Bab 12

1647 Words
Zane tetap siaga bahkan dalam tidurnya. Sebelum berbaring, dia mendekatkan meja kecilnya ke garis solatip hitam. Dia kemudian mencari botol minuman. Paranoid ini sudah terlalu menyebalkan. Zane berharap Rena sudah puas untuk setidaknya satu malam setelah debat mereka tadi. Zane tertidur pulas tanpa disadari. Menjelang fajar sejak ia membuka mata, ia memastikan apa masih ada sensasi aneh dan lembab itu di bagian bawah tubuhnya. Ternyata tidak terlalu dingin seperti malam sebelumnya. Akhirnya, setelah beberapa minggu, dia terbangun dengan kondisi normalnya, yang entah kenapa sulit untuk mencapainya. Ia menoleh ke seberang garis. Rena sudah bangun. Bukan untuk belajar, gadis itu duduk di depan laptopnya dan berkonsentrasi pada beberapa berkas yang terlihat di layarnya. Wajahnya terlihat sangat serius. Cahaya biru dari layar memantul di matanya. Rena tampaknya sedang menangani masalah penting. Zane langsung berpura-pura tidur. Dengan ponselnya di telinga, Rena bangkit dari duduknya. Dia terlihat berbisik dalam bahasa Thailand dan sepertinya sangat formal. "Ya, aku butuh informasi segera." Rena berhenti sejenak, mendengarkan. "Tidak. Aku hanya perlu... yah itu.. kau tahu. Cari alasan yang bersih. Aku yakin kau cukup bisa mengurusnya." Zane menahan napas. Dia tidak mengerti sama sekali. Apa yang dibicarakan Rena? Dia berharap tak ada hubungannya dengan dirinya. Dia sudah terlanjur lelah menangani banyak masalah akhir-akhir ini. Tidak lagi kalau harus diminta berhadapan dengan masalah baru. Rena mengakhiri panggilan. "Aku tidak suka mengulangi perintah. Selesaikan sebelum matahari terbenam." Rena kembali dan berjalan santai ke kamar mandi. Zane menghela napas, otaknya mencoba memproses kepingan informasi yang sangat tidak jelas itu. *** Dua hari kemudian, Zane sepenuhnya merasa hening, tidak hanya di ponselnya tetapi di seluruh kampus. Zane sering melihat Ari di kantin, di gerbang kampus, atau di koridor menuju perpustakaan. Pria tinggi dengan kemeja rapi yang selalu mencari Zane. Namun, Ari hilang sekarang. Ari, yang kebetulan belajar dengan Zane di kelas ekonomi politik, selalu duduk di barisan belakang, tetapi satu kali Zane mengabaikannya, dan hari ini, kursi itu sudah kosong. Saat itu, Ari "mengambil cuti mendadak dan mungkin tidak akan kembali semester ini karena urusan keluarga yang mendesak", kata seorang. Zane hanya menguping. Seperti masalah lainnya yang dia ketahui dari orang lain, Zane mengetahui urusan keluarga Ari jauh dari Thailand, Ari termasuk mahasiswa yang ambisius, dan tidak mungkin dia tiba-tiba menghilang karena "urusan mendesak" tanpa kontak dengan orang lain. Zane bertemu dengan Lina, salah satu temannya yang sering berbicara dengan Ari di kelas saat jeda. Zane berpura-pura bertanya dan sebisa mungkin berbasa-basi dengannya. "Kamu tahu kenapa Ari tiba-tiba pergi? Padahal orang-orang bilang dia tidak pernah absen," tanya Zane. Lina mengangkat bahu, mengemas bukunya dengan santai. "Ah, kamu belum dengar, Zane? Heboh juga sih. Katanya dia ada masalah serius sama keluarganya di rumah. Tiba-tiba dipanggil pulang. Semua barang-barang dia langsung diurus pihak kampus. Dia saja tidak sempat pamitan sama teman-temannya." "Masalah serius apa?" Zane bertanya yang entah kenapa mulai penasaran dan tertarik. "Maksudku, kasihan juga kalau tiba-tiba harus berhenti." "Tidak tahu pasti. Cuma desas-desus. Ada yang bilang ayahnya tiba-tiba kena kasus besar di negaranya, terus Ari harus balik urus itu. Tapi ada juga yang bilang dia kena masalah beasiswa karena ketahuan kerja sambilan ilegal. Ah, aku juga pusing. Tidak ada yang tahu." Lina tersenyum. "Tapi syukurlah, paling tidak dia sudah tidak ganggu lagi, kan? Aku juga bakal risih kalau jadi kamu." Zane tersenyum palsu. "Ya, aku senang dia tidak menggangguku lagi." Jantung Zane berdebar dengan cepat. Ari memang sangat menjengkelkan. Namun Zane sendiri berusaha keras untuk memahami bahwa itu hanyalah kebetulan. Ari berhak atas apa yang seharusnya dia tuai. Anggaplah rangkaian peristiwa ini terjadi secara kebetulan. Rena tampaknya tidak memiliki hubungan atau kekuatan yang diperlukan untuk melakukan hal sekeji itu. Tidak. Rena hanyalah seorang transgender biasa. Mentalnya tidak terbilang sehat jika sanggup melakukan ini. Dia jelas tidak akan berani. Saat Zane kembali ke asrama, Rena sedang duduk di sofa ruang tamu yang sempit, membaca novel romantis Thailand. Ia mengangkat wajahnya saat Zane masuk. "Hei," Rena tersenyum. Dia menutup bukunya sejenak dan memperhatikan Zane. "Tumben pulang cepat?" "Cuma mau istirahat," jawab Zane sambil melemparkan tas ranselnya ke sisi tempat tidurnya. Ia menatap Rena seperti sedang mencari petunjuk. "Bagaimana harimu?" "Sangat menyenangkan," jawab Rena, menaruh novelnya dan berjalan menuju Zane. "Rasanya damai sekali. Dua hari ini aku bisa konsentrasi belajar tanpa harus khawatir tentang drama laki-laki di sekitarmu." Rena berhenti tepat di depan Zane. Zane secara refleks mengambil langkah mundur, menabrak tembok. "Oh, jangan menghindar, Zane. Aku cuma mau tanya sesuatu," kata Rena, memang ada rasa penasaran dalam bayangan matanya. "Ari masih belum kembali?" Zane terpaku. Rena tidak sekelas dengan Ari. Bagaimana Rena bisa tahu bahwa kursi Ari di kelas Ekonomi Politik yang berada di gedung lain masih kosong? "Kenapa kamu tanya?" tanya Zane balik. Rena mengibaskan tangannya, pura-pura tidak acuh. "Ah, tidak tahu juga. Cuma merasa... aura kampus ini jadi lebih tenang. Apakah dia mengirimimu pesan terakhir?" Zane mencoba memancing Rena. "Ada yang bilang, dia cuti mendadak karena urusan keluarga. Semua barangnya diurus kampus. Dia tidak kembali lagi semester ini," ujar Zane. Rena meletakkan tangan di dadanya. Dia tampak terkejut yang tentu saja tidak terlihat natural setidaknya di mata Zane. "Oh, sungguh? Kasihan ya. Tiba-tiba saja. Tapi ya sudahlah, mungkin memang nasib baik untuk kita. Artinya, ancaman yang aku khawatirkan itu sudah pergi, dan kita tidak perlu berdebat lagi." "Kamu benar-benar pantas menerimanya." "Aku... menganggapnya sebagai keberuntungan." Rena semakin dekat. Dia mengangkat tangannya yang lembut dan menyingkirkan sehelai rambut dari wajah Zane. "Aku sangat lega. Dan aku ingin berterima kasih." "Terima kasih untuk apa?" Zane menelan ludah. Rena tersenyum lebar. "Bagaimana kalau kita merayakannya? Aku tahu kedai Mango Sticky Rice baru yang enak di dekat sini, kamu terlihat butuh sedikit hiburan." Zane menghela napas. Dia lelah menentang dan melawan. Ini mungkin benar-benar lebih baik. Hanya Rena yang ia kenal. Rena yang, anehnya, telah memberinya tempat yang paling nyaman sejak ia tiba di Thailand. Saat mereka berjalan keluar dari kamar, Zane sempat melihat Rena buru-buru menyingkirkan ponselnya ke dalam saku, seolah ia baru saja menutup sesuatu yang tidak ingin dilihat Zane. Pandangan mata Zane menyambar sekilas ke layar yang baru saja mati, dan ia melihat notifikasi bank dalam bahasa Thailand dengan jumlah angka yang besar, dan bayangan email dengan subjek yang buram, tapi yang kata pertamanya adalah... Laporan. Rena mengamit lengan Zane, senyumnya tidak berubah. "Ayo, Zane. Biarkan aku traktir kamu malam ini." "Tidak takut ponselmu rusak kalau dilempar begitu saja?" tanya Zane. Rena tertawa kecil. "Aku cuma tidak mau pesan-pesan kampus mengganggu." "Termasuk email tentang Laporan?" tanya Zane, ia tidak bisa menahan dirinya. Ia tahu ia melewati batas. Itu adalah uji coba terakhirnya. Hana berhenti di depan pintu kos dengan kenop di tangannya. Segera, senyumnya lenyap dan digantikan oleh ekspresi kosong yang hanya bertahan beberapa detik. Namun, senyum itu kembali dengan cepat, bahkan lebih lebar. "Laporan? Oh, itu cuma laporan keuangan kos kita. Ibu Kos sering menyuruhku membantu hitung-hitungan. Dia terlalu pusing kalau harus melakukannya sendiri." Rena mengedipkan matanya. "Jangan curiga begitu. Ayo kita rayakan malam ini." Zane menarik napas, melihat mata Rena yang tampak begitu jujur, meskipun ada sedikit kilau aneh yang terlalu gembira di sana. Dia mengalah. Ia mengangguk. Zane dan Rena kembali ke kosan setelah makan malam di luar. Mereka memilih tempat makan yang tenang di dekat kampus. Sesampainya di kamar, Zane merasa belum mengantuk meskipun sudah melewati jam tidurnya. "Aku mau lanjut ngerjain tugas ini. Kamu mau langsung tidur?" tanya Rena, mengeluarkan buku tebal dan laptopnya, menata area kerjanya di sisi batas. "Belum ngantuk," jawab Zane. Ia meraih tas ranselnya dan mengeluarkan benang wol berwarna biru tua serta sepasang jarum rajut. Merajut adalah cara Zane menenangkan diri. Ia duduk di tempat tidurnya, mulai merajut sehelai syal sederhana. Rena mulai mengetik. Beberapa saat berlalu, hanya ada suara ketikan Rena dan gemerincing jarum rajut Zane. Tiba-tiba, Rena memutar kursinya menghadap Zane, menopang dagu dengan tangan. "Zane, kita belum sempat ke MBK buat beli ponsel. Tapi Ari sudah hilang lebih dulu." Zane menghentikan gerakan jarumnya. "Aku tahu," jawab Zane datar, melanjutkan rajutannya. Rena tersenyum lega. "Jadi, kamu masih mau beli ponsel baru besok? Mumpung aku ada waktu luang," katanya, lalu tatapannya beralih ke ponsel lama Zane yang tergeletak di meja samping. Zane menggeleng pelan, benang biru tua itu meluncur mulus di tangannya. "Tidak usah, Rena. Ponsel yang ini masih bisa dipakai, kok. Aku tidak mau ganti dulu, sayang juga kan. Aku pakai yang lama aja." Rena mendengus sedikit, sedikit kecewa. "Yah, padahal aku mau pilihkan yang paling bagus. Tapi, ya sudah kalau kamu maunya begitu." Rena kemudian kembali memutar kursinya, kembali fokus pada laptopnya. "Tapi... aku mau tanya sesuatu, tapi jangan marah ya," kata Rena. Zane menghentikan rajutannya, mengangkat wajah. "Tanya apa?" "Waktu Ari kirim bunga, cokelat, dan semua pesan itu... kamu sama sekali tidak merasakan hal aneh?" tanya Rena, matanya menatap Zane lekat-lekat, mencoba membaca ekspresi wajahnya. Zane mengerutkan kening. Ia benar-benar tidak mengerti maksud pertanyaan Rena. "Aneh gimana maksudnya? Tidak nyaman, iya. Karena dia maksa dan tidak sopan," jawab Zane jujur. Rena mendesah pelan, tampak bingung bagaimana melanjutkan. Ia menggaruk pelipisnya. "Bukan itu maksudku. Maksudku... aneh yang 'menarik', atau... aneh yang bikin kamu jadi sering mikirin dia? Seperti... apa kamu jadi berharap dia kirim pesan lagi?" Zane semakin tidak paham. Apa yang Rena coba paksakan di sini? Rena terlihat kesulitan merumuskan perasaannya sendiri atau mungkin perasaannya Zane. Ia tampak seperti mencoba mencari sesuatu yang tidak ada. "Aku... tidak tahu bagaimana menjelaskannya," ujar Rena, frustrasi dengan dirinya sendiri. Zane tersenyum tipis, geli melihat Rena yang biasanya lancar berbicara kini terbata-bata. Sebuah ide terlintas di benaknya. "Oh, tunggu," kata Zane, menurunkan rajutannya. "Apa maksudmu... aku mulai tertarik juga sama Ari? Makanya kamu khawatir?" Rena tidak menjawab. Ia hanya menatap Zane, matanya sedikit melebar, seolah Zane baru saja menyebutkan kemungkinan yang selama ini ia hindari. Melihat respons Rena yang diam, Zane tertawa kecil. "Ya ampun, Rena. Tentu saja aku tidak tertarik pada Ari," kata Zane, menggelengkan kepala. "Lagipula, aku tidak ke sini buat cari pacar, kok." Zane kembali fokus pada rajutannya. Sementara Rena, meskipun tidak mengucapkan sepatah kata pun, terlihat lega.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD