sepersekian detik untuk kembali ke meja belajarnya dan pura-pura membaca buku, jantungnya masih berdebar kencang. Rena masuk dengan senyum lebar dan dua kantong belanja penuh bahan makanan. "Aku pulang, Zane! Lihat, aku beli teh lavender yang bagus. Katanya bisa membuat tidur sangat nyenyak," kata Rena. Zane hanya bisa mengangguk kaku, berusaha keras agar keringat dingin di dahinya tidak terlihat. Zane berusaha keras untuk menekan rasa paranoidnya setelah gagal menemukan bukti apa pun. Ia menertawakan dirinya sendiri yang begitu curiga, sampai-sampai menggeledah barang-barang Rena. Ketika malam tiba, Rena memang menyeduh teh lavender seperti yang dijanjikan. "Minum selagi hangat. Semoga kamu bisa tidur nyenyak lagi," kata Rena, kembali ke tempat tidurnya dan segera mematikan lampu. Zane meminum teh itu perlahan, menghirup aroma lavender. Awalnya, ia merasakan kehangatan yang menyenangkan menyebar di tubuhnya. Matanya terasa berat, dan ia segera tenggelam dalam tidur. Namun, malam itu, tidurnya tidak sedamai malam sebelumnya. Zane merasa dirinya berada di antara sadar dan tidak sadar, terperangkap di ambang batas mimpi. Kesadarannya terasa melayang, tidak cukup untuk bangun sepenuhnya, tetapi juga tidak cukup dalam untuk sepenuhnya bermimpi. Sensasi pertama yang ia rasakan adalah panas, menyelimuti tubuhnya. Panas itu bukan panas demam, lebih terasa aneh dan asing, namun juga sedikit familiar, seperti sensasi hormonal yang kuat dan tidak terkontrol. Pikirannya yang setengah sadar mulai berputar liar, menciptakan gambaran-gambaran aneh, tetapi inti dari perasaan itu adalah gairah. Ia merasa terangsang, sebuah dorongan kuat yang menuntut untuk dipuaskan. Tubuhnya terasa hiper-sensitif, setiap serat syarafnya berdenyut. Di tengah gejolak sensasi panas dan gairah itu, Zane merasakan sentuhan. Sentuhan itu lembut, seperti bulu, tetapi sangat jelas. Sentuhan itu tidak kasar atau memaksa, justru terasa sangat geli. Zane yang setengah sadar merasakan sentuhan itu bergerak perlahan di kulit lengannya yang terbuka, kemudian naik ke lehernya. Otaknya mencoba berteriak, siapa ini? Rena? Tetapi suaranya tercekat, kesadarannya terlalu tertekan. Ia bisa mendengar suara napas yang tenang di dekatnya. Sentuhan itu bergerak semakin berani. Perlahan-lahan, sentuhan lembut itu merayap ke bawah, menuju pinggang dan paha Zane. Rasa geli itu bercampur dengan sensasi gairah yang sudah ada di tubuhnya. Tolong, bangun! batin Zane, berusaha mengerahkan seluruh kekuatannya untuk membuka mata, tetapi kelopak matanya terasa berat. Ia mencoba menggerakkan tangannya, mencoba meraih, mencoba membangunkan dirinya, tetapi tubuhnya tidak patuh. Ia hanya bisa berbaring, terperangkap dalam kondisi antara terjaga dan tertidur, menjadi penonton tak berdaya atas apa pun yang terjadi pada tubuhnya. Ia merasakan jarinya disentuh, dipijat perlahan, lalu sentuhan itu semakin jauh ke bawah. Rasa geli itu kini berubah menjadi sensasi sentuhan yang lebih intim, tepat di area sensitifnya, yang hanya sedikit tertutup oleh pakaiannya. Aku tidak ingin ini. Aku harus bangun. Tubuhnya yang sudah dibanjiri gelombang gairah, bereaksi sepenuhnya terhadap kontak yang terjadi. Zane, dalam keadaan setengah sadar itu, tidak bisa lagi melawan naluri biologisnya. Sentuhan itu kini fokus pada area selangkangannya. Sentuhan yang ahli, lembut namun menuntut, seolah-olah orang yang melakukannya tahu persis bagaimana memicu respons maksimal dari tubuh Zane yang sedang tidak berdaya. Sensasi panas yang ia rasakan sebelumnya kini menyalurkan dirinya ke titik kontak, dan bagian tubuhnya merespons. Aku tidak ingin ini, teriak suara kecil di otaknya yang tertekan. Namun, pada saat yang sama, tubuhnya yang terangsang dan terpuaskan mulai mengirimkan gelombang kenikmatan yang belum pernah ia rasakan sebelumnya. Sentuhan itu terasa nikmat, sebuah kontradiksi yang menyiksa yang membuat Zane semakin merasa jijik pada dirinya sendiri. Ia tidak bisa bergerak, tidak bisa bicara, ia hanya bisa merasakan. Sentuhan itu terus berlanjut, semakin cepat, semakin fokus, memaksa tubuhnya pada klimaks yang seharusnya ia raih atas kemauannya sendiri. Beberapa menit berlalu, Zane bisa merasakan tubuhnya bergetar hebat. Ia mendengar suara napas. Hingga kemudian, dengan desahan panjang yang bukan miliknya, sentuhan itu berhenti. Zane merasakan kepuasan yang tiba-tiba melanda. Tubuhnya terasa lemas, tidak berdaya, dan basah. Gairah misterius itu menghilang secepat ia datang. Ia hanya bisa berbaring, tanpa tenaga untuk menyalakan lampu, tanpa tenaga untuk memeriksa, tanpa tenaga untuk menangis. Ia tahu apa yang baru saja terjadi. Pelecehan itu tidak lagi "dibayangkan" atau "dicurigai" Perlahan-lahan, efek penenang itu kembali menguasai, menyeret Zane kembali ke tidur yang dalam dan gelap, hingga ia merasa puas setelah beberapa menit dan akhirnya nyenyak lagi hingga pagi. Ia tidur tanpa mimpi. Ia tidur tanpa perlawanan.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD