Bab 11

1400 Words
Zane hanya bisa terdiam menatap Rena. Ponselnya bergetar lagi setelah dilempar oleh Rena, masih terlihat notifikasi di sana. Dia takut, tentu saja. Tidak pernah Rena bersikap seprotektif ini. Bukan dengan cara yang membuat Zane nyaman. Ini berlebihan bahkan terlalu mendadak. Wajah Rena jelas tak butuh lagi perlindungan dari Zane. Dialah sekarang yang terobsesi untuk melindungi. Perintah Rena yang meminta untuk memblokir nomor itu memang normal, tapi dengan cara yang aneh, terasa seperti jerat yang tiba-tiba mengencang di leher Zane. Zane merasa naluri terpendamnya berteriak kencang, seperti memberi peringatan bahwa Rena baru saja memperlihatkan sikap aslinya. "Kau akan pikirkan sendiri dengan cara apa agar benar-benar menjauh darinya." Zane menarik napas dalam-dalam. Dia hanya bisa diam. Malah harus kembali beradaptasi dengan perubahan yang terlalu mendadak ini. "Kau tidak perlu terlalu bernafsu untuk ikut campur dalam urusan ini. Aku akan urus sendiri." Rena menggeleng, menggerakkan tangan untuk menunjuk ponsel itu. "Tidak cukup menolak dengan pesan teks. Itu cara pengecut. Dia malah akan semakin penasaran dan mencoba. Persis seperti—" Rena berhenti, menahan diri untuk tidak mengatakan sesuatu. Tapi Zane tahu ke mana arah kalimat itu. Rena berusaha menghubungkan Ari dengan trauma masa lalu itu. "—Persis seperti apa?" tanya Zane, meminta Rena untuk melengkapi kalimatnya. Rena menyentuh garis solatip hitam di lantai, yang telah lama memisahkan satu kamar ini menjadi dua ruang. "Persis seperti semua orang yang hanya ingin memuaskan ego mereka tanpa peduli perasaanmu," bisik Rena. Ia duduk kembali, menjatuhkan diri dengan lembut ke sisi garisnya. "Aku sudah bilang, aku pernah menjadi korban juga. Aku tidak ingin kamu melalui hal yang sama lagi." Rena memajukan tubuhnya, tangannya menyentuh perbatasan garis, tetapi tidak melampauinya. "Aku yang paling tahu siapa yang tulus di sini. Aku tidak memintamu melakukan hal-hal bodoh. Sebagai orang dewasa aku percaya kau tahu harus apa dalam situasi ini." Zane meraih ponsel itu. Layarnya menyala, menunjukkan pesan dari Ari. "Aku ada di dekat kafe kamp, barangkali kamu mau mampir sebentar? Hanya ingin memastikan kamu baik-baik saja." Ia menatap pesan itu. Kemudian ia menatap Rena. "Aku tidak suka diperintah. Kau sendiri percaya, jadi biarkan aku melakukannya sendiri," ujar Zane. Rena mengerjap sekali. Zane jarang sekali menolak Rena secara langsung sejak mereka semakin dekat. "Aku hanya tidak mau kamu harus melalui serangan kecemasan lagi. Mimpi buruk itu. Dia bisa jadi trauma berikutnya." Ya. Zane memang lelah. Sangat lelah. Malam-malam yang dilaluinya tidak pernah begitu nyaman. Jika memblokir Ari berarti mengembalikan sedikit tenang dalam dirinya, tentu dia akan melakukannya, bukan? Tapi kenapa fokusnya bukan di situ? Rasanya masih terpecah. Rena sudah melakukan pelecehan yang masih disangkal Zane sebagai mimpi buruk. Rena sudah melanggar batas fisiknya. Tapi Rena juga yang berdiri di sampingnya setiap hari. Zane merasa kepalanya berdenyut. Trauma lamanya bereaksi terhadap situasi ini. Otaknya menghubungkan perhatian obsesif Ari dengan insiden bus. "Zane?" Rena memanggilnya. "Kau ragu? Apa aku pernah melakukan hal yang lebih buruk dari yang dilakukan Ari?" Zane ingin sekali menceritakan insiden itu jika memang mungkin. Namun, dia tidak bisa mengatakannya. Dia tidak bisa menuduh Rena melakukan pelecehan karena kemungkinan Rena juga tidak akan ingat. "Jangan bicara soal apa yang kau lakukan. Itu membuat fokusku malah pecah. Aku akan berpikir dengan cara apalagi harus menghindar dari Ari." Rena tersenyum lebar. Dia mengangguk kemudian kembali duduk di ranjangnya. "Aku tahu. Dan aku minta maaf karena sudah melempar ponselmu. Aku hanya terlalu khawatir," katanya. Ia membuka aplikasi pesan Ari. Memblokir tidak akan cukup untuk saat ini. Selagi Ari tahu kontaknya, dia akan tetap menghubungi dengan cara apa pun. "Apa aku harus ganti ponsel?" Rena mengangkat alis. Entah ampuh atau tidak, mungkin memang perlu dicoba. Dia mungkin juga harus memastikan tidak ada lagi peluang bagi Ari untuk menemukan kontak baru Zane. "Itu berarti kita harus membeli yang baru. Besok?" Zane mengangguk. Bagaimana dengan Rendi? Apakah akan ada perbedaan jika dia menghubungi Rendi dengan ponsel baru? Ah, mungkin bisa dipikirkan nanti. Zane meletakkan ponsel itu setelah mematikannya. "Aku akan menemanimu ke toko ponsel besok," ujar Rena. Rena kemudian berdiri, meraih buku kuliahnya. "Aku lapar. Mau ikut beli camilan sebentar di luar? Anggap ini perayaan." Zane menggeleng. "Aku butuh waktu sendiri sebentar. Kamu duluan saja." "Baiklah." Rena berjalan menuju pintu. Pintu tertutup. Suara langkah kaki Rena menghilang di lorong. Zane tetap duduk di tempatnya, menatap garis solatip hitam di lantai, dan ponselnya yang hening. Ia telah menghilangkan satu ancaman, atau setidaknya, ia menukarnya dengan ancaman lain. Ia menatap sudut kamar, di mana kotak cokelat dari Ari masih teronggok di samping tumpukan buku. Setelah beberapa lama Rena pun kembali. Rena masuk sambil membawa kantong plastik besar. Isinya jelas jajanan khas Bangkok. Meski belum terbiasa, tapi aroma rempahnya cukup identik dengan makanan khas Indonesia. "Ternyata ada lebih banyak yang jualan malam ini!" seru Rena sambil meletakkan kantong itu di meja belajar. "Kamu pasti bosan dengan mi instan. Ini ada Pad See Ew dan Mango Sticky Rice dari kedai langgananku. Ibu kos sendiri bilang kamu harus coba makanan enak di sini." Rena mengeluarkan dua porsi makanan dari kantong, menawarkannya pada Zane. Zane awalnya ragu untuk makan bersama, tetapi rasa lapar dan aroma makanan yang menggiurkan melemahkan pertahanannya. Mereka akhirnya menyantap makanan itu. Keduanya duduk di ranjang masing-masing, Rena di sisinya, Zane di sisinya, dengan piring kertas berada di tengah garis hitam tebal. Zane makan dengan diam, sesekali mengangguk saat Rena bercerita tentang kehebohan di kampus hari itu. Ia masih mencerna perasaan protektif Rena yang tiba-tiba. Di tengah asyik menyantap Mango Sticky Rice, Rena tiba-tiba teringat sesuatu. "Oh, ya! Tadi aku mampir sebentar ke MBK, di area toko hape," kata Rena, membersihkan sisa nasi ketan di bibirnya. "Aku lihat banyak ponsel baru." Rena menoleh ke arah Zane. "Besok pagi, sebelum kelas, kita ke sana. Toko itu buka pagi sekali. Biar kamu bisa pilih sendiri model yang paling kamu suka," tawar Rena. "Kalau kau ada kelas pagi-pagi, tidak usah repot-repot. Aku bisa sendiri," kata Zane. "Tidak repot kok! Lagipula, aku tidak mau kamu belanja sendirian. Nanti kalau ada yang macam-macam lagi, siapa yang susah?" Zane akhirnya hanya bisa mengangguk. Piring-piring bekas Pad See Ew sudah dibersihkan dan dicuci oleh Rena di dapur kecil. Mungkin karena efek kenyang, Rena langsung mengantuk. Dia merebahkan diri. Begitu kepala Rena menyentuh bantal, ia langsung terlihat rileks. Dalam hitungan menit, napas Rena sudah terdengar, menandakan ia benar-benar terlelap. Sementara, Zane duduk di pinggir ranjangnya. Suasana hening seperti ini yang dia mau. Cukup untuk dinikmati sendiri. Ia mengambil ponselnya yang terletak di bawah bantal, malah penasaran dengan pesan-pesan Ari. Ia membuka pengaturan kontak dan untuk sesaat, ia membatalkan blokir pada nomor Ari. Begitu blokir dibuka, notifikasi pesan dari Ari langsung muncul. Zane membukanya. Pesan terbaru itu dikirim beberapa jam lalu. Isinya sangat sederhana. "Hai Zane, maaf kalau mengganggu. Kamu ada kelas besok?" Zane membaca pesan itu berulang kali. Itu hanya pertanyaan biasa dari seseorang yang mencoba memulai percakapan. Meskipun Rena sudah terlelap, Zane tidak berani membalas pesan Ari. Zane hanya membaca pesan itu, membiarkannya tidak terbalas. Zane akhirnya meletakkan ponselnya di samping, tanpa memblokir Ari kembali. Ia tidak ingin memblokir Ari karena ia tahu ia akan tetap penasaran. Namun, ia juga tidak bisa membalasnya. Ia memutuskan untuk membiarkan kontak Ari tetap terbuka, setidaknya sebelum dia ganti ponsel. Dia bangun lagi. Tidak ada alasan yang jelas mengapa Zane terbangun secara tiba-tiba, dia tidak terbangun karena serangan panik atau basah kuyup seperti malam-malam sebelumnya. Sunyi menyambutnya ketika dia hanya membuka mata. Dia berbaring sejenak dan mencoba menenangkan diri sebelum bangkit dan melihat jam digitalnya. Jam dua dini hari Saat matanya mengercap, matanya beralih ke ranjang yang berada di seberangnya. Jantung Zane langsung berdebar, dan detaknya terhenti untuk sementara. Rena tidak berbaring. Rena sedang duduk tegak di ranjangnya sendiri, hanya beberapa inci dari garis batas hitam. Zane menahan napas karena takut. Apa Rena menyadari bahwa ia sedang melihat? Namun, Zane melihat lebih dekat dan menyadari mata Rena tertutup rapat. Seperti boneka yang didudukkan, kepalanya sedikit terkulai. Rena tampaknya tidak sadar ataupun terjaga. "Rena?" panggil Zane. Rena tidak merespons. Sosok itu tetap diam dan tidak bergerak. Zane mencoba lagi, sedikit lebih keras. "Rena, kamu kenapa?" Rena tetap tidak memberikan reaksi. Setelah beberapa detik, Rena tiba-tiba mengangkat kakinya, merangkak sedikit ke bawah selimut, lalu merebahkan tubuhnya kembali ke posisi tidur awal. Semua dilakukan dengan mata masih tertutup rapat dan tanpa ada suara apa pun selain gesekan kain selimut. Dalam waktu singkat, Rena kembali terlelap. Zane terbaring kembali. Dia mencoba berpikir. Sleepwalking. Mungkin itulah yang dialami Rena. Ini berarti, pada malam sebelumnya Rena memang tidak bermaksud melecehkan. Dia memang memiliki kebiasaan mengigau.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD