Zane bercerita... bercerita segalanya. Bahkan hingga ia terengah, merasakan beban berton-ton terangkat dari dadanya. Sang psikolog, menahan napas sejenak. Ia menjatuhkan tatapannya pada notes kecil di tangannya.
"Terima kasih sudah berani menceritakan ini. Ini bukan ilusi. Apa yang kamu rasakan itu valid. Dan perasaanmu bahwa ada ancaman nyata juga valid."
Psikolog itu menutup catatannya.
"Pertama, yang harus kamu lakukan adalah istirahat total. Tubuhmu bereaksi terhadap stres, dan siklus tidurmu sudah terganggu parah. Kamu harus benar-benar menjaga pola makan. Hindari kafein berlebihan."
Zane mengangguk pelan, mengingat tumpukan makanan manis dari Rendi yang ia jadikan pelampiasan.
"Kedua, dan ini adalah hal yang paling sulit," lanjutnya, matanya menatap Zane lurus, "kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa teman sekamarmu adalah sumber dari pelecehan yang kamu rasakan. Demi melindungi dirimu sendiri dan menenangkan pikiranmu sejenak agar kamu bisa fokus pada kuliah dan pemulihan, aku menasihatimu untuk mempertimbangkan pindah kos."
Kata-kata itu membuat Zane membeku. Pindah kos. Meninggalkan Rena.
"Saya... saya tidak punya banyak uang lagi. Dan..." Zane ragu, "Saya sudah terbiasa ada Rena. Dia... dia teman saya yang pertama di sini."
Dwi menggelengkan kepala dengan lembut. "Prioritaskan keselamatanmu. Uang bisa dicari, tapi kesehatan mentalmu jauh lebih berharga. Kamu butuh lingkungan yang lebih baik tanpa kehadiran yang membuatmu terus menerka-nerka seperti ini."
Sesi itu berakhir, meninggalkan Zane dengan kantong kertas berisi alamat-alamat tempat kos baru yang direkomendasikan psikolog itu.
Zane berjalan keluar dari klinik.
Ia membayangkan reaksi Rena. Dia tidak punya keberanian untuk mengatakan, aku pindah karena aku curiga kamu melecehkan aku saat aku tidur.
Alih-alih langsung pulang ke kos, Zane mengambil rute memutar yang panjang. Ia memutuskan untuk mencari tahu seberapa mudah atau sulit rencana kepindahannya ini. Ia berjalan kaki di sepanjang jalan-jalan kecil di sekitar kampus, mengamati plang-plang kos atau papan iklan kamar sewa. Ia memberanikan diri mengetuk pintu sebuah rumah yang tampak tenang, menanyakan ketersediaan kamar dan harga.
"Maaf, sudah penuh," kata seorang ibu kos dengan senyum ramah, "Tapi kalau kamu cari yang aman, kos-kos di area ini mahal sekali, Nak."
Zane melanjutkan langkahnya, mencoba peruntungan di gang lain yang lebih sepi. Ia menemukan sebuah kompleks kecil, tampak lebih murah, tetapi gerbangnya reyot dan pencahayaannya minim. Ia berhenti sejenak, membayangkan dirinya tinggal di sana sendirian.
Ia memberanikan diri bertanya pada pemilik warung kopi kecil dekat jalan raya, yang tampak akrab dengan lingkungan mahasiswa.
"Permisi, Bu. Saya sedang mencari kos baru, yang dekat-dekat sini. Ada rekomendasi?" tanya Zane.
Ibu warung kopi itu menatap Zane dengan tatapan menilai. "Kamu mahasiswa baru, ya? Kosmu di mana sekarang?"
Zane menyebutkan area kosnya.
Ibu itu mengangguk. "Itu sudah kos yang lumayan aman, Nak. Kos yang dekat kampus memang mahal dan rebutan. Kalau kamu cari yang terlalu murah atau terlalu jauh dari keramaian kampus, itu bahaya. Di kota ini, tidak banyak kos yang benar-benar aman bagi mahasiswa dari luar, apalagi jika kamu sering pulang malam. Area yang kamu tempati itu setidaknya sudah ada pengawasan dari ibu kosmu."
Nasihat itu menghantam Zane. Ia baru saja diyakinkan oleh seorang profesional bahwa ia harus meninggalkan tempat yang ia yakini berbahaya, tetapi warga lokal justru mengatakan bahwa tempat itu termasuk "aman."
Rasa bingung yang ia rasakan di hadapan Rena kini merambah ke seluruh kota Bangkok. Ia merasa terjebak. Jika ia pindah ke tempat yang lebih sepi, ia bisa terlepas dari Rena, tetapi ia akan berhadapan dengan ancaman kota yang tidak ia kenal.
Zane akhirnya memutuskan untuk kembali. Ketika ia membuka pintu kamar, Rena sedang duduk di sisi garis pembatas, membaca buku.
"Kok lama banget, Zane? Kamu jadi dapat buku bekas yang bagus?" tanya Rena.
Zane meletakkan tasnya, jantungnya berdetak kencang. Ia mencoba menenangkan diri.
"Aku... aku tidak dapat yang bagus," kata Zane, berusaha terdengar santai. Ia menarik napas dan memutuskan untuk tidak berlama-lama menyembunyikannya. "Rena, aku harus bicara."
Rena menutup buku, ekspresi manisnya sedikit berubah menjadi rasa penasaran.
"Ya, ada apa?"
"Aku berpikir untuk... pindah. Pindah kos," kata Zane.
Senyum Rena menghilang. Matanya yang biasanya ramah kini menyipit.
"Pindah? Kenapa? Apa aku melakukan kesalahan?" tanya Rena, nadanya langsung berubah. "Bukankah kita sudah jadi teman sekarang? Apa karena aku, Zane? Aku akan pindah ke sisi garisku lagi, aku janji."
Zane merasa tersudut. Reaksi yang persis seperti yang psikolog itu prediksi.
Zane berdiri terpaku, tidak sanggup menghadapi tatapan mata Rena yang kecewa. Ia merasa seperti anak kecil yang tertangkap basah melakukan kenakalan.
"Apa aku melakukan kesalahan sebesar itu?" Rena mengulang pertanyaannya. Ia bangkit dan duduk di tepi tempat tidurnya, masih di sisi garis Zane.
Zane merasa bersalah. Dia juga mengingat nasihat Ibu Warung Kopi dan pengalamannya sendiri melihat sudut-sudut kota yang gelap.
"Bukan salahmu, Rena. Aku... aku hanya merasa butuh ruang sendiri," ujar Zane, berusaha mencari alasan yang paling masuk akal.
Rena menengadah, matanya berkaca-kaca, tetapi perkataannya terdengar terlalu rasional, terlalu sesuai dengan apa yang baru saja Zane dengar di jalan.
"Ruang sendiri? Zane, aku mengerti, tapi kamu harus realistis. Kamu tahu kan, tidak banyak tempat yang aman di kota ini, apalagi jika kamu mencari kos yang lebih murah dan sepi. Kos kita ini, setidaknya ada Ibu Kos yang galak dan ada aku. Di sini ada pengawasan. Kamu harus ingat, di luar sana... di Bangkok ini masih banyak preman."
Rena bergeser sedikit mendekat, mimiknya serius.
"Mereka tidak segan mengganggu orang asing seperti kita, apalagi kamu yang sendirian. Dan jujur saja, Zane, terkadang para polisi pun tidak bisa diandalkan jika kamu berurusan dengan mereka yang punya koneksi. Jika kamu pindah ke tempat sepi, siapa yang akan melindungimu saat malam? Siapa yang bisa kamu panggil cepat?"
Kata-kata Rena bukan lagi manipulasi, itu adalah validasi ketakutan baru yang didapat Zane di jalan. Dilecehkan oleh satu orang sudah cukup membuatnya trauma. Bagaimana jika ia pindah dan malah dilecehkan oleh lebih dari satu orang di gang sepi, dan benar-benar tak ada yang menolongnya?
Zane seketika mengingat Rendi. Jarak yang membentang antara Bangkok dan kampung halamannya terasa tak terbatas. Rendi tidak ada di sini. Bahkan jika Rendi ada di Thailand, dia adalah mahasiswa yang sibuk, belum tentu dia bisa melawan para preman yang Rena gambarkan seolah mereka kebal hukum. Zane menyadari, jika terjadi sesuatu di luar sana, ia sendirian.
Rasa takut itu membebani Zane. Keputusan pindah yang ia yakini sebagai langkah menuju kesembuhan, kini terasa seperti lompatan ke dalam bahaya yang lebih besar.
Zane menjatuhkan tasnya ke lantai dengan lemas. Ia menundukkan kepala. Semua nasihat dari psikolog, semua keberanian, lenyap dalam sekejap, digantikan oleh naluri bertahan hidup yang paling dasar.
"Sepertinya... sepertinya kamu benar, Rena," bisik Zane, mengakui kekalahan itu. "Lebih baik aku tetap di sini. Aku tidak akan pindah."
Rena tersenyum. Ia segera berdiri dan berlutut di depan Zane, memegang tangan Zane yang dingin.
"Terima kasih."
Zane memutuskan satu-satunya cara untuk bertahan adalah dengan menyibukkan diri, pada tahap ekstrem. Ia harus mengisi setiap celah waktu yang ada.
Ia kembali ke rutinitas kuliahnya, menghabiskan pagi hingga sore hari di perpustakaan atau ruang belajar, mengerjakan semua tugas yang tertunda. Ia membenamkan dirinya dalam buku-buku tebal tentang teori komunikasi dan data riset. Ia meminum air putih yang banyak, menghindari kafein dan gula berlebihan seperti yang disarankan psikolog, meskipun ia masih menyimpan sisa cokelat dari Rendi sebagai "hadiah" yang akan ia makan saat sangat tertekan.
Di malam hari, ia memaksakan dirinya untuk tetap terjaga, mengerjakan tugas hingga larut malam. Zane berharap rasa lelah itu dapat membantunya tidur nyenyak. Rena mengamati perubahan ini. Ia sering mendekat, menawarkan bantuan, tetapi Zane selalu menolaknya secara halus.
"Zane, kamu sudah tiga hari tidur jam dua pagi. Kamu perlu istirahat," tegur Rena suatu malam, meletakkan segelas s**u hangat di sudut meja Zane.
"Tidak apa-apa. Deadline-nya besok. Aku harus selesaikan ini," jawab Zane tanpa mengalihkan pandangan dari layar laptopnya.
Rena menghela napas. "Baiklah. Kalau begitu aku juga akan menemanimu belajar. Tapi tidurmu harus diatur, Zane. Kalau kamu sakit, siapa yang akan mengurusmu?"
Zane mengabaikan pertanyaan retoris Rena. Ia tahu siapa yang akan 'mengurusnya', dan itu justru yang ia hindari.
Beberapa malam berlalu tanpa insiden apa pun. Zane tidur sangat nyenyak karena kelelahan, dan ia bangun dengan cukup segar.
Namun, suatu pagi, saat Zane baru saja selesai mandi, ia melihat Rena sedang menyapu kamar. Rena berdiri di tengah-tengah kamar, tepat di atas garis batas hitam. Di tangannya ada sebuah kain lap basah.
"Oh, Zane. Maaf. Tadi aku tidak sengaja menumpahkan kopi di dekat garis. Kopi ini lengket sekali," jelas Rena.
Zane melihat ke lantai, tampak basah dan sedikit kusam. Rena menggesekkan lap basah itu.
"Aduh, Zane, maaf sekali! Lapnya terlalu basah," seru Rena kemudian meraih solatip hitam yang terkelupas itu dan merobeknya panjang-panjang, lalu membuangnya ke tempat sampah.
Tak butuh waktu lama bagi Zane untuk menempelkan yang baru dengan lilitan yang lebih tebal dan banyak.