Efeknya drastis. Obat itu cukup manjur, lebih dari obat tidur. Itu menenangkan pikirannya. Ia tidur nyenyak, tanpa mimpi, tanpa sensasi sentuhan. Obat itu tidak hanya menenangkan sistem sarafnya, tetapi juga meredam naluri waspada yang dimilikinya.
Zane menjadi lebih pasif. Rena melewati garis batas dengan lebih sering, bahkan kadang duduk di tepi tempat tidur Zane saat mereka mengobrol, dan Zane tidak lagi bereaksi atau merasa perlu menarik diri.
"Lihat, aku sudah bilang. Semua akan baik-baik saja, Zane. Kamu hanya butuh istirahat," kata Rena suatu sore, saat Zane terlihat fokus pada studinya.
Zane hanya mengangguk pelan. "Ya, kurasa begitu."
Hampir dua minggu berlalu sejak pesan terakhir Rendi, dan Zane tidak lagi merasa panik tentang kebisuan itu. Ia sesekali teringat Rendi dan Perl, tetapi dorongan untuk menghubungi mereka tidak sekuat dulu. Namun, pada suatu malam, saat Zane sedang membereskan buku, ponselnya berdering. Telepon dari Rendi yang langsung dia angkat.
"Zane! Akhirnya aku bisa teleponmu. Maaf banget, ya. Aku benar-benar sibuk sekali."
"Nggak apa-apa, Ren. Aku mengerti kamu sibuk. Bagaimana? Semua sudah baik-baik saja?" tanya Zane.
Rendi menghela napas panjang.
"Ya, Zane. Syukurlah, semuanya sudah aman. Teror itu berhenti total, tiba-tiba saja. Sejak... sekitar seminggu yang lalu. Akunnya hilang, pesannya nggak ada lagi."
"Syukurlah," kata Zane. Ia benar-benar lega.
"Aku juga bingung kenapa dia tiba-tiba saja berhenti. Tapi yang penting Perl sekarang sudah tenang. Aku sudah janji akan double date akhir bulan nanti."
Zane tersenyum tipis. "Yah, syukurlah kalau begitu."
Setelah menutup telepon, Zane kembali duduk di meja belajarnya. Rena yang diam-diam mendengarkan percakapan itu dari sisi kasurnya, ikut tersenyum.
"Aku bilang juga apa, Zane. Semuanya akan baik-baik saja. Dia hanya butuh waktu," ujar Rena.
Rena bangkit dan berjalan menuju Zane, mengambil cangkir kosong di meja. "Sekarang, fokus pada hal yang penting di sini. Minum obatmu, biar kamu tidur nyenyak."
Zane menatap pil di wadahnya. Ia meraihnya, menelannya tanpa ragu, dan minum air. Ia tidak lagi mencurigai Rena. Ia tidak lagi mencurigai obat itu.
Dan karena perubahan drastis ini juga akhirnya dia membuka diri pada teman-temannya di kampus. Dia setuju untuk ikut ke festival kota. Ini adalah kali pertamanya keluar dari zona kampus dan kosan sejak ia tiba di Bangkok.
Mereka berjalan melewati deretan stan makanan, lampu-lampu berwarna-warni, dan hiruk pikuk musik tradisional Thailand. Zane ditemani oleh dua teman sekelasnya, Pim dan Chai, yang sama-sama berasal dari luar Bangkok.
Saat mereka berhenti di sebuah stan yang menjual mango sticky rice, Pim tiba-tiba menyenggol lengan Zane.
"Hei, Zane. Kamu kok tenang-tenang saja, tidak tertarik sama sekali melihat para cowok cakep yang lewat?" goda Pim sambil melirik sekelompok mahasiswa yang berjalan di dekat mereka. "Setiap orang di sini sedang mencari pasangan, lho. Kamu tidak mau mencoba pacaran?"
Zane mengunyah mangga di mulutnya. Rasa takut dan trauma masa lalu tentang perhatian yang tidak diinginkan memang masih ada, tetapi obat-obatan itu telah meredamnya.
"Aku? Pacaran?" Zane tertawa kecil. "Jauh sekali dari pikiranku. Aku tidak pernah berpikir ke arah sana."
Chai, yang sedang asyik memotret, menimpali, "Ah, jangan bohong, Zane. Semua orang punya hasrat. Kamu itu manis, pasti banyak yang melirik, apalagi dengan aura cool-mu itu. Di kamar, kamu pasti sering chatting dengan seseorang, kan?"
Zane menggeleng santai. "Tidak ada. Fokusku cuma kuliah. Aku datang ke sini untuk belajar, bukan untuk mencari masalah baru." Ia kembali ke masa-masa awal kedatangannya di Bangkok, sebelum Rena, ketika tujuannya memang sejelas itu.
Pim cemberut. "Ayolah, masa mudamu akan habis hanya untuk buku! Kamu butuh seseorang untuk menemanimu."
"Aku punya Rena di kosan," jawab Zane, menyebutkan Rena tanpa emosi. "Dia sudah cukup membuatku terhibur."
Mendengar nama Rena, Pim dan Chai saling pandang. Mereka tahu tentang teman sekamar Zane yang cantik dan trans.
"Yah, Rena memang full package," ujar Chai sambil mengangkat bahu. "Dia bisa jadi kakak, teman, bahkan pacar buat cowok-cowok yang beruntung. Tapi maksud kami, kamu harus mencari duniamu sendiri di sini, Zane. Hubungan yang... romantis."
Zane tersenyum.
"Romantis itu terdengar rumit. Aku lebih suka yang sederhana dan tidak menimbulkan drama. Setelah lulus, mungkin aku akan mempertimbangkannya. Sekarang? No thanks."
Pembicaraan itu berakhir saat mereka berpindah ke stan pad thai. Zane merasa lega. Godaan teman-temannya tidak berhasil menggoyahkannya. Ia memang benar-benar tidak tertarik pada drama percintaan. Di kepalanya, kesendirian dan ketenangan yang ia rasakan sekarang jauh lebih baik daripada mencari keintiman yang berpotensi menyakitkan.
Saat berjalan pulang, Zane melihat pesan masuk dari Rena.
"Kamu di mana, Zane? Jangan keluyuran terlalu lama."
Ia membalas singkat.
"Pulang sekarang."
***
"Zane, besok lusa kamu kosong, kan? Aku mau mengajakmu ke suatu tempat," kata Rena, sambil tersenyum misterius.
"Ke mana?" tanya Zane, mengangkat alisnya, tidak lagi curiga seperti dulu.
"Ke CentralWorld. Itu mall terbesar di Bangkok. Kamu kan belum pernah keluar dari zona kampus dan kosan kan? Aku mau tunjukkan sisi lain kota ini yang benar-benar cantik." Rena mencondongkan tubuh sedikit. "Dan... aku mau membeli sesuatu. Aku butuh pendapatmu."
Zane awalnya sempat ragu. Jalan-jalan berdua di tempat seramai itu... dulu pasti akan ia tolak mentah-mentah.
"Baiklah. Aku belum pernah ke sana," jawab Zane, setuju dengan mudah.
Dua hari kemudian, mereka menaiki Skytrain menuju jantung kota. Ini adalah pertama kalinya Zane melihat Bangkok yang sesungguhnya, gedung-gedung pencakar langit, iklan-iklan raksasa, dan arus manusia yang tak ada habisnya. CentralWorld menjulang tinggi di depan mereka, sebuah labirin mewah yang mengkilap.
Saat mereka melangkah masuk, Zane merasa kagum. Mall ini luar biasa besar dan mewah, dipenuhi butik-butik mahal dan dekorasi yang memukau. Rena tampak sangat betah di lingkungan seperti ini.
"Bagaimana? Keren, kan?" tanya Rena, bangga. Ia memimpin Zane, melewati toko-toko pakaian, dan langsung menuju lantai yang didominasi oleh perhiasan dan barang-barang mewah.
"Aku mau membeli sesuatu sebagai hadiah untuk diriku sendiri. Hadiah karena aku sudah berhasil melewati masa-masa sulit," jelas Rena sambil tersenyum simpul, matanya berbinar saat melihat etalase yang berkilauan. "Aku ingin membeli kalung. Kamu harus bantu aku memilih, Zane. Selera kamu pasti bagus, kan?"
Mereka memasuki sebuah butik perhiasan kelas atas. Rena dengan percaya diri meminta staf toko mengeluarkan beberapa kalung berlian dan emas. Zane berdiri di samping Rena, memperhatikan.
Saat mencoba sebuah kalung emas putih yang berliontin kecil, Rena memiringkan kepalanya, menatap pantulan dirinya di cermin.
"Menurutmu bagaimana, Zane?" tanyanya.
"Bagus," jawab Zane. "Terlihat elegan."
Rena tersenyum, kemudian ia melakukan sesuatu yang membuat Zane sedikit terkejut. Rena mengambil liontin emas putih itu dari staf toko, lalu memegang kalung itu di depan leher Zane.
"Atau... apakah ini lebih cocok untuk seseorang yang elegan sepertimu?" bisik Rena, matanya kini terfokus pada Zane melalui pantulan cermin. "Coba saja. Kamu pasti akan terlihat cantik sekali."
Jantung Zane sempat berdebar cepat, tetapi panic attack yang biasanya menyerangnya kini tertahan. Ia hanya merasa sedikit canggung, bukan terancam.
"Tidak usah, Rena. Ini kan untukmu," tolak Zane dengan suara pelan.
Rena hanya tertawa lembut. "Tidak apa-apa, kok. Aku hanya ingin melihat. Kamu sudah banyak membantuku, Zane. Aku rasa aku juga ingin memberikan sesuatu yang membuatmu senang."
Pada akhirnya, Rena tidak memaksa Zane mencoba kalung itu. Ia memilih kalung yang berbeda untuk dirinya sendiri, sebuah liontin batu permata berwarna merah muda, sambil terus mengobrol santai tentang rencananya untuk membeli pakaian baru.
***
Saat musim hujan tiba di Bangkok. Keluar menjadi merepotkan. Mereka mulai menghabiskan sore dan malam dengan memasak mie instan di dapur umum, lalu membawanya kembali ke kamar. Bau kuah kaldu dan bumbu merica tercium di mana-mana. Mereka makan di lantai, berbagi mangkuk.
Zane semakin lepas dan mudah tertawa. Tawa tulus yang sudah lama tidak ia dengar dari dirinya sendiri kini sering muncul, dipicu oleh candaan ringan dari Rena atau cerita konyol tentang teman-teman kampus.
Malam itu, mereka duduk bersebelahan di meja belajar. Rena sedang membantu Zane menganalisis data untuk tugas besar. Zane kesulitan dan Rena dengan sabar menjelaskan rumus-rumus yang rumit. Kepala mereka berdekatan, dan bahu mereka sesekali bersentuhan.
"Nah, kalau begini, hasil prediksinya akan lebih akurat," bisik Rena, jarinya menunjuk angka di layar laptop Zane.
Zane tersenyum lega. "Terima kasih, Rena. Aku nggak tahu harus bagaimana tanpa kamu."
Rena menarik jarinya, mematikan laptop, dan memutar kursi hingga ia menghadap Zane sepenuhnya. Senyum Rena menghilang.
"Zane," panggil Rena.
"Ya?" jawab Zane, masih setengah mengambang dalam suasana nyaman yang baru ia rasakan.
Rena menghela napas, tampak mengumpulkan keberanian. Ia mengulurkan tangannya, dan perlahan, jemarinya menyentuh pipi Zane. Itu bukan sentuhan canggung atau menggoda seperti ciuman pipi tempo hari.
"Zane, aku harus jujur padamu. Selama ini, aku..." Rena berhenti sejenak, matanya berkaca-kaca. "Aku mencintaimu."