Efeknya drastis. Obat itu cukup manjur, lebih dari obat tidur. Itu menenangkan pikirannya. Ia tidur nyenyak, tanpa mimpi, tanpa sensasi sentuhan. Obat itu tidak hanya menenangkan sistem sarafnya, tetapi juga meredam naluri waspada yang dimilikinya. Zane menjadi lebih pasif. Rena melewati garis batas dengan lebih sering, bahkan kadang duduk di tepi tempat tidur Zane saat mereka mengobrol, dan Zane tidak lagi bereaksi atau merasa perlu menarik diri. "Lihat, aku sudah bilang. Semua akan baik-baik saja, Zane. Kamu hanya butuh istirahat," kata Rena suatu sore, saat Zane terlihat fokus pada studinya. Zane hanya mengangguk pelan. "Ya, kurasa begitu." Hampir dua minggu berlalu sejak pesan terakhir Rendi, dan Zane tidak lagi merasa panik tentang kebisuan itu. Ia sesekali teringat Rendi dan Perl

