Bab 9

1486 Words
Zane tidur dalam posisi meringkuk. Karena Rena mulai mengisi ruang di sisi batasnya, garis itu akhirnya terasa lebih longgar. Dan malam ini, kembali lagi, seperti ada sengatan listrik yang membuat Zane terbangun secara tiba-tiba. Kelopak matanya perlahan terbuka. Ia tidak bergerak segera. Ia memahami perasaan ini. Tubuhnya membeku, dan otaknya mencoba mengidentifikasi sebabnya ia terbangun. Lampu luar menyaring melalui celah gorden yang tidak tertutup rapat. Zane bergerak dengan sangat lambat, dan napasnya tercekat. Ini bukan lagi mimpi buruk seperti malam-malam sebelumnya. Tidak, dia tidak bangun karena mimpi. Rena ada di sana. Sangat, sangat dekat. Posisi Rena bukan di sisi batasnya, melainkan sudah melewati garis hitam itu sepenuhnya. Ia berbaring miring, menghadap Zane, dengan bantal Rena sendiri hampir menyentuh bantal milik Zane. Jarak di antara wajah mereka begitu tipis, mungkin hanya sejengkal. Jantung Zane langsung berdebar seperti akan menghantam tulang rusuknya, membuat darahnya terpompa ke kepala. Pelecehan bus sekolah. Kelembapan di pagi hari. Malam-malam yang aneh. Semua kilatan dan kelebat ingatan itu menyerbu pikirannya sekaligus, membuatnya tidak bisa bergerak. Rambut panjang Rena yang hitam dan indah tergerai di atas bantal, wajahnya yang damai terlihat sangat polos di bawah cahaya remang. Meskipun ia terasa lumpuh, Zane ingin berteriak, mendorong, atau setidaknya melompat menjauh. Otaknya berteriak, "Bahaya!" tetapi tubuhnya diam. Sekarang garis hitam hanya berjarak beberapa inci di belakang punggung Rena, dan ia melihatnya. Rena bergerak sedikit saat Zane berusaha mengumpulkan kekuatan untuk mengangkat tangannya. Matanya tetap terpejam. Ia menarik napas dalam-dalam, seperti seseorang yang sedang tidur. Kemudian, dengan gerakan yang sangat lembut, Rena mengarahkan wajahnya ke atas. Zane merasakan sentuhan lembut dan dingin di pipi kanannya. Itu adalah ciuman. Sangat singkat, hampir tidak terasa, tapi tidak salah lagi. Sebuah ciuman. Rena menciumnya di pipi, lalu kembali menarik kepalanya, mengambil posisi tidur yang semula. Rena berbaring di sana, terpejam. Zane menahan napas sampai dadanya terasa sakit. Ia menunggunya bergerak lagi, menunggu Rena membuka mata dan tertawa, atau meminta maaf, atau apa pun. Tapi Rena diam. Setelah beberapa detik, Rena menggeser tubuhnya sedikit lagi. Dia mundur, kembali melewati garis hitam di lantai, kembali ke "wilayahnya" sendiri. "Kamu terlalu cantik." Setelah mengucapkan kalimat itu, Rena kembali memejamkan mata dan menghela napas panjang. Zane terbaring kaku, tidak yakin apakah ia sedang bermimpi, mengalami night terror, atau ini memang realita sebagaimana yang ia hadapi sejak insiden bus. Ciuman itu terasa menjijikkan. Jangan tanya seberapa besar pengaruhnya untuk membangkitkan trauma itu. Jantungnya berdebar kencang, menggema di telinganya. Ia menatap langit-langit, mencoba memahami. Terlalu cantik? Apakah itu pujian? Ancaman? Atau hanya celotehan tidur? Ia tidak tahu. Zane menutup matanya, merasakan sensasi dingin di pipinya. Zane tetap terpaku di tempatnya selama beberapa menit setelah bisikan itu. Ia membalikkan badannya menghadap sisi kamar yang kosong, mencoba menarik napas panjang dan lambat untuk meredakan detak jantungnya yang masih memacu. Tidak mungkin. Rena pasti hanya mengigau. Terbukti dia kembali tidur. Tapi ciuman itu. Sentuhan bibir di pipinya yang dingin. Zane mengangkat tangan kanannya dan menyentuh area yang baru saja disentuh Rena. Sensasi dingin itu masih terasa, nyata, bukan ilusi. Zane membalikkan badannya lagi, kembali menghadap Rena. Ia harus memastikan. "Rena?" panggil Zane. Rena tidak bergerak. Napasnya teratur dan tenang. Zane mencoba lagi, sedikit lebih keras. "Rena, kamu sudah bangun?" Tidak ada respons. Rena tampak sangat nyenyak. Tangannya diletakkan di atas bantal, wajahnya yang cantik benar-benar damai, seperti anak kecil. Melihat itu, dia semakin bingung, siapa yang salah di sini. Mungkin ia memang salah. Mungkin dirinya, yang selalu didera trauma, kini terlalu paranoid. Dia mencari alasan apa saja untuk menenangkan diri karena mereka baru saja berteman. Zena baru saja merasa nyaman dengan Rena. Zane mengangkat tubuhnya sedikit, bersandar pada sikunya, dan mencondongkan tubuhnya. Ia mendekat ke Rena, mencoba menganalisis wajah tidur itu dari jarak yang lebih aman. "Rena," bisiknya. Tidak ada kedutan. Tidak ada perubahan ekspresi. Rena tetap tidur pulas. Ia kembali merebahkan dirinya. Ia tidak berani tidur, tetapi juga tidak ingin terus menatap Rena. Zane mencoba fokus pada suara mesin pendingin ruangan. Ia memutar-mutar ponsel di tangannya. Pikirannya langsung tertuju pada Rendi. Jika ia menceritakan semuanya, Rendi pasti akan mendengarkan. Zane membuka kontak Rendi. Jari telunjuknya melayang di atas ikon panggilan. Jangan. Ia membayangkan wajah Rendi yang kelelahan, baru selesai menghadapi tumpukan tugas kuliah atau rapat organisasi. menceritakan tentang ciuman di pipi, teman sekamarnya yang transgender, dan hal-hal aneh lainnya. Zane tidak ingin membebani orang yang sudah terlalu lama ia bebani, dan Rendi pasti akan panik dan khawatir. Ia meletakkan ponsel di meja setelah mematikan layarnya. Ia mencoba mengabaikan rasa gelisah yang tersisa di tubuhnya dengan memejamkan mata. Zane akhirnya menyerah meskipun dia berusaha. Saat jam menunjukkan pukul tiga dini hari, ia masih terbaring kaku, matanya tidak berkedip menatap langit-langit. Ia sudah mencoba berbagai cara, termasuk tidur kembali, menghitung mundur dari seribu, mengatur napas, dan bahkan mencoba menghidupkan kembali materi kuliahnya, tetapi semua upayanya gagal. Selain itu, rasa lapar muncul. Perutnya mulai berbunyi. Dia bangkit dari tempat tidur. Rena masih tertidur, posisinya tidak berubah sejak ia kembali melewati garis batas. Ia berjalan ke dapur kecil dan langsung membuka kulkas mini. Isinya menyedihkan. Ada beberapa botol air mineral, satu bungkus sayuran yang sudah layu, dan wadah plastik berisi sisa makanan Thailand yang Rena beli kemarin. Zane menutupnya. Ia tidak yakin dengan kebersihan sisa makanan itu, dan yang pasti, ia tidak ingin mengambil apa pun milik Rena tanpa izin. Zane menghela napas. Salah satu masalah terbesarnya di Bangkok adalah menyesuaikan diri dengan makanan. Ia tidak memahami bahan-bahan lokal, tidak tahu cara memasak masakan Thailand, dan, sejujurnya, tidak memiliki semangat untuk mencoba sesuatu yang baru saat ini. Dia membutuhkan makanan cepat saji. Ia ingat bahwa Rendi memaksanya membawa beberapa bungkus mi instan dari Indonesia untuk berjaga-jaga jika Zane benar-benar kesulitan mencari makanan. Zane membuka laci tertinggi, di mana ia menyimpan "persediaan darurat". Dua bungkus rasa ayam bawang ada di sini. Ia mengambil satu bungkus, menggunakan ketel listrik kecil untuk merebus air, dan kemudian mulai meracik makanan instan. Zane bersandar di meja dapur sambil menunggu mi matang, pikirannya kembali ke kamar. Bagaimana harus berurusan dengan Rena nanti? Menanyakan secara langsung terasa aneh. Jika Rena benar-benar mengigau, Zane akan terlihat paranoid, apalagi setelah Rena berbagi cerita tentang dirinya. Setelah mi matang, Zane membawanya ke meja belajarnya, jauh dari tempat tidur, dan mulai menyantap mi itu. Kuah panas dan rasa gurihnya sedikit meredakan gejolak di perutnya. Ia makan sambil memandangi Rena yang masih tidur. Matanya terus waspada. Mi itu habis, rasa laparnya mereda. Ia tidak membersihkan mangkuknya, lalu kembali ke tempat tidur. Zane tidak tidur sama sekali. Ia menghabiskan sisa malamnya dengan menatap jam digital di ponselnya yang beranjak naik perlahan. Pukul lima pagi, saat fajar mulai merayap di luar jendela, Zane memutuskan untuk menyerah. Ia tidak bisa menghadapi Rena dengan mata sembap karena kurang tidur. Ia harus segera mandi. Ia bergerak ke kamar mandi, membawa handuk dan pakaian secepat mungkin. Sebelum menutup pintu, matanya melirik Rena. Rena masih tertidur, tetapi kini ia sedikit berbalik menghadap dinding. Zane menarik napas lega, ia punya waktu. Air dingin di pagi buta itu sedikit menyegarkan Zane. Saat Zane sedang menyabuni rambutnya, telinganya menangkap suara samar dari luar kamar. Suara piring beradu, disusul gemericik air yang mengalir. Zane menegang. Itu pasti Rena. Rena sudah bangun, dan anehnya, ia sudah mulai membereskan dapur. Zane mempercepat mandinya. Ia keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapi, dengan kemeja lengan panjang dan celana khaki. Rambutnya masih sedikit basah, tetapi ia merasa lebih baik. Saat ia melangkah keluar kamar, pemandangan itu menyambutnya. Rena sedang berdiri di depan wastafel kecil, membelakanginya, sibuk mencuci mangkuk mi instan yang tadi malam Zane tinggalkan. Ia mengenakan dress kasual berwarna cerah, dan rambutnya yang panjang sudah tertata rapi. "Pagi, Zane," sapa Rena, tanpa menoleh. "Wah, udah rapi. Tumben sarapan di kos?" Rena membalikkan badan setelah meletakkan piring di rak. Zane berdiri terpaku di ambang pintu. Semua kata yang sudah ia susun di kamar mandi mendadak hilang. "I-iya, cuma mi instan semalem." "Oh, pantesan ada sisa piring mi," kata Rena, berjalan mendekat sambil mengeringkan tangannya pada handuk kecil. "Aku juga tadi cium baunya. Kenapa tidak bilang kalau lapar? Padahal aku ada beberapa roti di kulkas, bisa kita bagi." Rena berhenti. Jarak antara mereka kini hanya sekitar dua langkah. Terlalu mengancam. Ia tidak siap untuk kedekatan ini. Secara refleks yang tidak bisa ia tahan, Zane mundur satu langkah, mendekat ke bingkai pintu kamarnya. Reaksi spontan itu jelas terlihat. Senyum Rena langsung memudar. Ia menundukkan kepala sedikit, tatapannya beralih dari mata Zane ke lantai. "Zane? Kamu kenapa? Aku... aku ada salah? Apa aku melakukan sesuatu semalam?" Pertanyaan itu, "Apa aku melakukan sesuatu semalam?" Rena menanyakan hal itu dengan ekspresi lugu, seolah ia benar-benar tidak tahu apa-apa. Apakah ini jebakan? Ia menggelengkan kepala cepat, mencoba memaksakan senyum yang pasti terlihat seperti seringai gugup. "Tidak, tidak ada apa-apa, Rena. Aku cuma... lagi buru-buru. Ada kelas pagi yang penting." Ia mengangkat tangannya dan menyentuh rambutnya yang masih agak basah, menyisirnya ke belakang. "Aku duluan ya," lanjut Zane, tanpa menunggu respons. Ia ingin segera pergi, keluar dari ruangan ini, menjauh dari mata Rena yang penuh tanya.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD