Zane tidur dengan punggung menghadap Rena. Awalnya dia nyenyak, lelah setelah seharian bergulat dengan perasaan barunya. Zane tersentak, tetapi ia tidak bangun. Ia berada di antara tidur dan sadar, kondisi yang paling ia benci. Kepalanya terasa pusing, dan ia tahu, kondisi itu kembali. Rasa gelisah yang familier menjalari sarafnya.
Parahnya, malam ini berbeda. Bukan sekadar mimpi atau kesadaran samar. Ini adalah sentuhan. Dia merasakan kontak yang jelas. Sesuatu yang lembut dan panjang, mungkin jemari, menyentuh pelan kulit di sekitar lehernya. Sentuhan itu tidak kasar, justru terlalu halus dan membuatnya semakin merinding. Jari-jari itu bergerak perlahan, menyelusuri lekuk lehernya, turun ke bahu, sebelum akhirnya berhenti di tepi kaus tidurnya.
Napas Zane tercekat. Seluruh tubuhnya tegang, menolak sentuhan yang tidak diundang itu. Ia tahu harus bereaksi, harus berbalik, mendorong, atau setidaknya memejamkan mata dan berpura-pura semua ini hanyalah mimpi buruk.
Ia mencoba. Ia mencoba memutar lehernya, tetapi lehernya terasa kaku, seperti kayu yang tertanam. Ia mengerahkan seluruh tenaganya untuk menggerakkan jari-jari kakinya, tetapi hanya berkedut samar, tidak mampu mengirim sinyal apa pun ke otot utamanya. Lumpuh. Ia lumpuh total, terperangkap di dalam tubuhnya sendiri.
Kepalanya berdengung. Pikiran rasionalnya berteriak.
Sentuhan itu semakin berani. Ia merasakan beban ringan di sisi kasur yang menunjukkan seseorang telah mendekat. Tangan itu kini bergerak ke punggungnya, menyelusuri tulang belakangnya.
Rasa dingin dan geli berbaur dengan sensasi yang menjijikkan. Zane membuka mulutnya, tetapi hanya udara kering yang keluar. Ia berusaha berteriak "JANGAN," atau bahkan memohon pertolongan. Tidak ada suara. Hanya jeritan nyaring yang menggema di dalam tempurung kepalanya.
Ia merasakan sentuhan itu semakin intens. Jari-jari yang tadinya halus kini terasa lebih menekan, bergerak melintasi pinggangnya, mendekati tepi celana tidurnya.
Tiba-tiba, tangan itu berhenti.
Zane merasakan embusan napas hangat di belakang telinganya. Napas yang lembut, berirama, bukan napas terengah-engah, diikuti dengan ciuman singkat, bukan di pipi seperti sebelumnya, tetapi tepat di belakang daun telinganya.
Zane merasakan tangan itu mundur dengan cepat. Beberapa detik kemudian, sentakan terakhir, tubuh Zane tersentak, dan ia bisa bergerak lagi.
Zane tidak tahu pasti pukul berapa dia akhirnya bisa bergerak, tetapi melalui jendela, ia bisa melihat garis tipis jingga dan abu-abu perlahan mengganti gelap. Fajar telah menyingsing.
Saat ia berhasil menggerakkan kakinya untuk turun dari kasur, rasa sakit itu datang. Tubuhnya terasa luar biasa sakit, terutama di area punggung dan pinggang, seolah otot-ototnya baru saja menahan beban yang sangat berat atau terlibat dalam pergumulan fisik. Lehernya kaku, dan setiap sendinya terasa ngilu. Itu bukan sakit seperti bangun tidur yang salah posisi, tapi memang karena lelah akibat suatu aktivitas.
Perutnya mual. Kepalanya berdenyut, dan sensasi pusing membuatnya harus berpegangan pada tiang ranjang sejenak. Ia berjalan tertatih-tatih menuju kamar mandi. Di depan cermin, Zane melihat bayangan dirinya yang mengerikan. Matanya merah dan bengkak, dikelilingi lingkaran hitam pekat. Wajahnya pucat pasi, dan ia bisa melihat jejak keringat dingin di pelipisnya.
"Bukan mimpi," gumamnya pelan.
Ia segera membuka bajunya. Dengan tatapan cemas, ia memeriksa setiap inci kulitnya di depan cermin, mencari memar atau bekas sentuhan. Tidak ada tanda fisik, hanya rona merah samar di sekitar lehernya, mungkin akibat ia mencoba berteriak.
Zane membasuh wajahnya berulang kali dengan air dingin, berharap air itu bisa menghapus rasa kotor yang menempel di kulit dan pikirannya. Tapi rasa itu tak hilang. Ia melirik jam. Masih terlalu pagi untuk kelas, tetapi ia tidak mungkin kembali tidur.
Zane tersentak mendengar suara Rena. Ia segera menoleh ke belakang. Rena memang sudah bangun. Namun, bukan hanya sekadar bangun.
Rena sudah berpakaian rapi, bahkan terlalu rapi untuk jam sepagi ini. Ia berdiri di dekat jendela, sibuk merapikan beberapa pakaian yang baru dicuci. Ada bau deterjen segar menyeruak, bau yang menutupi sisa-sisa kelembapan atau aroma lain dari malam sebelumnya. Rena sudah mencuci pakaian.
Ia berbalik dan tersenyum.
"Selamat pagi, Zane! Aku sudah bikin sarapan, ada bubur spesial buat kamu. Kamu kelihatan tidak enak badan."
Rena melangkah pelan mendekati Zane yang masih duduk kaku di tepi kasur. Zane refleks menarik diri, menjauhkan kakinya sedikit.
"Kamu yakin baik-baik aja? Tidurmu nyenyak, 'kan?" Rena melanjutkan, tatapannya lekat, sedikit terlalu intens. Tangannya terangkat ingin menyentuh dahi Zane, tetapi terhenti, mungkin menyadari ketegangan yang memancar dari Zane.
"Apa jangan-jangan kamu masih kepikiran film horor semalam?" tanya Rena.
Zane menarik napas dalam-dalam, berusaha menenangkan detak jantungnya yang berdentum di telinga.
"Aku... hanya pusing sedikit," jawab Zane. Ia berdiri perlahan, memaksakan dirinya untuk terlihat stabil, memaksa tersenyum juga. Ia menunjuk pakaian basah di ambang jendela.
"Tumben sekali kamu sudah mencuci sepagi ini? Biasanya kamu tidur sampai hampir jam kuliah."
Rena tertawa kecil.
"Ah, kamu ini. Cucianku memang sudah menumpuk. Aku malas kalau menjemur terlalu siang, nanti keringnya lama. Oh ya, kamu mau bubur sekarang?"
Zane menggeleng cepat. "Nanti saja. Aku lihat cucianmu banyak sekali. Bagaimana kalau aku bantu? Kita bisa selesai lebih cepat."
Rena tampak terkejut sesaat.
"Oh, benarkah? Tentu saja boleh." Rena membiarkan tangannya menyentuh lengan Zane sekilas, sentuhan yang membuat Zane merinding tetapi ia tahan.
"Aku bisa membantumu membilas, setelah itu kita jemur bersama," ujar Zane, bergerak menuju keranjang cucian di sudut kamar, berusaha menjauhkan dirinya dari Rena tanpa membuatnya curiga.
Mereka pun mulai mencuci bersama. Zane membilas pakaian-pakaian itu. Di satu titik, tangan Zane dan Rena bertemu saat mereka mengambil cucian basah. Sentuhan itu membuat Zane membeku. Rasa dingin dari air dan sentuhan Rena mengingatkannya pada malam itu, dan ia harus mengerahkan seluruh kekuatannya untuk tidak menarik tangannya dengan jijik.
Rena tidak menyadari perubahan itu. Ia tersenyum, berbicara tentang rencana kuliah mereka, tentang profesor yang menyebalkan, dan betapa senangnya dia karena Zane mau membantunya.
"Akhirnya selesai lebih cepat," kata Rena.
Zane hanya mengangguk, tidak mampu membalas senyum itu.
Zane melangkah keluar dari kos-kosan dengan setengah berlari. Ia tidak berani menoleh ke belakang. Zane bahkan tidak menuju ke kamar Ibu Kos, melainkan langsung menuju pintu gerbang. Meskipun kelas paginya baru dimulai sekitar dua jam lagi, Zane tidak peduli. Ia hanya perlu menjauh dari kos dan mengambil waktu untuk menenangkan diri.
Di tengah perjalanan, tepat saat ia melewati gerbang dan mulai menyusuri trotoar, ponselnya bergetar. Telepon dari Rendi. Zane mencari tempat yang agak sepi dan akhirnya berhenti di sebuah taman kota kecil yang dipenuhi bangku batu di bawah pohon besar. Ia duduk, menarik napas dalam-dalam, lalu menekan tombol jawab.
"Halo," sapa Zane.
"Kukira kamu masih tidur kayak kebo. Gimana di sana?"
"Baik-baik saja. Kemarin kan kamu baru nelepon," jawab Zane, menggigit bibir, berusaha mengabaikan ingatan pahit tentang percakapan terakhir mereka di mana ia berbohong tentang kesulitan adaptasinya.
"Ya cuma mau ngabarin soal makanan kemarin, aku lagi di depan toko kue, banyak jajanan baru! Jadi sebelum kukirim yang kemarin, mungkin kamu bisa milih yang ini kalau mau."
Rendi mulai bercerita panjang lebar tentang berbagai macam jajanan yang ia lihat, kue mochi warna-warni, varian baru martabak, hingga croissant dengan isi lokal yang aneh-aneh.
"Nih, lihat! Aku kirim fotonya, kamu harus pilih satu!" kata Rendi.
Zane melihat notifikasi. Rendi mengirimkan beberapa foto kue dan jajanan yang menggugah selera. Rasa rindu pada rumah tiba-tiba menghantamnya.
"Gimana? Pilih yang mana? Yang mochi itu kelihatannya enak banget, tapi yang martabak sosis keju itu juga enak." Rendi mendesaknya dari telepon.
Zane menatap foto-foto itu. Di tengah kekacauan mental dan fisik yang ia rasakan, perdebatan konyol tentang jajanan ini terasa seperti selang oksigen.
"Yang martabak sosis keju," jawab Zane.
"Siap! Martabak sosis keju on the way ke perutku! Kamu harus coba kalau pulang nanti," canda Rendi, namun kemudian suaranya merendah. "Tapi... kamu kok pucat? Banyak tugas, ya?"
"Aku baik-baik saja. Cuma malam tadi agak susah tidur, mungkin karena... kebanyakan kopi," Zane berbohong, memaksakan tawa kecil. "Aku harus jalan sekarang, mau ke perpustakaan. Kamu jangan lupa kirim lagi foto-foto jajanannya lagi kalau masih ada yang baru."
"Oke, hati-hati!"
Rendi menutup teleponnya. Zane masih duduk di bangku taman itu, jarinya menelusuri layar ponsel, pikirannya melompat ke arah lain.
Ia membuka kolom pencarian dan mengetik, "Psikolog"
Kepalanya masih sakit. Setelah apa yang terjadi semalam, dan dengan semua drama yang ia hadapi sejak tiba di Bangkok, Zane merasa sangat hancur. Entah kenapa malah lebih hancur daripada ketika berada di Indonesia. Ia mengakui, dengan sedikit rasa malu, bahwa mungkin ia memang membutuhkan bantuan profesional.
Ia mulai menelusuri beberapa profil psikolog dan terapis yang menawarkan sesi virtual. Ia membaca deskripsi praktik mereka. Ia melihat foto-foto terapis yang ramah dan menenangkan, dan ia membaca testimoni anonim dari klien.
"Setelah sesi, aku akhirnya bisa memproses apa yang terjadi di masa lalu."
"Aku merasa divalidasi dan akhirnya berani bicara tentang pelecehan yang kualami."
Kalimat-kalimat itu menyentuh sisi dirinya. Sebuah rasa lega dan harapan singkat muncul di dadanya. Mungkin ini jawabannya. Mungkin seorang profesional bisa membantunya memecah pertahanannya selama ini, bahkan dari Rena.
Zane bahkan mengklik tombol pendaftaran untuk salah satu terapis dengan spesialisasi trauma masa lalu. Ia mulai mengisi formulir, nama, usia, dan kolom yang menanyakan alasan mencari terapi.
Namun, saat jarinya melayang di atas kolom "alasan", keraguan besar itu kembali merayap.
Apakah aku separah itu?
Zane menatap kondisi tubuhnya yang sakit dan mual. Memang, apa yang terjadi terasa nyata dan mengerikan, tetapi secara teknis, ia belum melihat bukti yang jelas. Ia tidak bisa membuka mata semalam. Bukankah semua ini hanya sleep paralysis yang kebetulan bertepatan dengan rasa paniknya terhadap Rena?
Dia berpikir, jika ia menceritakan semuanya kepada psikolog, cerita itu akan terdengar gila dan tidak berdasar. Ia takut dinilai sebagai orang yang terlalu dramatis atau bahkan paranoid. Ia merasa, jika ia mencari bantuan, ia akan mengakui bahwa ia telah gagal mengendalikan dirinya dan situasinya.
Aku tidak selemah itu.
Jari Zane menjauh dari layar. Ia menutup jendela aplikasi psikolog tersebut.
"Lain kali saja," bisiknya pada dirinya sendiri. "Aku harus aman dulu. Fisikku harus aman. Setelah aku jauh dari Rena, mungkin semua ini akan hilang dengan sendirinya."