Bab 8

1480 Words
"Ini peringatan terakhir. Aku bilang, pergi." Tawan hanya tertawa mengejek. "Atas dasar apa, Zane? Kenapa kamu rela membuang wajahmu untuk seseorang sepertinya?" "Dia bersamaku," balas Zane, berharap tak perlu ada perdebatan. Tawan melangkah maju, tangannya siap untuk menyentuh sesuatu, bagian mana saja. "Kami tidak akan pergi sebelum kamu—" "Aku sudah bilang, PERGI." Suara Zane meledak, saking kerasnya sampai tiba-tiba menghentikan Tawan. Tawan mendengus, tetapi lima pasang mata yang kini tertuju padanya dan ancaman dari Zane membuatnya ragu. Dia tidak berniat untuk memulai perkelahian, dia hanya ingin melihat ketakutan pada mata dua oran ini yang sayangnya tidak dia dapatkan, setidaknya pada Zane. Zane tetap berdiri di sana, menghalangi Tawan. Ia menunggu. Tawan akhirnya memutar matanya dan memberi isyarat kepada teman-temannya. "Ayo, kawan. Biarkan si pahlawan ini bermain dengan bonekanya." Tawan menyindir, tetapi ia mundur selangkah demi selangkah, tidak ingin memperpanjang insiden itu lebih jauh. Ketika Tawan dan rombongannya sudah melewati barisan antrean dan keluar dari pandangan, Zane akhirnya menarik napas lega. Dia berhasil. Zane kembali berbalik ke arah Rena. Sosok itu masih gemetar sedikit, masih berdiri di dekat kursi, seperti rusa yang baru saja lolos dari mangsa. Rena tidak mengatakan apa-apa lagi. Rena hanya memandang Zane. "Aku tidak akan pernah melupakan ini." Dua hari berlalu. Rena berhenti mencoba ‘berbaik hati’ atau terlalu ceria, ia bersikap seperti teman biasa. Ini membuat Zane lebih nyaman, karena Rena tidak lagi seperti mencoba mendekatinya. Ketika Rena pada sore itu kembali dari kelas dengan tumpukan buku. Zane sedang duduk di sisi kamarnya sambil berkonsentrasi pada tugas perancangan. Garis hitam tebal itu masih melintang. Dia memang sudah tidak terlalu waspada, namun bukan berarti dia membiarkan dirinya percaya sepenuhnya. Rena menjatuhkan buku-buku itu di sisi kamar, tepatnya di atas kasur. Ia mendesah frustrasi, lalu menghampiri Zane. Ia tidak melangkahi garis, melainkan hanya berlutut di atas lantai, memposisikan dirinya hanya satu sentimeter dari lakban hitam tersebut. "Zane, bolehkah aku meminta bantuan? Ini tentang modul Mekanika Struktur yang aku tidak mengerti. Dosenku mengulanginya sampai tiga kali, tapi tetap saja, kepalaku pusing." Zane menghela napas. Rena jarang sekali meminta bantuan akademik. Selama ini, Rena selalu terlihat seperti mahasiswa cerdas. "Coba kulihat," kata Zane, masih tidak bergerak dari posisinya. Rena memindahkan satu buku, membuka halaman yang rumit penuh diagram. Namun, posisinya berlutut dan menoleh ke samping membuat buku itu sulit terlihat oleh Zane. "Ini…" Rena menunjuk ke diagram dengan pensil. "Jika kamu melihatnya dari jarak itu, aku ragu kamu bisa membantuku, Zane." Zane menimbang-nimbang. Ada rasa lelah pada diri Rena. Zane ingat bagaimana ia sendiri sering berjuang di mata kuliah berat itu. "Baiklah, kamu bisa meletakkan bukunya di sini." Zane menunjuk lantai. Rena menatapnya. Mata Rena membesar seolah Zane baru saja memberikan izin untuk membangun taman bunga di sisi Zane. Reaksi yang berlebihan untuk selembar kertas, pikir Zane. "Benarkah? Terima kasih. Aku berjanji tidak akan menyentuh area mana pun, hanya buku ini," Rena berkata dengan sungguh-sungguh. Rena lalu mengambil buku tersebut dan meletakkannya tepat di atas garis lakban. Rena mengikuti buku itu, tetapi Rena hanya menempatkan lututnya sejauh batas tepi lakban, memastikan bahwa ia secara teknis masih berada di wilayahnya. Hanya lengannya, yang terulur untuk menahan buku, yang melewati garis. Zane bergeser maju, kini hanya berjarak satu kaki dari Rena. Ia harus mengakui, duduk bersama Rena terasa berbeda dari hari-hari yang ia lalui sendirian. Selama setengah jam, mereka larut dalam penjelasan matematis dan teori rekayasa. Zane menyadari Rena cukup cepat dalam hal menyerap informasi baru ataupun untuk mendiskusi. Bahkan ia berseru senang ketika berhasil memahami konsep yang sulit. "Kamu pintar juga! Kenapa dosen tidak menjelaskannya sejelas ini? Aku merasa bodoh selama seminggu terakhir." Zane tersenyum kecil. Tak pernah rasanya dia merasa sepuas ini setelah merasa berguna bagi seseorang. "Kamu hanya perlu pendekatan yang berbeda," ujar Zane, sambil menyadari betapa mudahnya berinteraksi dengan Rena jika dia sedikit saja melupakan rasa traumanya. "Aku penasaran. Kenapa kamu memilih arsitektur? Kamu memiliki kemampuan analitis yang hebat, kamu seharusnya memilih teknik sipil atau mungkin kedokteran." Zane mengangkat bahu. "Aku suka merancang ruang." "Sebuah zona aman. Ya, aku mengerti itu. Di sini, di Bangkok, banyak orang datang untuk menemukan tempat yang aman, tempat di mana mereka bisa menjadi diri sendiri dan berharap tidak dihakimi." Rena berhenti sejenak, tatapannya sendu. "Tapi terkadang, kita tidak tahu siapa yang akan mengancam, bukan? Orang-orang seperti itu, para perundung, akan selalu ada." Pertanyaan itu tepat pada titik trauma Zane. Rena selalu berhasil menyisipkan kalimat-kalimat yang sukses menyentuh sisi tergelap Zane. "Benar," balas Zane singkat. "Kamu sangat beruntung, Zane," lanjut Rena, mengumpulkan buku-buku. Ia kini duduk bersila, lututnya hanya menyentuh garis isolasi. "Kamu sepertinya tahu persis apa yang kamu inginkan dan bagaimana melindunginya. Tidak sepertiku, aku ini mudah menangis, mudah menyerah." "Aku bukannya kuat. Hanya cara bertahan hidup," tukas Zane, tidak ingin dilebih-lebihkan. Namun, pujian Rena terasa manis di tengah hari-hari adaptasinya yang pahit. Sejak sore itu, kolaborasi mereka berubah. Buku-buku Zane dan Rena kini sering diletakkan bersebelahan di garis isolasi. Zane bahkan tidak keberatan jika lengan Rena melewati garis, selama ia tidak mendekati sisi tubuh Zane. Kehadiran Rena mengisi kekosongan yang selama ini ia hindari. Zane melihat bagaimana Rena benar-benar berjuang, bagaimana ia mengorbankan banyak hal, termasuk hubungan keluarga yang sulit diakui Rena secara terbuka, untuk hidup di Thailand. Zane semakin merasa bahwa ia telah salah besar mencurigai Rena. Sayangnya, malam itu, pola lama kembali menyerang. Zane kembali terlempar dari tidur nyenyaknya dengan sentakan panik. Sensasi familier, ada rasa basah dan lengket, dan jantungnya berpacu secepat pelari maraton. Mimpi bus sekolah itu datang lagi. Zane terduduk dengan napasnya tersengal. Ia menoleh ke sisi Rena. Cahaya ponsel Rena yang redup memantul di wajahnya. Rena tampak tidur lelap, selimutnya menutupi hampir seluruh tubuhnya, dengan rambut panjang hitam yang jatuh menutupi sisi wajahnya yang lain. Rena sama sekali tidak bergerak. Zane berjuang untuk menarik napas dalam-dalam, mengendalikan guncangan yang menguasai tubuhnya. Tangannya meraba permukaan seprai, menemukan bahwa bagian bawahnya memang terasa lembap, seperti ada keringat dingin yang hebat. Ia melompat dari tempat tidur, melangkahi garis untuk bergegas ke kamar mandi, tetapi kakinya terasa sangat lemas. Ia menyalakan lampu kecil di lorong kamar mandi, melihat refleksi dirinya di cermin. "Astaga," bisik Zane. Ini kembali. Setiap kali ini terjadi, ia akan mandi dengan air dingin yang menggigit, berharap suhu rendah bisa menghapus memori sensorik dari apa pun yang baru saja ia alami, apakah itu nyata atau hanya rekaan otaknya. Saat air dingin membasuh kulitnya, ia tidak lagi merasa marah pada Rena. Tidak, Zane menyalahkan dirinya sendiri. Ini PTSD-ku. Menyalahkan trauma dirinya sendiri jauh lebih aman daripada menyalahkan satu-satunya teman yang ia miliki di Thailand, satu-satunya orang yang kini melihatnya sebagai pahlawan dan bukan sekadar anak aneh. Yah, setidaknya seperti itulah hubungan mereka mulai berkembang. Ketika Zane keluar dari kamar mandi, mengenakan kaus baru yang kering, ia kembali ke kamar meski pikirannya masih berputar. Rena tetap tertidur lelap, persis di posisi yang sama. Punggungnya menghadap Zane, menempel erat ke garis di sisi Rena. Zane berdiri di depan kasur, mengamati Rena. Ia mengingat air mata Rena di kantin, rengekan takut Rena di balik punggungnya, curhatan masa-masa sulitnya sebagai seorang trans. Pagi-pagi sekali, Zane mencuci seprainya lagi. Saat Rena akhirnya bangun, dia tersenyum persis seperti Zane. Rena memperhatikan Zane yang sudah selesai berpakaian dan sedang memaksakan diri menelan roti bakar dingin. "Kamu bangun sangat pagi, Zane. Tidak tidur nyenyak lagi?" tanya Rena. Rena merangkak keluar dari tempat tidur dan menghampiri sisi Zane, tepat di garis. Rena berlutut lagi, tetapi kali ini tanpa buku, dia memberanikan diri menyentuh Zane. Sentuhan itu tidak memicu rasa panik pada Zane. "Mimpi buruk. Seperti biasa," jawab Zane. Ia tidak ingin mengeluh terlalu banyak tentang kondisi psikologisnya. "Ternyata masih ada. Aku harap itu cepat hilang. Mungkin ini karena tekanan dari insiden Tawan kemarin. Aku akan berusaha agar tidak terlibat lagi dengan mereka." Zane menatap mata Rena. "Terima kasih, Rena," ucap Zane. Untuk pertama kalinya, ia menerima empati dari Rena sepenuhnya. Hari-hari berlalu menjadi minggu, dan garis itu hampir tidak memiliki fungsi lagi selain menjadi alas bagi laptop, buku, dan beberapa camilan yang sering Rena tinggalkan untuk Zane. Rena semakin bergantung pada Zane. Ia tidak hanya butuh dilindungi dari Tawan, ia membutuhkan persetujuan Zane dalam tugas-tugas, saran tentang pakaian yang harus ia kenakan, bahkan nasihat tentang bagaimana menangani kecemburuan beberapa teman trans lainnya. "Aku hanya ingin tampil normal, Zane," keluh Rena suatu malam, sambil duduk di lantai dengan nyaman di samping garis, di mana Zane juga duduk bersandar di dinding. "Kamu sudah terlihat normal," balas Zane, tidak mengerti. Bagi Zane, Rena tampak seperti definisi kesempurnaan feminin di Bangkok. "Bukan normal seperti perempuan lain. Normal seperti manusia biasa. Yang tidak harus selalu terlihat spektakuler hanya untuk mendapatkan hak yang sama." Rena berbagi cerita-cerita kecil seperti ketika seorang pengemudi taksi yang menolak menurunkannya di malam hari, atau tatapan menjijikkan dari profesor di fakultas. Zane mulai menghabiskan sebagian besar waktunya dengan Rena. Mereka makan malam bersama hampir setiap hari, belajar bersama, bahkan terkadang hanya duduk diam, menjadi sandaran yang Zane butuhkan, melarikan diri dari kesepian Bangkok yang menusuk.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD