Bab 13

1511 Words
Rena berdiri di ambang pintu, bersandar pada kusen. Ia baru saja kembali dari kampus lebih awal, membawa dua kantong kertas berisi camilan impor yang mahal. "Kita perlu istirahat dari buku-buku ini. Ada film baru, katanya bagus. Kamu mau, kan?" seru Rena, melemparkan salah satu kantong ke tempat tidur Zane, melintasi garis solatip hitam dengan seenaknya. Zane yang sedang mencoba menyelesaikan tugasnya di meja, mendongak. "Film? Aku harus menyelesaikan ini dulu," jawab Zane, mencoba menolak dengan sopan sambil menunjuk tumpukan buku di depannya. "Ah, ayolah! Kamu kelihatan pucat," desak Rena, melangkah masuk sepenuhnya ke 'wilayah' Zane. Zane refleks menarik diri sedikit, jantungnya berdebar. Rena seolah tidak menyadari, ia malah duduk di tepi meja. "Jangan terlalu serius. Kamu bisa stress kalau memaksakan diri. Deadlinenya juga masih lama." Rena terkekeh. Zane terdiam. Dia mengakui kalau dia jelas butuh. "Baiklah, sepertinya aku juga penasaran." Senyum Rena langsung melebar. "Hebat! Aku sudah beli tiketnya, jadi tidak bisa dibatalkan." Rena berbalik menuju sisi kamarnya, mengambil clutch kecilnya. "Filmnya di mall dekat sini." *** Bioskop itu ramai. Zane merasa agak canggung. Rena mengenakan atasan satin yang elegan dan parfum yang kuat, menarik perhatian banyak orang, termasuk beberapa pasang mata yang menatap mereka. Rena memegang erat lengan Zane saat mereka berjalan. Hal ini membuat Zane sangat tidak nyaman, tetapi ia membiarkannya. "Tiket kita sudah di-upgrade ke kelas spesial," bisik Rena bangga saat mereka menyerahkan tiket kepada petugas. Petugas itu tersenyum dan mengarahkan. Mereka memasuki teater yang lebih kecil, yang kursinya jauh lebih mewah. Zane terkejut saat melihat deretan kursi mereka. Itu bukan kursi bioskop biasa. Kursi sofa ganda terletak di baris paling belakang dan paling pojok, terpisah dari kursi-kursi lain oleh sekat kayu yang tingginya setinggi bahu. "Ini... Love Seat?" tanya Zane, terkejut. Rena mengangguk, duduk di sofa ganda itu dengan santai. "Kita tidak akan terganggu di sini. Aku tahu kamu tidak suka keramaian," jelas Rena, menepuk ruang kosong di sebelahnya. "Duduk sini, Zane." Zane menarik napas kemudian melangkah melewati ambang sekat kayu itu. Ia duduk di ujung terluar, menyisakan jarak antara dirinya dan Rena. Layar raksasa di depan mereka kini memancarkan cahaya biru, adegan pembuka film dimulai. Zane sedikit lebih rileks karena matanya kini fokus pada visual di layar. "Aktingnya keren," bisik Rena, mulutnya setengah penuh dengan popcorn karamel. "Tapi wajahnya... dia pasti pakai topeng, 'kan? Tidak mungkin manusia pucat begitu." Zane mengangguk tanpa menoleh. "Lihat, matanya benar-benar cekung." Mereka terdiam selama beberapa menit. Ketika adegan horor pertama muncul diiringi suara dentuman keras, Zane refleks mencengkeram tepi sofa. Rena menjerit kecil, suaranya sedikit melengking, dan seketika ia merapatkan diri ke Zane. "Aku... aku tidak suka suara seperti ini!" bisik Rena. Ia meraih tangan Zane, menggenggamnya erat-erat. Zane terkejut. Namun, naluri protektifnya kembali muncul ketika ia merasakan genggaman Rena yang gemetar. "Itu cuma efek suara. Jangan khawatir," kata Zane, berusaha menenangkan, sambil membiarkan tangannya digenggam. Tangannya yang lain meraih cup holder minuman dingin. "Dia itu aktor yang bodoh," celetuk Rena tiba-tiba, menunjuk ke layar di mana karakter utama dengan ceroboh berjalan sendirian di koridor gelap. "Siapa sih yang mau jalan di tempat begitu tanpa senter? Ini namanya bunuh diri." Zane sedikit tersenyum kecil. Komentar Rena seringkali sangat logis dan blak-blakan, yang mengalihkan fokus Zane. "Mungkin itu yang diminta skenarionya." Rena tertawa kecil, suara tawanya kini lebih dekat ke telinga Zane. Ia masih menggenggam tangan Zane, tetapi genggamannya tidak lagi gemetar. Tiba-tiba, di tengah adegan di mana karakter utama sedang berlari panik, Rena mengalihkan pandangan dari layar. Gelap membuat Zane tidak bisa melihat ekspresi matanya dengan jelas, tetapi Zane merasakan pergerakannya yang cepat dan tiba-tiba. Sebelum Zane sempat bereaksi, bahkan sebelum ia bisa mengantisipasi, Rena bergerak mendekat. Wajahnya menunduk dan bibir Rena menempel pada bibir Zane. Itu bukan ciuman singkat. Rena menciumnya dengan dalam. Kejutan itu melumpuhkan Zane. Otaknya berteriak, namun tubuhnya terasa beku. Kilasan trauma lama berkelebatan, tetapi anehnya, kali ini ada gejolak asing yang muncul. Zane seharusnya mendorong Rena menjauh, ia seharusnya berteriak, tetapi yang ia lakukan hanyalah membeku, dan dalam sepersekian detik, ia merasa tubuhnya condong seperti akan membalas ciuman yang tidak pernah ia minta itu. Sama cepatnya dengan saat ia mulai, Rena menarik diri. Nafasnya terengah. "Ya Tuhan, Zane... Maafkan aku!" bisik Rena terdengar panik dan bersalah. Ia buru-buru menyentuh bibirnya sendiri. "Aku... aku terlalu larut." Zane terdiam. Bibirnya terasa dingin. Ia menarik napas gemetar, otaknya kini mulai memproses apa yang baru saja terjadi. Rena tidak mencoba menyentuhnya lagi. Ia kembali duduk di kursinya, berusaha menciptakan kembali jarak. Zane merasa bingung dan jijik pada dirinya sendiri karena hanya bisa diam dan membeku lagi. Kenapa aku tidak menolaknya? Kenapa aku membiarkannya? tanya Zane pada dirinya sendiri, sementara ia berusaha keras fokus kembali pada layar yang kini tampak kabur. Sisa film itu terasa seperti siksaan. Ia duduk kaku dengan pandangan terpaku pada layar, tetapi otaknya terus memutar ulang ciuman tadi. Suara Rena yang sesekali mencoba berkomentar tentang film kini terdengar sumbang. Rena sendiri tampak gelisah, sesekali menggeser posisi duduk. Suasana di antara mereka berubah. Ketika kredit film akhirnya bergulir dan lampu bioskop mulai menyala redup, Rena beranjak dari sofa terlebih dahulu. "Ayo," ajak Rena. Mereka berjalan keluar dari teater dan melewati kerumunan orang, kembali Rena berjalan sangat dekat dengan Zane, tetapi kali ini ia tidak berani menyentuhnya. Setibanya di area pintu keluar mall, Rena akhirnya menghentikan langkah Zane. "Zane," panggil Rena, membalikkan badan. "Aku... aku benar-benar minta maaf soal di dalam tadi. Aku tidak bermaksud lancang. Aku tahu aku salah." Rena menatap Zane dengan tatapan memohon. "Mungkin kamu mau... aku belikan milk tea kesukaanmu? Atau kita cari makanan enak di luar? Anggap saja sebagai permintaan maaf dariku." Zane menggeleng pelan, rasa lelah dan mual bercampur di perutnya. Ia tidak ingin menghabiskan waktu semenit pun lagi di luar. "Tidak usah," jawab Zane. Ia menghindari kontak mata. "Aku... aku cukup kelelahan. Aku hanya ingin segera pulang dan tidur." Rena mengangguk. "Baiklah. Ayo kita pulang." Mereka berjalan pulang hingga sampai di depan pintu. Zane segera melepaskan tasnya, berjalan lurus menuju meja belajar, dan langsung menyalakan laptop. Ia membuka kembali tugas yang sempat ia tinggalkan. Ia tidak melirik Rena, tidak mengucapkan sepatah kata pun, hanya fokus pada tugasnya. Rena berdiri terpaku di sisi kamarnya selama beberapa saat, menatap punggung Zane yang kaku. Rasa bersalah tergambar jelas di wajahnya, ia tampak menyesal dan cemas. Setelah terdiam cukup lama, Rena bergerak ke sudut kecilnya, mengambil beberapa bahan, dan mulai sibuk membuat sesuatu di sana. Setelah sekitar lima belas menit, Rena berjalan pelan menuju meja Zane, membawa sebuah piring kecil berisi camilan pancake mini yang dihiasi saus cokelat dan taburan. "Zane. Aku buat ini." Piring itu diletakkan di sudut meja belajar Zane, jauh dari keyboard. Rena tidak berani melintasi batas solatip, bahkan untuk meletakkan piring itu. Zane menghentikan ketukan jarinya di keyboard. Ia mendongak sejenak, menatap camilan itu, lalu pada Rena. "Terima kasih," kata Zane singkat. Ia kembali menatap layarnya, mengambil garpu kecil di piring itu dan menyuapkan satu pancake ke mulutnya, tanpa mengurangi fokusnya dari tugas. Rena menghela napas lega melihat pancake itu diterima. "Aku... aku harap kamu menyukainya," ucap Rena. "Enak," jawab Zane, masih dingin dan singkat, tanpa melihat Rena lagi. Rena mengangguk pelan, lalu berbalik kembali ke sisinya. Waktu merangkak lambat. Rena telah tidur lebih awal. Zane masih duduk di meja belajarnya, berpura-pura sibuk dengan tugasnya, namun matanya yang lelah sesekali melirik sosok Rena. Rena tampaknya benar-benar kelelahan. Ia tertidur lelap, berbaring menghadap dinding di sisi garis batas. Zane butuh waktu untuk menenangkan diri. Tak lama kemudian, ponsel Zane di meja bergetar. Sebuah panggilan masuk dari Rendi. Zane segera mengambil ponselnya. "Halo?" jawab Zane. "Zane! Gimana kabarmu? Di sini lagi hujan deras." "Aku baik-baik aja, kok. Tugas lumayan banyak," jawab Zane. Ia ingin bercerita tentang Rena, tentang ciuman itu, tentang Ari yang hilang, tetapi lidahnya terasa kelu. "Aku cuma... lagi kangen banget sama masakan Indonesia. Rasanya di sini semua makanannya pedas atau terlalu manis," ujar Zane. Terdengar Rendi tertawa. "Waduh, kasihan." "Iya, terutama sambal terasinya," Zane membalas tawa kecil. "Oke, oke, aku mengerti. Tenang saja! Aku janji, nanti aku kirimkan beberapa bumbu instan dan camilan favoritmu. Pokoknya kamu fokus kuliah dulu ya. Kalau ada apa-apa, hubungi aku langsung, oke?" janji Rendi. "Oke. Thanks ya," kata Zane, menutup telepon. Setelah mengakhiri panggilan dengan Rendi, Zane tidak langsung beranjak dari kursi. Ia duduk diam selama beberapa saat, mendengarkan napas tenang Rena yang terlelap. Rasa rindu dan koneksi yang ditawarkan Rendi memberinya sedikit kekuatan untuk menghadapi situasi ini. Zane kemudian berdiri dan bergerak pelan, hati-hati agar tidak membuat suara. Pertama, ia memeriksa piring bekas pancake yang diletakkan Rena. Ia membawanya ke wastafel kecil di luar kamar dan mencucinya sampai bersih. Setelah kembali ke kamar, Zane mengunci pintu, meskipun ia tahu itu tidak akan banyak membantu jika Rena benar-benar ingin melakukan sesuatu. Ia kemudian memeriksa garis solatip hitam, memastikan garis itu masih utuh bahkan menambah beberapa lagi. Zane mematikan lampu meja belajarnya. Dia berbaring di sisi tempat tidurnya, jauh di sudut tempat tidur. Ia menggulung selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Ia berharap sentuhan Rena yang tiba-tiba di bioskop tidak akan memicu teror malamnya yang biasa. Ia berharap malam ini ia bisa tidur nyenyak, tanpa ada keanehan. Zane memejamkan mata, memaksakan dirinya untuk rileks hingga akhirnya terlelap.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD