Bab 10

1442 Words
Zane keluar dari toko, meninggalkan Rena yang bingung di belakangnya. Ia mencoba menghilangkan sensasi ciuman yang dingin dari pipinya. Zane mengulang-ulang di kepalanya. Ini tidak aneh. Ini tidak apa-apa. Dia harus mematikan alarm bahaya yang berdering nyaring di otaknya. Kenapa Rena menciumnya? Mungkin Rena, yang tumbuh di lingkungan terbuka dan ekspresif di Thailand, menganggap ciuman pipi adalah hal biasa. Mungkin saja, dia hanya merasa bosan hingga memutuskan untuk mencoba batas baru dalam hubungan pertemanan mereka. Zane berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa Rena mungkin juga pernah mencium orang di dekatnya selain dia. Dia sendiri tidak yakin tapi seperti inilah caranya menghibur diri. Trauma lama itu mulai bergejolak kembali di hati kecilnya. Zane tiba di gedung kampus utama. Dia kelelahan karena tidak tidur. Ia langsung menuju barisan loker, tempat ia menyimpan beberapa buku dan catatan penting. Lokernya bersebelahan dengan loker Rena. Zane memasukkan kode dan saat ia hendak memutar kenop gagang pintu besi yang usang, gerakannya berhenti. Di sana ada sesuatu. Tak pernah ada sebelumnya. Sebuah buket mawar merah muda yang seperti baru dipetik, dihiasi dengan beberapa tangkai. Berbeda dengan warna baja kusam loker itu, warnanya sangat terang. Zane terdiam. Apalagi dia tidak pernah memberi tahu siapa pun kecuali Rena tentang nomor lokernya, itu jelas bahwa buket mawar itu bukan miliknya. Namun, tidakkah Rena yang memberikannya? Ada kartu kecil yang ditulis tangan di antara kelopak mawar. Zane mengambil kartu dengan ujung jari. Ia memperhatikan pesan singkat. Tulisan di atas kertas linen krem tebal dengan bentuk melengkung. Untuk pahlawan yang menjaga kecantikannya. Sampai jumpa di kelas. Tertanda: A. Darah Zane langsung berdesir dingin. Pahlawan. Itu merujuk pada insiden di kantin, saat ia berdiri melindungi Rena. Si 'A' ini pasti laki-laki agresif yang Rena takutkan itu. Zane menarik napas panjang, mencoba menekan rasa panik yang muncul. Tidak lagi. Dia tidak ingin mendapat perhatian ini. Dia mendorong pintu loker, menyembunyikan kartu itu ke dalam saku celananya, berusaha membuatnya terlihat santai. Aroma mawar menyentuh indranya. Tepat pada saat itu, terdengar langkah kaki di koridor yang kosong itu. Zane melihat Rena muncul dari sudut ketika dia mengangkat kepala. Rena yang awalnya terlihat ceria seketika berubah ketika dia melihat sesuatu. Mata Rena yang besar itu fokus pada gagang loker Zane, dan dia melihat sisa-sisa helai kelopak merah mawar menjuntai keluar dari celah pintu loker Zane. Meskipun ia tidak melakukan kesalahan apa pun, Zane merasa ia sedang tertangkap basah layaknya pencuri. "Apa itu, Zane?" tanya Rena. Suara yang baru saja ia dengar sangat berbeda dari Rena yang care dan lemah di depan Ibu Kos atau saat bercerita tentang kehidupannya. Zane meremas saku celananya, tempat kartu itu berada. Ia harus berhati-hati. Rena pasti melihat bahwa ia terlihat kaget. "Hanya... dari teman." Zane menjawab singkat, mencoba menenangkan diri agar tidak terdengar bersalah. Ia mendorong tubuhnya menjauh dari loker, berdiri tegak dan menatap Rena. Rena mendekat, mengabaikan jarak yang Zane coba ciptakan. Ia berhenti di samping Zane. Zane bisa merasakan hawa dingin yang menguar dari tatapan Rena. Rena menatap loker itu lagi, meneliti setiap sudut. "Teman? Teman yang mana? Setahuku, temanmu cuma aku," desak Rena, matanya menyipit. "Maksudku... seseorang dari kantin tempo hari," jawab Zane. Dia berharap itu sudah cukup. "Si laki-laki agresif itu? Kenapa dia mengirimimu mawar? Zane, kamu tidak membalas pesan-pesannya, kan?" Mendengar nada bicara Rena yang mendominasi, justru membuat Zane merasa semakin waspada. Reaksi ini tidak normal untuk seorang teman. Dia tidak yakin apa maknanya. "Tidak, tentu saja tidak." Zane mengelak cepat. "Aku bahkan belum membuka pesannya. Aku akan segera membuang mawar ini, dan melupakannya. Jangan khawatir, Rena." "Jangan khawatir?" Rena mengulang kata-kata Zane dengan nada sinis. "Dia mengirimimu bunga. Ingat bagaimana orang-orang seperti itu memandangiku? Aku tidak suka orang itu. Dia pasti akan melakukan hal yang sama padamu." Rena pandai. Dia menggunakan taktik lama, kembali menempatkan dirinya sebagai korban yang lemah, menuntut Zane untuk fokus pada Rena, bukan malah tertarik pada orang lain. "Aku mengerti," kata Zane, meyakinkan Rena. "Aku tidak akan dekat-dekat dengannya. Fokusku kuliah. Ayo, kelas sebentar lagi dimulai." Zane segera menarik Rena, berharap akan mengalihkan fokus mereka dari mawar yang terkunci di dalam loker itu. Zane merasakan tatapan Rena tertinggal di belakang, masih terpaku pada area loker. *** Di jam makan siang, saat mereka sedang duduk di sudut kantin, ponsel Zane bergetar di dalam sakunya. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat ada notifikasi pesan dari nomor yang tidak ia kenal namun sudah ada foto profil. Dia tidak terlalu mengenalnya, tetapi dia telah melihat wajahnya beberapa hari terakhir dan mendengar bahwa pria ini bernama Ari. Ari mengirimkan chat yang panjang kepadanya yang berisi pujian atas keberanian Zane dan wajahnya yang membuat Ari sulit tidur. Selain itu, Ari juga mengirimkan ajakan untuk makan malam di restoran seafood terkenal di kota itu. Pujian yang tidak diinginkan. Perhatian yang tidak diminta. Perasaan Zane langsung jatuh. Kilatan masa lalu, suara desisan bus, kelembapan, tangan-tangan yang tidak tahu batas, menyerbu otaknya. Trauma yang ia kubur dalam-dalam muncul lagi, hanya karena pesan teks dari seorang pengagum. Zane membalas pesan itu. Tangannya agak gemetar. "Terima kasih atas pujian dan mawarnya, Ari. Tapi aku tidak tertarik menjalin hubungan sekarang. Fokusku hanya pada kuliah. Semoga kamu bisa menghormati keputusanku." Ia mengirimnya, dan meletakkan ponsel itu di atas meja. Rena yang sedang mengunyah Pad Thai miliknya, langsung mendongak. "Kenapa ponselmu diletakkan begitu saja? Siapa yang menghubungimu?" tanyanya, tidak lagi mencoba menyembunyikan nada menginterogasi. "Hanya... salah sambung." Zane berbohong, menarik ponsel itu menjauh. Namun, penolakan sopan Zane tidak menghentikan Ari. Selama tiga hari berikutnya, teror itu datang dalam bentuk perhatian lain. Pertama, Zane semakin sering menerima pesan singkat di media sosial yang mengajak menikmati kopi setiap malam. Selanjutnya, dia menemukan sebuah kotak kecil berisi cokelat mahal ditinggalkan di meja kelasnya saat dia keluar sebentar dari kelas. Rasa tidak nyaman itu membuncah, jauh lebih buruk daripada saat Rena melanggar garis batas tidur mereka. Karena perhatian Ari nyata, tidak disembunyikan, dan mengganggu kehidupan akademik Zane. Ini ancaman dari luar yang sangat mengganggu zona aman yang telah ia ciptakan di kampus. Di malam keempat, Zane merasa lelah. Ia sudah membersihkan loker dari sisa-sisa mawar yang kini sudah layu dan berusaha mengabaikan notifikasi dari Ari. Saat itu, Zane dan Rena sedang duduk di kamar, saling berhadapan, mengerjakan tugas yang berbeda. Kehadiran Rena, anehnya, memberikan Zane sedikit rasa aman. Rena yang selalu melirik ke ponsel Zane yang diletakkan terbalik di sisi meja. Akhirnya, Rena menyerah pada rasa penasaran itu. "Zane," panggilnya sembari meletakkan pensilnya. "Apa dia masih mengirimimu pesan?" Zane menoleh, mengakui bahwa dia telah menceritakan ini hanya karena dia tidak tahan untuk menyimpannya sendiri. Ia tidak mau mengakui ketidakmampuan untuk mengatasi keadaan ini. "Tidak, sudah lama. Mungkin dia sudah menyerah," kata Zane, memaksakan senyum. "Oh ya?" Rena mengangkat satu alis. Ia tidak bergerak. Ia hanya duduk di sana, menatap Zane dengan tajam. Zane merasa harus mengatakan yang sebenarnya agar Rena berhenti menatapnya dengan curiga. "Baiklah, dia masih mengirim. Tapi hanya ajakan minum kopi. Aku tidak membalas. Dia pasti sudah mengerti," akunya. Tiba-tiba, Rena bergerak cepat. Ia mengambil tasnya yang tergantung di belakang kursi dan mengeluarkan sesuatu dari dalamnya, sebuah kotak cokelat mahal itu. "Ini bukan ajakan kopi," kata Rena melempar kotak cokelat itu ke meja, tepat di depan buku Zane. "Ini diletakkan di mejamu saat kamu di kelas tadi. Aku melihatnya. Dia juga mengirim pesan yang menanyakan jadwalmu selanjutnya." Zane terperanjat. Ia menatap cokelat itu, lalu beralih ke Rena. Rena sedang berdiri sekarang, kedua tangannya dilipat di d**a. "Kenapa kamu tidak bilang? Aku sudah bilang dia itu aneh. Dia mengintip kita waktu itu. Kenapa kamu malah mengizinkannya terus mencoba masuk ke lingkaran kita?" Zane tersentak. Mengizinkan? Aku sudah menolaknya! "Aku sudah memblokirnya, Rena. Beberapa kali," balas Zane membela diri. "Aku sudah mencoba sekuat tenaga untuk tidak memberikan celah." "Memblokir saja tidak cukup, Zane! Dia tahu di mana kamu tinggal? Dia tahu lokermu! Itu bukan cara laki-laki tulus mendekati seseorang." Rena berputar-putar di depannya. Matanya mulai berkaca-kaca, tetapi Zane tidak yakin apakah itu air mata ketakutan atau air mata kemarahan. "Aku bisa urus sendiri. Aku akan lapor ke keamanan kampus besok jika dia menggangguku lagi," janji Zane, mencoba mengambil kembali kendali atas situasi yang mendidih ini. Rena menggeleng keras. Ia membungkuk sedikit. "Kau gagal paham. Tak ada yang bisa menebak seperti apa dia. Aku hanya bilang dia hanya mengincarmu, dan alasannya bisa lebih dari suka." Telefon Zane berdering segera setelah Rena mengambilnya dari mejanya. Ini adalah pesan singkat yang baru saja dikirim oleh Ari kepada Zane. Pesan itu menyatakan bahwa dia ingin menonton film di malam minggu, dan Rena mengambil ponsel itu dari Zane sebelum dia bisa mengambilnya. Rena membaca pesan itu, matanya melotot. Tangannya terkepal di sekitar ponsel itu, sendi-sendinya memutih. "Cukup!" seru Rena, meletakkan ponsel itu dengan keras di meja, membuat suara dentuman keras. "Aku bilang jangan dekat-dekat sama dia. Dia bisa berbahaya."
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD