Dunia Zane berhenti berputar. Suara hujan di luar mendadak menjadi sangat bising. Seluruh tubuh Zane langsung kaku, membeku di tempatnya. Senyuman di wajahnya lenyap. Zane duduk mematung. Ia tidak bisa bicara. Ia tidak bisa bergerak. Sentuhan Rena di pipinya kini terasa seperti belenggu, membangkitkan semua kenangan buruk tentang perhatian yang tidak diinginkan dan sentuhan yang merampas kendali.
Rena menarik tangannya.
"Aku tahu ini mengejutkan, tapi aku tidak bisa menyembunyikannya lagi. Aku mencintai caramu yang polos, caramu yang melindungiku. Aku mencintaimu, Zane."
Zane hanya bisa menatap Rena, seluruh tubuhnya menolak situasi ini. Obat-obatan itu mungkin telah menenangkan pikirannya, tetapi pengakuan ini membuatnya kembali merasa terjebak, lebih parah dari sebelumnya.
Banyak hal yang ingin ia katakan, seperti menolak, melarikan diri, atau menanyakan tentang semua malam yang mengganggu itu, namun lidahnya terasa kaku. Rena melihat reaksi beku Zane. Senyumnya yang penuh harap seketika memudar. Ia segera berdiri, melangkah hati-hati ke arah Zane.
"Zane, aku... maafkan aku. Aku tahu ini tiba-tiba. Tapi tolong, jangan kaget sampai begitu. Aku tahu aku membuatmu tidak nyaman sejak awal."
Rena menghela napas panjang, menundukkan kepalanya.
"Dan ada satu hal lagi, aku minta maaf karena aku tidak sepenuhnya jujur tentang diriku."
Zane hanya bisa menunggu.
"Aku... aku tidak sepenuhnya seorang transgender seperti yang kukatakan di awal. Aku tahu aku membohongimu. Aku hanya ingin kamu menjaga jarak, itu saja. Aku tahu kamu tipe orang yang protective dan aku butuh perlindungan itu. Tapi, Zane... aku sebenarnya biseksual."
Rena mengangkat kepalanya, matanya memohon. "Aku suka wanita, tapi aku juga suka laki-laki. Sejak aku melihatmu, aku tahu. Aku tidak pernah merasa seserius ini. Aku sungguh-sungguh, Zane. Aku mencintai kamu apa adanya."
Pengakuan kedua ini menghantam Zane. Bukan hanya perasaan Rena yang dilanggar, tetapi seluruh fondasi hubungan pertemanan mereka, termasuk alasan Zane tidak perlu mencurigai Rena sebagai ancaman seksual kini terbukti hanyalah kebohongan. Zane selama ini merasa aman karena berpikir Rena hanya menyukai perempuan, sesuai ucapan ibu Kos yang menertawakannya.
Zane menggelengkan kepalanya pelan, matanya tidak fokus. Ia tidak tahu lagi harus berkata apa. Rasa kaku di lidahnya semakin kuat. Ia hanya bisa menatap lantai.
"Aku... Aku harus pergi." Hanya itu yang bisa diucapkan Zane.
Tanpa menunggu jawaban Rena, Zane berbalik dengan cepat. Ia meraih jaket dan kunci di meja, membuka pintu kamar, dan melangkah keluar. Tepat ketika Zane berhasil meraih gagang pintu, Rena bergerak cepat. Rena maju dan meraih pergelangan tangan Zane, mencegahnya melangkah keluar. Cengkeraman Rena kuat.
"Tunggu, Zane! Kumohon! Jangan pergi! Tolong dengarkan aku. Aku tahu aku salah karena berbohong tentang siapa aku, tapi aku benar-benar tulus mencintaimu. Aku belum pernah merasakan ini sebelumnya. Aku berani jujur karena aku tidak mau ada kebohongan lagi di antara kita."
Zane menarik napas dalam-dalam, kemarahan dan kepanikan akhirnya memberikan kekuatan pada lidahnya. Ia melepaskan cengkeraman Rena dengan sentakan kuat.
"Tulus? Setelah semua kebohongan itu, Rena? Kamu membohongiku tentang dirimu, tentang orientasi seksualmu, tentang segalanya!" Zane berbisik tajam, tidak ingin menarik perhatian penghuni kamar lain.
Rena mundur selangkah, terluka oleh nada suara Zane.
"Aku tahu, aku minta maaf! Tapi aku melakukan itu karena aku takut kamu akan pergi. Aku hanya ingin kamu dekat denganku, Zane. Dan sekarang, setelah kamu tahu aku biseksual, itu tidak mengubah perasaanku padamu!"
Zane menggeleng cepat. Rasa jijik dan terkejutnya bercampur aduk, dipicu oleh trauma masa lalu dan kecewa karena telah dipermainkan. Ia melangkah mundur, menjaga jarak sejauh mungkin dari Rena.
"Bagaimana mungkin? Bagaimana mungkin aku bisa bersamamu?" kata Zane. Ia menatap Rena dari ujung kepala hingga kaki, rambut panjang, wajah manis, dan keanggunan perempuan yang selalu Rena tunjukkan. "Bagaimana mungkin aku berpacaran dengan seseorang yang... yang terlihat seperti perempuan?"
Wajah Rena langsung pucat, matanya yang tadi penuh air mata kini tampak sakit.
"Zane... itu tidak adil. Kamu tahu siapa aku. Aku adalah aku. Aku tidak peduli dengan penampilan, aku peduli denganmu!"
"Aku peduli!" balas Zane cepat, menunjuk ke dirinya sendiri. "Aku peduli dengan batasan, Rena! Dan kamu sudah melanggarnya! Semua ini adalah kebohongan!"
Rena mencoba mencari alasan, mencoba meyakinkan Zane dengan segala cara. "Aku bisa melindungimu! Aku punya uang! Aku bisa buat kamu nyaman di sini! Kita bisa jadi pasangan yang sempurna, Zane. Aku akan membuatmu melupakan semua masa lalumu, aku janji!"
Janji itu malah membuatnya semakin merinding. Zane tidak mendengarkan lagi. Ia meraih gagang pintu lagi.
"Aku tidak peduli," kata Zane. Ia membuka pintu dengan kuat. Rena tidak mengejar. Ia hanya berdiri di ambang pintu, menatap punggung Zane. Zane tidak menoleh, ia berjalan cepat menjauhi kamar itu. Ia harus segera pergi.
Zane berlari tanpa tujuan. Ia menyusuri lorong kosan yang sepi, menuruni tangga, dan menerobos hujan deras di luar. Ia tidak membawa payung, tetapi ia tidak peduli. Air hujan terasa dingin di wajahnya, membantu mendinginkan gejolak amarah yang mendidih di dalam dirinya.
Ia terus berjalan tanpa tahu arah, melewati gang-gang kecil hingga akhirnya sampai di jalan raya utama yang masih ramai. Ia berhenti di sebuah jembatan penyeberangan yang menghubungkan dua sisi jalanan yang sibuk. Di tengah jembatan, di bawah lampu jalan yang berkelap-kelip, Zane akhirnya berhenti.
Ia bersandar pada pagar pembatas besi, menatap arus lalu lintas di bawahnya. Air mata yang sudah ia tahan sejak tadi akhirnya tumpah, bercampur dengan air hujan di pipinya. Ia menangis terisak, bahunya bergetar.
"Bodoh! Aku bodoh sekali!" gumamnya di antara isakan. Ia menangis bukan hanya karena pengakuan Rena, tetapi karena ia telah membiarkan dirinya tertipu begitu jauh.
Bagaimana bisa aku membiarkan ini terjadi? Aku sudah tahu dia aneh, tapi kenapa aku santai saja?
Zane duduk di tangga jembatan, menyandarkan kepalanya di lutut yang basah. Ia harus menenangkan diri. Ia harus berpikir jernih.
Ia menyentuh pipinya. Sentuhan itu kini terasa kotor, membangkitkan kembali semua sensasi sentuhan malam hari yang selama ini ia yakini sebagai mimpi buruk. Ia tidak bisa kembali ke kamar kosan. Tidak malam ini, dan mungkin tidak akan pernah. Ia butuh tempat berlindung, tempat yang benar-benar aman.
Zane menarik napas dalam-dalam. Ia memeriksa dompetnya. Cukup untuk menyewa kamar.
Ia bangkit dari tangga jembatan. Tujuannya ke hotel.
Zane berjalan ke ujung jalan, mencari taksi. Ia meminta diantar ke hotel terdekat yang terlihat layak dan memiliki keamanan.
Beberapa menit kemudian, Zane berdiri di lobi hotel yang tenang dan hangat. Setelah check-in dengan nama palsu, ia masuk ke kamarnya. Kamar itu kecil, tetapi bersih, dan yang paling penting, sendirian.
Zane mengunci pintu dua kali, lalu menyalakan semua lampu. Ia merasa aman untuk pertama kalinya dalam beberapa minggu. Ia melemparkan ransel basahnya ke lantai. Di dalam ransel itu, ada dompet, ponsel, beberapa buku, dan botol plastik kecil berisi obat.
***
Zane duduk di tepi kasur hotel. Ia baru saja mengganti pakaiannya dengan baju ganti seadanya dari ransel. Tepat saat ia hendak meraih botol obat tidurnya, ponselnya bergetar. Layar menampilkan nama Rena.
Ia tidak ingin mendengar suara Rena, tidak ingin mendengar permintaan maaf palsu. Ia membiarkan panggilan itu berdering, berharap Rena akan menyerah. Namun, Rena menelepon lagi, dan lagi. Panggilan ketiga datang dengan pesan teks.
"Zane, tolong angkat. Aku khawatir. Aku tidak bermaksud menyakitimu. Kumohon, bicara denganku. Aku ada di bawah, di lobi kosan, aku takut kamu kenapa-kenapa."
Zane menatap pesan itu, tidak membalas. Dengan tangan yang sedikit gemetar, ia menekan tombol daya ponselnya hingga layarnya gelap. Ponselnya mati.
Hening.
Zane membuka botol obat itu, menuangkan satu pil ke telapak tangannya. Ia menelannya dengan cepat, memejamkan mata, dan menunggu efek obat itu bekerja.
Lima belas menit kemudian, rasa kantuk yang berat mulai menyerbu. Tepi-tepi kecemasannya melunak. Tubuhnya terasa lemas, dan pikirannya mulai mengambang. Zane merebahkan diri di tempat tidur hotel yang bersih dan empuk. Di kamar yang asing dan sunyi itu, Zane akhirnya jatuh tertidur pulas.
Di kamar kosan yang ditinggalkan Zane, Rena berdiri membeku di ambang pintu untuk beberapa saat. Kemudian, ia menutup pintu dengan suara keras. Suara hujan di luar terasa menertawakannya.
Kehilangan kontrol adalah hal yang paling ditakuti Rena.
Ponsel Rena berdering di atas meja, menampilkan nama Zane, tanda bahwa ia mencoba menghubungi lagi. Ini adalah panggilan kelima dalam rentang waktu lima belas menit. Rena meraih ponsel itu dengan tangan gemetar. Ia tidak peduli dengan kata-kata manis atau permintaan maaf lagi.
"Angkat! Angkat, Zane!" raungnya, meskipun ia tahu Zane tidak akan menjawab.
Setelah dering panggilan keenam berakhir, Rena melempar ponsel itu sekuat tenaga ke dinding. Layar ponsel itu seketika retak parah, dan pecahan kacanya berserakan di dekat garis solatip hitam. Rena menatap ponsel yang hancur itu.
Ia mulai mondar-mandir di kamar sempit itu, tangannya memegangi kepalanya. Rasa pusing menyerangnya. Ia tidak mau melepaskan Zane.
"Aku tidak bisa kembali, aku tidak mau kembali!" Rena bergumam pada dirinya sendiri. Rena berhenti mondar-mandir. Ia melihat sisa pecahan ponselnya di lantai, lalu melirik ke area plafon di mana kamera CCTV kamar dipasang. Matanya menyipit.
Ia tidak akan membiarkan Zane pergi.