Bab 7

1556 Words
Karena Zane yang perlahan membuka diri, Rena pun sudah tidak ragu untuk bercerita lebih banyak tentang kehidupan kampus, ujiannya, teman-teman yang menjauh, dan rasa kesepian yang menghantuinya. Zane hanya mendengarkan. Ia mulai memperhatikan bahwa ketika Rena berbicara tentang penderitaan, suara Rena menjadi lebih pelan serta matanya tidak berani menatap Zane langsung. Saat mereka tiba di koridor kamar mereka, Zane merasa lebih lues, lebih bebas, anehnya tidak sekhawatir kemarin. Rena berhenti di depan pintu, memasukkan kuncinya. Ia menoleh ke Zane. "Aku harus mengerjakan desain arsitekturku malam ini, dan mungkin besok juga harus begadang," kata Rena, raut wajahnya kembali lesu. "Aku tidak sempat menyiapkan makan siang. Apa… apa kamu mau makan di kantin utama besok?" Ah, ajakan makan bersama, untuk pertama kali. Makan siang. Jika Zane setuju, itu berarti ia menghapus Rena dari daftar ancaman. Zane melihat Rena sejenak. Tidak mungkin orang seperti ini bisa melakukan hal kotor padaku di malam hari. Aku hanya lelah. Aku harus memberikan Rena kesempatan. Dan aku harus memberi diriku kesempatan untuk punya teman, pikirnya. *** Zane mengamati sekeliling selagi Rena berbalik dan berjalan menuju antrean panjang. Beberapa mata tertuju pada meja mereka. Mayoritas menatap Rena. Bukan menghakimi, mungkin sedikit cemburu dan tidak suka ketika Rena sepertinya sudah punya teman. Dan Zane menyadari itu, berada di dekat Rena berarti harus menjadi pusat perhatian yang sebelumnya dia tidak perkirakan sama sekali. Sepuluh menit kemudian, Rena kembali, membawa dua piring penuh makanan. "Ini dia, hidangan kelas dunia kita! Kamu harus coba sedikit nanas di nasi gorengku, rasanya unik," ujar Rena sambil menyerahkan pesanan Zane. Mereka makan tanpa banyak bicara. Zane sesekali melirik Rena yang makan dengan anggun, memotong ayam dengan garpu, malah terlihat lebih feminin daripada kebanyakan wanita yang Zane kenal. "Desainmu kemarin, yang dihina senior itu, apakah itu benar-benar bagus?" tanya Zane. Rena meletakkan garpu, seperti mengingat sesuatu. "Aku tidak akan memintamu membelaku jika desainku jelek, Zane. Aku berusaha keras. Kurasa memang harus ada yang diperbaiki." "Aku mengerti," gumam Zane. Ia juga sering merasa dinilai dari trauma masa lalunya, dan bukan dari kepribadian yang sesungguhnya. Suasana itu rusak karena terdengar suara kursi ditarik keras. Sebuah bayangan tinggi terlihat di atas meja mereka. Tiga pria berdiri, semua mengenakan jaket tim basket kampus. Yang paling depan adalah seorang pria berkulit gelap, dengan wajah yang tirus dan senyum sinis. Matanya tertuju lurus pada Zane. "Wow, lihat siapa ini," sapa pria itu. Ia melirik ke Rena sejenak, tatapan merendahkan itu tidak hilang. "Kenapa kamu buang-buang waktu dengan benda plastik ini, Zane? Nama kamu Zane, kan?" Zane merasakan semua sensor tubuhnya menyala merah. Ini persis situasi yang ingin ia hindari. Ia membenci fakta bahwa pria itu menyebut namanya, padahal mereka tidak pernah berkenalan. Ia berasumsi, pasti ada orang lain yang mengenalkannya. "Ya. Kenapa?" tanya Zane. Pria itu menyeringai. "Tawan. Dari Teknik Sipil. Aku sudah memperhatikanmu. Kamu sendirian, selalu di sudut. Jauh lebih baik daripada berkencan dengan seorang... she-male, bukan?" Tawa renyah keluar dari teman-teman Tawan. Zane merasa wajahnya memanas, tetapi bukan karena marah. Ia marah karena ada orang yang mencoba merangsek ke zona pribadinya dengan begitu kasar. "Aku tidak berkencan dengan siapa pun. Dan apa yang Rena lakukan bukanlah urusanmu," jawab Zane. Tawan bersandar di meja, bahunya nyaris menyentuh wajah Zane. "Aku tahu, kami laki-laki sejati. Aku bisa menjagamu jauh lebih baik daripada dia. Aku lihat kamu cukup lugu. Tapi kamu tahu kan, bagaimana makhluk-makhluk ini? Mereka bisa melakukan hal-hal gila. Kamu tidak akan aman di dekatnya. Ikut aku saja, nanti malam." Rena yang tadinya diam dengan kepala tertunduk kini mencoba bersuara. "T-tolong… tolong jangan bicara begitu," bisik Rena, suaranya gemetar tak karuan. Tawan tertawa terbahak-bahak. "Oh, lihat. Dia bahkan menangis. Dia membuat drama di tempat umum. Cepat minggir, ‘Nona Cantik’. Ini adalah obrolan antar laki-laki." Zane sudah siap bangkit, siap untuk meminta Tawan menjauh, ia ingin mengakhiri situasi canggung ini secepatnya. Tetapi sebelum ia sempat mendorong kursi, ia merasakan tekanan tiba-tiba. Kedua tangan Rena mencengkeram lengan Zane dengan kuat, mencakar permukaan kausnya. "Zane! T-tolong! Jangan biarkan dia menyentuhku!" desah Rena, kata-kata itu keluar seperti rengekan. Rena bergerak, menyandarkan seluruh tubuhnya di balik punggung Zane, menggunakan Zane sebagai perisai. Kepalanya nyaris menyentuh punggung Zane. Zane terkejut. Sentuhan itu melanggar semua aturan, bahkan sentuhan kecil kemarin di perpustakaan. Sentuhan yang seharusnya memicu rasa panik pada Zane. Tetapi anehnya, kali ini dia sama sekali tidak takut. Sebaliknya, yang ia rasakan justru naluri untuk membantu Rena. Cengkeraman Rena di lengannya semakin erat. Zane bisa merasakan detak jantung Rena yang cepat di punggungnya, memohon untuk dilindungi. "Minggir, Tawan," ucap Zane. Tawan mundur sedikit, sedikit terkejut melihat Zane seperti itu. Mereka bahkan seperti sudah tidak peduli kalau sekarang mereka menjadi pusat perhatian. "Hei, aku tidak punya masalah denganmu," protes Tawan. "Kamu berdiri terlalu dekat denganku. Kami sedang makan. Jangan merusak makan siang kami," tuntut Zane, melangkah satu langkah maju, memastikan tubuhnya menutupi Rena sepenuhnya dari pandangan dan sentuhan Tawan. Wajah Tawan mengeras. "Kenapa kamu peduli dengan seorang banci seperti dia?" Rena semakin mencengkeram Zane. Jari-jari Rena mencakar lembut di balik kemeja Zane, menarik Zane kembali, memohon dia untuk tidak pergi. Mata Zane beralih dari wajah Tawan. "Ini bukan tentang dia atau aku," kata Zane, suaranya merendah ke volume yang hanya bisa didengar oleh Tawan. Zane menggerakkan dagunya, sedikit bergeser ke kiri, ke arah pintu keluar. "Kamu sudah cukup mengganggu. Kamu tahu jalannya. Pergi sekarang." Tawan memandang Zane lama, mencari kelemahan. Zane membalas tatapannya, menahan napas. Ia telah melalui pelatihan bertahun-tahun dalam isolasi diri untuk tidak menunjukkan ketakutan. Hanya dengan tatapan itu, setidaknya efektif. Ketakutan Zane sepenuhnya dialihkan kepada sosok yang gemetar di belakangnya. "Baiklah. Jangan salahkan aku kalau kamu berakhir dengan masalah yang tidak perlu," gumam Tawan sebelum ia memutar tumit dan, bersama kedua temannya, bergegas pergi, meninggalkan meja Zane dalam keadaan sunyi. Zane menunggu. Menunggu detak jantungnya kembali normal. Menunggu napas Rena di punggungnya melambat. Setelah Tawan dan gengnya benar-benar hilang dari pandangan, Rena perlahan melepaskan cengkeramannya dari lengan Zane, tangannya masih gemetar saat ia mundur, kembali ke kursinya, terlihat pucat pasi. Rena mengambil gelas minumannya, tangannya terlalu gemetar untuk memegang, hingga gelas itu terlepas dari genggamannya dan menumpahkan sisa es teh di meja, mengalir perlahan ke lantai. "Ya Tuhan," desah Rena, tangannya menutupi mulutnya, air mata kini mengalir di pipinya yang mulus. Zane melihat tumpahan teh di meja, lalu ke wajah Rena. Ini bukan drama yang dilebih-lebihkan. Sepertinya dia memang benar-benar panik. Zane menarik tisu dan mulai membersihkan meja. "Sudah aman," katanya. Rena hanya bisa menatap Zane, air matanya terus mengalir. "Tawan tidak pantas melakukan itu," jawab Zane, menghindari kontak mata. Tetapi jauh di lubuk hatinya, ia tahu alasan ia bertindak bukan karena tumpahan es teh. Ia melakukannya karena naluri yang dipicu oleh trauma lama. Rena bangkit, langkahnya tertatih. Zane berasumsi Rena akan lari ke kamar mandi. Tetapi Rena bergerak cepat, melangkah mengitari meja, menghampiri Zane, dan melanggar setiap batas terakhir Zane. Rena tiba-tiba memeluk Zane dengan erat. "Zane, aku minta maaf. Aku sangat ketakutan," bisik Rena, suaranya teredam di bahu Zane. Zane, sekali lagi, membeku. Ini adalah kontak tubuh paling intim yang pernah ia izinkan dalam beberapa tahun terakhir, apalagi dari orang yang sempat ia curigai sebagai pelaku hal aneh itu di malam hari. Sentuhan Rena lembut, tanpa gairah. "Rena…" Zane mencoba menjauh, tetapi pelukan Rena begitu erat. "Tolong sebentar saja. Aku hanya perlu tahu bahwa aku aman. Aku tidak pernah merasa aman di sini." Rena memohon, dan kini tangannya beralih dari punggung Zane, ke d**a Zane. "Terima kasih, terima kasih sudah melakukannya untukku." Di bawah tatapan puluhan mahasiswa di kantin yang kini penasaran, Zane tidak berani membalas. Ia hanya bisa berdiri kaku, menerima pelukan itu. Ketika Rena akhirnya melepaskan diri, matanya bengkak. Ia menyeka air matanya dengan punggung tangan, senyum tipisnya kembali. "Aku… aku minta maaf, Zane. Aku benar-benar tidak tahu apa yang harus kulakukan tanpamu di sini," kata Rena, kembali ke kursi, menghindari tumpahan teh. Ia tidak berusaha membersihkannya. "Lain kali, cobalah untuk kendalikan dirimu, kendalikan ketakutan itu," saran Zane, merasa lega karena kontak fisik itu berakhir. "Aku akan mencoba, tapi aku tidak sekuat kau," jawab Rena, mencondongkan tubuh ke depan, wajahnya kini terlihat tenang, meskipun sisa-sisa air mata masih terlihat. "Tapi tolong, jangan tinggalkan aku. Mereka semua ingin aku menghilang, mereka ingin menyingkirkanku, dan…" Rena tidak melanjutkan kalimatnya. Zane menatap sekeliling. Beberapa mahasiswa mulai bubar, tetapi ada beberapa pasang mata yang masih tertuju padanya. Ia merasa tidak nyaman karena perhatian yang terus-menerus ini. Tiba-tiba, Tawan muncul kembali. Bukan sendirian, tetapi kali ini membawa dua teman lainnya, jelas sudah tampak tidak senang ataupun bercanda seperti tadi. "Kamu serius melindungi seorang kathoy?" cibir Tawan. Ia berhenti tiga meter dari meja, kali ini menyilangkan lengan. Zane terdiam sejenak. Dia malas meladeni orang seperti ini. Tapi sepertinya Tawan memang tidak akan pergi begitu saja, atau juga membiarkan Zane pergi. Sebelum Tawan sempat mengambil langkah lain, Rena bergerak cepat. Rena dengan gesit bangkit dari kursinya, lari kembali ke sisi Zane. Rena tidak hanya berpegangan pada lengan Zane. Ia menggenggam erat-erat kedua tangan Zane dengan seluruh kekuatan jarinya, memposisikan dirinya benar-benar tersembunyi. "Jangan, Zane! Aku takut! Aku benar-benar tidak ingin berkelahi! Mereka pasti akan memukuli aku," rintih Rena, bisikannya terasa begitu dekat di telinga Zane, hampir membuai Zane untuk mengambil alih konflik ini seutuhnya. Rena tidak memberinya pilihan. Zane melepaskan tangannya dari genggaman Rena, tangan yang kini ia gunakan untuk mengepalkan tinjunya sendiri. Zane melangkah keluar dari meja, berdiri di tengah lorong kantin yang ramai, menghadapi Tawan dan teman-temannya yang berjumlah lima orang.
Free reading for new users
Scan code to download app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Writer
  • chap_listContents
  • likeADD